Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu menjaga engkau dan engkau menjaga harta. Ilmu itu penghukum (hakim) dan harta terhukum. Harta itu kurang apabila dibelanjakan tapi ilmu bertambah bila dibelanjakan. -Khalifah Ali bin Abi Talib-

Popular Posts

Tampilkan postingan dengan label Keputrian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keputrian. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Juli 2012

Yang Biasa Beralasan "Jilbabin dulu hatinya, baru kepalanya,". Baca Ini!

Kisah ini kubaca sekitar satu tahun lalu di salah satu fanpage di facebook. Dan setelah membacanya, hatiku semakin kuat meyakini akan kebenaran perintah Allah untuk berjilbab. Mari kita simak ^^
***
Sebut saja Rana. Ia adalah wanita yang baik budinya. Senantiasa tersenyum dan ramah kepada siapa saja. Rana, wanita berusia 23 tahun. Sudah bisa dibilang sukses di umurnya yang sangat muda itu. Rana juga seorang penganut agama Islam yang taat. Tidak pernah meninggalkan sholat 5 waktu. Puasa sunnah nya juga rajin. Ia juga tidak pernah lupa menyisihkan penghasilannya untuk bersedekah. Baru-baru ini, Rana telah sanggup memberangkatkan kedua orangtuanya untuk pergi haji setelah setahun sebelumnya ia membelikan sebuah hunian baru bagi kedua orang yang sangat dicintainya itu.
Rana belum menikah.
Ia adalah sosok wanita yang sangat mengejar karir. Tujuannya hanyalah untuk membahagiakan kedua orangtuanya.
Tetapi, Rana tidak berjilbab. Berkali-kali teman sekantornya menanyakan alasan mengapa dia belum berjilbab. Dan jawabannya tidak pernah berubah. "Aku mau menjilbabi hatiku dulu, baru kepalanya,"ujarnya.
Menurutnya, percuma orang memakai kerudung kalau hatinya masih busuk. Masih suka menggunjing. Dan tidak patuh pada seluruh kewajiban lainnya seperti sholat, puasa, dll.
Rana adalah orang yang kritis terhadap hal-hal seperti itu.
Pada suatu malam,ketika ia pulang kerja, badannya terasa lelah sekali. Seharian duduk di depan komputer membuat matanya sedikit sakit.
Ingin sekali rasanya ia langsung berbaring diatas kasur yang empuk. Tetapi ia teringat bahwa ia belum sholat isya'. Maka ia pun segera bangkit dan mengambil air wudhu lalu sholat.
Seusai sholat, ia pun tertidur.
Dalam tidurnya, Rana bermimpi berada di suatu tempat yang sangat indah. Sebuah taman yang ada banyak bunga berwarna-warni dan harum wanginya. Harum yang tak pernah ia temukan selama ini.
Matanya berkeliling. Melihat ke segala arah. Ada banyak wanita sepertinya yang juga duduk di sekitar taman. Mereka terlihat begitu bahagia. Sama seperti dirinya.
Rana berjalan dan bertanya pada seorang wanita yang sedang melihat-lihat bunga tak jauh dari tempat duduknya.
   "Permisi mbak, aku Rana. Kalau boleh tahu, kita ini ada di Surga ya?"tanya Rana sangking bagusnya tempat itu.
   "Oh tentu saja bukan,"jawabnya sambil tersenyum. "Tempat yang indah ini hanya tempat tunggunya. Surganya ada disebelah sana, kau lihat?"lanjutnya sambil menunjukkan sebuah pintu yang sangat besar dan sangat indah di ujung jalan sana.
Rana terperangah. Ada rasa bahagia yang terbuncah dalam dada nya. Ia merasa seluruh usahanya selama ini di dunia tidaklah sia-sia. Bahagia yang tiada tara.
Rana tersenyum.
Tiba-tiba, pintu itu terbuka. Para wanita yang tadi asyik bermain-main di taman segera berjalan mendekatinya. Dan satu persatu dari mereka pun masuk ke dalamnya dengan senyum tersungging.
Rana berdiri menatap terpaku ke depan pintu.
   "Ukhti, Ayo kita kesana. Pintu surga telah terbuka,"seru wanita tadi kepada Rana. Ia segera mengerjap-ngerjap dan berlari menyusul. 
Rana berlari semakin kencang. Namun pintu itu tak kunjung bisa dicapainya.
Sedangkan wanita tadi, ia sudah bisa memegang pintu itu. Rana panik. Semakin ia percepat larinya. Tetapi tetap saja, pintu itu terasa semakin menjauh.
   "Hei! Tunggu aku. Bagaimana kau bisa sampai kesana dengan berjalan santai sedangkan aku yang berlari tidak juga sampai?"tanya Rana dari jauh. Wanita itu hanya tersenyum dan  mulai melangkah masuk.
Rana semakin kepayahan. Tersengal-sengal napasnya. Ia pun memutuskan untuk berhenti. Hampir menyerah.
   "Ukhti!"panggil wanita itu. Kaki kanan dan sebelah badannya telah masuk ke balik pintu.
   "Kau tahu apa yang membedakanmu denganku?"tanyanya.
Rana menoleh, "Apa? Apakah amalanmu lebih banyak dariku? Apakah amalanku selama ini yang membedakanmu denganku?"Rana balik bertanya.
Wanita itu menggeleng pelan sambil tetap menyungging senyum.
   "Bukan itu. Amalan yang kulakukan sama seperti yang kau lakukan. Sholat, puasa, membaca Al-Qur'an, sedekah dan sebagainya,"ujarnya.
   "Lalu karena apa?"tanya Rana.
   "Lihatlah ukhti, apa yang membedakanmu denganku,"ujarnya tegas.
Rana melihat wanita itu dengan seksama. Lalu melihat ke arah dirinya sendiri. Tahulah dia terletak dimana perbedaan diantara mereka itu.
   "Ukhti, bukankah kau hanya ingin menjilbabi hatimu? Maka, kini biarlah surga ini hanya sampai di hatimu. Dan selalu menjadi angan-anganmu,"ujar wanita itu. Lalu ia pun masuk ke balik pintu sebagai yang terakhir. Pintu yang sangat indah itu pun tertutup.
Rasa sedih tiba-tiba merasuk di hati Rana. Ia menangis sejadi-jadinya. Ia inginmasuk kedalam sana bersama seluruh wanita tadi. Bukan hanya sampai di tempat tunggu ini.
Rana terbangun.
Matanya basah oleh air mata. Rasa sedih yang teramat sangat itu masih ada di dalam dadanya. Sangat sedih. Segera ia beristighfar dan menangis lagi mengingat tinggal sedikit lagi ia bisa mendapatkan surga tetapi terhalang oleh rambutnya yang tidak tertutup jilbab.
Rana segera bangkit dan mengambil air wudhu. Jarum jam menunjukkan pukul 3 pagi. Ia pun langsung melaksanakan sholat tahajud dan sholat taubat. Ia akui semua kesalahannya kepada Allah SWT. Dan saat itu juga ia niatkan pada dirinya untuk segera menutup kepalanya dengan jilbab.
Paginya, Rana pun bekerja dengan penampilan baru. Dengan jilbab di kepalanya.
readmore »»  

Kamis, 28 Juni 2012

FATIMAH AZ-ZAHRA AS, PENGHULU WANITA SEMESTA


Mukadimah

Dahulu kala, masyarakat memandang perempuan bagaikan hewan atau bagian dari kekayaan yang dimiliki oleh seorang laki-laki. Demikian pula masyarakat Arab pada masa Jahiliyah. Mereka senantiasa memandang wanita sebagai makhluk yang hina. Bahkan, sebagian di antara mereka ada yang menguburkan anak perempuan mereka hidup-hidup.
Ketika fajar mentari Islam terbit, Islam memberikan hak kepada kaum hawa dan telah menentukan pula batas-batasnya, seperti hak sebagai ibu, hak sebagai istri, dan hak sebagai pemudi.
Tentu kita semua sering mendengar hadis Nabi saw yang menyatakan, “Surga itu terletak di bawah kaki ibu.”
Di lain kesempatan, beliau bersabda, "Kerelaan Allah terletak pada kerelaan orang tua." (Dan perempuan termasuk salah satu dari orang tua).
Islam telah memberikan batasan kemanusiaan kepada wanita dan memberikan aturan, undang-undang yang menjamin perlindungan, penjagaan terhadap kemuliaan wanita dan kehormatannya.
Sebagai contoh yang jelas ialah hijab atau jilbab. Jilbab bukanlah penjara bagi wanita, tapi ia merupakan kebanggaan baginya, sebagaimana kita selalu melihat permata yang tersimpan rapi di dalam kotaknya, atau buah-buahan yang tersembunyi di balik kulitnya.
Sedangkan bagi wanita muslimah, Allah SWT telah memberikan aturan yang dapat melindunginya dan menjaga diriya, yaitu jilbab. Bahkan tidak hanya sekedar pelindung, jilbab dapat menambah ketenangan dan keindahan pada diri wanita tersebut.
Wanita dalam pandangan Islam berbeda secara mencolok dari apa yang terjadi di Barat. Dunia Barat memandang wanita laksana benda atau materi yang layak untuk diiklankan, diperdagangkan, dan bisa diambil keuntungan materinya, dengan dalih memelihara etika dan kemuliaan wanita sebagai manusia.
Pandangan ini benar-benar telah membuat nilai wanita terpuruk dan terpisah dari naluri serta nilai-nilai kemanusiaan. Kita juga menyaksikan keretakan keluarga, perceraian yang terjadi di dalam masyarakat Barat telah sedemikian mengkuatirkan.
Dalam pandangan dunia Barat, wanita telah berubah menjadi seonggok barang yang tidak berharga lagi, baik dalam dunia perfilman, iklan, promosi, ataupun dalam dunia kontes kecantikan.
Teman-teman, marilah kita sejenak menengok sosok teladan kaum wanita dalam Islam yang terwujud dalam kehidupan putri Rasulullah tercinta.
Dialah Siti Fatimah Az-Zahra as.
Putri tersayang Nabi Muhammad saw.
Istri tercinta Imam Ali as.
Bunda termulia Hasan, Husain, dan Zainab as.

Hari Lahir

Fatimah as dilahirkan pada tahun ke-5 setelah Muhammad saw diutus menjadi Nabi, bertepatan dengan tiga tahun setelah peristiwa Isra' dan Mikraj beliau.
Sebelumnya, Jibril as telah memberi kabar gembira kepada Rasulullah akan kelahiran Fatimah. Ia lahir pada hari Jumat, 20 Jumadil Akhir, di kota suci Makkah.

