Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu menjaga engkau dan engkau menjaga harta. Ilmu itu penghukum (hakim) dan harta terhukum. Harta itu kurang apabila dibelanjakan tapi ilmu bertambah bila dibelanjakan. -Khalifah Ali bin Abi Talib-

Popular Posts

Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 Juni 2012

Sepenggal Kisah di Sore Hari



Bel berbunyi tepat pukul 14.45.
It's time to go home, ujar banyak anak di kelas. Mereka sudah siap dengan tentengan dan tas nya masing-masing. Ada yang langsung pulang, ada juga yang langsung menuju tempat perkumpulan ekskul masing-masing.
   "Tumben lu langsung balik? Bukannya hari ini basket latihan ya?"tanya seorang temanku pada seorang yang lainnya. "Besok ulangan mas bro. Biologi. Lupa lu?"jawaban yang mengingatkan. Bagus. Aku jadi getir rasanya sekarang.
   "Ayo Far,"ajak temanku yang sudah siap dengan bawaannya. Aku menoleh sebentar. Rasa ragu itu tiba-tiba muncul.
Sore ini aku ada agenda untuk rapat bersama sebuah organisasi yang aku ikuti. Agenda mendadak. Kami akan membicarakan seputar dakwah yang kami lakukan di kota kami. Ada acara baru. Program baru. Dan sistem baru. Sepulang sekolah. Di tempat yang yah... lumayan jauh untuk anak sekolah.
Biologi. Bagaimana bentuk soalnya besok? Essay? Atau isian singkat? Atau justru Pilihan Ganda? Yang terakhir itu memiliki sangat sedikit kemungkinan tentunya.
Kami memutuskan untuk langsung berangkat dan sholat ashar di masjid A saja. Disini, ashar tiba pada jam 15.15 atau lebih. Dan kami masih punya waktu hampir setengah jam untuk mencicil lamanya waktu dalam perjalanan yang bisa mencapai 1 jam bahkan lebih.
Kami pun berangkat. Berdua.
Kucoba hilangkan sejenak pikiranku tentang biologi. Everythings gonna be ok, Girl, hiburku pada diri sendiri.
Kami menaiki sebuah angkutan warna biru yang lengang. Kopami. Dan kami dapat tempat duduk untungnya.
Aku mencoba membuka buku paket biologi dan membacanya sepanjang jalan. Walaupun tidak ada yang menyangkut di otakku, tetap kupaksakan untuk membacanya.
Sebuah kutipan ayat Al-Qur'an berdenging di telingaku. 'Jika kamu menolong agama Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu' ayat itu menenangkanku.
Tak disangka, macet melanda. Padahal ini bukan seharusnya jam macet di arah jalan yang kesini. Oh my God. Lama sekali. Hampir satu jam. Seharusnya sekarang kami sudah sampai. Pukul 16.05 di jam tanganku.
Dan bagusnya, rapat dimulai jam 16.00 berdasarkan jam normal. Bukan jam karet. Entah akan berubag menjadi angka berapa jika kita gunakan jam elastis itu.
Good. 17.05 kami tiba. Mungkin saat kami bilang "Assalamu'alaikum", seseorang dibalik hijab sana sudah mengatakan "Wassalamu'alaikum". Entahlah.
Kami tiba dan ternyata rapat belum dimulai. Wow. Ternyata mereka benar-benar menggunakan jam karet. Hahaha..
18.00. Adzan maghrib terdengar. Kami melaksanakan sholat maghrib disana. Dengan seragam lengkap. Bagus. Lima menit yang lalu sang pemimpin rapat baru datang. Mau pulang jam berapa? pikirku kesal.
Setelah usai sholat, kami melaksanankan rapat. Pukul18.45 rapat singkat itu usai dan kami pulang ke rumah masing-masing.
Aku dan temanku mengantre trans jakarta di halte Senen yang subhanallah, padat sekali. Bus yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang. Sekalinya ada, pasti penuh. Dan dari puluhan orang yang mengantre disini hanya ada dua tiga orang yang bisa masuk. Masya Allah.
Benar saja. Jarum jem menunjukkan pukul 8 lewat. Para penumpang yang mengantre sudah ada yang keluar halte sangking lamanya. Dan yang tersisa tinggal beberapa. Kabar baik. Sebuah bus yang agak kosong datang. Kami bisa masuk sekarang. Kabar buruk. Handphone ku lowbet. Mati. Begitupun dengan temanku. Itu artinya kami tidak bisa menghubungi orangtua kami dirumah. Perutku tiba-tiba sakit.
***
Aku turun di halte taman kota pukul 9 malam. Tiba-tiba terbayang olehku wajah bapak dan ibu yang sedang marah-marah. Dan wajah pak Mar, guru biologiku. Aha! Biologi! Aku belum belajar. Tetapi badan ini pegal sekali rasanya. Capek.
