Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu menjaga engkau dan engkau menjaga harta. Ilmu itu penghukum (hakim) dan harta terhukum. Harta itu kurang apabila dibelanjakan tapi ilmu bertambah bila dibelanjakan. -Khalifah Ali bin Abi Talib-

Popular Posts

Tampilkan postingan dengan label Pengalaman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengalaman. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 Januari 2013

Cara Membuat Tulisan Berjalan (Marquee)

Setelah selama ini saya selalu posting tentang agama, ada baiknya kali ya sekarang saya share tentang ... ya.. pokoknya yang ada di judul itu lah
Kayak di blog ini, di bawah judul, itu kan ada tulisan yang jalan gitu, nah cara bikinnya tuh begini
1. Kalian masuk dulu ke account blogger kalian
2. pergilah ke "Tata Letak"
3. Pilih "Tambah Gadget" di tempat yang kalian mau.
4. Pilih "HTML/JavaScript" lalu klik tanda plus yang ada di sebelahnya
5. Masukin deh kode di bawah ini
     TEXT
    Isi TEXT dengan kalimat yang kalian inginkan
6. Lalu Simpan.
Jadi deh.
Selamat mencoba :)
    
readmore »»  

Rabu, 26 Desember 2012

SIRSAK 1 “Lebih Dekat Dengan Sahabat”


 
            Minggu, 4 November 2012 merupakan hari dilaksanakannya sebuah acara bernama SIRSAK alias Share Rohis Akhwat. Acara yang berlangsung di taman Monumen Nasional ini berlangsung selama kurang lebih 4,5 jam. Sejak pukul 08.00 – 12.30 WIB.
            Diawali dengan kekhawatiran akan turunnya hujan—mengingat lokasi acara yang terbuka—pada akhirnya acara ini berjalan dengan sukses karena alhamdulillah kondisi cuaca yang sangat mendukung. Hujan tidak, panas pun sedikit.
            Acara perdana yang diikuti oleh 45 orang peserta ini bertujuan sebagai ajang sharing tentang kondisi ROHIS di tiap sekolah, dan juga ajang untuk bersilaturrahim dengan saudari-saudari muslim dari sekolah lain.
            Dalam acara ini, materi yang disampaikan oleh Kak Nurcholipah (Mahasiswi STEI SEBI) sangat menyenangkan. Peserta jadi lebih mengetahui kelebihan keberadaan mereka di ROHIS dan juga pentingnya menjalin ukhuwah serta kebersamaan mereka dalam berdakwah.
            Sesuai dengan tema acara yaitu “Lebih Dekat dengan Sahabat”, peserta diarahkan untuk berbaur dengan para peserta yang lain dan mengenal satu sama lain. Bukan hanya mengenal nama, melainkan juga bekerjasama dan berpikir untuk memecahkan masalah bersama-sama.
            Hal itu diimplementasikan dalam beberapa games seperti “Lingkarang Move On” yang menuntut adanya kerjasama yang tinggi dari setiap anggota, “Oper Karet” yang menanamkan rasa percaya pada pemimpin kelompok, serta “Kapal Karam” dimana sangat dibutuhkan rasa rela berkorban demi saudara.
            Selain acara-acara diatas, ada pula acara lain seperti rujak party (mohon maaf jika sambalnya terlalu pedas :D).
            Dalam acara ini, para peserta berkesempatan mendapatkan 3 doorprize yang akhirnya dimenangkan oleh 3 peserta yaitu Wafa’ (kategori pendatang pertama), Syifa (kategori peserta ter-berani), dan Imash (kategori pemimpin kelompok terbaik). Selamat kepada ketiganya ^_^
            Dengan diadakannya acara SIRSAK 1 ini, diharapkan para peserta dapat menambah jaringan pertemanan mereka, menyatukan ROHIS-ROHIS dari berbagai sekolah, dan menguatkan ukhuwah islamiyah antar sesama muslim.


            “Acara ini bagus. Ane sebagai alumni jadi mampu mendapat ilmu yang lebih banyak dari materi yang disampaikan oleh Ka Nurcholipah,”ujar Nuzul, alumni ROHIS SMA Negeri 94 Jakarta.
            ROHIS bukan hanya ekstrakurikuler semata. ROHIS merupakan sebuah keluarga dengan individu yang bermacam-macam karakternya. ROHIS satu dengan ROHIS lainnya tidak perlu berlomba menonjolkan kelebihan dirinya. Karena bagaimanapun juga, tujuan ROHIS di semua sekolah itu sama yaitu membesarkan nama Islam dan berdakwah di lingkungan sekolah.  Karena itu, penting bagi ROHIS-ROHIS dari berbagai sekolah untuk bergabung dan mengeratkan ukhuwah untuk bersama-sama mencapai tujuan tersebut.
            Dalam bukunya yang berjudul ”Beginilah Jalan Dakwah Mengajarkan Kami”, Ustadz M. Lili Nur menyatakan bahwa ”Jalan dakwah membawa kami tiba di sebuah komunitas do’a. Perkumpulan orang-orang beriman yang saling mendo’akan. Inilah persekutuan do’a yang luar biasa,”
            Jazakillahu Khairan atas kehadirannya, kami tunggu antunna di acara selanjutnya, SIRSAK 2 (jarkoman menyusul). Salam Cerdas Bermoral.
-panitia SIRSAK-
           


readmore »»  

