Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu menjaga engkau dan engkau menjaga harta. Ilmu itu penghukum (hakim) dan harta terhukum. Harta itu kurang apabila dibelanjakan tapi ilmu bertambah bila dibelanjakan. -Khalifah Ali bin Abi Talib-

Popular Posts

Sabtu, 28 April 2012

Pengorbanan Dan Kemenangan




Bismillahirrahmanirrahim
Waktu menunjukkan pukul 13.00 ketika aku sampai di Masjid Ar-Royan, Jakarta Barat. Niat awal, aku datang untuk memenuhi panggilan syuro dari sang mas'ul salah satu organisasi yang aku ikuti. Tetapi aneh, tak seperti biasa, keadaan masjid lumayan ramai dan semua pintunya terbuka lebar. Ada acara kah?
Aku berjalan mencari para anggota. Namun sejauh mata memandang, hanya segerombol akhwat paruh baya dan beberapa bapak-bapak yang kulihat disana. Mas'ul nya nya pun tak ada. Aku duduk menikmati sepoian angin di teras masjid masih dengan rasa kesal dalam dada. Sambil membaca sebuah novel, kucoba menunggu kedatangan para anggota.
Satu jam hampir aku disana. Rupanya sedang ada pengajian di masjid itu. Kalau begitu, mungkinkah kami mengadakan syuro disini? Sepertinya tidak.
Para akhwat di dalam sana msedang membaca al-matsurat saat aku memutuskan untuk berdiri menuju pintu masjid. Setelah bertanya-tanya pada salah seorang panitia (sepertinya) taulah aku bahwa di dalam adalah pengajian khusus akhwat. Akupun memutuskan untuk bergabung. Tanpa teman, aku duduk sebagai yang termuda (sepertinya) di barisan belakang.
"Dari mana mbak?"tanya seorang ibu yang duduk di sampingku. Aku menyebutkan alamat rumah dan alasan aku datang kesini sebenarnya. Ibu itu tersenyum dan mengangguk. Beliau menjelaskan tentang acara ini dan taulah aku bahwa ini adalah Jalasan Ruhiyah (JR) yang diadakan oleh PKS sebulan sekali. Semua yang disini adalah akhwat simpatisan PKS. Dan bapak-bapak yang diluar adalah ikhwan (suami/kerabat) mereka yang juga simpatisan PKS. Aku sedikit kaget dibuatnya.
Selama pengajian, aku mencoba untuk tenang dan memperbaharui niat. Kalau tak dapat syuronya, lihat saja apa gantinya. Ilmu yang insya Allah sangat bermanfaat. Disini, aku mencoba untuk meringkas dan berbagi apa yang kudapatkan pada Jalasah Ruhiyah kali ini. Silahkan disimak ^^

Pengorbanan dan Kemenangan. Disampaikan oleh Ustadzah Ma'wah.

Orang-orang yang ada di jalan dakwah hidupnya lebih terarah. Karena memiliki murabbi yang menuntun mereka dan insya Allah setiap perbuatannya sesuai Al-Qur'an dan Sunnah. Karena itu berbahagialah bagi antum yang sudah berada di jalan dakwah.

Keberadaan kita di jalan ini bukanlah karena kebetulan. Karena tak ada yang kebetulan di dunia ini. Keberadaan kita disini adalah karena Allah telah memilih kita untuk berada disini. Maka itu bersyukurlah karena insya Allah kitalah yang disebut sebagai Al-Mustafa (Orang-orang terpilih). Orientasi hidup kita di dunia ini bukan untuk lulus sekolah, mendapat kerjaan, menikah, atau mempunyai harta yang melimpah. Orientasi kita semata-mata adalah untuk Mardhotillah (mencari ridho Allah SWT).

Jalan dakwah tidak pernah mulus dan bertabur bunga. Jalannya selalu terjal, penuh onak dan duri, menurun dan curam. Maka itu, hanya orang konyol yang memutuskan untuk melewatinya tanpa membawa perbekalan yang banyak. 
"Perjuangan tidak akan pernah ada tanpa pengorbanan dan Pengorbanan tidak akan pernah ada tanpa pemahaman"
 Keutamaan-keutamaan berada di jalan dakwah membuat kita paham atas perjuangan dakwah dan senantiasa siap diatas kaki yang siaga untuk berkontribusi lebih, berkorban. Bi amwalikum wa anfusikum. Dengan harta dan jiwa.
Al-Qur'an surah As-Saff ayat 10-14

10. Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih?

11. (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.

12. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah 'Adn. Itulah keberuntungan yang besar.

13. Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.

14. Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong (agama) Allah sebagaimana 'Isa ibnu Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?" Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: "Kamilah penolong-penolong agama Allah", lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan lain kafir; maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang.

Poin dari Jual Beli kita dengan Allah adalah
1. Selamat dari azab yang pedih
2.Diampuni dosa dan kesalahan kita
3. Allah akan masukkan kita kedalam Syurga (Allah tidak akan mengingkari janji-Nya)
4. Allah akan berikan kita rumah yang megah di Syurga
5. Ada sebuah pertolongan yang Allah berikan
6. Allah akan memberikan kemenangan yang dekat
 Tiga Indikasi Jual Beli yang Allah tawarkan dengan 6 Keuntungan diatas adalah
1. Iman kepada Allah SWT
2. Iman kepada Rasulullah SAW
3. Jihad fii sabilillah b amwalikum wa anfusikum
  Amanah Rasulullah "Dakwah harus selalu ditinggikan!"
Ketika kita sudah berada di jalan dakwah, berikanlah kontribusi sebanyak-banyaknya. Jangan tanya "Apa yang sudah dakwah berikan kepada kita?" tapi tanyalah "Apa yang sudah kita berikan di jalan dakwah?"

Cita-cita Universal Islam tercantum dalam Al-Qur'an surah Al-Baqarah ayat 201 : 201. Dan di antara mereka ada orang yang bendo'a: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka" [127].

[127] Inilah do'a yang sebaik-baiknya bagi seorang muslim.

Dan di surah An-Nahl ayat 97:  97. Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik [839] dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.

[839] Ditekankan dalam ayat ini bahwa laki-laki dan perempuan dalam Islam mendapat pahala yang sama dan bahwa amal saleh harus disertai iman.
Orientasi amal seorang mukmin adalah Khoir. 
Pada salah satu hadits nya Rasulullah bersabda "Amal itu tergantung niatnya" tetapi disisi lain, "Amal itu tergantung akhirnya"
"Ya Allah, jadikan umur terbaik hamba di penghujungnya, jadikan amal terbaik hamba di penutupnya, jadikan hari-hari terbaik hamba saat bertemu dengan-Mu" Do'a khatmil Qur'an.
Wallahu a'lamu bisshawab.
 

readmore »»  

Jumat, 20 April 2012

Anak ROHIS juga bisa EKSIS!

Bismillahirrahmanirahim

Sebuah kabar bahagia datang ketika kami sedang duduk di ruang lima untuk mengikuti pelajaran agama. Tiba-tiba, tiga orang siswi kelas 11 IPA dipanggil menghadap dua ibu guru yang familiar namanya. Ya. Uluran tangan dan ucapan selamat tiba-tiba meluncur dari salah seorang diantara mereka kepada ketiga siswi yang tidak mengerti apa-apa.
"Ini dia jagoan-jagoan kita,"ujar beliau.
Bingung kepalang bingung. Ketiga siswi itu memiliki 1001 terkaan dalam pikiran.
"Selamat ya nak, kalian lolos OSP,"
---