Fatimah di Rumah Wahyu

Fatimah as hidup dan tumbuh besar di haribaan wahyu Allah dan kenabian Muhammad saw. Beliau dibesarkan di dalam rumah yang penuh dengan kalimat-kalimat kudus Allah SWT dan ayat-ayat suci Al-Qur'an.
Acapkali Rasulullah saw melihat Fatimah masuk ke dalam rumahnya, beliau langsung menyambut dan berdiri, kemudian mencium kepala dan tangannya.
Pada suatu hari, ‘Aisyah bertanya kepada Rasulullah saw tentang sebab kecintaan beliau yang sedemikian besar kepada Fatimah as.
Beliau menegaskan, “Wahai ‘Aisyah, jika engkau tahu apa yang aku ketahui tentang Fatimah, niscaya engkau akan mencintainya sebagaimana aku mencintainya. Fatimah adalah darah dagingku. Ia tumpah darahku. Barang siapa yang membencinya, maka ia telah membenciku, dan barang siapa membahagiakannya, maka ia telah membahagiakanku.”
Kaum muslimin telah mendengar sabda Rasulullah yang menyatakan, bahwa sesungguhnya Fatimah diberi nama Fatimah karena dengan nama itu Allah SWT telah melindungi setiap pecintanya dari azab neraka.
Fatimah Az-Zahra’ as menyerupai ayahnya Muhammad saw dari sisi rupa dan akhlaknya.
Ummu Salamah ra, istri Rasulullah, menyatakan bahwa Fatimah adalah orang yang paling mirip dengan Rasulullah. Demikian juga ‘Aisyah. Ia pernah menyatakan bahwa Fatimah adalah orang yang paling mirip dengan Rasulullah dalam ucapan dan pikirannya.
Fatimah as mencintai ayahandanya melebihi cintanya kepada siapa pun.
Setelah ibunda kinasihnya, Khadijah as wafat, beliaulah yang merawat ayahnya ketika masih berusia enam tahun. Beliau senantiasa berusaha untuk menggantikan peranan ibundanya bagi ayahnya itu.
Pada usianya yang masih belia itu, Fatimah menyertai ayahnya dalam berbagai cobaan dan ujian yang dilancarkan oleh orang-orang musyrikin Makkah terhadapnya. Dialah yang membalut luka-luka sang ayah, dan yang membersihkan kotoran-kotoran yang dilemparkan oleh orang-orang Quraisy ke arah ayahanda tercinta.
Fatimah senantiasa mengajak bicara sang ayah dengan kata-kata dan obrolan yang dapat menggembirakan dan menyenangkan hatinya. Untuk itu, Rasulullah saw memanggilnya dengan julukan Ummu Abiha, yaitu ibu bagi ayahnya, karena kasih sayangnya yang sedemikian tercurah kepada ayahandanya.

Pernikahan Fatimah as

Setelah Fatimah as mencapai usia dewasa dan tiba pula saatnya untuk beranjak pindah ke rumah suaminya (menikah), banyak dari sahabat-sahabat yang berupaya meminangnya. Di antara mereka adalah Abu Bakar dan Umar. Rasulullah saw menolak semua pinangan mereka. Kepada mereka beliau mengatakan, “Saya menunggu keputusan wahyu dalam urusannya (Fatimah as).”
Kemudian, Jibril as datang untuk mengkabarkan kepada Rasulullah saw, bahwa Allah telah menikahkan Fatimah dengan Ali bin Ali Thalib as. Tak lama setelah itu, Ali as datang menghadap Rasulullah dengan perasaan malu menyelimuti wajahnya untuk meminang Fatimah as. Sang ayah pun menghampiri putri tercintanya untuk meminta pendapatnya seraya menyatakan, “Wahai Fatimah, Ali bin Abi Thalib adalah orang yang telah kau kenali kekerabatan, keutamaan, dan keimanannya. Sesungguhnya aku telah memohonkan pada Tuhanku agar menjodohkan engkau dengan sebaik-baik mahkluk-Nya dan seorang pecinta sejati-Nya. Ia telah datang menyampaikan pinangannya atasmu, bagaimana pendapatmu atas pinangan ini?"
Fatimah as diam, lalu Rasulullah pun mengangkat suaranya seraya bertakbir, “Allahu Akbar! Diamnya adalah tanda kerelaannya.”

Acara Pernikahan

Rasulullah saw kembali menemui Ali as sambil mengangkat tangan sang menantu seraya berkata, “Bangunlah! 'Bismillah, bi barakatillah, masya’ Allah la quwwata illa billah, tawakkaltu 'alallah.”
Kemudian, Nabi saw menuntun Ali dan mendudukkannya di samping Fatimah. Beliau berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya keduanya adalah makhluk-Mu yang paling aku cintai, maka cintailah keduanya, berkahilah keturunannya, dan peliharalah keduanya. Sesungguhnya aku menjaga mereka berdua dan keturunannya dari setan yang terkutuk.”
Rasulullah mencium keduanya sebagai tanda ungkapan selamat berbahagia. Kepada Ali, beliau berkata, “Wahai Ali, sebaik-baik istri adalah istrimu.”
Dan kepada Fatimah, beliau menyatakan, “Wahai Fatimah, sebaik-baik suami adalah suamimu”.
Di tengah-tengah keramaian dan kerumunan wanita yang berasal dari kaum Anshar, Muhajirin, dan Bani Hasyim, telah lahir sesuci-suci dan seutama-utamanya keluarga dalam sejarah Islam yang kelak menjadi benih bagi Ahlulbait Nabi yang telah Allah bersihkan kotoran jiwa dari mereka dan telah sucikan mereka dengan sesuci-sucinya.
Acara pernikahan kudus itu berlangsung dengan kesederhanaan. Saat itu, Ali tidak memiliki sesuatu yang bisa diberikan sebagai mahar kepada sang istri selain pedang dan perisainya. Untuk menutupi keperluan mahar itu, ia bermaksud menjual pedangnya. Tetapi Rasulullah saw mencegahnya, karena Islam memerlukan pedang itu, dan setuju apabila Ali menjual perisainya.
Setelah menjual perisai, Ali menyerahkan uangnya kepada Rasulullah saw. Dengan uang tersebut beliau menyuruh Ali untuk membeli minyak wangi dan perabot rumah tangga yang sederhana guna memenuhi kebutuhan keluarga yang baru ini.
Kehidupan mereka sangat bersahaja. Rumah mereka hanya memiliki satu kamar, letaknya di samping masjid Nabi saw.
Hanya Allah SWT saja yang mengetahui kecintaan yang terjalin di antara dua hati, Ali dan Fatimah. Kecintaan mereka hanya tertumpahkan demi Allah dan di atas jalan-Nya.
Fatimah as senantiasa mendukung perjuangan Ali as dan pembelaannya terhadap Islam sebagai risalah ayahnya yang agung nan mulia. Dan suaminya senantiasa berada di barisan utama dan terdepan dalam setiap peperangan. Dialah yang membawa panji Islam dalam setiap peperangan kaum muslimin. Ali pula yang senantiasa berada di samping mertuanya, Rasulullah saw.
Fatimah as senantiasa berusaha untuk berkhidmat dan membantu suami, juga berupaya untuk meringankan kepedihan dan kesedihannya. Beliau adalah sebaik-baik istri yang taat. Beliau bangkit untuk memikul tugas-tugas layaknya seorang ibu rumah tangga. Setiap kali Ali pulang ke rumah, ia mendapatkan ketenangan, ketentraman, dan kebahagiaan di sisi sang istri tercinta.
Fatimah as merupakan pokok yang baik, yang akarnya menghujam kokoh ke bumi, dan cabangnya menjulang tinggi ke langit. Fatimah dibesarkan dengan cahaya wahyu dan beranjak dewasa dengan didikan Al-Qur'an.

Keluarga Teladan

Kehidupan suami istri adalah ikatan yang sempurna bagi dua kehidupan manusia untuk menjalin kehidupan bersama.
Kehidupan keluarga dibangun atas dasar kerjasama, tolong menolong, cinta, dan saling menghormati.
Kehidupan Ali dan Fatimah merupakan contoh dan teladan bagi kehidupan suami istri yang bahagia. Ali senantiasa membantu Fatimah dalam pekerjaan-pekerjaan rumah tangganya. Begitu pula sebaliknya, Fatimah selalu berupaya untuk mencari keridhaan dan kerelaan Ali, serta senantiasa memberikan rasa gembira kepada suaminya.
Pembicaraan mereka penuh dengan adab dan sopan santun. "Ya binta Rasulillah"; wahai putri Rasul, adalah panggilan yang biasa digunakan Imam Ali setiap kali ia menyapa Fatimah. Sementara Sayidah Fatimah sendiri menyapanya dengan panggilan “Ya Amirul Mukminin”; wahai pemimpin kaum mukmin.
Demikianlah kehidupan Imam Ali as dan Sayidah Fatimah as.
Keduanya adalah teladan bagi kedua pasangan suami-istri, atau pun bagi orang tua terhadap anak-anaknya.

Buah Hati

Pada tahun ke-2 Hijriah, Fatimah as melahirkan putra pertamanya yang oleh Rasulullah saw diberi nama “Hasan”. Rasul saw sangat gembira sekali atas kelahiran cucunda ini. Beliau pun menyuarakan azan pada telinga kanan Hasan dan iqamah pada telinga kirinya, kemudian dihiburnya dengan ayat-ayat Al-Qur'an.
Setahun kemudian lahirlah Husain. Demikianlah Allah SWT berkehendak menjadikan keturunan Rasulullah saw dari Fatimah Az-Zahra as. Rasul mengasuh kedua cucunya dengan penuh kasih dan perhatian. Tentang keduanya beliau senantiasa mengenalkan mereka sebagai buah hatinya di dunia.
Bila Rasulullah saw keluar rumah, beliau selalu membawa mereka bersamanya. Beliau pun selalu mendudukkan mereka berdua di haribaannya dengan penuh kehangatan.
Suatu hari Rasul saw lewat di depan rumah Fatimah as. Tiba-tiba beliau mendengar tangisan Husain. Kemudian Nabi dengan hati yang pilu dan sedih mengatakan, “Tidakkah kalian tahu bahwa tangisnya menyedihkanku dan menyakiti hatiku.”
Satu tahun berselang, Fatimah as melahirkan Zainab. Setelah itu, Ummu Kultsum pun lahir. Sepertinya Rasul saw teringat akan kedua putrinya Zainab dan Ummu Kultsum ketika menamai kedua putri Fatimah as itu dengan nama-nama tersebut.
Dan begitulah Allah SWT menghendaki keturunan Rasul saw berasal dari putrinya Fatimah Zahra as.

Kedudukan Fatimah Az-Zahra’ as

Meskipun kehidupan beliau sangat singkat, tetapi beliau telah membawa kebaikan dan berkah bagi alam semesta. Beliau adalah panutan dan cermin bagi segenap kaum wanita. Beliau adalah pemudi teladan, istri tauladan dan figur yang paripurna bagi seorang wanita. Dengan keutamaan dan kesempurnaan yang dimiliki ini, beliau dikenal sebagai “Sayyidatu Nisa’il Alamin”; yakni Penghulu Wanita Alam Semesta.
Bila Maryam binti ‘Imran, Asiyah istri Firaun, dan Khadijah binti Khuwalid, mereka semua adalah penghulu kaum wanita pada zamannya, tetapi Sayidah Fatimah as adalah penghulu kaum wanita di sepanjang zaman, mulai dari wanita pertama hingga wanita akhir zaman.
Beliau adalah panutan dan suri teladan dalam segala hal. Di kala masih gadis, ia senantiasa menyertai sang ayah dan ikut serta merasakan kepedihannya. Pada saat menjadi istri Ali as, beliau selalu merawat dan melayani suaminya, serta menyelesaikan segala urusan rumah tangganya, hingga suaminya merasa tentram bahagia di dalamnya.
Demikian pula ketika beliau menjadi seorang ibu. Beliau mendidik anak-anaknya sedemikian rupa atas dasar cinta, kebaikan, keutamaan, dan akhlak yang luhur dan mulia. Hasan, Husain, dan Zainab as adalah anak-anak teladan yang tinggi akhlak dan kemanusiaan mereka.