Senin, 02 Juli 2012

Rahasia Wajah Bercahaya




dakwatuna.com – Tak biasanya sepulang menunaikan shalat Maghrib di masjid bersama ayah dan kakaknya, putri kecilku menguak pintu tanpa mengucap salam. Tangisnya terdengar sejak masih di halaman. Ia langsung menghambur dan memeluk saya sambil mengadukan sesuatu. Sayangnya, apa yang ia sampaikan di sela tangisnya itu tak dapat saya dengar dengan jelas.
Air matanya menetes menembus kain mukena yang masih membalut tubuh saya yang baru saja usai mengajari putri bungsu menghafalkan sebuah doa. Bahunya naik turun seirama tangisnya. Saya elus-elus ia, berharap dapat menenangkan hatinya agar tangis itu segera reda.
Tak lama kemudian pangeran kecilku masuk sambil mengucap salam. Raut mukanya terlihat ikut prihatin dengan kesedihan yang dialami adiknya. Tanpa diminta ia langsung menjelaskan apa yang menyebabkan adiknya bersedih.
Ternyata usai shalat Maghrib tadi, mereka mampir ke sebuah mini market. Ayahnya hendak membeli suatu keperluan. Saat itulah si putri kecil merengek meminta ayahnya membelikan suatu produk kecantikan yang disinyalir dapat membuat wajah seorang wanita bercahaya dan tampak lebih muda. Ia ingin menghadiahkannya pada saya. Namun, sang ayah tak mengabulkan keinginannya itu.
Geli bercampur haru mendengar tuturan pangeran kecil tentang penyebab tangis si putri nan penuh perhatian ini. Rupanya, ia terjerat iklan yang sering tayang saat kami menyimak berita televisi. Tetapi terlepas dari bicara tentang perangkap iklan, saya merasakan niat mulia si putri yang baru berusia 4,5 tahun itu, betapa besar perhatiannya hingga mencari-cari produk kecantikan tersebut. Padahal anak seusia ia biasanya sibuk memilih mainan, makanan atau minuman kesukaan saat menyertai orangtua berbelanja, iya kan?
Tangisnya mulai mereda, sepertinya ia merasa lega ada yang membantu menyampaikan kesedihan hatinya. Sejenak saya lepaskan pelukannya, sekadar ingin menatap bola matanya. Sebuah senyuman saya sunggingkan disertai ucapan terima kasih atas perhatiannya itu lalu kembali saya dekap ia dengan sepenuh rasa sayang di hati.
Sesaat kemudian saya lirik suami, memberi tanda padanya agar menjelaskan mengapa keinginan gadis kecil itu tak dipenuhinya. Spontanitas ingin membela anak terasa lebih merajai hati saat itu, padahal belum mengetahui jawaban sang ayah yang menyebabkan perasaan si putri terluka (mungkinkah ini yang dinamakan bagian dari naluri seorang ibu?).
Setelah berdehem beberapa kali, suamiku menceritakan alasannya bahwa ia tak membawa dompet, hanya berbekal uang yang ada di saku baju kokonya saat mendadak mampir ke toko tersebut. Belum usai ia bertutur, si putri kecil kembali meradang, “tapi aku kan ingin beli barang itu,… biar wajah bunda bercahaya kalau pakai itu, huhuhhu…” tangisnya pecah kembali.
Sama halnya dengan saya, suamiku tersenyum menanggapi protes si putri kecil, beberapa detik kemudian sambil menatap saya, ia berkata, “Bunda itu akan terlihat bercahaya cukup dengan air wudhu’.”
Sejenak saya tertegun, tak menyangka suamiku akan berkata demikian, meskipun dalam hati saya setuju dengan apa yang ia ucapkan, namun naluri ingin membela anak muncul kembali. Tanpa berpikir panjang, segera saya katakan, “ya itu memang benar, tapi…merawat wajah dengan produk-produk itu pun tak ada salahnya bukan?” Ia tak menjawab pertanyaan saya, hanya ada seulas senyum yang terkembang lalu pamit dan bergegas mengajak anak-anak keluar karena adzan Isya telah berkumandang. Saya pun bersiap-siap mengajak putri bungsu untuk shalat berjamaah di rumah.
Usai shalat Isya, pembicaraan mengenai wajah bercahaya tadi kembali melintas. Wudhu’… wudhu’…wudhu’… kata itu serasa menggema di hati dan memenuhi kepala. Saya rasa sewaktu belajar tata cara berwudhu’ saat masa kecil, guru agama pernah mengajarkan keutamaan wudhu’ ini, akan tetapi saya tak ingat persisnya. Segera saya beranjak untuk mencari tahu lagi tentang hal ini, perlahan saya baca beberapa sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam…
“Sesungguhnya umatku akan dipanggil pada hari kiamat nanti dalam keadaan dahi, kedua tangan dan kaki mereka bercahaya, karena bekas wudhu’.” (HR. Al Bukhari no. 136 dan Muslim no. 246)
Dapat dipastikan tak ada satu produk kecantikan pun yang mampu menandingi cahaya yang terpancar dari wajah orang-orang yang terjaga wudhu’nya. Karena cahaya dari air wudhu tak hanya dirasakan di dunia tapi di hari kiamat pun mereka akan mudah dikenali Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadits, “Bagaimana engkau mengenali umatmu setelah sepeninggalmu, wahai Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam Seraya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Tahukah kalian bila seseorang memiliki kuda yang berwarna putih pada dahi dan kakinya di antara kuda-kuda yang berwarna hitam yang tidak ada warna selainnya, bukankah dia akan mengenali kudanya? Para sahabat menjawab: “Tentu wahai Rasulullah.” Rasulullah berkata: “Mereka (umatku) nanti akan datang dalam keadaan bercahaya pada dahi dan kedua tangan dan kaki, karena bekas wudhu’ mereka.” (HR. Muslim no. 249)
Tak hanya partikel-partikel debu maupun noda polusi yang dapat dikikis dari wajah, wudhu’ pun dapat melakukan sesuatu yang tak dapat dilakukan oleh produk kecantikan manapun untuk dapat membasuh hal yang tak pernah luput dari manusia seperti ditegaskan dalam hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, dari sahabat Anas bin Malik: “Setiap anak cucu Adam pasti selalu melakukan kesalahan. Dan sebaik-baik mereka yang melakukan kesalahan adalah yang selalu bertaubat kepada-Nya.” (HR Ahmad, Ibnu Majah, dan Ad Darimi)
Allah subhanahu wata’ala dengan rahmat-Nya yang amat luas, memberikan solusi yang mudah bagi kita untuk membersihkan diri dari noda-noda dosa, di antaranya dengan wudhu’. Hingga ketika seseorang selesai dari wudhu’ maka ia akan bersih dari noda-noda dosa tersebut. Dari sahabat Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila seorang muslim atau mukmin berwudhu’ kemudian mencuci wajahnya, maka akan keluar dari wajahnya tersebut setiap dosa pandangan yang dilakukan kedua matanya bersama air wudhu’ atau bersama akhir tetesan air wudhu’. Apabila ia mencuci kedua tangannya, maka akan keluar setiap dosa yang dilakukan kedua tangannya tersebut bersama air wudhu’ atau bersama akhir tetesan air wudhu’. Apabila ia mencuci kedua kaki, maka akan keluar setiap dosa yang disebabkan langkah kedua kakinya bersama air wudhu’ atau bersama tetesan akhir air wudhu’, hingga ia selesai dari wudhu’nya dalam keadaan suci dan bersih dari dosa -dosa.” (HR Muslim no. 244).
Selain itu, dengan selalu menjaga wudhu’ seseorang akan memperoleh kebahagiaan yang tak bisa diberikan produk kecantikan manapun, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Maukah kalian aku tunjukkan suatu amalan yang dengannya Allah akan menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajatnya? Para sahabat berkata: “Tentu, wahai Rasulullah. Kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Menyempurnakan wudhu’ walaupun dalam kondisi sulit, memperbanyak jalan ke masjid, dan menunggu shalat setelah shalat, maka itulah yang disebut dengan ar ribath.” (HR. Muslim no. 251)
Siapa yang tak menginginkan wajah bercahaya yang mudah dikenali Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam? Siapa yang tak ingin dosa-dosanya dihapus dan derajatnya dinaikkan Allah? Saya yakin, semua umat Islam pasti menginginkannya.
Subhanallah! Kilauan mutiara hikmah dari kejadian usai shalat Maghrib itu kini ada di hadapan mata…