Tahun ini, saya melihat sebagian besar bidang Olimpiade Sains tingkat Propinsi diwakili oleh anak-anak ROHIS. Sebuah anugerah yang luar biasa karena anak ROHIS telah berhasil menunjukkan eksistensinya di luar dunia ROHIS. Fisika, Kimia, Biologi, Ekonomi, dan Kebumian. Sekitar 12 orang atau lebih dari 19 perwakilan OSP sekolah kami adalah anak ROHIS.
Dengan ini, kami berharap bisa membuktikan pada semua orang bahwa tak selamanya anak ROHIS menjadi cicak mushola. Kami tidak hanya mahir dalam berorganisasi, tapi juga dalam akademik.
Sebuah SMS yang dikirimkan oleh salah satu anak ROHIS yang kini juga lolos dalam bidang Biologi di malam tanggal 3 April 2012. Malam sebelum kami berperang keesokan paginya.
"Semangat Kawan! Foto-foto kita sudah menanti untuk dipajang! Sudah saatnya sekolah tahu bahwa kita bukan pecundang! Kita harus LOLOS sama-sama Kawan! ROHIS akan semakin berjaya jika kita menang. Kalahkan orang-orang yang telah mengambil hak cipta ilmuwan Islam sebelum kita! Tetap Semangat dan Selamat Berjuang!!! Ganbatte-ne! ^^"

Untuk kawan-kawanku yang pada tanggal 4 April gugur sebelum berjuang karena banjir yang menghadang, ini untuk kalian. Jangan pernah menyesal karena Allah pasti punya rencana lebih baik dari Olimpiade ini. Meski tanpa kalian, yakinlah kami yang akan mewakilimu dalam pertarungan.
SMS salah seorang teman kepada teman kami yang gugur
"Titipkanlah semangatmu pada kami, Insya Allah akan kami kobarkan hingga menang! Trust me!"

Untuk seluruh anggota Kelompok Studi Islam SMAN 33 Jakarta, terimakasih atas do'a dan dukungan morilnya. We Love You All!!! ^-^
readmore »»  

Kamis, 19 April 2012

AKHWAT IKUT MABIT? Bolehkah?




 Alhamdulillah, saya menemukan catatan ini di salah satu website. Semoga bermanfaat buat antunna para wanita (khususnya)

Ustadz kita mau mengadakan dauroh bersama (ikhwan-ahwat), rencananya menginap selama dua hari di mesjid. Bagaimana hukumnya akhwat mabit, boleh gak, ya ? kalau boleh, apa syarat-syaratnya ?

 Pada dasarnya, wanita itu tidak diharamkan bepergian keluar rumah dengan syarat-syarat utama antara lain, ila ala hajat atau keperluan yang syar’i. Misalnya untuk menuntut ilmu, mengajar dan aktifitas lainnya yang memang secara manusiawi diperlukan untuk dikerjakan manusia normal pada umumnya.

 Termasuk didalamnya adakah bahwa seorang wanita tidak dilarang berziarah untuk mengunjungi saudara atau temannya,asal tujuannya memang untuk hal-hal yang positif dan baik.

Kondisinya haruslah aman. Sebagian ulama ada yang mengambil pemikiran bahwa esensi diharamkannya para wanita bepergian keluar rumah tanpa mahram adalah karena di masa lalu kondisiya tidak memungkinkan. Selain banyak perampok di jalan, juga tidak lazim di masa itu ada wanita menempuh perjalanan di gurun pasir atau hutan sendirian. Sebab di masa itu belum ada alat transportasi umum yang aman, nyaman, terjamin dan sebagainya.

 Mereka membedakannya dengan kondisi hari ini secara umum sudah jauh lebih aman dan kondusif bagi wanita untuk bepergian keluar kota sendirian. Sehigga sebagian mereka membolehkan bagi para wanita untuk melakukan perjalanan dengan menggunakan fasilitas kendaraan umum yang tinggi tingkat keamanannya, nyaman dan lagipula tidak membutuhkan waktu perjalanan yang lama.

 Sebab cukup dalam hitungan jam, hari ini para wanita bisa menempuh jarak ribuan mil dengan pesawat terbang yang nyaman, aman dan bahkan semua itu bisa dilakukannya sambil tiduran di balik selimut hangat. Tidak menimbulkan fitnah dan dampak negatif berikutnya

 Selain itu, penting juga diperhatikan kesan dan etika yang sudah tertanam di tengah masyarakat atas keluarnya wanita dan bercampur dengan laki-laki. Misalnya menginapnya para wanita dan pria di dalam satu gedung atau sebuah acara semacam daurah. Hal ini tentu harus dikembalikan kepada urf’ atau kebiasaan yang berlaku di masyarakat umum juga.


Seacara umum, terjadinya percampuran antara laki-laki dan wanita didalam sebuah gedung atau sebuah acara memang dimungkinkan dalam islam. Misalnya kebolehan wanita hadir dalam shalat Jum’at, shalat Idul Fitri atau khutbah-khutbah lainnya. Namun kita juga tahu bahwa tetap dilakukan pemisahan antara keduanya.

 Satu hal lagi, semua itu bisa terjadi namun tanpa ada aktifitas menginap bersama. Sebab bila sudah pada batas menginap, maka contoh yang jelas di masa Rasulullah adalah masalah I’tikafnya para wanita yang dianjurkan lebih utama untuk dilakukan didalam rumah sendiri. Meski pun kita juga mendapatkan riwayat yang menyebutkan bahwa ummahatul mukminin pernah melakukan I’tikaf di mesjid.

 Namun, alangkah baiknya bila wanita memang terpaksa harus dan mesti ada mabit (menginap) bagi para wanita tempatnya dipisahkan secara fisik dari laki-laki. Bukan sekedar dengan menggunakan pembatas ruangan, membedakan kamar atau memasang penyekat saja. Sebaiknya emreka ditempatkan di gedung ata lokasi yang berbeda. Dan yang lebih leluasa tentu saja bila mereka dipisahkan dalam paket acaranya. Artinya, ada mabit wanita sendiri pada waktu dan tempat yang berbeda dengan mabitnya laki-laki. Tentu kondisi seperti ini jauh lebih aman dari fitnah.

 Namun kami tetap menganjurkan bagi pihak penyelenggara untuk kalau tidak terpaksa sama sekali, tidak perlu membuat acara yang menuntut para wanita harus menginap. Sebab mereka itu wajib mendapatkan izin yang benar-benar sepenuhnya izin atas kerdihoan orang tua mereka maing-masing. Terus terang sajalah bahwa masalah izin menginap bagi apara aktivis wanita ini bukanlah masalah yang bisa disepelekan begitu saja. Orang tua manapun pasti ingin tidur nyenyak dengan kepastian bahwa putri mereka benar-benar safe, aman, nyaman, dan semua itu hanya ada bila puterinya ada di rumah.

Kami tidak menafikan bahwa mabit itu penting, urgent, punya nilai tersendiri dan seterusnya. Namun memperkecil resiko fitnah tentu lebih utama.



Wallahu alam bi shawab

sumber: http://muslimahui.my-php.net/?cat=3
readmore »»  