Kepergian Sang Ayah

Sekembalinya dari Haji Wada‘, Rasulullah saw jatuh sakit, bahkan beliau sempat pingsan akibat panas dan demam keras yang menimpanya. Fatimah as bergegas menghampiri beliau dan berusaha untuk memulihkan kondisinya. Dengan air mata yang luruh berderai, Fatimah berharap agar sang maut memilih dirinya dan merenggut nyawanya sebagai tebusan jiwa ayahandanya.
Tidak lama kemudian Rasul saw membuka kedua matanya dan mulai memandang putri semata wayang itu dengan penuh perhatian. Lantas beliau meminta kepadanya untuk membacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Fatimah pun segera membacakan Al-Qur'an dengan suara yang khusyuk.
Sementara sang ayah hayut dalam kekhusukan mendengarkan kalimat-kalimat suci Al-Qur'an, Fatimah pun memenuhi suasana rumah Nabi. Beliau ingin menghabiskan detik-detik akhir hayatnya dalam keadaan mendengarkan suara putrinya yang telah menjaganya dari usia yang masih kecil dan berada di samping ayahnya di saat dewasa.
Rasul saw meninggalkan dunia dan ruhnya yang suci mi’raj ke langit.
Kepergian Rasul saw merupakan musibah yang sangat besar bagi putrinya, sampai hatinya tidak kuasa memikul besarnya beban musibah tersebut. Siang dan malam, beliau selalu menangis.
Belum lagi usai musibah itu, Fatimah as mendapat pukulan yang lebih berat lagi dari para sahabat yang berebut kekuasaan dan kedudukan.
Setelah mereka merampas tanah Fadak dan berpura-pura bodoh terhadap hak suaminya dalam perkara khilafah (kepemimpinan), Fatimah Az-Zahra’ as berupaya untuk mempertahankan haknya dan merebutnya dengan keberanian yang luar biasa.
Imam Ali as melihat bahwa perlawanan terhadap khalifah yang dilakukan Sayidah Fatimah as secara terus menerus bisa menyebabkan negara terancam bahaya besar, hingga dengan begitu seluruh perjuangan Rasul saw akan sirna, dan manusia akan kembali ke dalam masa Jahiliyah.
Atas dasar itu, Ali as meminta istrinya yang mulia untuk menahan diri dan bersabar demi menjaga risalah Islam yang suci.
Akhirnya, Sayidah Fatimah as pun berdiam diri dengan menyimpan kemarahan dan mengingatkan kaum muslimin akan sabda Nabi, “Kemarahannya adalah kemarahan Rasulullah, dan kemarahan Rasulullah adalah kemarahan Allah SWT.”
Sayidah Fatimah as diam dan bersabar diri hingga beliau wafat. Bahkan beliau berwasiat agar dikuburkan di tengah malam secara rahasia.

Kepergian Putri Tercinta Rasul

Bagaikan cahaya lilin yang menyala kemudian perlahan-lahan meredup. Demikianlah ihwal Fatimah Az-Zahra’ as sepeninggal Rasul saw. Ia tidak kuasa lagi hidup lama setelah ditinggal wafat oleh sang ayah tercinta. Kesedihan senantiasa muncul setiap kali azan dikumandangkan, terlebih ketika sampai pada kalimat Asyhadu anna Muhammadan(r) Rasulullah.
Kerinduan Sayidah Fatimah untuk segera bertemu dengan sang ayah semakin menyesakkan dadanya. Bahkan kian lama, kesedihannya pun makin bertambah. Badannya terasa lemah, tidak lagi sanggup menahan renjana jiwanya kepada ayah tercinta.
Demikianlah keadaan Sayidah Fatimah as saat meninggalkan dunia. Beliau tinggalkan Hasan yang masih 7 tahun, Husain yang masih 6 tahun, Zainab yang masih 5 tahun, dan Ummi Kultsum yang baru saja memasuki usia 3 tahun.
Yang paling berat dalam perpisahan ini, ia harus meninggalkan suami termulia, Ali as, pelindung ayahnya dalam jihad dan teman hidupnya di segala medan.
Sayidah Fatimah as memejamkan mata untuk selamanya setelah berwasiatkan kepada suaminya akan anak-anaknya yang masih kecil. Beliau pun mewasiatkan kepada sang suami agar menguburkannya secara rahasia. Hingga sekarang pun makam suci beliau masih misterius. Dengan demikian terukirlah tanda tanya besar dalam sejarah tentang dirinya.
Fatimah Az-Zahra’ as senantiasa memberikan catatan kepada sejarah akan penuntutan beliau atas hak-haknya yang telah dirampas. Sehingga umat Islam pun kian bertanya-tanya terhadap rahasia dan kemisterian kuburan beliau.
Dengan penuh kesedihan, Imam Ali as duduk di samping kuburannya, diiringi kegelapan yang menyelimuti angkasa. Kemudian Imam as mengucapkan salam, “Salam sejahtera bagimu duhai Rasulullah ... dariku dan dari putrimu yang kini berada di sampingmu dan yang paling cepat datang menjumpaimu.
"Duhai Rasulullah! Telah berkurang kesabaranku atas kepergian putrimu, dan telah berkurang pula kekuatanku ... Putrimu akan mengabarkan kepadamu akan umatmu yang telah menghancurkan hidupnya. Pertanyaan yang meliputinya dan keadaan yang akan menjawab. Salam sejahtera untuk kalian berdua!”[]

Riwayat Singkat Sayidah Fatimah as

Nama        : Fatimah.
Julukan    : Az-Zahra’, Al-Batul, At-Thahirah.
Ayah         : Mahammad.
Ibu            : Khadijah binti Khuwailid.
Kelahiran : Jumat 20 Jummadil Akhir.
Tempat     : Makkah Al-Mukarramah.
Wafat       : MadinahAl-Munawarah, Tahun 11 H.
Makam    : Tidak diketahui.
readmore »»  

Kamis, 19 April 2012

AKHWAT IKUT MABIT? Bolehkah?




 Alhamdulillah, saya menemukan catatan ini di salah satu website. Semoga bermanfaat buat antunna para wanita (khususnya)

Ustadz kita mau mengadakan dauroh bersama (ikhwan-ahwat), rencananya menginap selama dua hari di mesjid. Bagaimana hukumnya akhwat mabit, boleh gak, ya ? kalau boleh, apa syarat-syaratnya ?

 Pada dasarnya, wanita itu tidak diharamkan bepergian keluar rumah dengan syarat-syarat utama antara lain, ila ala hajat atau keperluan yang syar’i. Misalnya untuk menuntut ilmu, mengajar dan aktifitas lainnya yang memang secara manusiawi diperlukan untuk dikerjakan manusia normal pada umumnya.

 Termasuk didalamnya adakah bahwa seorang wanita tidak dilarang berziarah untuk mengunjungi saudara atau temannya,asal tujuannya memang untuk hal-hal yang positif dan baik.

Kondisinya haruslah aman. Sebagian ulama ada yang mengambil pemikiran bahwa esensi diharamkannya para wanita bepergian keluar rumah tanpa mahram adalah karena di masa lalu kondisiya tidak memungkinkan. Selain banyak perampok di jalan, juga tidak lazim di masa itu ada wanita menempuh perjalanan di gurun pasir atau hutan sendirian. Sebab di masa itu belum ada alat transportasi umum yang aman, nyaman, terjamin dan sebagainya.

 Mereka membedakannya dengan kondisi hari ini secara umum sudah jauh lebih aman dan kondusif bagi wanita untuk bepergian keluar kota sendirian. Sehigga sebagian mereka membolehkan bagi para wanita untuk melakukan perjalanan dengan menggunakan fasilitas kendaraan umum yang tinggi tingkat keamanannya, nyaman dan lagipula tidak membutuhkan waktu perjalanan yang lama.

 Sebab cukup dalam hitungan jam, hari ini para wanita bisa menempuh jarak ribuan mil dengan pesawat terbang yang nyaman, aman dan bahkan semua itu bisa dilakukannya sambil tiduran di balik selimut hangat. Tidak menimbulkan fitnah dan dampak negatif berikutnya

 Selain itu, penting juga diperhatikan kesan dan etika yang sudah tertanam di tengah masyarakat atas keluarnya wanita dan bercampur dengan laki-laki. Misalnya menginapnya para wanita dan pria di dalam satu gedung atau sebuah acara semacam daurah. Hal ini tentu harus dikembalikan kepada urf’ atau kebiasaan yang berlaku di masyarakat umum juga.


Seacara umum, terjadinya percampuran antara laki-laki dan wanita didalam sebuah gedung atau sebuah acara memang dimungkinkan dalam islam. Misalnya kebolehan wanita hadir dalam shalat Jum’at, shalat Idul Fitri atau khutbah-khutbah lainnya. Namun kita juga tahu bahwa tetap dilakukan pemisahan antara keduanya.

 Satu hal lagi, semua itu bisa terjadi namun tanpa ada aktifitas menginap bersama. Sebab bila sudah pada batas menginap, maka contoh yang jelas di masa Rasulullah adalah masalah I’tikafnya para wanita yang dianjurkan lebih utama untuk dilakukan didalam rumah sendiri. Meski pun kita juga mendapatkan riwayat yang menyebutkan bahwa ummahatul mukminin pernah melakukan I’tikaf di mesjid.

 Namun, alangkah baiknya bila wanita memang terpaksa harus dan mesti ada mabit (menginap) bagi para wanita tempatnya dipisahkan secara fisik dari laki-laki. Bukan sekedar dengan menggunakan pembatas ruangan, membedakan kamar atau memasang penyekat saja. Sebaiknya emreka ditempatkan di gedung ata lokasi yang berbeda. Dan yang lebih leluasa tentu saja bila mereka dipisahkan dalam paket acaranya. Artinya, ada mabit wanita sendiri pada waktu dan tempat yang berbeda dengan mabitnya laki-laki. Tentu kondisi seperti ini jauh lebih aman dari fitnah.

 Namun kami tetap menganjurkan bagi pihak penyelenggara untuk kalau tidak terpaksa sama sekali, tidak perlu membuat acara yang menuntut para wanita harus menginap. Sebab mereka itu wajib mendapatkan izin yang benar-benar sepenuhnya izin atas kerdihoan orang tua mereka maing-masing. Terus terang sajalah bahwa masalah izin menginap bagi apara aktivis wanita ini bukanlah masalah yang bisa disepelekan begitu saja. Orang tua manapun pasti ingin tidur nyenyak dengan kepastian bahwa putri mereka benar-benar safe, aman, nyaman, dan semua itu hanya ada bila puterinya ada di rumah.

Kami tidak menafikan bahwa mabit itu penting, urgent, punya nilai tersendiri dan seterusnya. Namun memperkecil resiko fitnah tentu lebih utama.



Wallahu alam bi shawab

sumber: http://muslimahui.my-php.net/?cat=3
readmore »»  

Rabu, 01 Februari 2012

 
Wahai Ukhti, Auratmu Di Facebook (Apa yang akan terjadi pada akun facebook kita selepas kita mati?)

by Delitha Octaviany on Sunday, January 29, 2012 at 9:28pm

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..
...
Satu peringatan sebenarnya untuk muslimah semua

Mari kita renungkan bersama

Pikirkan bersama

Jika satu hari nanti kita mati,

Akun facebook kita hanya kita yang tahu password-nya

hanya kita yang bisa access..

Dan

Selepas kita mati..

Apa yang terjadi pada akun FB kita?

Mungkin ada yang akan ucapkan takziah

Mungkin ada yang selalu menjenguk bagi obat rindu

Tetapi..

Sadarkah kita

Gambar-gambar kita..

Akan terus membuatkan kita tersiksa di alam kubur?

Gambar-gambar yang tidak menutupi aurat

dengan sempurna

Bagaimana nanti?

Para lelaki terus-terusan melihat

Dalam masa yang sama, siapapun mungkin masih bisa ditagkan gambar kita..

Walau sudah bertahun-tahun kita mati, gambar itu terus ada..

Saham dosa terus meningkat..

Bagaimana?

Pernah terpikir tidak?

TUDUNG SINGKAT

yang dipakai itu, akan selamatkan kita dalam kubur nanti?

LEGGING dan JEANS KETAT

, bisakah menyelamatkan kita?

BAJU YANG TAK MEMBALUT AURAT itu, bagaimana?

Mungkin kini

Kita masih merasa tak sabar ingin berbagi cerita dengan gambar-gambar yang cantik

Tempat-tempat yang kita sudah lewati di muka bumi-Nya

Tapi di akhirnya nanti..