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/06/21229/rahasia-wajah-bercahaya/#ixzz1zWFWIaXv
readmore »»  

Jumat, 29 Juni 2012

Sepenggal Kisah di Sore Hari



Bel berbunyi tepat pukul 14.45.
It's time to go home, ujar banyak anak di kelas. Mereka sudah siap dengan tentengan dan tas nya masing-masing. Ada yang langsung pulang, ada juga yang langsung menuju tempat perkumpulan ekskul masing-masing.
   "Tumben lu langsung balik? Bukannya hari ini basket latihan ya?"tanya seorang temanku pada seorang yang lainnya. "Besok ulangan mas bro. Biologi. Lupa lu?"jawaban yang mengingatkan. Bagus. Aku jadi getir rasanya sekarang.
   "Ayo Far,"ajak temanku yang sudah siap dengan bawaannya. Aku menoleh sebentar. Rasa ragu itu tiba-tiba muncul.
Sore ini aku ada agenda untuk rapat bersama sebuah organisasi yang aku ikuti. Agenda mendadak. Kami akan membicarakan seputar dakwah yang kami lakukan di kota kami. Ada acara baru. Program baru. Dan sistem baru. Sepulang sekolah. Di tempat yang yah... lumayan jauh untuk anak sekolah.
Biologi. Bagaimana bentuk soalnya besok? Essay? Atau isian singkat? Atau justru Pilihan Ganda? Yang terakhir itu memiliki sangat sedikit kemungkinan tentunya.
Kami memutuskan untuk langsung berangkat dan sholat ashar di masjid A saja. Disini, ashar tiba pada jam 15.15 atau lebih. Dan kami masih punya waktu hampir setengah jam untuk mencicil lamanya waktu dalam perjalanan yang bisa mencapai 1 jam bahkan lebih.
Kami pun berangkat. Berdua.
Kucoba hilangkan sejenak pikiranku tentang biologi. Everythings gonna be ok, Girl, hiburku pada diri sendiri.
Kami menaiki sebuah angkutan warna biru yang lengang. Kopami. Dan kami dapat tempat duduk untungnya.
Aku mencoba membuka buku paket biologi dan membacanya sepanjang jalan. Walaupun tidak ada yang menyangkut di otakku, tetap kupaksakan untuk membacanya.
Sebuah kutipan ayat Al-Qur'an berdenging di telingaku. 'Jika kamu menolong agama Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu' ayat itu menenangkanku.
Tak disangka, macet melanda. Padahal ini bukan seharusnya jam macet di arah jalan yang kesini. Oh my God. Lama sekali. Hampir satu jam. Seharusnya sekarang kami sudah sampai. Pukul 16.05 di jam tanganku.
Dan bagusnya, rapat dimulai jam 16.00 berdasarkan jam normal. Bukan jam karet. Entah akan berubag menjadi angka berapa jika kita gunakan jam elastis itu.
Good. 17.05 kami tiba. Mungkin saat kami bilang "Assalamu'alaikum", seseorang dibalik hijab sana sudah mengatakan "Wassalamu'alaikum". Entahlah.
Kami tiba dan ternyata rapat belum dimulai. Wow. Ternyata mereka benar-benar menggunakan jam karet. Hahaha..
18.00. Adzan maghrib terdengar. Kami melaksanakan sholat maghrib disana. Dengan seragam lengkap. Bagus. Lima menit yang lalu sang pemimpin rapat baru datang. Mau pulang jam berapa? pikirku kesal.
Setelah usai sholat, kami melaksanankan rapat. Pukul18.45 rapat singkat itu usai dan kami pulang ke rumah masing-masing.
Aku dan temanku mengantre trans jakarta di halte Senen yang subhanallah, padat sekali. Bus yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang. Sekalinya ada, pasti penuh. Dan dari puluhan orang yang mengantre disini hanya ada dua tiga orang yang bisa masuk. Masya Allah.
Benar saja. Jarum jem menunjukkan pukul 8 lewat. Para penumpang yang mengantre sudah ada yang keluar halte sangking lamanya. Dan yang tersisa tinggal beberapa. Kabar baik. Sebuah bus yang agak kosong datang. Kami bisa masuk sekarang. Kabar buruk. Handphone ku lowbet. Mati. Begitupun dengan temanku. Itu artinya kami tidak bisa menghubungi orangtua kami dirumah. Perutku tiba-tiba sakit.
***
Aku turun di halte taman kota pukul 9 malam. Tiba-tiba terbayang olehku wajah bapak dan ibu yang sedang marah-marah. Dan wajah pak Mar, guru biologiku. Aha! Biologi! Aku belum belajar. Tetapi badan ini pegal sekali rasanya. Capek.
Aku melewati jalanan yang sudah sangat sepi. Orang-orang sudah bersarang dirumahnya masing-masing. Anak sekolah yang masih berkeliaran di malam hari, mungkin itu pikiran beberapa bapak-bapak yang melihatku berjalan sendirian dengan seragam putih abu-abu lengkap. Huft!
Aku membuka pintu rumah. Dan tepat seperti dugaanku, bapak sudah menelepon teman-teman sekolahku yang lain untuk menanyakan keberadaanku. Aku dimarahi habis-habisan. Tapi bukan itu yang aku permasalahkan. Melainkan ulangan biologi esok hari.
Mataku berat. Setelah sholat isya, aku tertidur dengan masih mengenakan mukenah. 
***
   "Soal nya kayak wahyu Tuhan!"seru seorang temanku seusai ulangan, "soal apaan tuh? gue udah belajar abis-abisan kemaren, tetep aja nge blang!"lanjutnya. Aku nyengir. "Apalagi gue yang mati sebelum belajar?"pikirku.
***
Nilai ulangan dibagikan. Aku tak berano melihatnya. Segera saja kumasukkan kertas hasil ulangan yang sudah diwarnai tinta merah itu ke dalam tas. Sangat tidak memuaskan. Yah. Akhirnya aku beranikan diri membuka nilai itu. Merah. Merah hati. Atau mungkin bahkan merah marun. Merah tua. Sangat jeblok, anjlok, tak tersisa. -_-
Aku menyabarkan diri. Lalu mulai menghibur diri sendiri. Hiburan palsu. Belum pernah aku mendapat angka ini selama sejarah kehidupan sekolahku. Sungguh terlalu.
Sejenak aku berpikir, dan ayat Al-Qur'an itu terngiang lagi. Salah satu hati kecilku berteriak memaki
"Ah boong! Ayat itu bohong! Gue udah bela-belain capek buat ngurusin dakwah, tapi kenapa Allah nggak bantu gue? Mana janji-Mu?"
Tapi hati ku yang lebih kecil lagi juga berkata
"Emang salah gue. Gue yang nggak maksimal belajar. Harusnya gue bisa lebih prioritasin mana yang perlu dilakuin dan mana yang enggak. Ini bukan salah Allah. Karena Allah nggak pernah salah. Pasti ada hikmahnya. Ya kan paling nggak lo bisa introspeksi diri lagi buat kedepannya. Ini pengalaman. INGET, PENGALAMAN ITU GURU TERBAIK!"
Tiba-tiba sakit perutku muncul lagi
***
Hari itu aku sedang duduk diam di kelas. Merenung. Pelajaran agama kali ini sepertinya akan ngaret karena gurunya tak kunjung datang. 
   "Far, dicari anak kelas sepuluh tuh,"ujar salah seorang temanku.
Itu Ummah. Adik kelasku.
   "Kenapa Mah?"tanyaku.
   "Kakak, ka Syafwa, sama ka Iffah dipanggil Bu Dwi,"ujarnya. Kami bertiga segera turun dan menemui ibu guru yang sudah beberapa bulan ini membimbing kami untuk olimpiade kebumian.
   "Fara, Syafwa, Iffah, dan Ummah,"ujarnya dengan sedikit bumbu dramatis yang menggelikan, "Selamat, kalian lolos ke tingkat provinsi,"lanjutnya. Hah?
Hey, aku tidak serius mengikuti ajang lomba ini. Aku hanya main-main. Mengerjakan soalnya saja aku tidak sepenuh hati. Bagaimana bisa?
   "Nanti habis dari Jogja,kalian pembinaan selama delapan hari di SMA 1 ya, berjuang ya nak. pokoknya minimal kalian harus lolos ke provinsi tahap 2 dulu, ok?"
Pagi itu, aku tidak begitu suprise dengan berita kelolosan kami. Biasa saja. Tetapi, Allah Maha Mengetahui.
Kini, aku Syafwa, dan Iffah sedang menunggu kelolosan kami ke tahap Nasional. Semua yang telah ku lakukan, ternyata dibalas setimpal oleh-Nya.
Aku yang dulu tak bergairah dengan kebmian, kini justru sangat mendamba-dambakan menjadi ahli geologi Indonesia.
Dan soal nilai biologi itu, aku teringat ucapan seorang kakak kelas
"Allah Maha Mendengar. Maka, berdoalah pada-Nya. Allah pasti akan mengabulkan do'a kita. Tetapi, ada tiga kemungkinan yang Dia bisa lakukan. Pertama, do'a mu akan langsung terkabul saat itu juga dan sesuai dengan yang kau minta. Kedua, Allah akan mengabulkan sesuai dengan keinginanmu tetapi tidak saat itu juga. Dan ketiga, Allah akan mengabulkan do'a mu tetapi tidak sesuai dengan yang kau inginkan, melainkan akan diganti dengan yang lebih baik. Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk kita. Jadi, jangan malas berdo'a ya,"
***
Ya. Aku telah berusaha menolong agama Allah bahkan sampai rela pulang sedemikian larut dan terkena amarah dari orangtua. Nilaiku juga jeblok karena itu. Tetapi Allah juga menolongku. Dengan pertolongan lain yang jauh lebih indah ^_^
Walau begitu, aku belajar dua hal dari kejadian waktu itu. Prioritas dan Bersungguh-sungguh. Aku harus melakukan keduanya jika memang ingin cita-citaku tercapai. Disamping selalu berdo'a kepada Allah tentunya ^_^.
readmore »»  