Sabtu, 14 April 2012

Filosofi Perjalanan Ke Situ Gunung Gede Pangrango



Bismillahirrahmanirrahim

Tanggal 07 April 2012 lalu, saya dan rombongan peserta Dauroh Rohis Jilid 2 tiba di Daerah Cisaat Sukabumi pada pukul 5 pagi. Setelah beristirahat sejenak di Villa Tanpa Nama dan melakukan olahraga, kami beranjak menuju Curug. Situ Gunung Gede Pangrango.
Awalnya saya tidak tahu Curug apa yang akan kami datangi. Maklum saat itu saya juga adalah peserta.
Setelah berjalan lumayan jauh dengan medan menanjak, dan setelah melihat pemandangan pohon pinus di sisi kiri jalan dan sawah-sawah yang luas di sekitarnya, kami sampai pada sebuah gapura kuno berwarna cokelat.
Seorang kakak pemandu kami membelikan kami tiket masuk dan pada saat itulah saya melihat papan bertuliskan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.
Tak percaya, saya mengucek mata berulang-ulang. Tetapi ternyata tulisan itu tidak berubah walau satu huruf pun. Sebelumnya, saya hanya tahu tentang gunung ini dari buku paket bahasa Indonesia saya yang kelas sepuluh. Disana diceritakan betapa angkuh nya gunung ini. Cantik dan bersahaja.
Tanpa membuang waktu, kami langsung berjalan memasuki gunung. Jalanannya biasa. Belum terlihat "sesuatu"nya.
Kami terus berjalan sambil mendendangkan lagu-lagu nasyid harokah sebagai penyemangat kami. Semakin lama, jalan yang kami tempuh semakin mengkerut. Semakin sempit. Menanjak dan juga licin.
Kami para wanita yang notabene menggunakan rok agak kesulitan untuk melompati genangan-genangan air yang menghadang di tiap sisi jalan. Tanahnya berwarna kuning. Entah mineral apa yang terkandung di dalamnya.
Lelah bernyanyi, kami semua diam dan terfokus pada jalanan yang semakin curam. Saat itu aku memakai sandal jepit plastik yang rentan terpeleset. sebisa mungkin kujaga keseimbanganku dan berjalan sesuai barisan.
Di sebelah kiri kami ada tebing yang penuh dengan pepohonan. Melihat tebing itu, aku jadi merasa ciut dan kerdil. Betapa tidak ada apa-apanya aku dibandingkan ciptaan Allah ini. Sedangkan di sebelah kanan ku ada jurang yang dalam. Berhektar-hektar sawah dengan motif terasering yang indah terhampar di seberang sana. Suara manusia seolah lenyap. Yang terdengar hanya suara hewan-hewan penghuni hutan yang menenangkan. Suasana alami yang mustahil kutemukan di Jakarta.
Kakiku terus melaju. Meladeni tiap kejutan yang diberikan oleh Pangrango. Jalanan licin telah lewat. Kini kami berjalan diatas bongkahan batu-batu besar yang tertanam dalam tanah. Medannya bukan lagi menanjak, melainkan menurun.
Filosofi: Jalan dakwah tak pernah mulus. Tak pernah indah bertabur bunga. Melainkan selalu berelief seperti gunung ini. Jalan disini memang berat, tapi ingat tujuan kita yang pasti kan kita temui. Air terjun yang menenangkan. Itulah dakwah. Jalannya memang berat, tapi ingat tujuan kita. Ingat sesuatu yang telah menanti kita diujung sana. Surganya Allah SWT.

Kami saling bergandengan tangan untuk mampu menuruni tiap batuan. Takut kalau saudara kami terjatuh ke jurang. Sebisa mungkin tak ada yang ditinggalkan.
Filosofi: Dalam perjuangan dakwah, bergerak secara bersamaan itu penting dilakukan. Saling menolong dan menguatkan. Karena kita harus sampai di tujuan secara bersamaan.

Tak berapa lama dari itu, kami mendengar gemuruh air yang membelalakkan mata.
"Itu air terjun nya ya?"harap-harap kami bahwa sebentar lagi jalan ini selesai ternyata hanya harapan. Itu bukan air terjun melainkan sebuah sungai kecil yang sangat jernih airnya.
berada di rerimbunan pohon yang menenangkan. Siapa sangkan didalam hutan belantara seperti ini ada aliran air yang begitu jernih dan cantik nya? Sungai itu pun kami namai sungai aurat
Filosofi: Sungai aurat. Karena aurat kita bagaikan sungai ini. Jika ditutupi dengan baik, maka yang terjadi adalah kita dalam keadaan baik. Jernih layaknya sungai di pedalaman gunung ini. Tetapi lihat sungai-sungai di jakarta yang dengan mudahnya tersentuh tangan-tangan jahil dan polusi yang merajalela, akhirnya sungai itupun keruh dan mengeluarkan bau yang busuk. Itulah yang akan terjadi jika aurat kita dibiarkan terbuka layaknya sungai-sungai di ibukota.

Kemudian kami melanjutkan perjalanan yang sangat menanjak. Walaupun masih bermedan batuan, jalanan yang menanjak jadi agak menyulitkan. Kakiku sempat kram dibuatnya. Tapi untunglah hanya sebentar.
Di puncak, kami beristirahat sejenak di sebuah tempat duduk yang panjang. Melepas penat, kami meminum air mineral yang tlah dipersiapkan oleh panitia.
Perjalanan kami masih panjang. Itu kata mereka. Ini baru setengah perjalanan. Aku mendongak ke bawah. Ke arah medan yang akan kita tempuh selanjutnya. Turunan yang sangat curam. Aku sempat sangsi untuk melewatinya. Tapi karena diyakinkan oleh semua teman, aku pun ikut memberanikan diri menerima kejuta-kejutan berikutnya.

Puluhan meter telah berlalu namun kami tak juga sampai. Ada yang bilang sebentar lagi. Namun sebagian yang lain mengatakan masih lama karena belum juga terdengar suara gemuruh air terjun. Beberapa dari kami mulai merasa kelelahan.
Filosofi: Kita tidak akan pernah tahu seberapa panjang jalan yang akan kita lalui dalam hidup ini. Dalam konteks ini saya artikan sebagai umur. Kita tidak pernah tahu kapan kita mati. Atau seberapa lama lagi kita hidup. Tetapi yang pasti, dan yang harus kita tahu adalah lakukan apapun sebaik yang kita bisa di dalam hidup ini.

Tiba-tiba suara yang kami tunggu-tunggu mulai terdengar. Gemuruh air. Beberapa ada yang sangsi dengan hal itu.
"Ah, paling sungai kayak tadi lagi"ujarnya
Tetapi dia salah. Kami memang benar-benar telah sampai. Di atas sana, kami bisa melihat alam memuntahkan airnya dengan luar biasa hebat. Tak lama lagi kita akan sampai.
Kami segera berlari menuruni turunan terakhir. Disana kami bisa melihat aliran sungai yang begitu derasnya berjalan di hadapan kami. Dan di ujung sana, di hulu sungai ini, air terjun raksasa yang kami cari telah terlihat.
Subhanallah Walhamdulillah Wa Laa ilaa ha Illallah. Allahu Akbar!
Ya. Kami sampai. Penat, lelah, sakit, dan kesusahan yang kami rasa dalam perjalanan sirna sudah. Digantikan oleh pemandangan alami yang menenangkan jiwa.
Filosofinya: Yakinlah karena keyakinanmu adalah janji-Nya. Akan ada hal indah yang menantimu diujung jalan yang sulit ini. Dan itu pasti.

Thaks to: Kak Nurcholipah ^^ KAPMI @11
readmore »»  

Selasa, 20 Maret 2012

Aku Rindu Masa-Masa Itu

Aku rindu masa-masa itu. Masa saat aku masih baru di tempat ini dan kalian dengan ramah mengulurkan tangan kalian agar aku nyaman disini.
Aku rindu masa-masa itu. Masa ketika kalian tak bosan-bosannya mengirimiku sejuta pesan kehidupan yang aku sendiri tak pernah peduli bahkan tak jarang aku tidak membacanya.
Aku rindu masa-masa itu. Masa ketika kalian masih punya waktu untuk mendatangiku walau sekedar bertukar salam, menanyakan kabar, dan menyampaikan satu dua kalimat yang mengisi kekosongan jiwa ini. Membangkitkan semangat muda ini lagi.
Aku rindu masa-masa itu. Masa ketika kalian memarahiku dan menunjukkan kesalahanku. Kurasa itu lebih baik daripada kini. Ketika kalian tak pernah lagi muncul di hadapanku. Marahi saja aku, karena itu menunjukkan bahwa kalian masih peduli kepadaku.
Aku sangat rindu masa-masa itu. Masa ketika kalian berbagi cerita tentang ukhuwah, tentang amanah, tentang lelah, tentang semua yang kalian rasa disini, dan yang akan ku rasakan pula di tempat ini, nanti.
Aku rindu masa-masa itu. Masa ketika kalian bercanda ria di jejaring sosial, dan aku hanya tersenyum-senyum membacanya. Walau aku tak ada di tengah tawa kalian, percayalah... ukhuwah kalian sangat kurasakan disini.
Aku sangat merindukan masa-masa itu. Ketika aku mencari tahu tentang kalian, karena aku ingin tahu lebih banyak tentang pribadi kalian. Ketika aku tahu betapa hebatnya kalian, dari foto-foto itu, dari tulisan-tulisan itu. Aku merasakan sebuah transfer energi yang sangat besar sedang terjadi dari dirimu kepadaku.
Aku rindu masa-masa itu. Ketika kalian datang dengan senyuman. Bukan dengan setumpuk kertas dan segudang kesibukan.
Aku masih rindu masa-masa itu. Ketika kalian mengirimiku pesan tausyiah, bukan pesan perintah!
Aku disini bukan untuk menjadi penyebar berita. Bukan!
Aku disini juga bukan hanya untuk membuat acara. Bukan itu!
Aku disini ingin belajar sebelum mengajar. Aku ingin menjadi objek dakwah sebelum berdakwah. Aku ingin mendengarkan kalimat semangat dari kalian sebelum aku menyemangati yang lain.
Tolong jangan biarkan kami kering.
Jangan biarkan saudaraku jatuh satu persatu.
Aku sadar kami harus sendiri. Kami harus mandiri.
Tapi apa itu berarti tak ada lagi perhatian dari kalian? Pikirkan!
Tak banyak yang kuat hatinya. Tak banyak yang sanggup diperlakukan seperti ini berlama-lama. Jati pun ketika dibiarkan ratusan tahun lamanya akan keropos juga.
Ku harap kalian tidak terlambat. Bantu aku untuk mengembalikan saudaraku. Saudara kita. Bantu aku kak.
Siapapun kalian yang merasa, ini bukan sekedar tulisan. Tapi ini adalah pengaduan dari kami. Anak-anak yang telah kalian culik, lalu kalian tinggalkan!
readmore »»  