Semua itu tidak akan membawa arti

Semua hanya tinggal kenangan bagi yang masih hidup

Di alam kubur, semua itu tidak sedikitpun bisa menyelamatkan kita

Mari kita renungkan,

Saham dosa yang terus meningkat walau setelah ketiadaan kita di muka bumi sampai hari akhirat

TUTUPILAH AURATMU SEBELUM AURATMU DITUTUPI KAIN KAFAN

Peliharalah dirimu sebelum dirimu dikafani

Jagalah muru’ah diri sebagai seorang muslimah

Mati itu pasti

Persiapkan diri untuk mati itu perlu

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala ridha dengan renungan ini

aamiin
readmore »»  

Sabtu, 28 Januari 2012

ANTARA DAKWAH DAN MASA LALU

 
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Segala puji bagi Allah Subhanahu Wa Ta'ala, Tuhan semesta alam yang tiada satupun kekuatan yang mampu menandingi-Nya. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Sallallahu 'Alaihi Wasallam, keluarga, sahabat, dan para tabi’in.

Untukmu ukhtiku… yang insya Allah selalu berada dalam lindungan Allah Subhanahu Wa Ta’ala…
Dakwah adalah hal yang harus dipenuhi setiap muslim setelah iman dan amal. Hal itu merupakan kewajiban bagi setiap kita yang mengaku sebagai umat Rasulullah SAW. Maka tidak ada lagi alasan bagi kita  untuk sangsi, enggan, bahkan menolak untuk melakukannya. Karena sejatinya, dakwah akan senantiasa menemani setiap helaan nafasmu, seumur hidupmu.

Dakwah tidak selamanya harus dilakukan oleh manusia yang “lurus dan baik” (dalam artian ini adalah manusia yang dianggap tidak memiliki cacat sedikitpun). Bila hal itu adalah syarat untuk berdakwah, amalan ini tidak akan mungkin pernah tertunaikan karena manusia yang tanpa cacat di muka bumi ini hanyalah Nabi Muhammad SAW. Juga jika memang itu syaratnya, pastinya tak akan ada lagi penerus amanah dakwah selepas Rasulullah SAW pergi. Iya bukan? 
Mengapa?  
Tadi, karena kita tidak masuk kriteria sebagai pendakwah tadi. Kita hanya manusia biasa. Manusia biasa yang dosanya tiada terkira sejak mata dibuka hingga mata ditutup lalu dibuka lagi dan ditutup lagi. Iya kan?
Ya ukhti... dakwah harus tetap ada. Dan bisa dilakukan oleh siapa saja. Asalkan dia Mukmin, berilmu, dan senantiasa berusaha memperbaiki diri dari setiap kesalahan yang dilakukannya.

Sebagai seorang aktivis dakwah, sudah sunnatullah jika ditemukan begitu banyak tantangan dan godaan di setiap liku perjalanannya. Pun tidak jarang kita merasa bingung dan kalut dalam menyikapi setiap ujian itu. Terlebih, ketika bayangan masa lalu yang kurang menyenangkan kembali hadir dalam bahtera dakwah ini.

Ketika hal itu benar-benar terjadi, hadapilah dengan keanggunanmu. Tetap jaga senyummu dan perbanyaklah mengingat Allah. Sesungguhnya setiap manusia memiliki cacat, tetapi hal itu harusnya tidak lantas membuat semangat dakwah kita luntur.

Terlebih lagi ketika cacat mu itu diketahui banyak orang yang menjadi objek dakwah mu. Tetaplah tenang. Yang harus kau lakukan hanyalah pembuktian. Katakan bahwa setiap manusia pasti pernah punya salah, dan sebaik-baiknya manusia bukanlah orang yang selalu benar, melainkan dia yang pernah berbuat salah dan berusaha memperbaikinya.

Jangan takut dibilang munafik. Tetaplah buktikan kepada semua orang bahwa dirimu bisa berubah. Dirimu telah hijrah, ya ukhti…
Dan itu yang harus kau azzamkan dalam hatimu, tancapkan hingga dasar jiwamu..
“Bahwa aku mengakui seluruh kesalahan yang pernah ku lakukan karena ketidak tahuan ku. Dan kini Allah telah memberikan pemahaman pada diriku, dan aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahan itu. Sami’na wa atho’na. Kami dengar, dan kami taat”

Komitmen adalah harga yang harus kau bayar di jalan ini. Tidak mudah memang. Tetapi itulah yang membuat jalan ini begitu istimewa. Karena pemain di jalan ini hanyalah orang-orang hebat yang sanggup berkomitmen kepada dirinya sendiri dan orang lain untuk senantiasa memperbaiki diri setiap waktu.

Tunjukkan ya ukhti, bahwa dirimu bisa lebih baik. Lalu tantang mereka, ”Aku bisa! Bagaimana dengan kalian?”

Jangan biarkan kritik yang menyakitkan tentang mu dan tentang masa lalumu menyurutkan semangat dakwahmu, ukhti fillah!
Wallahu a’lamu bisshowab...
Wassalamu’alaiku waahmatullah wabarakatuh.
readmore »»  

Jumat, 27 Januari 2012

Membentuk Karakter Muslimah Berkualitas


Ini dia rangkuman materi ceramah dari Ustadzah Siti Sumarni di acara Mabit Muslimah Masjid Baitul Ihsan BI. Semoga bermanfaat ^_^

Dimulai dari definisi kualitas. Kualitas adalah baik buruk keadaan suatu benda.
"Inna akromakum 'indallahi at qokum"
Sungguh yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertakwa...," QS. 49: 13.

Ciri-ciri muslimah berkualitas ada 3, yaitu:
1) Memegang prinsip dasar islam yaitu Syahadat.
          Yakin sepenuh hati akan keesaan Allah bahwa Allah mentakdirkan sesuatu secara proporsional, tepat waktu, tepat tempat, dan tepat sasaran. Dan juga bersedia sepenuhnya mengikuti jejak Rasulullah, Muhammad Sallallahu 'alaihi wassalam.

2) Mengenali diri
          Mengaktualisasi potensi diri. Yaitu mengetahui dimana sebenarnya potensi yang dimiliki oleh diri kita. Di bidang menulis kah? kesehatan kah? mengajar kah?
Cara untuk mengetahui potensi diri adalah dengan melihat peluang apa yang sering dihadirkan oleh Allah dalam hidup kita.

3) Berkepribadian matang
          Ada beberapa poin yang menjadi standar perempuan berkepribadian matang.
          a. Stabil
              Orang yang berkepribadian matang pastilah orang yang hati dan pikirannya senantiasa stabil. Terhindar dari keresahan hati. Dan juga penyakit yang membuat hati tidak tenang. Mengapa bisa? Karena muslimah yang berkualitas senantiasa mengingat Allah dalam setiap helaan nafasnya. Bidzikrillah tatmainnul quluub. Dengan mengingat Allah, niscaya hati menjadi tenang.
          b. Kuat
              Muslimah yang berkepribadian matang akan senantiasa berusaha menadi orang yang kuat. Baik secara lahiriah maupun batiniah.
          c. Tangguh
              Tangguh dalam menjalani pahitnya kehidupan dan senantiasa tegar serta bersabar dalam menerima ujian dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
          d. Rendah Hati
              Inilah ciri-ciri yang sangat khas dari pribadi yang matang. Bukan lantas sombong karena memiliki ilmu yang lebih dan telah mampu menerapkan ketiga poin di atas. Tetapi justru menjadi rendah hati (tawadhu') dan tidak segan-segan membagi ilmunya kepada orang lain.
          e. Tidak cengeng
              Poin terakhir ini merupakan hal yang mendasar dan menjadi penentu kematangan diri seorang muslimah. Muslimah yang tangguh tentunya bukan muslimah yang cengeng dan mudah mengeluh dalam menghadapi sesuatu. Tidak lantas menangis ketika merasa lelah dan payah. Tidak lantas putus asa dan pergi meninggalkan amanah ketika amanah yang dibebankan dirasa terlalu berat.
Cengeng itu boleh. Menangis itu sah. Tapi hendaknya ditempatkan pada tempat yang semestinya. Cengeng saat bermuhasabah dalam qiyamullail itu boleh. Sangat dianjurkan. Hal itu justru akan mendekatkan kita kepada Allah, insya Allah.

Nah, itu dia ciri-ciri dari muslimah yag berkualitas.
Sekarang, apa sih yang menjadi tantangan bagi kita untuk bisa menjadi muslimah berkualitas?

1) Ligkungan
    Tak pelak lagi, lingkungan memiliki pengaruh yang sangat besar dalam membentuk karakter seseorang. Tak terkecuali para muslimah.

2) Cinta Dunia
    Tantangan kedua yang selalu dijadikan syaitan sebagai alat terampuh untuk melemahkan iman para manusia adalah sifat manusia yang terlalu cinta pada dunia sehingga lupa akan kekekalan kehidupan akhirat.

3) Panjang angan-angan (berkhayal tanpa ada usaha untuk merealisasikannya)

4) Akses informasi yang terlalu terbuka
   Begitu banyak jejaring sosial yang menjadi wadah para muslimah mencurahkan isi hatinya. Seperti facebook, twitter, plurk, dll. Hal itu merupakan tantangan tersendiri bagi para muslimah yang ingin menjadikan dirinya berkualitas.

Lalu bagaimana cara untuk menghadapi tantangan itu?

1) Niatnya harus kuat untuk menjadi muslimah yang berkualitas. 
     Ketika azzam sudah kuat di hati kita, menancap hingga ke relung terdalam, insya Allah kita akan menemukan kemudahan dalam proses menjadi muslimah berkualitas.

2) Membuat rencana dan resolusi amal
    Jangan biarkan dirimu berjalan tanpa tujuan. tanpa rencana, dan persiapan. Tahu mutabaah yaumiah? Ya. itu bisa dijadikan salah satu cara untuk mengontrol amalan ibadah kita setiap harinya.

3) Menjalankan latihan-latihan / riyadhoh.

Yang terakhir, untuk menjaga ke istiqomahan kualitas kita sebagai muslimah, sebaiknya kita mengikuti dan aktif dalam komunitas-komunitas islam.
readmore »»  