Sabtu, 28 April 2012

Pengorbanan Dan Kemenangan




Bismillahirrahmanirrahim
Waktu menunjukkan pukul 13.00 ketika aku sampai di Masjid Ar-Royan, Jakarta Barat. Niat awal, aku datang untuk memenuhi panggilan syuro dari sang mas'ul salah satu organisasi yang aku ikuti. Tetapi aneh, tak seperti biasa, keadaan masjid lumayan ramai dan semua pintunya terbuka lebar. Ada acara kah?
Aku berjalan mencari para anggota. Namun sejauh mata memandang, hanya segerombol akhwat paruh baya dan beberapa bapak-bapak yang kulihat disana. Mas'ul nya nya pun tak ada. Aku duduk menikmati sepoian angin di teras masjid masih dengan rasa kesal dalam dada. Sambil membaca sebuah novel, kucoba menunggu kedatangan para anggota.
Satu jam hampir aku disana. Rupanya sedang ada pengajian di masjid itu. Kalau begitu, mungkinkah kami mengadakan syuro disini? Sepertinya tidak.
Para akhwat di dalam sana msedang membaca al-matsurat saat aku memutuskan untuk berdiri menuju pintu masjid. Setelah bertanya-tanya pada salah seorang panitia (sepertinya) taulah aku bahwa di dalam adalah pengajian khusus akhwat. Akupun memutuskan untuk bergabung. Tanpa teman, aku duduk sebagai yang termuda (sepertinya) di barisan belakang.
"Dari mana mbak?"tanya seorang ibu yang duduk di sampingku. Aku menyebutkan alamat rumah dan alasan aku datang kesini sebenarnya. Ibu itu tersenyum dan mengangguk. Beliau menjelaskan tentang acara ini dan taulah aku bahwa ini adalah Jalasan Ruhiyah (JR) yang diadakan oleh PKS sebulan sekali. Semua yang disini adalah akhwat simpatisan PKS. Dan bapak-bapak yang diluar adalah ikhwan (suami/kerabat) mereka yang juga simpatisan PKS. Aku sedikit kaget dibuatnya.
Selama pengajian, aku mencoba untuk tenang dan memperbaharui niat. Kalau tak dapat syuronya, lihat saja apa gantinya. Ilmu yang insya Allah sangat bermanfaat. Disini, aku mencoba untuk meringkas dan berbagi apa yang kudapatkan pada Jalasah Ruhiyah kali ini. Silahkan disimak ^^

Pengorbanan dan Kemenangan. Disampaikan oleh Ustadzah Ma'wah.