Minggu, 11 Maret 2012

Jangan jadi Orang Cengeng

Banyak orang selalu bertanya begini
gimana sih caranya bisa tahan nangis?
Ribet ye tu orang. Mau nangis aja pake ditahan-tahan.
Nangis itu bukan aib lagi. Bukan kejahatan yang bikin sekeluarga malu juga. Bukan juga dosa besar yang bikin kamu masuk neraka.
Nangis itu fitrah.
Setiap orang pasti punya kelenjar air mata, kan? Ya, kecuali yang kurang sempurna.
Sekarang saya nggak membicarakan orang yang memang dari lahir nggak punya kelenjar air mata ya, soalnya saya bukan pakar biologi. hehe
Ya, sekali lagi. menangis itu fitrah. Dan itu boleh-boleh saja.
Jangan pernah mendambakan untuk tidak bisa menangis. Pasti akan sangat menyusahkan.
Sekarang gini deh, saya mau jawab pertanyaan temen saya itu dulu ya. Gimana caranya biar bisa tahan nangis?
Menurut saya pribadi, menangis itu nggak perlu ditahan. Tapi bukan berarti dibiarin gitu aja. Dikit-dikit nangis. Diomelin nangis. Dikatain nangis. Disorakin nangis. Dipanggil tiba-tiba nangis. Dikagetin nangis. Yaelah, nggak selebay itu juga kali.
Nih ya, menurut saya menangis itu menandakan kita sudah tidak kuat. Menangis itu puncak segala kesusahan, kesedihan, kesulitan, dan ke ke yang lainnya yang serba susah.
Untuk itu, yang harus dilatih bukan gimana caranya nahan nangis. Tapi, gimana caranya tahan banting. Tahan mental. Tahan malu. Biar nggak  gampang nangis.
Nah, gimana caranya biar nggak gampang nangis?
1. tahan mental. Seperti yang udah saya bilang, tahan mental itu berperan besar dalam proses produksi air mata. Kalau mental kita kecil, setempe, dan nggak pernah menemui kesusahan seumur-umur, bisa jadi kita akan mudah menangis. Kenapa? Ya karena kita nggak biasa menghadapi sesuatu yang WAW! Maksudnya yang WAW! itu yang amazing dan beda dengan kehidupan kita yang biasannya. Sesuatu yang lebih menantang. Tapi kalau mental kita kuat, sering dilatih, dan sering ketemu sama yang namanya "masalah" dalam hidup, saya yakin kita bukan termasuk orang yang cengeng alias gampang mewek!

2. Jangan lebay dan menDRAMAtisir keadaan. Orang cuma dipanggil sama guru keturunan batak aja langsung nangis. Dikiranya lagi dibentak. Padahal kan orang batak emang suaranya tinggi. Lebe!
Disuruh fotokopi beberapa proposal, ternyata tempat fotokopinya tutup dan harus nyari muter-muter komplek sampai kaki pegel, langsung nulis status "kaki pegel. kapan putusnya nih?!" Lebe!
 Disuruh lembur sampai jam lima sore aja besoknya langsung nggak masuk. Bilangnya langsung sakit dan dengan bangganya bilang ke temen-temen kalo kemaren abis ribet ngurus ini, itu, ono, ntu, apaan sih? Lebe banget!

3. Kalau masih bisa ditahan, TAHAN! Jangan pernah ngerasa ingin dikasihani. Minta dapet simpati. Dan bikin orang-orang tahu semua keluh kesah kamu. Nggak penting tahu! Kalau masih bisa ditahan tu air mata, tahan! Simpan buat nanti. Curhatnya sama yang bisa jaga rahasia. Nangisnya juga di depan yang bisa jaga rahasia aja. Siapa? Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

4. Hadapi dengan kepala dingin. Kalau ada masalah, apapun itu yang kira-kira emang nyusahin, jangan gegabah ya. Jangan langsung bilang yes or no. Pikirkan pakai kepala dingin. Atur napas biar teratur. Napas yang teratur itu bikin koordinasi di otak berjalan baik. Dengan begitu, kamu akan fokus untuk MENYELESAIKAN masalahmu, bukannya MENANGISI masalahmua.

Menurut saya sih itu aja yang bisa bikin kita nggak gampang nangis. Ini opini ya. Jadi tiap orang pasti beda-beda caranya. Nah, jangan terlalu diikutin ya. Jangan terlalu percaya sama kata-kata saya diatas. Nanti jadi thagut. Apaan tuh? Apa kek lah. Hehe.. cari aja di google.
Kalo ada opini yang bilang "sering nangis itu baik dan unyu" juga nggak apa-apa kok ^^ sekali lagi, ini berdasarkan perspektif pribadi aja. Okeh!
Jangan jadi orang cengeng yaaa ! ^^
readmore »»  

Kamis, 08 Maret 2012

Papa, Mama, Rio Tunggu Di Pintu Surga

“Mau Tuhan apa sih?!” protesnya setengah berteriak, sembari menangis tersungkur ke lantai. Dinginnya lantai membuat hatinya berangsur tenang, dan spontan berucap “Astaghfirullah.”

***

Agnes adalah sosok wanita Katolik taat. Setiap malam, ia beserta keluarganya rutin berdoa bersama. Bahkan, saking taatnya, saat Agnes dilamar Martono, kekasihnya yang beragama Islam, dengan tegas ia mengatakan, “Saya lebih mencintai Yesus Kristus dari pada manusia!”

Ketegasan prinsip Katolik yang dipegang wanita itu menggoyahkan Iman Martono yang muslim, namun jarang melakukan ibadah sebagaimana layaknya orang beragama Islam. Martono pun masuk Katolik, sekedar untuk bisa menikahi Agnes. Tepat tanggal 17 Oktober 1982, mereka melaksanakan pernikahan di Gereja Ignatius, Magelang, Jawa Tengah.

Usai menikah, lalu menyelesaikan kuliahnya di Jogjakarta, Agnes beserta sang suami berangkat ke Bandung, kemudian menetap di salah satu kompleks perumahan di wilayah Timur kota kembang. Kebahagiaan terasa lengkap menghiasi kehidupan keluarga ini dengan kehadiran tiga makhluk kecil buah hati mereka, yakni: Adi, Icha dan Rio.

Di lingkungan barunya, Agnes terlibat aktif sebagai jemaat Gereja Suryalaya, Buah Batu, Bandung. Demikan pula Martono, sang suami. Selain juga aktif di Gereja, Martono saat itu menduduki jabatan penting, sebagai kepala Divisi Properti PT Telkom Cisanggarung, Bandung.

Karena Ketaatan mereka memegang iman Katolik, pasangan ini bersama beberapa sahabat se-iman, sengaja mengumpulkan dana dari tetangga sekitar yang beragama Katolik. Mereka pun berhasil membeli sebuah rumah yang ‘disulap’ menjadi tempat ibadah (Gereja,red).