Aku melewati jalanan yang sudah sangat sepi. Orang-orang sudah bersarang dirumahnya masing-masing. Anak sekolah yang masih berkeliaran di malam hari, mungkin itu pikiran beberapa bapak-bapak yang melihatku berjalan sendirian dengan seragam putih abu-abu lengkap. Huft!
Aku membuka pintu rumah. Dan tepat seperti dugaanku, bapak sudah menelepon teman-teman sekolahku yang lain untuk menanyakan keberadaanku. Aku dimarahi habis-habisan. Tapi bukan itu yang aku permasalahkan. Melainkan ulangan biologi esok hari.
Mataku berat. Setelah sholat isya, aku tertidur dengan masih mengenakan mukenah. 
***
   "Soal nya kayak wahyu Tuhan!"seru seorang temanku seusai ulangan, "soal apaan tuh? gue udah belajar abis-abisan kemaren, tetep aja nge blang!"lanjutnya. Aku nyengir. "Apalagi gue yang mati sebelum belajar?"pikirku.
***
Nilai ulangan dibagikan. Aku tak berano melihatnya. Segera saja kumasukkan kertas hasil ulangan yang sudah diwarnai tinta merah itu ke dalam tas. Sangat tidak memuaskan. Yah. Akhirnya aku beranikan diri membuka nilai itu. Merah. Merah hati. Atau mungkin bahkan merah marun. Merah tua. Sangat jeblok, anjlok, tak tersisa. -_-
Aku menyabarkan diri. Lalu mulai menghibur diri sendiri. Hiburan palsu. Belum pernah aku mendapat angka ini selama sejarah kehidupan sekolahku. Sungguh terlalu.
Sejenak aku berpikir, dan ayat Al-Qur'an itu terngiang lagi. Salah satu hati kecilku berteriak memaki
"Ah boong! Ayat itu bohong! Gue udah bela-belain capek buat ngurusin dakwah, tapi kenapa Allah nggak bantu gue? Mana janji-Mu?"
Tapi hati ku yang lebih kecil lagi juga berkata
"Emang salah gue. Gue yang nggak maksimal belajar. Harusnya gue bisa lebih prioritasin mana yang perlu dilakuin dan mana yang enggak. Ini bukan salah Allah. Karena Allah nggak pernah salah. Pasti ada hikmahnya. Ya kan paling nggak lo bisa introspeksi diri lagi buat kedepannya. Ini pengalaman. INGET, PENGALAMAN ITU GURU TERBAIK!"
Tiba-tiba sakit perutku muncul lagi
***
Hari itu aku sedang duduk diam di kelas. Merenung. Pelajaran agama kali ini sepertinya akan ngaret karena gurunya tak kunjung datang. 
   "Far, dicari anak kelas sepuluh tuh,"ujar salah seorang temanku.
Itu Ummah. Adik kelasku.
   "Kenapa Mah?"tanyaku.
   "Kakak, ka Syafwa, sama ka Iffah dipanggil Bu Dwi,"ujarnya. Kami bertiga segera turun dan menemui ibu guru yang sudah beberapa bulan ini membimbing kami untuk olimpiade kebumian.
   "Fara, Syafwa, Iffah, dan Ummah,"ujarnya dengan sedikit bumbu dramatis yang menggelikan, "Selamat, kalian lolos ke tingkat provinsi,"lanjutnya. Hah?
Hey, aku tidak serius mengikuti ajang lomba ini. Aku hanya main-main. Mengerjakan soalnya saja aku tidak sepenuh hati. Bagaimana bisa?
   "Nanti habis dari Jogja,kalian pembinaan selama delapan hari di SMA 1 ya, berjuang ya nak. pokoknya minimal kalian harus lolos ke provinsi tahap 2 dulu, ok?"
Pagi itu, aku tidak begitu suprise dengan berita kelolosan kami. Biasa saja. Tetapi, Allah Maha Mengetahui.
Kini, aku Syafwa, dan Iffah sedang menunggu kelolosan kami ke tahap Nasional. Semua yang telah ku lakukan, ternyata dibalas setimpal oleh-Nya.
Aku yang dulu tak bergairah dengan kebmian, kini justru sangat mendamba-dambakan menjadi ahli geologi Indonesia.
Dan soal nilai biologi itu, aku teringat ucapan seorang kakak kelas
"Allah Maha Mendengar. Maka, berdoalah pada-Nya. Allah pasti akan mengabulkan do'a kita. Tetapi, ada tiga kemungkinan yang Dia bisa lakukan. Pertama, do'a mu akan langsung terkabul saat itu juga dan sesuai dengan yang kau minta. Kedua, Allah akan mengabulkan sesuai dengan keinginanmu tetapi tidak saat itu juga. Dan ketiga, Allah akan mengabulkan do'a mu tetapi tidak sesuai dengan yang kau inginkan, melainkan akan diganti dengan yang lebih baik. Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk kita. Jadi, jangan malas berdo'a ya,"
***
Ya. Aku telah berusaha menolong agama Allah bahkan sampai rela pulang sedemikian larut dan terkena amarah dari orangtua. Nilaiku juga jeblok karena itu. Tetapi Allah juga menolongku. Dengan pertolongan lain yang jauh lebih indah ^_^
Walau begitu, aku belajar dua hal dari kejadian waktu itu. Prioritas dan Bersungguh-sungguh. Aku harus melakukan keduanya jika memang ingin cita-citaku tercapai. Disamping selalu berdo'a kepada Allah tentunya ^_^.
readmore »»  