Jumat, 20 Januari 2012

Jilbab, Darah Pertama Saya

Jilbab, Darah Pertama Saya
“Kalau kamu masih pakai jilbab, Mamah akan bunuh diri saja!” ancam Mamah disertai isak tangis yang mulai membuncah.
Mendengar Mamah berkata begitu saya hanya mampu tertegun. Tak menyangka bahwa kata-kata penuh amarah tersebut akan dengan mudah terlontar begitu saja dari bibir hangat Mamah. Kali ini Mamah tidak main-main. Saya yakin itu! Terlihat dari nadanya yang geram.
Seketika, seolah tersihir keadaan Mamah yang mulai membuat saya khawatir, lekuk-lekuk hati saya ikut-ikutan banjir. Lelehan demi lelehan bola salju mulai jatuh dari kedua mata sipit saya. Seraya bersimpuh meminta maaf, saya mencoba menenangkan Mamah.
“Iya Mah, Nana tak akan pakai jilbab.”
Setelahnya, kami berdua saling menderaikan air mata.
“Kamu belum bisa mandiri Na, jadi mesti menurut sama orang tua,” ucap mentor di SMA ketika saya berkeluh kesah tentang peristiwa tersebut, beberapa hari kemudian. Peristiwa penuh isak tangis antara saya dan Mamah yang disebabkan oleh alasan yang sama, jilbab!
Ya, hanya karna jilbab..
***
Dua puluh tahun silam, Allah mengirimkan saya kepada keluarga yang begitu perhatian kepada saya. Mungkin karena saya adalah anak pertama, dan berstatus ‘perempuan’ maka mereka cenderung protektif terhadap saya, terutama Mamah. Sifat protektif ini pun didukung oleh keluarga dari garis Mamah yang sebagian besar memeluk Kristen-Katholik, akibat perkawinan beda agama. Beruntungnya, Mamah adalah seorang muslim, begitu pula Ayah.
Sewaktu kecil saya terbilang aktif. Tidak pelak, ketika SD saya sempat menjadi penyiar radio cilik di Kebumen, di samping aktivitas saya sebagai model cilik yang sering ikut lomba fashion show di mana-mana. Menginjak SMP, Mamah mulai cemas dengan cara berpakaian saya ketika ber-fashion show akan menjadi sebuah kebiasaan yang nantinya tak bisa dihentikan. Untuk itu saya pensiun dari ranah “pertunjukkan gaya” dan mulai melirik dunia science yang tampaknya penuh dengan kejutan ilmu pengetahuan.
Semenjak saat itu, saya lebih sering ikut perlombaan yang menyangkut keilmuan, bahkan ketika saya mulai memasuki dunia baru yang penuh warna bernama SMA. Hanya satu yang tidak bisa saya tinggalkan dari kecil, yakni kesenangan saya dalam hal menyanyi. Rasanya, itulah dunia saya! Dunia bernada yang membuat saya berjalan di atas partitur berirama dengan ketukan yang terkadang membuat saya terbang hingga ke dunia nirwana. Indah!
Namun perkataan Mamah saya sekali waktu membuat nada-nada fals kian menari-nari di atas not-not indah milik saya.
“Mamah tidak setuju kalau Nana pakai jilbab.”
“Tapi Mah?” bantah saya yang dengan cepat Mamah mentahkan.
“Mamah hanya khawatir kalau kamu ikutan aliran sesat, jadi Mamah tidak setuju kamu pakai jilbab!”
Padahal ketika itu saya masih gadis SMA kelas satu yang hanya mencoba share tentang apa yang disampaikan mentor saya beberapa waktu sebelumnya,
“Perempuan yang berpakaian tapi ‘telanjang’ tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium wanginya surga…”
Ya, karena itu sungguh besar keinginan saya mengenakan jubah kemuliaan perempuan tersebut. Tetapi sekali lagi, dengan alasan kecemasan bahwa jilbab memiliki hubungan erat dengan aliran-aliran islam nyeleneh yang sedang marak-maraknya kala itu, Mamah pun tidak merestui. Lalu ayah? Beliau hanya terdiam dengan raut wajah khasnya yang menandakan ketidaksetujuan saya mengenakan jilbab.
Saya bersikeras. Iseng-iseng suatu hari, ketika hendak pergi ke sekolah untuk mengikuti kegiatan organisasi, saya mengenakan jilbab. Alhasil, genderang perang pun mulai didengungkan. Seketika itu, Mamah mulai mengeluarkan senjata pembunuh yang membuat saya diam seribu bahasa. Perkataan yang menghujam hingga ke dasar hati yang paling dalam,
“Kalau kamu masih pakai jilbab, Mamah akan bunuh diri saja!”
Bunuh diri? Hanya karna jilbab?
Ya Rabb… Terkadang terlintas di benak saya betapa beruntungnya mereka yang dengan mudahnya mampu melingkupi bagian tubuh yang semestinya tidak boleh terlihat dengan balutan kain panjang bernama jilbab.
Sedangkan saya?
Rasanya butuh kesungguhan yang nyata untuk meyakinkan seluruh keluarga bahwa saya pantas berjilbab. Keluarga yang berpikiran moderat, yang beralasan,”nanti saja kalau udah kerja baru pake jilbab”, bahkan tante saya pun yang mulanya berjilbab, kini telah menanggalkan jubah kehormatan tersebut, hanya karna desakan keluarga.
Di sisi lain, saya melihat betapa banyak perempuan muslim yang mesti berpikir berkali-kali untuk mengenakan jilbab. Alasannya pun bermacam-macam; Jilbabin hati dululah, jilbab tak pentinglah, yang penting akhlaqnya benarlah, jilbab hanya akan membuat penampilan menjadi kunolah, berjilbab nanti saja kalau udah menikahlah, panaslah, nanti saja jilbabannya kalau udah sesuai targetlah, belum siaplah, mengganggu aktivitaslah, serta berbagai alasan lain yang rasanya tidak asing lagi.
Jilbab tak penting yang penting akhlaqnya benar, begitukah?
Ah, masuk akalkah jika seorang perempuan dengan akhlaqnya yang baik serta memiliki rasa malu yang sangat luar biasa, tetapi dalam waktu yang bersamaan ia berjalan ‘telanjang’ di tengah keramaian, membuat auratnya dicumbu pandangan-pandangan lelaki nakal? Bukankah seharusnya akhlaq baik dan rasa malu itu mendorong perempuan untuk melingkupi auratnya di hadapan para lelaki?
Seorang perempuan yang menjaga kehormatan serta rasa malunya adalah perempuan yang tidak membiarkan pandangan lelaki manapun menjamahi lekuk tubuhnya demi menjaga ketaatan kepada Sang Pencipta. Lalu, buat apa busana diciptakan kalau perempuan hanya menyukai secuilnya saja? Bukankah busana tercipta untuk menutupi bukan membukai?
Waktu pun bergulir.
Saya pun akhirnya lulus SMA dan melanjutkan ke perguruan tinggi. Awal tingkat satu merupakan hal terberat buat saya. Selain saya mesti berusaha untuk meyakinkan keluarga terutama Mamah saya agar saya boleh mengenakan jilbab, saya pun akhirnya mengalami sebuah titik keputusasaan bahwa saya memang ‘tidak ditakdirkan’ untuk berjilbab. Hingga secara tidak sadar, saya terperosok ke dalam kerlap-kerlip dunia yang membuat saya lupa akan jilbab.
Sampai suatu ketika, di saat saya menginjak tingkat tiga Allah mengingatkan saya dengan cara-Nya. Kala itu, penyakit thipus menggerogoti kesehatan saya. Layaknya sudah jatuh tertimpa tangga, lever saya pun ikut kena akibat gula darah saya yang rendah.
Mendengar kabar tersebut, Mamah langsung terbang dari Kebumen ke Bintaro untuk merawat saya. Satu bulan saya mesti menginap di ruang UGD. Lalu mirisnya, dokter memvonis bahwa saya tidak akan sembuh seratus persen dari sakit lever tersebut selama hidup saya.
Ya Rabb..
Di saat itulah cahaya hidayah menyapa..
Di ranjang reyot rumah sakit, saya memulai pembicaraan dengan Mamah.
“Mah, kalau Nana nanti meninggal bagaimana? Nana kan belum pakai jilbab Mah.. Nana khawatir Nana tidak akan masuk surga.”
“Kamu jangan bicara begitu donk Na”, lirih Mamah saya yang matanya mulai basah.
“Jadi boleh kan Mah Nana pakai jilbab?”
Mungkin karena melihat saya, anak gadisnya begitu ngotot ingin mengenakan jilbab, ditambah kondisi kesehatan saya yang membuat semuanya tampak mendramatisasi, akhirnya sebuah anggukan Mamah waktu itu mampu mengobati segala sakit yang terasa. Papah serta sebagian keluarga besar Mamah pun yang awalnya menolak, akhirnya menyetujui.
Alhamdulillah.
Kala itu, tak terasa tetesan syukur mengalir perlahan dari mata saya. Betapa bahagianya saya yang akhirnya mampu menanggalkan pakaian terbuka saya dan mengantinya dengan pakaian yang menutupi. Betapa gembiranya saya mengenakan jilbab pertama dengan semburat darah yang hampir menghiasi seluruh lipatannya. Semburat warna merah-darah, yang membuat saya menjadi perempuan cantik dengan sebuah azzam di dalam jiwa,
“Kan saya genggam hidayah ini erat-erat selamanya.”
Oleh: Mas Mochammad Ramdhani, Bandung
readmore »»  

Minggu, 01 Januari 2012

Realita Seputar Muslimah dan Cara Mengatasinya



Tak pelak lagi wanita adalah salah satu elemen makhluk hidup yang memegang peranan penting dalam kehidupan makhluk di muka bumi, di samping dari sudut pandang Islam, selain wanita menempati kedudukan yang sangat penting juga karena ia merupakan unsur penting yang mendukung penerapan syariat Allah di muka bumi ini. Bahkan sebaliknya, wanita juga sekaligus merupakan kunci dari kehancuran kemaslahatan makhluk. Pada prinsipnya Islam telah memberikan tuntunan dan tuntutan atas diri kaum wanita khususnya muslimah, namun pada kenyataannya, begitu banyak tuntunan dan tuntutan itu yang dilanggar baik oleh wanita itu sendiri atau oleh yang lainnya.
Prinsip Kedudukan Wanita dalam Sudut Pandang Islam

1. Tidak ada satu pun agama yang sesempurna dan seglobal Islam dalam menempatkan/memposisikan wanita seperti halnya tidak ada satupun agama atau pemikiran yang sesempurna dan seglobal Islam dalam menempatkan/memposisikan kemaslahatan manusia dan makhluk seluruhnya. Islam adalah dien yang sangat sempurna yang tidak ada satupun yang mampu menandingi kesempurnaannya. Karena sifat kesempurnaannya dan kemenyeluruhannya itulah ia tidak akan luput dari menempatkan wanita.

2. Pada prinsipnya kita meyakini bahwa sesuatu yang sempurna itu tentu tidak ada cacatnya walau sedikitpun sehingga apapun yang datang darinya tentu tidak ada pula yang salah atau keliru darinya

3. Demikian pula kita meyakini bahwa semua tuntunan dan tuntutan Islam atas diri seorang wanita itu pastilah baik dan untuk kebaikan si wanita itu sendiri. Logikanya, Islam itu datang dari Allah, Dzat yang paling mengenal personalities dan watak manusia (wanita) sehingga tentu Allah lebih mengenal diri kita melebihi kita mengenal diri kita sendiri.

4. Buktinya, jika ada suatu pelanggaran, maka mafsadatnya akan dikembalikan kepada manusia (muslimah) itu sendiri.

Realita Seputar Muslimah
1. Realita Ruhiyah
Semakin berkurangnya kadar keimanan sehingga mudah terjerumus kepada perilaku-perilaku yang bertentangan dengan prinsip-prinsip keimanan: Pada tataran ini, banyak kita melihat fenomena rendahnya iman khususnya pada diri sebagian besar muslimah saat ini. Jauhnya mereka dari syariat Islam menjadikan hati mereka tidak tenteram. Hati mereka senantiasa dipenuhi syak dengan masalah-masaah dunia, yang membuat hati mereka jauh dari taqarrub ilallah.

2. Realita Jasadiyah
Semakin kurangnya amal dzahiriyah yang mengakibatkan pelecehan terhadap nilai Islam, dekadensi moral, meningkatnya angka kriminalitas, dll. Kejahatan tidak akan terjadi jika tidak ada kesempatan.
- Terbukanya aurat; semakin merebaknya mode pakaian (fashion) yang tidak Islami yang serba terbuka dan mengikuti mode-mode pakaian kaum kafir. Parahnya lagi, kecenderungan untuk mengikuti mode-mode pakaian kafir ini menjadi tren dan sekaligus menjadi parameter modern atau tidaknya seseorang. Bahkan busana-busana muslimah yang tertutup dikatakan sebagai pakaian yang ketinggalan zaman dan tidak modis.

- Materialisme; perubahan pola hidup dari social and religious oriented menjadi pola hidup individual and money oriented, sehingga masyarakat modern saat ini-sebagian besar wanita- berbondong-bondong untuk menempuh segala cara – yang sayangnya sebagian besar caea yang tidak Islami – untuk mendapatkan uang. Bahkan jika perlu sampai mengorbankan harga diri dan kehormatan mereka dengan dalih kemandirian wanita. Akibatnya bukan hanya sekedar hilangnya rasa malu yang menjadi perhiasan wanita, tetapi lebih dari itu mengakibatkan rusaknya tatanan masyarakat, karena ibu-ibu, para istri, dan kaum wanita ‘melarikan diri’ dari rumah-rumah mereka.