Orang-orang yang ada di jalan dakwah hidupnya lebih terarah. Karena memiliki murabbi yang menuntun mereka dan insya Allah setiap perbuatannya sesuai Al-Qur'an dan Sunnah. Karena itu berbahagialah bagi antum yang sudah berada di jalan dakwah.

Keberadaan kita di jalan ini bukanlah karena kebetulan. Karena tak ada yang kebetulan di dunia ini. Keberadaan kita disini adalah karena Allah telah memilih kita untuk berada disini. Maka itu bersyukurlah karena insya Allah kitalah yang disebut sebagai Al-Mustafa (Orang-orang terpilih). Orientasi hidup kita di dunia ini bukan untuk lulus sekolah, mendapat kerjaan, menikah, atau mempunyai harta yang melimpah. Orientasi kita semata-mata adalah untuk Mardhotillah (mencari ridho Allah SWT).

Jalan dakwah tidak pernah mulus dan bertabur bunga. Jalannya selalu terjal, penuh onak dan duri, menurun dan curam. Maka itu, hanya orang konyol yang memutuskan untuk melewatinya tanpa membawa perbekalan yang banyak. 
"Perjuangan tidak akan pernah ada tanpa pengorbanan dan Pengorbanan tidak akan pernah ada tanpa pemahaman"
 Keutamaan-keutamaan berada di jalan dakwah membuat kita paham atas perjuangan dakwah dan senantiasa siap diatas kaki yang siaga untuk berkontribusi lebih, berkorban. Bi amwalikum wa anfusikum. Dengan harta dan jiwa.
Al-Qur'an surah As-Saff ayat 10-14

10. Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih?

11. (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.

12. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah 'Adn. Itulah keberuntungan yang besar.

13. Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.

14. Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong (agama) Allah sebagaimana 'Isa ibnu Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?" Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: "Kamilah penolong-penolong agama Allah", lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan lain kafir; maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang.

Poin dari Jual Beli kita dengan Allah adalah
1. Selamat dari azab yang pedih
2.Diampuni dosa dan kesalahan kita
3. Allah akan masukkan kita kedalam Syurga (Allah tidak akan mengingkari janji-Nya)
4. Allah akan berikan kita rumah yang megah di Syurga
5. Ada sebuah pertolongan yang Allah berikan
6. Allah akan memberikan kemenangan yang dekat
 Tiga Indikasi Jual Beli yang Allah tawarkan dengan 6 Keuntungan diatas adalah
1. Iman kepada Allah SWT
2. Iman kepada Rasulullah SAW
3. Jihad fii sabilillah b amwalikum wa anfusikum
  Amanah Rasulullah "Dakwah harus selalu ditinggikan!"
Ketika kita sudah berada di jalan dakwah, berikanlah kontribusi sebanyak-banyaknya. Jangan tanya "Apa yang sudah dakwah berikan kepada kita?" tapi tanyalah "Apa yang sudah kita berikan di jalan dakwah?"

Cita-cita Universal Islam tercantum dalam Al-Qur'an surah Al-Baqarah ayat 201 : 201. Dan di antara mereka ada orang yang bendo'a: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka" [127].

[127] Inilah do'a yang sebaik-baiknya bagi seorang muslim.

Dan di surah An-Nahl ayat 97:  97. Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik [839] dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.

[839] Ditekankan dalam ayat ini bahwa laki-laki dan perempuan dalam Islam mendapat pahala yang sama dan bahwa amal saleh harus disertai iman.
Orientasi amal seorang mukmin adalah Khoir. 
Pada salah satu hadits nya Rasulullah bersabda "Amal itu tergantung niatnya" tetapi disisi lain, "Amal itu tergantung akhirnya"
"Ya Allah, jadikan umur terbaik hamba di penghujungnya, jadikan amal terbaik hamba di penutupnya, jadikan hari-hari terbaik hamba saat bertemu dengan-Mu" Do'a khatmil Qur'an.
Wallahu a'lamu bisshawab.
 

readmore »»  

Jumat, 20 April 2012

Anak ROHIS juga bisa EKSIS!

Bismillahirrahmanirahim

Sebuah kabar bahagia datang ketika kami sedang duduk di ruang lima untuk mengikuti pelajaran agama. Tiba-tiba, tiga orang siswi kelas 11 IPA dipanggil menghadap dua ibu guru yang familiar namanya. Ya. Uluran tangan dan ucapan selamat tiba-tiba meluncur dari salah seorang diantara mereka kepada ketiga siswi yang tidak mengerti apa-apa.
"Ini dia jagoan-jagoan kita,"ujar beliau.
Bingung kepalang bingung. Ketiga siswi itu memiliki 1001 terkaan dalam pikiran.
"Selamat ya nak, kalian lolos OSP,"
---

Tahun ini, saya melihat sebagian besar bidang Olimpiade Sains tingkat Propinsi diwakili oleh anak-anak ROHIS. Sebuah anugerah yang luar biasa karena anak ROHIS telah berhasil menunjukkan eksistensinya di luar dunia ROHIS. Fisika, Kimia, Biologi, Ekonomi, dan Kebumian. Sekitar 12 orang atau lebih dari 19 perwakilan OSP sekolah kami adalah anak ROHIS.
Dengan ini, kami berharap bisa membuktikan pada semua orang bahwa tak selamanya anak ROHIS menjadi cicak mushola. Kami tidak hanya mahir dalam berorganisasi, tapi juga dalam akademik.
Sebuah SMS yang dikirimkan oleh salah satu anak ROHIS yang kini juga lolos dalam bidang Biologi di malam tanggal 3 April 2012. Malam sebelum kami berperang keesokan paginya.
"Semangat Kawan! Foto-foto kita sudah menanti untuk dipajang! Sudah saatnya sekolah tahu bahwa kita bukan pecundang! Kita harus LOLOS sama-sama Kawan! ROHIS akan semakin berjaya jika kita menang. Kalahkan orang-orang yang telah mengambil hak cipta ilmuwan Islam sebelum kita! Tetap Semangat dan Selamat Berjuang!!! Ganbatte-ne! ^^"

Untuk kawan-kawanku yang pada tanggal 4 April gugur sebelum berjuang karena banjir yang menghadang, ini untuk kalian. Jangan pernah menyesal karena Allah pasti punya rencana lebih baik dari Olimpiade ini. Meski tanpa kalian, yakinlah kami yang akan mewakilimu dalam pertarungan.
SMS salah seorang teman kepada teman kami yang gugur
"Titipkanlah semangatmu pada kami, Insya Allah akan kami kobarkan hingga menang! Trust me!"