Uniknya, meski sudah menjadi pemeluk ajaran Katolik, Martono tak melupakan kedua orangtuanya yang beragama Islam. Sebagai manifestasi bakti dan cinta pasangan ini, mereka memberangkatkan ayahanda dan ibundanya Martono ke Mekkah, untuk menunaikan rukun Islam yang kelima.

Hidup harmonis dan berkecukupan mewarnai sekian waktu hari-hari keluarga ini. Sampai satu ketika, kegelisahan menggoncang keduanya. Syahdan, saat itu, Rio, si bungsu yang sangat mereka sayangi jatuh sakit. Panas suhu badan yang tak kunjung reda, membuat mereka segera melarikan Rio ke salah satu rumah sakit Kristen terkenal di wilayah utara Bandung.

Di rumah sakit, usai dilakukan diagnosa, dokter yang menangani saat itu mengatakan bahwa Rio mengalami kelelahan. Akan tetapi Agnes masih saja gelisah dan takut dengan kondisi anak kesayangannya yang tak kunjung membaik.

Saat dipindahkan ke ruangan ICU, Rio, yang masih terkulai lemah, meminta Martono, sang ayah, untuk memanggil ibundanya yang tengah berada di luar ruangan. Martono pun keluar ruangan untuk memberitahu Agnes ihwal permintaan putra bungsunya itu.

Namun, Agnes tak mau masuk ke dalam. Ia hanya mengatakan pada Martono, ”Saya sudah tahu.” Itu saja.

Martono heran. Ia pun kembali masuk ke ruangan dengan rasa penasaran yang masih menggelayut dalam benak.

Di dalam, Rio berucap, “Tapi udahlah, Papah aja, tidak apa-apa.”

“Papah, hidup ini hanya 1 centi. Di sana nggak ada batasnya,” lanjutnya.

Sontak, rasa takjub menyergap Martono. Ucapan bocah mungil buah hatinya yang tengah terbaring lemah itu sungguh mengejutkan. Nasehat kebaikan keluar dari mulutnya seperti orang dewasa yang mengerti agama.
Hingga sore menjelang, Rio kembali berujar, “Pah, Rio mau pulang!”

“Ya, kalau sudah sembuh nanti, kamu boleh pulang sama Papa dan Mama,” jawab Martono.

“Ngga, saya mau pulang sekarang. Papah, Mamah, Rio tunggu di pintu surga!” begitu, ucap Rio, setengah memaksa.

Belum hilang keterkejutan Martono, tiba-tiba ia mendengar ‘bisikan’ yang meminta dia untuk membimbing membacakan syahadat kepada anaknya. Ia kaget dan bingung. Tapi perlahan Rio dituntun sang ayah, Martono, membaca syahadat, hingga kedua mata anak bungsunya itu berlinang. Martono hafal syahadat, karena sebelumnya adalah seorang Muslim.

Tak lama setelah itu ‘bisikan’ kedua terdengar, bahwa setelah adzan Maghrib Rio akan dipanggil sang Pencipta. Meski tambah terkejut, mendengar bisikan itu, Martono pasrah. Benar saja, 27 Juli 1999, persis saat sayup-sayup adzan Maghrib, berkumandang Rio menghembuskan nafas terakhirnya.

Tiba jenazah Rio di rumah duka, peristiwa aneh lagi-lagi terjadi. Agnes yang masih sedih waktu itu seakan melihat Rio menghampirinya dan berkata, “Mah saya tidak mau pakai baju jas mau minta dibalut kain putih aja.”

Saran dari seorang pelayat Muslim, bahwa itu adalah pertanda Rio ingin dishalatkan sebagaimana seorang Muslim yang baru meninggal.

Setelah melalui diskusi dan perdebatan diantara keluarga, jenazah Rio kemudian dibalut pakaian, celana dan sepatu yang serba putih kemudian dishalatkan. Namun, karena banyak pendapat dari keluarga yang tetap harus dimakamkan secara Katolik, jenazah Rio pun akhirnya dimakamkan di Kerkov. Sebuah tempat pemakaman khusus Katolik, di Cimahi, Bandung.

Sepeninggal Rio

Sepeninggal anaknya, Agnes sering berdiam diri. Satu hari, ia mendengar bisikan ghaib tentang rumah dan mobil. Bisikan itu berucap, “Rumah adalah rumah Tuhan dan mobil adalah kendaraan menuju Tuhan.”

Pada saat itu juga Agnes langsung teringat ucapan mendiang Rio semasa TK dulu, ”Mah, Mbok Atik nanti mau saya belikan rumah dan mobil!” Mbok Atik adalah seorang muslimah yang bertugas merawat Rio di rumah.

Saat itu Agnes menimpali celoteh si bungsu sambil tersenyum, “Kok Mamah ga dikasih?”

“Mamah kan nanti punya sendiri” jawab Rio, singkat.

Entah mengapa, setelah mendengar bisikan itu, Agnes meminta suaminya untuk mengecek ongkos haji waktu itu. Setelah dicek, dana yang dibutuhkan Rp. 17.850.000. Dan yang lebih mengherankan, ketika uang duka dibuka, ternyata jumlah totalnya persis senilai Rp 17.850.000, tidak lebih atau kurang sesenpun. Hal ini diartikan Agnes sebagai amanat dari Rio untuk menghajikan Mbok Atik, wanita yang sehari-hari merawat Rio di rumah.

Singkat cerita, di tanah suci, Mekkah, Mbok Atik menghubungi Agnes via telepon. Sambil menangis ia menceritakan bahwa di Mekkah ia bertemu Rio. Si bungsu yang baru saja meninggalkan alam dunia itu berpesan, “Kepergian Rio tak usah terlalu dipikirkan. Rio sangat bahagia disini. Kalo Mama kangen, berdoa saja.”

Namun, pesan itu tak lantas membuat Agnes tenang. Bahkan Agnes mengalami depresi cukup berat, hingga harus mendapatkan bimbingan dari seorang Psikolog selama 6 bulan.

Satu malam saat tertidur, Agnes dibangunkan oleh suara pria yang berkata, “Buka Alquran surat Yunus!”. Namun, setelah mencari tahu tentang surat Yunus, tak ada seorang pun temannya yang beragama Islam mengerti kandungan makna di dalamnya. Bahkan setelah mendapatkan Al Quran dari sepupunya, dan membacanya berulang-ulang pun, Agnes tetap tak mendapat jawaban.

“Mau Tuhan apa sih?!” protesnya setengah berteriak, sembari menangis tersungkur ke lantai. Dinginnya lantai membuat hatinya berangsur tenang, dan spontan berucap, “Astaghfirullah…”

Tak lama kemudian, akhirnya Agnes menemukan jawabannya sendiri di surat Yunus ayat 49: “Katakan tiap-tiap umat mempunyai ajal. Jika datang ajal, maka mereka tidak dapat mengundurkannya dan tidak (pula) mendahulukannya”.

Beberapa kejadian aneh yang dialami sepeninggal Rio, membuat Agnes berusaha mempelajari Islam lewat beberapa buku. Hingga akhirnya wanita penganut Katolik taat ini berkata, “Ya Allah, terimalah saya sebagai orang Islam, saya tidak mau di-Islamkan oleh orang lain!”.

Setelah memeluk Islam, Agnes secara sembunyi-sembunyi melakukan shalat. Sementara itu, Martono, suaminya, masih rajin pergi ke gereja. Setiap kali diajak ke gereja Agnes selalu menolak dengan berbagai alasan.

Sampai suatu malam, Martono terbangun karena mendengar isak tangis seorang perempuan. Ketika berusaha mencari sumber suara, betapa kagetnya Martono saat melihat istri tercintanya, Agnes, tengah bersujud dengan menggunakan jaket, celana panjang dan syal yang menutupi aurat tubuhnya.

“Lho kok Mamah shalat,” tanya Martono.

“Maafkan saya, Pah. Saya duluan, Papah saya tinggalkan,” jawab Agnes lirih.

Ia pasrah akan segala resiko yang harus ditanggung, bahkan perceraian sekalipun.