- Pergaulan yang semakin ‘terbuka’; dimana sebagian besar kaum muslimah sudah tidak lagi terjaga dari pergaulan bebas. Fenomena pacaran hamil di luar nikah sampai pernikahan yang tidak Islami menjadi fenomena yang biasa di tengah masyarakat kita. Anehnya masyarakat secara langsung maupun tidak langsung turut mengambil peran aktif dari merebaknya pergaulan yang seperti itu. Jika ada anak wanita yang sampai usia remaja belum memiliki pacar, maka mereka akan merasa khawatir jangan-jangan anaknya menjadi perawan tua. Banyak dari pihak orang tua yang senang membelanjakan uangnya untuk membeli pakaian-pakaian dan asesiris yang membuka peluang bagi kaum wanita mereka untuk ‘meluaskan pergaulannya’. Akibatnya bisa ditebak, prostitusi, aborsi, pedofilia, dan berbagai kasus pelanggaran hukum terjadi yang akhirnya akan menyusahkan masyarakat itu sendiri.
- Dan lain-lain

3. Realita Tsaqafiyah
Tersebar luasnya pemahaman-pemahaman yang sesat atau menyesatkan yang mengakibatkan kekeliruan dalam pengamalan syariat Islam, seperti emansipasi, feminisime, berbagai aliran pemikiran, filsafat, dan lain-lain. Berbagai pemikiran ini menjadikan kaum wanita – yang notabene sebagian besar muslimah – mulai meragukan kebenaran syariat Islam. Mereka menganggap syariat Islam sebagai ajaran yang membenarkan superioritas dan eksploitasi terhadap kaum wanita serta membatasi kaum wanita untuk mengaktualisasikan dan mengekspresikan dirinya.
Cara Mengatasinya

Pertama adalah dengan menuntut ilmu syar’i, karena hanya dengan menuntut ilmu syar’i, seorang muslimah akan mampu untuk membedakan antara mana yang haq dan yang bathil dan meraih keimanan dan kenikmatan hakiki. Hal ini dilakukan dengan cara menyibukkan diri untuk mengikuti tarbiyah-tarbiyah dan taklim-taklim untuk membentuk tashawwur (pemahaman) Islam yang kaffah.

Kedua, dengan mengamalkan konsekwensi-konsekwensi dari ilmu tersebut, sesuai tuntunan dan tuntutan Al Qur’an, Assunnah, serta sesuai dengan pemahaman para ulama salaf.
Ketiga dengan mendakwahkan syariat Islam, mulai dari kaum kerabat, hingga ke lingkungan dimana ia berada.

Khatimah
Jika setiap muslimah sengan penuh kesadaran menerapkan ketiga hal ini, maka insya Allah figur ‘sebaik-baik perhiasan dunia (mar’ah shalihah)’ akan tercapai. Dan jika ini terjadi, tidak akan ada yang lebih bahagia kecuali seluruh manusia itu sendiri, dimana kaum wanitanya terjaga dengan baik dan insya Allah masyarakat dan generasi-generasi sesudahnya juga akan terjaga dari kebinasaan.Wallahu a’lam

source: www.sahabatrohis.web.id
readmore »»  

Kamis, 17 November 2011

Larangan Membuka Aib Saudara Sesama Muslim

Pada kegiatan rutin keputrian di sekolah kami, kemarin pada tanggal 11-11-11 sempat membahas mengenai materi ini. Semoga tidak hanya penyampaian di dunia nyata, tapi di dunia maya juga kita tetap bergerak. Terima kasih Sang Maha Pemberi Inspirasi dan penulis. Selamat menyimak ikhwahfillah.

###

Marilah kita bertaqwa kepada Allah dengan taqwa yang sebenar-benarnya, seperti yang disampaikan dalam Al Qur’an : "Yaa ayuhaladzinaa ammanu taqullaha haqotuqotihii wa laa tamutunaa ilaa wa antum muslimuun. “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan beriman.” (QS. Ali Imran: 102)

Arti taqwa itu sendiri adalah melaksanakan semua perintah Allah dengan tulus ikhlas dan menjauhi segala larangan dengan penuh tawadhu. Wujud taqwa salah satunya adalah memiliki pemahaman bahwa sesama muslim adalah saudara Oleh karena itu menyakiti dan mencaci maki orang muslim adalah dosa besar. Sifat ini tercela dan merupakan ciri-ciri orang munafik.

Muslim satu dan lainnya adalah saudara ibarat satu tubuh. Salah satu bagian tubuh dicubit, maka yang lainnya ikut merasakan sakit. Persaudaraan muslim sudah diikat dengan dua kalimat syahadat, yaitu kesaksian dan pengakuan bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah. Semua muslim menyatakan demikian, artinya terdapat kesamaan dan keseragaman pandangan hidup maupun akidah. Karena itu, sebenarnya muslim itu satu saudara. Tetapi umat muslim seringkali menjadi terpecah-belah, semua itu akibat ulah dari orang-orang munafik.

Orang munafik tidak pernah menghiraukan bahwa sesama muslim tidak boleh menyakiti, baik melalui cacian, tindakan, menyebar isu bohong dan sebagainya.

Fasik adalah perilaku yang bertolak belakang antara lahiriah dan hatinya. Itulah orang munafik, sebab yang ditampakkan terasa indah, yang disimpan dalam hati terasa busuk.

Sebagai muslim hendaknya sadar betul, bahwa menggunjing aib dan kesalahan sesama muslim itu dilarang. Meskipun orang itu benar-benar berbuat dosa, maka kita tidak boleh menceritakan pada orang lain. Menceritakan kejelekan orang lain, padahal nyatanya buruk, berarti membuka aib seseorang.

Apabila kita melihat seorang muslim melakukan dosa atau kesalahan, kemudian kita mencacinya, maka sikap kita itu bukanlah mencerminkan pribadi muslim. Seperti yang ditulis dalam Al-Qur`an QS. Al Ahzab ayat 58

“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang beriman, baik laki-laki maupun perempuan, tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.”

Sesama muslim adalah saudara, sesama muslim tidak boleh menyakiti, baik melalui cacian, tindakan, menyebar isu bohong dan sebagainya. Menceritakan kejelekan orang lain, padahal nyatanya buruk, berarti membuka aib seseorang, dan orang yang membuka aib saudaranya sendiri diibaratkan seperti memakan bangkai saudaranya sendiri.

Marilah kita untuk selalu menjauhkan sifat menyakiti dan mencaci maki sesama muslim terutama dalam kehidupan sehari-hari. Semoga Allah SWT senantisa memberikan petunjuk bahwa yang benar itu adalah benar dan kita diberikan kekuatan untuk melaksanakannya, dan Allah SWT juga memberikan petunjuk sesuatu yang salah itu memang salah dan kita diberi kekuatan untuk menghindarinya.

“Sesiapa yang menutup aib saudara muslimnya maka Allah akan menutup aibnya di akhirat” (HR. at-Tirmidzi dan disahihkan oleh Al-Albani)

“Seorang Muslim itu saudara bagi Muslim yang lain. Dia tidak menganiayanya dan tidak pula membiarkan dia teraniaya. Siapa yang menolong keperluan saudaranya maka Allah akan menolong keperluannya pula. Siapa yang menghilangkan kesusahan seorang Muslim, Allah akan menghilangkan kesusahannya di hari kiamat. Dan siapa yang menutup keaiban seorang Muslim, maka Allah SWT akan menutup keaibannya di hari akhirat.” (HR. al-Bukhari)

Wakurabigfir warham wa-anta Khoirurohimin.
readmore »»  

Senin, 26 September 2011

SENYUM ^_^

Assalamu'alaikum Warahmatullah Wabarokatuh

Hanya ingin berbagi pengetahuan tentang senyuman kepada antum dan antunna..
Ini berdasarkan realita..
Maafkan jika banyak kesalahan kata..
Selamat membaca ^_^


Senyum adalah ibadah...
Senyum itu indah...
Senyum membuat segala yang sulit menjadi mudah...
Senyum dengan segenap keikhlasan adalah ciri muslim dan muslimah
Senyum menjadikan islammu semakin kaffah..

Lalu bagaimana dengan senyum yang salah arah?
Yang justru menimbulkan fitnah..

Terkadang senyum yang salah arah membuat si "penerima" jadi salah tingkah..
Dan menimbulkan berbagai macam zinah..
Mulai dari zinah mata, hati, dan menjadi sampah pikiran, iya kan yah?

Maka itu ikhwahfillah..
Senyumlah ala kadarnya..
Di tempat yang semestinya..
Dalam takaran yang secukupnya..
Dalam waktu yang sesingkat-singkatnya..
Istighfar ketika senyummu berlebih..
Karena kau harus sadar, betapa senyum manismu dapat menimbulkan permusuhan..
Betapa senyum manismu dapat menyulutkan api pertikaian
Betapa senyum manismu dapat melemahkan iman
Betapa senyum manismu dapat menimbulkan kefuturan bagi jiwa-jiwa yang tenang
Betapa senyum manismu terlalu manis untuk dipandang dengan tatapan-tatapan syaitan
Betapa senyum manismu begitu membahayakan bagi mereka yang masih di permulaan..

Tetapi ikhwahfillah
Jangan pula kau pelit akan senyuman..
Meski jarang-jarang dan penuh kehati-hatian..
Tersenyumlah dengan ramah pada saudara seiman
Bukan berarti kepada yang tak seiman tidak boleh menebarkan senyuman..
Karena Rasulullah mengajarkan untuk menebarkan senyum pada setiap insan..

Untukmu yang mendapat senyuman..
Jangan salah tanggapan..
Bukan bermaksud kecentilan..
Hanya saja ingin membagi kebahagiaan kepada saudara satu iman..

Untukmu yang tidak mendapat senyuman..
Juga jangan salah tanggapan
Bukannya pelit akan senyuman..
Apalagi bermaksud menyombongkan..
Hanya saja kami takut
Jika senyuman kami dijadikan 'ladang usaha' syaitan untuk mengendurkan iman kalian..

Maka itu ikhwahfillah
Tersenyumlah dengan perasaan tenang..
Bagaimanapun, senyum itu membuat kita menawan
Senyum itu sedekah bagi orang-orang yang beriman
Senyum itu ajaran Rasulullah Sallallahu 'alaihi wasallam
Senyum itu akan indah ketika diliputi dengan keikhlasan dan ketaqwaan pada Sang Maha Rahman..

Dari Jabir ra., ia berkata, “Sejak aku masuk Islam, Rasulullah saw tidak pernah menghindar dariku. Dan beliau tidak melihatku kecuali beliau pasti tersenyum kepadaku.” (HR. Bukhari dan Muslim)

“Senyummu di depan saudaramu adalah sedekah.” Hadits Riwayat At Tirmidzi dalam sahihnya.