Untuk seluruh anggota Kelompok Studi Islam SMAN 33 Jakarta, terimakasih atas do'a dan dukungan morilnya. We Love You All!!! ^-^
readmore »»  

Sabtu, 14 April 2012

Filosofi Perjalanan Ke Situ Gunung Gede Pangrango



Bismillahirrahmanirrahim

Tanggal 07 April 2012 lalu, saya dan rombongan peserta Dauroh Rohis Jilid 2 tiba di Daerah Cisaat Sukabumi pada pukul 5 pagi. Setelah beristirahat sejenak di Villa Tanpa Nama dan melakukan olahraga, kami beranjak menuju Curug. Situ Gunung Gede Pangrango.
Awalnya saya tidak tahu Curug apa yang akan kami datangi. Maklum saat itu saya juga adalah peserta.
Setelah berjalan lumayan jauh dengan medan menanjak, dan setelah melihat pemandangan pohon pinus di sisi kiri jalan dan sawah-sawah yang luas di sekitarnya, kami sampai pada sebuah gapura kuno berwarna cokelat.
Seorang kakak pemandu kami membelikan kami tiket masuk dan pada saat itulah saya melihat papan bertuliskan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.
Tak percaya, saya mengucek mata berulang-ulang. Tetapi ternyata tulisan itu tidak berubah walau satu huruf pun. Sebelumnya, saya hanya tahu tentang gunung ini dari buku paket bahasa Indonesia saya yang kelas sepuluh. Disana diceritakan betapa angkuh nya gunung ini. Cantik dan bersahaja.
Tanpa membuang waktu, kami langsung berjalan memasuki gunung. Jalanannya biasa. Belum terlihat "sesuatu"nya.
Kami terus berjalan sambil mendendangkan lagu-lagu nasyid harokah sebagai penyemangat kami. Semakin lama, jalan yang kami tempuh semakin mengkerut. Semakin sempit. Menanjak dan juga licin.
Kami para wanita yang notabene menggunakan rok agak kesulitan untuk melompati genangan-genangan air yang menghadang di tiap sisi jalan. Tanahnya berwarna kuning. Entah mineral apa yang terkandung di dalamnya.
Lelah bernyanyi, kami semua diam dan terfokus pada jalanan yang semakin curam. Saat itu aku memakai sandal jepit plastik yang rentan terpeleset. sebisa mungkin kujaga keseimbanganku dan berjalan sesuai barisan.
Di sebelah kiri kami ada tebing yang penuh dengan pepohonan. Melihat tebing itu, aku jadi merasa ciut dan kerdil. Betapa tidak ada apa-apanya aku dibandingkan ciptaan Allah ini. Sedangkan di sebelah kanan ku ada jurang yang dalam. Berhektar-hektar sawah dengan motif terasering yang indah terhampar di seberang sana. Suara manusia seolah lenyap. Yang terdengar hanya suara hewan-hewan penghuni hutan yang menenangkan. Suasana alami yang mustahil kutemukan di Jakarta.
Kakiku terus melaju. Meladeni tiap kejutan yang diberikan oleh Pangrango. Jalanan licin telah lewat. Kini kami berjalan diatas bongkahan batu-batu besar yang tertanam dalam tanah. Medannya bukan lagi menanjak, melainkan menurun.
Filosofi: Jalan dakwah tak pernah mulus. Tak pernah indah bertabur bunga. Melainkan selalu berelief seperti gunung ini. Jalan disini memang berat, tapi ingat tujuan kita yang pasti kan kita temui. Air terjun yang menenangkan. Itulah dakwah. Jalannya memang berat, tapi ingat tujuan kita. Ingat sesuatu yang telah menanti kita diujung sana. Surganya Allah SWT.

Kami saling bergandengan tangan untuk mampu menuruni tiap batuan. Takut kalau saudara kami terjatuh ke jurang. Sebisa mungkin tak ada yang ditinggalkan.
Filosofi: Dalam perjuangan dakwah, bergerak secara bersamaan itu penting dilakukan. Saling menolong dan menguatkan. Karena kita harus sampai di tujuan secara bersamaan.

Tak berapa lama dari itu, kami mendengar gemuruh air yang membelalakkan mata.
"Itu air terjun nya ya?"harap-harap kami bahwa sebentar lagi jalan ini selesai ternyata hanya harapan. Itu bukan air terjun melainkan sebuah sungai kecil yang sangat jernih airnya.
berada di rerimbunan pohon yang menenangkan. Siapa sangkan didalam hutan belantara seperti ini ada aliran air yang begitu jernih dan cantik nya? Sungai itu pun kami namai sungai aurat
Filosofi: Sungai aurat. Karena aurat kita bagaikan sungai ini. Jika ditutupi dengan baik, maka yang terjadi adalah kita dalam keadaan baik. Jernih layaknya sungai di pedalaman gunung ini. Tetapi lihat sungai-sungai di jakarta yang dengan mudahnya tersentuh tangan-tangan jahil dan polusi yang merajalela, akhirnya sungai itupun keruh dan mengeluarkan bau yang busuk. Itulah yang akan terjadi jika aurat kita dibiarkan terbuka layaknya sungai-sungai di ibukota.

Kemudian kami melanjutkan perjalanan yang sangat menanjak. Walaupun masih bermedan batuan, jalanan yang menanjak jadi agak menyulitkan. Kakiku sempat kram dibuatnya. Tapi untunglah hanya sebentar.
Di puncak, kami beristirahat sejenak di sebuah tempat duduk yang panjang. Melepas penat, kami meminum air mineral yang tlah dipersiapkan oleh panitia.
Perjalanan kami masih panjang. Itu kata mereka. Ini baru setengah perjalanan. Aku mendongak ke bawah. Ke arah medan yang akan kita tempuh selanjutnya. Turunan yang sangat curam. Aku sempat sangsi untuk melewatinya. Tapi karena diyakinkan oleh semua teman, aku pun ikut memberanikan diri menerima kejuta-kejutan berikutnya.