Martono pun Akhirnya Kembali ke Islam

Sejak keputusan sang istri memeluk Islam, Martono seperti berada di persimpangan. Satu hari, 17 Agustus 2000, Agnes mengantar Adi, putra pertamanya untuk mengikuti lomba adzan yang diadakan panitia Agustus-an di lingkungan tempat mereka tinggal. Adi sendiri tiba-tiba tertarik untuk mengikuti lomba adzan beberapa hari sebelumnya, meski ia masih Katolik dan berstatus sebagai pelajar di SMA Santa Maria, Bandung. Martono sebetulnya juga diajak ke arena perlombaan, namun menolak dengan alasan harus mengikuti upacara di kantor.

Di tempat lomba yang diikuti 33 peserta itu, Gangsa Raharjo, Psikolog Agnes, berpesan kepada Adi, “Niatkan suara adzan bukan hanya untuk orang yang ada di sekitarmu, tetapi niatkan untuk semesta alam!” ujarnya.

Hasilnya, suara Adzan Adi yang lepas nan merdu, mengalun syahdu, mengundang keheningan dan kekhusyukan siapapun yang mendengar. Hingga bulir-bulir air mata pun mengalir tak terbendung, basahi pipi sang Ibunda tercinta yang larut dalam haru dan bahagia. Tak pelak, panitia pun menobatkan Adi sebagai juara pertama, menyisihkan 33 peserta lainnya.

Usai lomba Agnes dan Adi bersegera pulang. Tiba di rumah, kejutan lain tengah menanti mereka. Saat baru saja membuka pintu kamar, Agnes terkejut melihat Martono, sang suami, tengah melaksanakan shalat. Ia pun spontan terkulai lemah di hadapan suaminya itu. Selesai shalat, Martono langsung meraih sang istri dan mendekapnya erat.

Sambil berderai air mata, ia berucap lirih, “Mah, sekarang Papah sudah masuk Islam.”

Mengetahui hal itu, Adi dan Icha, putra-putri mereka pun mengikuti jejak ayah dan ibunya, memeluk Islam.

Perjalanan panjang yang sungguh mengharu biru. Keluarga ini pun akhirnya memulai babak baru sebagai penganut Muslim yang taat. Hingga kini, esok, dan sampai akhir zaman. Insya Allah.

Muhammad Yasin
source: fimadani
readmore »»  

Rabu, 07 Maret 2012

Kalau tidak Ingat...

Semuanya serba terbatas.
Badan ini semakin sakit dibuatnya.
Mereka menuntut kesempurnaan.
Tapi mereka sama sekali tak pernah mengarahkan.
Yang ada hanya cacian.
Yang selalu kami tanggapi dengan baik sangkaan.
Bahwa itu adalah masukan. Dan bukan cacian.
Semakin lama semakin banyak tuntutan.
Aku tahu ini bukan dibebankan pada satu orang, tapi aku juga tahu hanya ada sedikit orang yang merasa terbebankan.
Yang lain hanya akan berjalan sesuai permintaan atau perintah atasan.
Inisiatif?
Jangan tanyakan itu di tempat kami.
Yang memilikinya hanya sekelompok kecil dari sebuah komunitas besar.
Jumlah kami besar, dan berbeda dari komunitas lainnya.
Tidak percaya?
Ya, jangan terlalu percaya pada setiap omongan saya karna rukun iman bisa bertambah jadi tujuh nantinya.
Yang jelas kami banyak. Dan saya hanya menginformasikannya.
Tuntutan kami bukan hanya dari mereka. Orang-orang tua yang berseragam itu.
Tuntutan kami juga diberikan oleh sosok laki-laki dan perempuan paruh baya yang tinggal setap dengan kami.
Ayah, ibu.
Dan tuntutan terbesar adalah masa depan.
Rutinitas ini, entah akan mencerahkan atau justru meredupkannya.
Terlalu sibuk mungkin.
Aku hanya punya sekian jam untuk beristirahat.
Tidur hampir tedengar seperti maya dalam dunia ini.
Tak pernah terasa nyaman.
Kalau tidak ingat suatu hari nanti aku juga akan tidur selamanya, mungkin aku tidak akan bisa menerima waktu tidurku yang sangat singkat sekarang ini.
Kalau tidak ingat akan ada hari dimana matahari hanya berada sejengkal diatas kepala, mungkin aku sudah malas melakukan segala aktivitas di siang hari yang menyengat.
Kalau tidak ingat masa mudaku akan habis beberapa tahun kedepan, mungkin aku sudah menikmatinya seperti pemuda kebanyakan. Belajar, les, nonton film baru, hang out, nongkrong di kafe, atau sekedar warung biasa, dan menikmati musik di setiap kesempatan.
Aku tidak mau itu terjadi. Sia-sia.
Biar saja badanku sakit, otakku penat, dan semuanya terasa parah. Yang penting aku akan tunjukkan pada orang-orang itu kalau aku bisa. Kami bisa berorganisasi. Tanpa mengurangi nilai pelajaran kami!
readmore »»  

Kesempatan itu... Semoga Alah memberikan II

Malam itu begitu dingin.
Padahal jendela sudah kututup rapat. Kipas angin juga sudah dalam keadaan "tak bernyawa".
Tapi tetap saja semuanya terasa begitu dingin.
Mungkin diluar sedang hujan?
Tidak tidak.. Diluar sangat cerah. Bahkan aku bisa mendengar suara tawa anak-anak kecil yang bermain diluar rumahku.
Atau mungkin sedang ada angin? Suhu sedang turun? Dan udara dingin itu menembus tebalnya tembok kamar ini?
Entahlah..
Tapi yang jelas semuanya begitu dingin.
Aku menerawang ke langit-langit. Putih kosong. Hanya seekor cicak yang ada disana.
Aku kembaliberpikir tentang keputusanku.
Aku baru akan benar-benar lulus satu tahun lagi. Tapi mengapa semua terasa akan terjadi sebentar lagi?
Aku terlalu rapi merancang semuanya. UI, UNDIP, dan UNSOED.
Tidak tidak.. Ibu tidak pernah menyetujuinya. Tidak pernah sejalan dengan pikiranku.
Ibu ingin aku jadi bidan dan bekerja di rumah sakit milik pak de Yunan.
Pak de ingin semua pekerja di rumah sakit miliknya adalah saudara. Dan namaku masuk dalam daftar calon pegawainya.
Tidak tidak.. aku tidak mau jadi pegawai sesungguhnya. Aku ingin membuka jalanku sendiri. Aku ingin melukis karirku di kertas pertama. Yang belum pernah ada orang lain sebelum aku.
Maka itu aku bersikeras bersekolah bukan pada bidang yang akan mempersiapkan ku untuk menjadi pegawai. Tidak lagi setelah kedua orangtuaku menjalaninya.
Mungkin nyaman, tapi bagiku tidak.
Aku suka ketika orangtuaku gajian. Aku suka gajian. Tapi aku lebih suka menggaji orang. Dan aku ingin melakukan itu suatu hari nanti.
Tetapi aku kembali berubah pikiran. Dasar plin plan.
Aku tidak mau mengecewakan ibu. Tidak juga dengan bapak.
Bapak tidak pernah berkata tidak pada setiap keputusanku termasuk ketika aku mengutarakan niat ingin bersekolah di UI. Tapi bapak juga tidak pernah meng-iya kan. Bahkan bisa dianggap tak merespon.
Aku positif thinking saat itu. Kuanggap bapak setuju.
Tapi kini aku tahu mereka tidak setuju.
Rumit ya? Maklum anak muda.
Aku terkejut mendapat respon yang luar biasa dari ibuku saat aku memutuskan untuk mondok di pesantren milik sahabat bapak. Beliau berkata,"Alhamdulillah tri, akhirnya kamu mau juga mondok,"
Nadanya... terdengar seperti sudah ingin mengatakan itu sejak lama. Itu adalah keinginan terpendam ibu selama aku bermimpi sekolah di UI.
Maafkan aku ibu..
Maafkan aku Ya Allah..
Begitupun bapak.
Beliau memang tak pernah berlebihan seperti ibu.
Tidak juga saat beliau merasa senang akan keputusanku.
Walau saat itu beliau hanya mengangkat alis dan seolah tak percaya beliau berkata,"beneran?". Aku tahu sebenarnya inilah yang diinginkan mereka.
Apa aku siap mondok?
Walau hanya satu tahun.
Tetapi kebiasaan aktif pergi sana - sini membuatku merasa sedikit berat dengan keputusan ini.
Aku takut pondok pesantren itu terbuat dari tembok-tembok tinggi yang menghalangi penglihatanku pada dunia luar.
Aku takut tempat itu memiliki satu kewajiban yang membuatku jadi penakut. Itu tentu sangat bertolak belakang dengan sifatku selama ini.
Jika itu terjadi, mungkin aku akan berontak. Menjadi kartini modern dalam pesantren.
Ah, ngelantur kan tuh.
Sampai aku mengetik ini, aku masih di kamar, dan cicak itu masih di atasku. Di atap kamarku tepatnya.
Dan aku masih bingung.
Mungkin PR matematika bisa meregangkan otakku dari kebingungan.
Mari belajar !
readmore »»  

Selasa, 06 Maret 2012

Kesempatan itu... Semoga Alah memberikan.