“Dan sesunguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al Qalam: 4)

Wallahua’lam

Wassalamu'alaikum warahmatullah wabarokatuh.
readmore »»  

Sabtu, 17 September 2011

CANTIK


Cantik
Ketika ia menutup auratnya
Cantik
Ketika ia melupakan egonya
Cantik
Ketika ia jaga sikapnya
Semakin Cantik
Ketika ia jaga ucapan dan mahkotanya
Mempesona
Ketika ia memaafkan sesamanya
Manis senyumnya menghangatkan jiwa
Diletakkan pada hal hal yang sewajarnya

Cantik
Ia tampak laksana bidadari dunia
Jauhkan diri dari syahwat dan zina
Tetap tegar menghadapi pergolakan dunia fana

Cantik
Pedihnya ditutupi do'a
Tanpa mengeluh, rela terima
Segala cobaan dan takdir Sang Pencipta
Dalam hidupnya

Cantik
Auramu pancarkan keagungan
Diam adalah senjata keteguhan
Setiap ucapan dirangkai penuh kelembutan
Demi menjaga kesucian iman
Hingga sampai di haribaan Sang Maha Rahman
readmore »»  

Jumat, 16 September 2011

KEMULIAAN BERSEDEKAH

  sumber gambar : www. google.com



Assalamu’alaikum wr.wb
Masih ingat materi keputrian di kelas X1 dan X2?
Saat itu materi yang disampaikan berupa materi agama yaitu “KEMULIAAN BERSEDEKAH”.
Ada sebuah kisah yang pernah dibacakan oleh rekan saya Irma Rifdayani Fadhlia, begini kisahnya.
Dahulu kala ada seorang ibu tua yang kaya raya dan baik hati. Beliau mempunyai seorang anak laki-laki yang tampan, sholeh, dan baik budinya. Pada suatu hari, rumah ibu tersebut diketuk oleh seseorang. Setelah dibukakan pintu, ternyata yang mengetuk pintu tersebut adalah seorang pengemis wanita. Karena sang ibu merasa kasihan, ia pun menyilahkan pengemis itu masuk ke dalam rumahnya dan memberinya makan.
Ketika diperhatikanlebih lama, sang ibu ini terkejut karena pengemis wanita itu ternyata masih muda dan sangat cantik. Kulitnya juga putih bersih. Tidak seperti pengemis pada umumnya. Yang membuatnya terlihat seperti pengemis hanya baju panjangnya yang kumal dan agak compang-camping.
Sang ibu lalu mengangkat pengemis wanita itu menjadi anaknya. Ia menikahkan putera nya dengan pengemis wanita itu. sang pemuda pun tak keberatan, karena ingin menyenangkan hati ibunya.
Saat malam pertama, di dalam kamar sang suami telah menunggu sang istri. Tak berapa lama, sang istri pun masuk dengan membawa sepiring makanan ringan untuk mereka nikmati berdua. Ketika hendak menyerahkan piring berisi makanan itu kepada suaminya, sang suami terkejut karena si istri menggunakan tangan kiri untuk menyerahkan piring itu.
“Istriku, tidakkah kau di ajari tentang sopan santun leh kedua orang tuamu?”Tanya sang suami lembut.
Tiba-tiba si istri pun menangis dan mangakui, bahwa selama ini ia sudah tidak mempunyai tangan kanan lagi. Ia pun menceritakan kronologisnya pada si suami.
#             #             #

Di sebuah negeri, hiduplah serang kaya yang kikir. Hartanya melimpah, namun ia tidak pernah bersedekah. Sedikitpun. Rumahnya mewah. Ia mempunyai banyak selir dan pembantu di rumahnya. Ia juga mempunyai seorang anak wanita yang cantik jelita. Berbeda dengan sang ayah, putri cantik ini begitu baik hati, murah senyum dan selalu membantu orang lain.
Pada suatu hari, datanglah seorang pengemis ke rumahnya. Dan kebetulan, si putri yang membukakan pintunya. Si Putri merasa kasihan melihat pengemis tua yang kelaparan, tapi ia tahu, ayahnya tidak akan rela memberi sedikit makanan pada pengemis ini. Akhirnya, ia menyelinap ke gudang makanan dan mengambil sekantung gandum untuk pengemis itu. Dengan hati gembira si pengemis menerimanya dan berterimakasih banyak pada si Putri.
Malang, seorang jundi kerajaan mengetahui perbuatannya dan melaporkan pada ayah sang putri. Ayah sang putri marah besar dan saat itu juga dipanggillah sang putri untuk menghadapnya.
“Benar kau memberi sekantung gandum pada seorang pengemis?”
“Benar ayah”
“Tangan mana yang kau gunakan untuk memberikan makanan itu?”
“Tangan kanan ayah”
Detik itu juga, sang ayah menebaskan pedangnya di tangan kanan Putri. Sejak saat itu, ia tidak punya tangan kanan lagi. Tidak hanya itu, sang ayah langsung mengusirnya dengan tidak hormat. Putri yang baik hati itupun menjadi pengemis di jalanan.
#             #             #

                Si Putri menangis tersedu-sedu menceritakan kejadian itu pada suaminya. Ia takut suaminya tidak bisa menerima  keadaannya yang tidak memiliki tangan kanan.
                “Biar kutunjukkan rupa tangan kanan ku yang telah tiada….,” Putri menjulurkan tangan kanannya dengan mata terpejam. Ia sudah ikhlas apabila suaminya akan langsung merasa jijik dan menceraikannya ketika melihat keadaan istrinya yang seperti ini.
                Maha Besar Allah! Tiba-tiba saja, tangan si putri ada lagi. Bahkan jauh lebih bersinar bagaikan mutiara. Si Putri terkejut bukan main. Ia bersujud syukur berkali-kali pada Allah yang telah memberinya pertolongan begitu besar.
#             #             #

Nah ukhtiku, itu dia salah satu kisah yang menggambarkan betapa besarnya pertolongan Allah pada orang-orang yang ikhlas dan tidak takut dalam menegakkan syari’at islam. Putri dengan segala kenyamanan hidupnya, tiba-tiba  di potong tangannya bahkan diusir oleh ayah kandungnya sendiri hanya karena bersedekah! Bandingkan dengan saat ini, diantara kita ada nggak yang kalau bersedekah, tangannya akan langsung dipotong oleh ayahnya? Insya Allah nggak ada kan?!
Maka itu ukhti, bersedekah lah walau sedikit. Janga takut hartamu habis. Hartamu itu hanya titipan Allah. Jika Allah mau, Dia bisa mengambil semua kenikmatan-Nya pada mu saat ini juga! Tidak ada yang sulit bagi Allah.
Ukhti, tau nggak? Ketika kita bersedekah, kelihatannya harta kita memang berkurang. Tetapi sebenarnya tidak. Harta yang kita sedekahkan itu menjadi tabungan dan deposito kita di akhirat kelak. Maka dari itu, mari kita sisihkan sedikit uang jajan kita untuk membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan. Selamat bersdekah . ^_^
Wassalamu’alaikum wr.wb
readmore »»  

MANAGEMENT OF LOVE




Assalamu'alaikum wr.wb
Alhamdulillahirobbil'alamin, pada malam hari ini saya akan me review kembali materi yang disampaikan saat kegiatan rutin siswi SMAN 33 tiap Jum'at yaitu Keputrian.

Bahasan kami kali ini adalah "SHARING"
 Ya, hari ini kami para Petugas Keputrian hanya akan mengajak para teman-teman untuk sharing. Tentang apa? Apapun!
Dan tepat seperti dugaan, mayoritas dari teman-teman memilih untuk membahas tentang Si Merah Jambu. Hehe... bahasan yang tidak akan pernah ada habisnya sampai kapanpun..
Dari zaman nabi Adam sampai generasi yang termuda saat inipun pasti memiliki berbagai kisah cinta dengan modifikasi yang bermacam-macam.

Mulai dari yang romantis, melankolis, sampai tragis! Uh! Miris!
Apa sih cinta itu?
Seperti apa bentuknya?
Untuk siapa seharusnya cinta itu dilabuhkan?

Cinta adalah fitrah yang diberikan Allah pada seluruh makhluknya di bumi ini. Fitrah berarti suci. Maka Cinta adalah sesuatu yang suci dan sakral.

Dalam islam (versinya banyak nih ya), Cinta itu dibagi menjadi 3 secara garis besar
1. Cinta Syar'i
     adalah cinta yang paling tinggi dan mulia. Cinta yang ditujukan hanya kepada Allah dan syariatnya, Rasulullah dan sunahnya, mencintai jihad di jalan Allah, cinta pada kebaikan dan pelaku kebaikan. Dalam Al-Qur'an dijelaskan dalam Surah At-Taubah : 24 dan Al-Imran : 31

2. Cinta Thabi'i
    adalah cinta yang secara alami ada dalam jiwa manusia. Cinta ini tidak haram, tapi tidak boleh melebihi cinta syar'i. Contohnya: cinta kepada orangtua, anak, saudara, suami, istri, teman, pekerjaan, kekayaan, dll. (QS.Ali-Imran : 14)

3. Cinta Fasadi
    adalah cinta yang tingkatannya paling rendah dan hina. Cinta jenis ini membuat kita tidak malu berbuat buruk, berani berkata kotor, dll. (QS. Al-A'raf : 179)

Sebuah pertanyaan klasik tiba-tiba terlontar dari mulut salah seorang siswi

"Gimana sih caranya melupakan seseorang yang sangat kita cintai?"

Sepengetahuan saya, sejauh yang pernah saya dengar tentang jawaban dari pertanyaan klasik seperti ini adalah "SESEORANG TIDAK AKAN MAMPU MELUPAKAN SUATU HAL, KECUALI KARENA AMNESIA. KARENA KETIKA DIA HENDAK MELUPAKAN SUATU HAL, MAKA IA HARUS MENGINGAT KEMBALI HAL APA YANG HENDAK IA LUPAKAN." (Mario Teguh)

 Dalam Hukum Kekekalan Energi juga dikatakan, bahwa energi tidak bisa diciptakan ataupun dimusnahkan, tapi energi hanya bisa dirubah dalam bentuk lain.

Anggap Cinta itu adalah suatu energi. Energi yang tidak bisa kita musnahkan, tetapi bisa kita rubah ke dalam bentuk lain. Misalnya ke dalam sebuah kegiatan yang positif.
Untuk mengurangi ingatan kita pada hal-hal yang tidak ingin kita ingat, ada beberapa tips dari saya :
1. Sibukkan dirimu dengan hal-hal yang lain. Buat dirimu lelah dengan hal-hal positif sehingga kau tidak memiliki waktu untuk memikirkan hal-hal sepele yang lain (ex: love)
2. Batasi diri untuk tidak menyentuh, melihat, atau mengetahui berbagai informasi tentang dia.
3. Perbanyaklah berkumpul dengan orang-orang yang mampu mengingatkanmu dalam kebaikan.
4. Jangan pernah lupakan Allah dalam setiap tarikan napasmu.
    "Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allah, dengan menyebut (nama-Nya) sebanyak-banyaknya" QS.Al-Ahzab : 41

     "Alaa bi dzikrillahi tatmainnul quluub"
    ...Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram. QS.Ar-Ra'd : 28

Saudariku, biarlah cinta  datang pada waktunya, di tempat yang semestinya dan pada hati yang memang ditakdirkan untuk menerimanya. Selagi kau kejar impian dan cita-citamu, titipkan rasa cintamu pada Allah, serahkan ia pada Sang Maha Cinta. Biar Allah yang melabuhkan cinta kita pada hati yang semestinya.
Apabila mungkin cintamu tak menemukan tempat berlabuh di dunia, yakinlah ia kan bersemi di dalam surga-Nya.
Jangan risau. Semua telah ada dalam skenario-Nya. Bertawakalah pada Allah.
Semoga bermanfaat :)

Wassalamu'alaikum wr.wb
readmore »»  

Selasa, 13 September 2011

Tanggung Jawab Wanita Muslimah

 Assalamu'alaikum..
entah kenapa bisa begini, tau-tau nyasar di dunia maya dan menemukan note ini :)
selamat di baca,
teruntuk Akhwatifillah di seluruh Dunia.. ^_^