Puluhan meter telah berlalu namun kami tak juga sampai. Ada yang bilang sebentar lagi. Namun sebagian yang lain mengatakan masih lama karena belum juga terdengar suara gemuruh air terjun. Beberapa dari kami mulai merasa kelelahan.
Filosofi: Kita tidak akan pernah tahu seberapa panjang jalan yang akan kita lalui dalam hidup ini. Dalam konteks ini saya artikan sebagai umur. Kita tidak pernah tahu kapan kita mati. Atau seberapa lama lagi kita hidup. Tetapi yang pasti, dan yang harus kita tahu adalah lakukan apapun sebaik yang kita bisa di dalam hidup ini.

Tiba-tiba suara yang kami tunggu-tunggu mulai terdengar. Gemuruh air. Beberapa ada yang sangsi dengan hal itu.
"Ah, paling sungai kayak tadi lagi"ujarnya
Tetapi dia salah. Kami memang benar-benar telah sampai. Di atas sana, kami bisa melihat alam memuntahkan airnya dengan luar biasa hebat. Tak lama lagi kita akan sampai.
Kami segera berlari menuruni turunan terakhir. Disana kami bisa melihat aliran sungai yang begitu derasnya berjalan di hadapan kami. Dan di ujung sana, di hulu sungai ini, air terjun raksasa yang kami cari telah terlihat.
Subhanallah Walhamdulillah Wa Laa ilaa ha Illallah. Allahu Akbar!
Ya. Kami sampai. Penat, lelah, sakit, dan kesusahan yang kami rasa dalam perjalanan sirna sudah. Digantikan oleh pemandangan alami yang menenangkan jiwa.
Filosofinya: Yakinlah karena keyakinanmu adalah janji-Nya. Akan ada hal indah yang menantimu diujung jalan yang sulit ini. Dan itu pasti.

Thaks to: Kak Nurcholipah ^^ KAPMI @11
readmore »»  

Selasa, 20 Maret 2012

Aku Rindu Masa-Masa Itu

Aku rindu masa-masa itu. Masa saat aku masih baru di tempat ini dan kalian dengan ramah mengulurkan tangan kalian agar aku nyaman disini.
Aku rindu masa-masa itu. Masa ketika kalian tak bosan-bosannya mengirimiku sejuta pesan kehidupan yang aku sendiri tak pernah peduli bahkan tak jarang aku tidak membacanya.
Aku rindu masa-masa itu. Masa ketika kalian masih punya waktu untuk mendatangiku walau sekedar bertukar salam, menanyakan kabar, dan menyampaikan satu dua kalimat yang mengisi kekosongan jiwa ini. Membangkitkan semangat muda ini lagi.
Aku rindu masa-masa itu. Masa ketika kalian memarahiku dan menunjukkan kesalahanku. Kurasa itu lebih baik daripada kini. Ketika kalian tak pernah lagi muncul di hadapanku. Marahi saja aku, karena itu menunjukkan bahwa kalian masih peduli kepadaku.
Aku sangat rindu masa-masa itu. Masa ketika kalian berbagi cerita tentang ukhuwah, tentang amanah, tentang lelah, tentang semua yang kalian rasa disini, dan yang akan ku rasakan pula di tempat ini, nanti.
Aku rindu masa-masa itu. Masa ketika kalian bercanda ria di jejaring sosial, dan aku hanya tersenyum-senyum membacanya. Walau aku tak ada di tengah tawa kalian, percayalah... ukhuwah kalian sangat kurasakan disini.
Aku sangat merindukan masa-masa itu. Ketika aku mencari tahu tentang kalian, karena aku ingin tahu lebih banyak tentang pribadi kalian. Ketika aku tahu betapa hebatnya kalian, dari foto-foto itu, dari tulisan-tulisan itu. Aku merasakan sebuah transfer energi yang sangat besar sedang terjadi dari dirimu kepadaku.
Aku rindu masa-masa itu. Ketika kalian datang dengan senyuman. Bukan dengan setumpuk kertas dan segudang kesibukan.
Aku masih rindu masa-masa itu. Ketika kalian mengirimiku pesan tausyiah, bukan pesan perintah!
Aku disini bukan untuk menjadi penyebar berita. Bukan!
Aku disini juga bukan hanya untuk membuat acara. Bukan itu!
Aku disini ingin belajar sebelum mengajar. Aku ingin menjadi objek dakwah sebelum berdakwah. Aku ingin mendengarkan kalimat semangat dari kalian sebelum aku menyemangati yang lain.
Tolong jangan biarkan kami kering.
Jangan biarkan saudaraku jatuh satu persatu.
Aku sadar kami harus sendiri. Kami harus mandiri.
Tapi apa itu berarti tak ada lagi perhatian dari kalian? Pikirkan!
Tak banyak yang kuat hatinya. Tak banyak yang sanggup diperlakukan seperti ini berlama-lama. Jati pun ketika dibiarkan ratusan tahun lamanya akan keropos juga.
Ku harap kalian tidak terlambat. Bantu aku untuk mengembalikan saudaraku. Saudara kita. Bantu aku kak.
Siapapun kalian yang merasa, ini bukan sekedar tulisan. Tapi ini adalah pengaduan dari kami. Anak-anak yang telah kalian culik, lalu kalian tinggalkan!
readmore »»  