Terkadang saat kita berpikir untuk menggapai sesuatu, itu bukan apa yang sesungguhnya kita inginkan.
Setelah mengevaluasi diri, melihat ke belakang sejenak. dan mengurutkan kejadian yang terjadi beberapa bulan ke belakang, aku menyadari bahwa ambisiku menjadi pelajar di Universitas Indonesia bukanlah keinginanku.
Bahwa selama ini aku membohongi diri sendiri. Dengan kedok cita-cita, aku tahu apa sebenarnya yang membuatku ingin sekali bersekolah disana.
Aku memutuskan untuk tidak kesana.
Ibuku mendukung. Ternyata selama ini beliau pun membohongiku dengan berpura-pura mendukungku memasang target bersekolah di universitas indonesia.
Beliau keberatan.
Maafkan aku ibu.. karena tidak peka terhadapmu..
Maafkan aku Ya Allah..
Aku memutuskan untuk menghadapi apa yang ada di hadapanku saja
Tidak memasang target kemanapun setelah lulus nanti
Tidak ke universitas manapun yang selama ini memenuhi otakku
Aku akan fokus pada sekolah. SMA.
Tiba-tiba, Tawaran itu, yang dua tahun lalu datang padaku kembali hadir dalam ingatan.
Bahwa ada seorang kyai-beliau sahabat bapak- yang datang ke rumah untuk silaturrahim dan menawariku mondok di pesantrennya
Jauh di utara pulau jawa. Pati.
Aku menolak. Idealisme ku terlalu tinggi saat itu. Aku tak ingin dikekang dengan peraturan pesantren yang (biasanya) ketat.
Aku tidak suka diatur.
Tapi kini aku ingin pergi kesana. Aku ingin mondok.
Ibuku mendukung sekali. Bapak apalagi.
Mungkin setelah aku lulus nanti.
Aku akan mondok disana.
Tapi aku tahu kyai itu bukan lagi sahabat bapak sesama anak pribumi yang mencari ilmu di Indonesia saja.
Aku tahu beliau lebih dari itu semua.
Satu yang kuharapkan dengan mondok disana nantinya. Aku ingin fasih membaca Al-Qur'an dan mendalaminya. Mentadaburinya. Belajar tentang islam. Mencari pondasi yan kokoh untuk berdakwah. Dan aku ingin fasih bahasa arab. Tentu orangtuaku tau apa yang ada dalam pikiranku. Sutu hal yang sedari dulu memang sangat aku inginkan.
Aku ingin pergi kesana. Dan kurasa, pondok pesantern itu adalah gerbang untuk menuju ke sana.
Bapakku yang akan mengurusnya.
Berbicara pada sahabatnya. Semoga Allah memudahkan.
readmore »»  

Senin, 13 Februari 2012

Menangis Itu Perlu

Tak selamanya orang tegar itu pantang bersedih.
Tak selamanya orang galak itu jarang bersedih.
Tak selamanya yang judes dan terkesan tak peduli itu terbebas dari bersedih.
Tak selamanya yang tampak ceria itu selalu bahagia.
Dan tak selamanya yang sibuk dengan agenda ini itu terbebas dari rasa sedih dan kesendirian.
Terkadang, yang tegar itu cuma pura-pura.
Yang galak itu hanya menutupi rasa sedih dengan emosinya.
Yang judes itu hanya berusaha membuat orang takut padanya sehingga tak melihat kesedihannya.
Yang tak peduli itu hanya berusaha sekuat tenaga agar juga tak ada yang peduli pada dirinya. Sehingga sekali lagi, tak ada yang bisa melihat kesedihannya.
Terkadang, yang tampak ceria itu hanya berusaha untuk tak memperburuk suasana.
Berusaha menciptakan suasana tawa di tengah kesedihannya.
Agar tak ada yang susah.
Tak ada yang direpotkan.
Yang pura-pura ceria itu, hanya ingin saudaranya tahu kalau semua masalah pasti kan ada jalan keluarnya.
Sedangkan yang terlihat sibuk itu,
Dia sudah tak mampu lagi untuk berpura-pura tegar.
Tak mampu lagi berpura-pura galak.
Tak sanggup lagi menjadi judes dan tak peduli.
Dan tak bisa lagi menunjukkan cerianya.
Habis sudah pertahanannya.
Dan ketika tidak ada lagi yang menyibukkannya, langkahnya terhenti.
Diam adalah senjata.
Dan akhirnya, lelehan air hangat itu deras menuruni pipinya.
Sudah tidak kuatkah?
Tidak. Hanya saja terlalu lelah.
Saatnya isi bahan bakar.
Menangis adalah caranya. Berdo'a sepenuh hati pada Ilahi Robbi.
Allahu Rahman. Allahu Rahim.
Dan ketika tangisan itu tumpah, bukan salah si manusia.
Karena itu semua adalah kuasa Sang Robbi.
Yang berkuasa membolak-balikkan hati.
Agar menjadi tegar, pasti dibutuhkan proses menangis
Untuk menjadi matang, pasti dibutuhkan proses menangis.
Untuk mengerti apa itu ceria, pasti kita perlu merasakan bagaimana menangis.
Dan akhirnya... Menangis itu memang perlu ukhti...
Menangis itu perlu...
Ia tak kan membuatmu tampak lemah ketika kau lakukan hanya di hadapan Rabb-Mu
Ia tak akan membuatmu terlihat cengeng
Yah, percayalah...
Menagis itu perlu.
readmore »»  

Rabu, 01 Februari 2012

 
Wahai Ukhti, Auratmu Di Facebook (Apa yang akan terjadi pada akun facebook kita selepas kita mati?)

by Delitha Octaviany on Sunday, January 29, 2012 at 9:28pm

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..
...
Satu peringatan sebenarnya untuk muslimah semua

Mari kita renungkan bersama

Pikirkan bersama

Jika satu hari nanti kita mati,

Akun facebook kita hanya kita yang tahu password-nya

hanya kita yang bisa access..

Dan

Selepas kita mati..

Apa yang terjadi pada akun FB kita?

Mungkin ada yang akan ucapkan takziah

Mungkin ada yang selalu menjenguk bagi obat rindu

Tetapi..

Sadarkah kita

Gambar-gambar kita..

Akan terus membuatkan kita tersiksa di alam kubur?

Gambar-gambar yang tidak menutupi aurat

dengan sempurna

Bagaimana nanti?

Para lelaki terus-terusan melihat

Dalam masa yang sama, siapapun mungkin masih bisa ditagkan gambar kita..

Walau sudah bertahun-tahun kita mati, gambar itu terus ada..

Saham dosa terus meningkat..

Bagaimana?

Pernah terpikir tidak?

TUDUNG SINGKAT

yang dipakai itu, akan selamatkan kita dalam kubur nanti?

LEGGING dan JEANS KETAT

, bisakah menyelamatkan kita?

BAJU YANG TAK MEMBALUT AURAT itu, bagaimana?

Mungkin kini

Kita masih merasa tak sabar ingin berbagi cerita dengan gambar-gambar yang cantik

Tempat-tempat yang kita sudah lewati di muka bumi-Nya

Tapi di akhirnya nanti..