Secara umum tanggung jawab wanita dan laki-laki sama dihadapan Allah yaitu beribadah kepada Allah. Melaksanakan fungsi kekhalifahan diatas muka bumi. Dan kelak akan dimintai pertanggungjawaban dan mendapat balasan di akhirat terhadap apa yang telah dilakukannya selama hidup di dunia. (QS. annisaa 124) dan hadist “kullukum roo’in wakullukum masuulun ‘an ro’iyyatihi’…’
“Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, Maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.”
Secara khusus tanggung jawab wanita muslimah tidak kalah sedikit dibanding kaum laki-laki. Bahkan adakalanya tanggung jawab wanita muslimah lebih besar daripada laki-laki, karena jika dirinci, akan terdapat jauh lebih banyak tugas wanita dibanding laki-laki. Hal ini dapat dilihat dalam pembagian periode kehidupan wanita muslimah.
Dua Periode Kehidupan Wanita Muslimah
A.  Sebelum Menikah
Di antara keutamaan wanita muslimah sebelum menikah adalah menunaikan hak-hak kedua orang tuanya.Yang demikian itu karena merupakan perintah Al-qur’an dan Sunnah Nabi.
Berikut ini beberapa tanggung jawab wanita muslimah terhadap kedua orang tuanya :
a. Birrul walidain (berbuat baik kepada orang tua)
Allah azza wa Jalla memberikan kedudukan tinggi dan mulia kepada     orangtua. Allah meletakkan kedudukan tersebut setelah kedudukan iman dan tunduk patuh padaNya.: (QS. An Nisa:36)
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh[294], dan teman sejawat, ibnu sabil[295] dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri,”
[294]  dekat dan jauh di sini ada yang mengartikan dengan tempat, hubungan kekeluargaan, dan ada pula antara yang muslim dan yang bukan muslim.
[295]  Ibnus sabil ialah orang yang dalam perjalanan yang bukan ma’shiat yang kehabisan bekal. termasuk juga anak yang tidak diketahui ibu bapaknya.
Wanita muslimah yang menyadari petunjuk agamanya merupakan anak yang paling berbakti kepada kedua orangtuanya.Tanggung jawab ini tidak akan berhenti sampai menjalani hidup rumah tangga dan mengasuh putera-puterinya,akan tetapi terus berlanjut hingga akhir hayatnya. Hal itu merupakan wujud pengamalan Al-Qur’an .
Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wassalam menempatkan birrul walidain diantara dua amalan terbesar dalam Islam,yaitu shalat pada waktunya dan jihad di jalan allah.
Shalat adalah tiang agama,sedangkan jihad di jalan allah merupakan puncak tertinggi Islam.Lalu adakah kedudukan yang paling mulia yang diberikan Rosul selain kedudukan itu?
‘’Pernah datang seorang laki-laki kepada Rasulullah yang membai’atnya untuk hijrah dan jihad dengan tujuan mencari pahala dari Allah.rosulu tidak menerimanya,akan tetapi bertanya :’apakah salah seorang dari kedua orang tuamu masih hidup?’.
Orang itu menjawab :”masih,bahkan keduanya masih hidup’.Maka rosul bersabda :” Bukankah engkau ingin mendapatkan pahala dari Allah Ta’ala?
Dia menjawab : “Benar”
Kemudian Rosul bersabda :”Kembalilah kepada kedua orang tuamu dan pergaulilah keduanya dengan baik ( Muttafaq ‘Alaih).
Sedangkan dalam riwayat Imam Bukhari dan Muslim disebutkan;
Ada seorang laki-laki yang datang dan meminta izin kepada Rosulullah untuk berjihad.Lalu Beliau bertanya:”
Apakah kedua orang tuamu masih hidup?”
Orang itu menjawab :”masih”
Maka Rosulpun bersabda :”Demi keduanya,berangkatlah berjihad”
Pada kisah pertama,bagaimana Rosulullah mendahulukan merawat orangtua yang sudah renta ketimbang berangkat berjihad,karena Rosul mengetahui orang tua laki-laki itu lebih memerlukan anaknya,sementara medan jihad masih ada orang lain,meski saat itu Nabi masih membutuhkan jumlah pasukan.
Hal lain yang harus menjadi perhatian adalah berbuat baik kepada kedua orangtua tetap dilakukan meski keduanya bukan muslim.Seperti yang dikisahkan dalam hadist berikut ini :
Asma binti abu Bakar r.a berkata : “Ibuku pernah mendatangiku,sedang dia seorang musyrik pada masa Rasulullah.Lalu aku meminta petunjuk kepada Rosul :”Ibuku telah datang kepadaku dengan penuh harapan kepadaku, apakah aku harus menyambung hubungan dengan ibuku itu ?” Beliau menjawab :” Benar, sambunglah hubungan dengan ibumu !” (Muttafaq ‘alaih).
Berbuat baik kepada orang tua juga berarti sangat takut berbuat durhaka kepada kedua orangtua dalam bentuk berkata kasar,nada suara yang melampaui suara orang tua, berkata ‘uf’ (ah),menyakiti hatinya,menganiaya fisiknya,tidak menghormatinya,tidak memuliakannya,termasuk membiarkannya bekerja keras sementara anak mampu untuk mengerjakannya.
Hendaknya wanita muslimah mendahulukan berbuat baik kepada ibu , kemudian kepada bapak. Pernah datang seorang laki-laki kepada Rasulullah dan bertanya : “Ya Rasulullah,siapakah yang paling berhak saya pergauli dengan baik ?”
Rasulullah menjawab :”Ibumu”
Orang itu bertanya lagi :”Lalu siapa “
Beliau menjawab ::”Kemudian siapa lagi”
“Ibumu” demikian jawaban Rasulullah.
Beliau menjawab: “Bapakmu” (Muttafaq ‘alaih )
b. Menghormati Kerabat-Kerabatnya
Menghormati kerabat orang tua dari jalur ibu dan bapak seperti paman,tante,sepupu,dan seterusnya merupakan tanggung jawab wanita muslimah kepada kedua orang tua, yakni memelihara hubungan kekeluargaan.
(An Nisaa :1) :
“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang Telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya[263] Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain[264], dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan Mengawasi kamu.”
[263]  maksud dari padanya menurut Jumhur Mufassirin ialah dari bagian tubuh (tulang rusuk) Adam a.s. berdasarkan hadis riwayat Bukhari dan muslim. di samping itu ada pula yang menafsirkan dari padanya ialah dari unsur yang serupa yakni tanah yang dari padanya Adam a.s. diciptakan.
[264]  menurut kebiasaan orang Arab, apabila mereka menanyakan sesuatu atau memintanya kepada orang lain mereka mengucapkan nama Allah seperti :As aluka billah artinya saya bertanya atau meminta kepadamu dengan nama Allah.
Kedudukan menghormati dan berbuat baik kepada kerabat menempati kedudukan setelah berbuat baik kepada orang tua, (An-Nisaa :36)
c. Mendo’akannya
Di antara tanggung jawab wanita muslimah kepada orang tua adalah selalu mendo’akannya.
Dalam sebuah hadist diceritakan,bahwa ada orang tua yang bertanya-bertanya kepada Allah pada Hari Pembalasan karena mendapatkan ni’mat surga, lalu Allah menjawab bahwa itu karena do’a anaknya yang sholeh (Muttafaq ‘alaih).

Allah memberikan tuntunan bagaimana seharusnya seorang anak tidak melupakan orang tuanya dalam do’a. (QS. Al Israa:24)
“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua Telah mendidik Aku waktu kecil.”
Mendoakan kedua orang tua adalah bentuk amal kebajikan yang tidak akan terhalang hingga di hari pembalasan. Dalam hadist shohih disebutkan bahwa salah satu diantara 3 amal manusia yang tidak putus setelah manusia meninggal  adalah do’a anak yang sholeh.
Mendo’akan juga merupakan bentuk memperkuat hubungan ruhiyah antara anak dan orang tua kepada Allah. Bagi wanita muslimah ini sangat penting karena kelak ia akan memasuki kehidupan berikut sebagai seorang ibu.Sehingga ia menghayati betapa berartinya sebuah do’a.
d. Memohonkan Ampun Untuk Mereka
Sebagai manusia biasa, orang tua sangat mungkin banyak melakukan kekhilafan dan kesalahan.Hendaknya wanita muslimah memahami ini.Maka ketika mendo’akan mereka sertai dalam do’a permohonan ampun kepada Allah atas segala kehilafan dan kesalahan orang tua. Ketika seorang anak masih kecil, maka kedua orang tuanya selalu mendo’akan agar ia tumbuh besar sehat,cerdas,dan beriman. Do’a ini diucapkan dengan penuh kasih sayang tanpa putus. Maka sebagai bentuk kasih sayang anak kepada orang tua,sudah sepatutnya seorang anak juga mendo’akan bagi mereka,meski belum tentu berbanding nilai yang sama. (Hadits mendoakan mohon ampun kepada Allah untuk orangtua)
e. Menunaikan Janjinya
Wanita muslimah  menunaikan janji kedua orangtuanya ketika orangtuanya telah meninggal.
Dikisahkan seorang wanita dari suku Juhainah yang datang kepada Nabi SAW, selanjutnya wanita itu bertutur,
“Ibuku pernah bernazar untuk menunaiknan ibadah haji tapi ia meninggal sebelum sempat menunaikannya. Apakah aku harus berhaji untuknya?” Nabi menjawab, “Ya, berhajilah untuknya, bukankah engkau mengetahui bahwa apabila ibumu mempunyai uang engkau akan membayarnya, karena itu tunaikanlah haji, karena hak Allah itu lebih wajib untuk dipenuhi.” (HR. Bukhari)
Dalam riwayat lain disebutkan wanita itu berkata,
“Ibuku mempunyai hutang puasa selama satu bulan, apakah aku harus menggantinya?” Nabi menjawab, “Berpuasalah untuknya,” (HR. Muslim).

Oleh karena itu penting bagi wanita muslimah mengetahui dan menunaikan janji termasuk hutang kedua orangtuanya. Sehingga dapat membebaskan kedua orangtuanya dari pertanyaan Allah di akhirat nanti.
f. Menyambungkan persaudaraan kerabat kedua orangtua.
Islam telah memberikan penghormatan terhadap kaum kerabat, mengajurkan melakukan hubungan kekerabatan dan sangat membenci orang yang menolak atau memutuskan hubungan kekerabatan.
Dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah, Rasul saw. bersabda,
“Sesungguhnya Allah menciptakan makhluk hingga ketika selesai menciptakan mereka itu kaum kerabat berdiri seraya berkata, “Ini adalah tempat kembalinya mereka yang kembali kepada-Mu setelah memutuskan silaturahim.”
Allah berfirman, “Benar, apakah engkau rela Aku menyambung tali persaudaraan denganmu dan memutuskan orang yang memutuskan tali persaudaraan denganmu.“ Kaum kerabat bertutur, “Tentu,” lalu Allah berfirman,”Yang demikian itu untukmu,” Kemudian Rasul bersabda,”Jika berkehendak bacalah ayat:(Surat Muhammad: 22 _ 23)
22.  Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?
23.  Mereka Itulah orang-orang yang dila’nati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka.

Melalui ayat tersebut Allah memerintahkan manusia untuk menyambung tali persaudaraan di antara kerabat. Hal ini dilakukan untuk memperluas kebaikan dan mewariskan keimanan pada Allah dalam hubungan kekerabatan. Bagaimana Rasulullah mencontohkan kepada keluarganya pada setiap kali memasak penganan agar dilebihkan untuk bisa dibagikan kepada kerabat Khadijah ra., ketika Khadijah sudah wafat.
B.  Setelah menikah
Periode berikut dalam kehidupan wanita muslimah adalah setelah menikah, jika ia memasuki kehidupan berkeluarga untuk membentuk rumah tangga Islami.
Pada tahap ini, ada tiga bagian tanggung jawab besar :
1. Terhadap Suami
a. Taat pada suami
Ketaatan seorang wanita muslimah pada suaminya adalah perintah Allah ‘Azza wa Jalla. Dibalik perintah Allah ini terkandung keutamaan-keutamaan:
i. Masuk pintu surga dari pintu surga mana saja yang dikehendaki.
Menurut Rasulullah Sallalallahu ‘alaihi wassalam : “Apabila seorang wanita sholat lima waktu, shoum di Bulan Ramadhan,dan taat kepada suaminya maka ia berhak masuk surga dari pintu mana saja yang ia kehendaki.” (HR Ahmad dan Thabrani).
ii. Mendapat ampunan
“Burung-burung di udara, hewan di lautan,dan para Malaikat akan memohon ampunan kepada Allah bagi seorang wanita yang taat pada suaminya dan suaminya ridlo kepadanya.” (Muttafaqun ‘alaih)
Tentu saja ketaatan seorang isteri kepada suaminya selama suaminya mengajak kepada kebaikan dan tidak mengajak kepada ma’shiyat kepada Allah.. Sebagian Ulama berpendapat bahwa taat yang dimaksud adalah ketaatan ketika suami memanggil dan mengajak isteri.  Allahu A’lam.
(bersambung)

(source: dakwatuna.com)
readmore »»