Minggu, 11 Maret 2012

Jangan jadi Orang Cengeng

Banyak orang selalu bertanya begini
gimana sih caranya bisa tahan nangis?
Ribet ye tu orang. Mau nangis aja pake ditahan-tahan.
Nangis itu bukan aib lagi. Bukan kejahatan yang bikin sekeluarga malu juga. Bukan juga dosa besar yang bikin kamu masuk neraka.
Nangis itu fitrah.
Setiap orang pasti punya kelenjar air mata, kan? Ya, kecuali yang kurang sempurna.
Sekarang saya nggak membicarakan orang yang memang dari lahir nggak punya kelenjar air mata ya, soalnya saya bukan pakar biologi. hehe
Ya, sekali lagi. menangis itu fitrah. Dan itu boleh-boleh saja.
Jangan pernah mendambakan untuk tidak bisa menangis. Pasti akan sangat menyusahkan.
Sekarang gini deh, saya mau jawab pertanyaan temen saya itu dulu ya. Gimana caranya biar bisa tahan nangis?
Menurut saya pribadi, menangis itu nggak perlu ditahan. Tapi bukan berarti dibiarin gitu aja. Dikit-dikit nangis. Diomelin nangis. Dikatain nangis. Disorakin nangis. Dipanggil tiba-tiba nangis. Dikagetin nangis. Yaelah, nggak selebay itu juga kali.
Nih ya, menurut saya menangis itu menandakan kita sudah tidak kuat. Menangis itu puncak segala kesusahan, kesedihan, kesulitan, dan ke ke yang lainnya yang serba susah.
Untuk itu, yang harus dilatih bukan gimana caranya nahan nangis. Tapi, gimana caranya tahan banting. Tahan mental. Tahan malu. Biar nggak  gampang nangis.
Nah, gimana caranya biar nggak gampang nangis?
1. tahan mental. Seperti yang udah saya bilang, tahan mental itu berperan besar dalam proses produksi air mata. Kalau mental kita kecil, setempe, dan nggak pernah menemui kesusahan seumur-umur, bisa jadi kita akan mudah menangis. Kenapa? Ya karena kita nggak biasa menghadapi sesuatu yang WAW! Maksudnya yang WAW! itu yang amazing dan beda dengan kehidupan kita yang biasannya. Sesuatu yang lebih menantang. Tapi kalau mental kita kuat, sering dilatih, dan sering ketemu sama yang namanya "masalah" dalam hidup, saya yakin kita bukan termasuk orang yang cengeng alias gampang mewek!

2. Jangan lebay dan menDRAMAtisir keadaan. Orang cuma dipanggil sama guru keturunan batak aja langsung nangis. Dikiranya lagi dibentak. Padahal kan orang batak emang suaranya tinggi. Lebe!
Disuruh fotokopi beberapa proposal, ternyata tempat fotokopinya tutup dan harus nyari muter-muter komplek sampai kaki pegel, langsung nulis status "kaki pegel. kapan putusnya nih?!" Lebe!
 Disuruh lembur sampai jam lima sore aja besoknya langsung nggak masuk. Bilangnya langsung sakit dan dengan bangganya bilang ke temen-temen kalo kemaren abis ribet ngurus ini, itu, ono, ntu, apaan sih? Lebe banget!

3. Kalau masih bisa ditahan, TAHAN! Jangan pernah ngerasa ingin dikasihani. Minta dapet simpati. Dan bikin orang-orang tahu semua keluh kesah kamu. Nggak penting tahu! Kalau masih bisa ditahan tu air mata, tahan! Simpan buat nanti. Curhatnya sama yang bisa jaga rahasia. Nangisnya juga di depan yang bisa jaga rahasia aja. Siapa? Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

4. Hadapi dengan kepala dingin. Kalau ada masalah, apapun itu yang kira-kira emang nyusahin, jangan gegabah ya. Jangan langsung bilang yes or no. Pikirkan pakai kepala dingin. Atur napas biar teratur. Napas yang teratur itu bikin koordinasi di otak berjalan baik. Dengan begitu, kamu akan fokus untuk MENYELESAIKAN masalahmu, bukannya MENANGISI masalahmua.

Menurut saya sih itu aja yang bisa bikin kita nggak gampang nangis. Ini opini ya. Jadi tiap orang pasti beda-beda caranya. Nah, jangan terlalu diikutin ya. Jangan terlalu percaya sama kata-kata saya diatas. Nanti jadi thagut. Apaan tuh? Apa kek lah. Hehe.. cari aja di google.
Kalo ada opini yang bilang "sering nangis itu baik dan unyu" juga nggak apa-apa kok ^^ sekali lagi, ini berdasarkan perspektif pribadi aja. Okeh!
Jangan jadi orang cengeng yaaa ! ^^
readmore »»  

Rabu, 07 Maret 2012

Kalau tidak Ingat...

Semuanya serba terbatas.
Badan ini semakin sakit dibuatnya.
Mereka menuntut kesempurnaan.
Tapi mereka sama sekali tak pernah mengarahkan.
Yang ada hanya cacian.
Yang selalu kami tanggapi dengan baik sangkaan.
Bahwa itu adalah masukan. Dan bukan cacian.
Semakin lama semakin banyak tuntutan.
Aku tahu ini bukan dibebankan pada satu orang, tapi aku juga tahu hanya ada sedikit orang yang merasa terbebankan.
Yang lain hanya akan berjalan sesuai permintaan atau perintah atasan.
Inisiatif?
Jangan tanyakan itu di tempat kami.
Yang memilikinya hanya sekelompok kecil dari sebuah komunitas besar.
Jumlah kami besar, dan berbeda dari komunitas lainnya.
Tidak percaya?
Ya, jangan terlalu percaya pada setiap omongan saya karna rukun iman bisa bertambah jadi tujuh nantinya.
Yang jelas kami banyak. Dan saya hanya menginformasikannya.
Tuntutan kami bukan hanya dari mereka. Orang-orang tua yang berseragam itu.
Tuntutan kami juga diberikan oleh sosok laki-laki dan perempuan paruh baya yang tinggal setap dengan kami.
Ayah, ibu.
Dan tuntutan terbesar adalah masa depan.
Rutinitas ini, entah akan mencerahkan atau justru meredupkannya.
Terlalu sibuk mungkin.
Aku hanya punya sekian jam untuk beristirahat.
Tidur hampir tedengar seperti maya dalam dunia ini.
Tak pernah terasa nyaman.
Kalau tidak ingat suatu hari nanti aku juga akan tidur selamanya, mungkin aku tidak akan bisa menerima waktu tidurku yang sangat singkat sekarang ini.
Kalau tidak ingat akan ada hari dimana matahari hanya berada sejengkal diatas kepala, mungkin aku sudah malas melakukan segala aktivitas di siang hari yang menyengat.
Kalau tidak ingat masa mudaku akan habis beberapa tahun kedepan, mungkin aku sudah menikmatinya seperti pemuda kebanyakan. Belajar, les, nonton film baru, hang out, nongkrong di kafe, atau sekedar warung biasa, dan menikmati musik di setiap kesempatan.
Aku tidak mau itu terjadi. Sia-sia.
Biar saja badanku sakit, otakku penat, dan semuanya terasa parah. Yang penting aku akan tunjukkan pada orang-orang itu kalau aku bisa. Kami bisa berorganisasi. Tanpa mengurangi nilai pelajaran kami!
readmore »»