Semua itu tidak akan membawa arti

Semua hanya tinggal kenangan bagi yang masih hidup

Di alam kubur, semua itu tidak sedikitpun bisa menyelamatkan kita

Mari kita renungkan,

Saham dosa yang terus meningkat walau setelah ketiadaan kita di muka bumi sampai hari akhirat

TUTUPILAH AURATMU SEBELUM AURATMU DITUTUPI KAIN KAFAN

Peliharalah dirimu sebelum dirimu dikafani

Jagalah muru’ah diri sebagai seorang muslimah

Mati itu pasti

Persiapkan diri untuk mati itu perlu

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala ridha dengan renungan ini

aamiin
readmore »»  

Minggu, 29 Januari 2012

Sekilas Tentang "Learn And Share"


"Al'ilmu bilaa 'amalin kassyajari bilaa tsamarihi"
Ilmu bila tidak diamalkan bagaikan pohon tanpa buah

Carilah ilmu sebanyak-banyaknya di dunia ini, karena...

Imam Syafi'i pernah mengatakan
"Barangsiapa menginginkan dunia, maka harus dengan ilmu. Barangsiapa menginginkan akhirat, maka harus dengan ilmu. Dan barangsiapa menginginkan keduanya, maka harus dengan ilmu,"

Setelah kau dapatkan ilmu itu, berusahalah untuk senantiasa mengamalkannya...

Abu Darda Radhiyallhu ‘Anhu berkata, "Engkau tidak akan menjadi seorang 'alim hingga engkau menjadi orang yang belajar. Dan engkau tidak dianggap 'alim tentang suatu ilmu, sampai engkau mengamalkannya".

Setelah kau amalkan ilmu itu dalam kehidupanmu, jadilah engkau 'penyambung lidah' Rasulullah SAW dengan senantiasa menyampaikan ilmu yang telah kau pelajari kepada umat..

Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ta’ala ‘anhu, bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
"Ballighu 'anni walau ayyah"
Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat. (H.R. Bukhari)

Let's Learn and Share!
readmore »»  

Sabtu, 28 Januari 2012

Maaf, Tidak Terima Pujian




Siapa yang tidak kenal kalimat "alhamdulillah"?
Siapa juga yang tidak tahu artinya?
Tapi siapa yang tahu maknanya?


Segala puji bagi Allah, untuk Allah.
Apa arti segala? Semua bukan?
Kalo semua, apakah masih ada sisa?
Tentu tidak, bukan?


Hakikatnya semua yang kita lakukan,
yang kita fikirkan,
yang kita rencanakan,
adalah atas izin Allah.

Ketika setiap rencana kita berhasil,
setiap cita tercapai,
setiap mimpi terwujud,
maka ada peran besar Allah di balik itu semua.

Tidak hanya di tiap gerak yang kita lakukan,
di tiap ide yang kita fikirkan,
tapi juga di tiap detak jantung,
di tiap udara yang kita hirup,
di tiap alir darah di dalam tubuh.
Bahkan tubuh ini beserta isinya adalah titipan dariNya.
Kita hanya menumpang nama dari apa yang telah Ia lakukan.

Atas pujian yang diberikan pada kita,
atas sanjungan dari yang kita perbuat,
sebenarnya milik siapa?

Jika segala puji untuk Allah,
maka seharusnya tidak ada sisa puji buat kita..

Jadi untuk apa sombong?
Untuk apa angkuh?
Apa maksudnya tinggi hati?
Kenapa harus bangga?

Rasulullah bersabda: “Jangan memujiku secara berlebihan seperti kaum Nasrani yang memuji Isa putera Maryam. Sesungguhnya aku adalah hamba-Nya, maka ucapkanlah, “Hamba Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Bukhari dan Ahmad).

Wallahu 'alam


source: dtjakarta.or.id

readmore »»  

ANTARA DAKWAH DAN MASA LALU

 
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Segala puji bagi Allah Subhanahu Wa Ta'ala, Tuhan semesta alam yang tiada satupun kekuatan yang mampu menandingi-Nya. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Sallallahu 'Alaihi Wasallam, keluarga, sahabat, dan para tabi’in.

Untukmu ukhtiku… yang insya Allah selalu berada dalam lindungan Allah Subhanahu Wa Ta’ala…
Dakwah adalah hal yang harus dipenuhi setiap muslim setelah iman dan amal. Hal itu merupakan kewajiban bagi setiap kita yang mengaku sebagai umat Rasulullah SAW. Maka tidak ada lagi alasan bagi kita  untuk sangsi, enggan, bahkan menolak untuk melakukannya. Karena sejatinya, dakwah akan senantiasa menemani setiap helaan nafasmu, seumur hidupmu.

Dakwah tidak selamanya harus dilakukan oleh manusia yang “lurus dan baik” (dalam artian ini adalah manusia yang dianggap tidak memiliki cacat sedikitpun). Bila hal itu adalah syarat untuk berdakwah, amalan ini tidak akan mungkin pernah tertunaikan karena manusia yang tanpa cacat di muka bumi ini hanyalah Nabi Muhammad SAW. Juga jika memang itu syaratnya, pastinya tak akan ada lagi penerus amanah dakwah selepas Rasulullah SAW pergi. Iya bukan? 
Mengapa?  
Tadi, karena kita tidak masuk kriteria sebagai pendakwah tadi. Kita hanya manusia biasa. Manusia biasa yang dosanya tiada terkira sejak mata dibuka hingga mata ditutup lalu dibuka lagi dan ditutup lagi. Iya kan?
Ya ukhti... dakwah harus tetap ada. Dan bisa dilakukan oleh siapa saja. Asalkan dia Mukmin, berilmu, dan senantiasa berusaha memperbaiki diri dari setiap kesalahan yang dilakukannya.

Sebagai seorang aktivis dakwah, sudah sunnatullah jika ditemukan begitu banyak tantangan dan godaan di setiap liku perjalanannya. Pun tidak jarang kita merasa bingung dan kalut dalam menyikapi setiap ujian itu. Terlebih, ketika bayangan masa lalu yang kurang menyenangkan kembali hadir dalam bahtera dakwah ini.

Ketika hal itu benar-benar terjadi, hadapilah dengan keanggunanmu. Tetap jaga senyummu dan perbanyaklah mengingat Allah. Sesungguhnya setiap manusia memiliki cacat, tetapi hal itu harusnya tidak lantas membuat semangat dakwah kita luntur.

Terlebih lagi ketika cacat mu itu diketahui banyak orang yang menjadi objek dakwah mu. Tetaplah tenang. Yang harus kau lakukan hanyalah pembuktian. Katakan bahwa setiap manusia pasti pernah punya salah, dan sebaik-baiknya manusia bukanlah orang yang selalu benar, melainkan dia yang pernah berbuat salah dan berusaha memperbaikinya.

Jangan takut dibilang munafik. Tetaplah buktikan kepada semua orang bahwa dirimu bisa berubah. Dirimu telah hijrah, ya ukhti…
Dan itu yang harus kau azzamkan dalam hatimu, tancapkan hingga dasar jiwamu..
“Bahwa aku mengakui seluruh kesalahan yang pernah ku lakukan karena ketidak tahuan ku. Dan kini Allah telah memberikan pemahaman pada diriku, dan aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahan itu. Sami’na wa atho’na. Kami dengar, dan kami taat”

Komitmen adalah harga yang harus kau bayar di jalan ini. Tidak mudah memang. Tetapi itulah yang membuat jalan ini begitu istimewa. Karena pemain di jalan ini hanyalah orang-orang hebat yang sanggup berkomitmen kepada dirinya sendiri dan orang lain untuk senantiasa memperbaiki diri setiap waktu.

Tunjukkan ya ukhti, bahwa dirimu bisa lebih baik. Lalu tantang mereka, ”Aku bisa! Bagaimana dengan kalian?”

Jangan biarkan kritik yang menyakitkan tentang mu dan tentang masa lalumu menyurutkan semangat dakwahmu, ukhti fillah!
Wallahu a’lamu bisshowab...
Wassalamu’alaiku waahmatullah wabarakatuh.
readmore »»