Jumat, 20 April 2012

Anak ROHIS juga bisa EKSIS!

Bismillahirrahmanirahim

Sebuah kabar bahagia datang ketika kami sedang duduk di ruang lima untuk mengikuti pelajaran agama. Tiba-tiba, tiga orang siswi kelas 11 IPA dipanggil menghadap dua ibu guru yang familiar namanya. Ya. Uluran tangan dan ucapan selamat tiba-tiba meluncur dari salah seorang diantara mereka kepada ketiga siswi yang tidak mengerti apa-apa.
"Ini dia jagoan-jagoan kita,"ujar beliau.
Bingung kepalang bingung. Ketiga siswi itu memiliki 1001 terkaan dalam pikiran.
"Selamat ya nak, kalian lolos OSP,"
---

Tahun ini, saya melihat sebagian besar bidang Olimpiade Sains tingkat Propinsi diwakili oleh anak-anak ROHIS. Sebuah anugerah yang luar biasa karena anak ROHIS telah berhasil menunjukkan eksistensinya di luar dunia ROHIS. Fisika, Kimia, Biologi, Ekonomi, dan Kebumian. Sekitar 12 orang atau lebih dari 19 perwakilan OSP sekolah kami adalah anak ROHIS.
Dengan ini, kami berharap bisa membuktikan pada semua orang bahwa tak selamanya anak ROHIS menjadi cicak mushola. Kami tidak hanya mahir dalam berorganisasi, tapi juga dalam akademik.
Sebuah SMS yang dikirimkan oleh salah satu anak ROHIS yang kini juga lolos dalam bidang Biologi di malam tanggal 3 April 2012. Malam sebelum kami berperang keesokan paginya.
"Semangat Kawan! Foto-foto kita sudah menanti untuk dipajang! Sudah saatnya sekolah tahu bahwa kita bukan pecundang! Kita harus LOLOS sama-sama Kawan! ROHIS akan semakin berjaya jika kita menang. Kalahkan orang-orang yang telah mengambil hak cipta ilmuwan Islam sebelum kita! Tetap Semangat dan Selamat Berjuang!!! Ganbatte-ne! ^^"

Untuk kawan-kawanku yang pada tanggal 4 April gugur sebelum berjuang karena banjir yang menghadang, ini untuk kalian. Jangan pernah menyesal karena Allah pasti punya rencana lebih baik dari Olimpiade ini. Meski tanpa kalian, yakinlah kami yang akan mewakilimu dalam pertarungan.
SMS salah seorang teman kepada teman kami yang gugur
"Titipkanlah semangatmu pada kami, Insya Allah akan kami kobarkan hingga menang! Trust me!"

Untuk seluruh anggota Kelompok Studi Islam SMAN 33 Jakarta, terimakasih atas do'a dan dukungan morilnya. We Love You All!!! ^-^
readmore »»  

Rabu, 07 Maret 2012

Kalau tidak Ingat...

Semuanya serba terbatas.
Badan ini semakin sakit dibuatnya.
Mereka menuntut kesempurnaan.
Tapi mereka sama sekali tak pernah mengarahkan.
Yang ada hanya cacian.
Yang selalu kami tanggapi dengan baik sangkaan.
Bahwa itu adalah masukan. Dan bukan cacian.
Semakin lama semakin banyak tuntutan.
Aku tahu ini bukan dibebankan pada satu orang, tapi aku juga tahu hanya ada sedikit orang yang merasa terbebankan.
Yang lain hanya akan berjalan sesuai permintaan atau perintah atasan.
Inisiatif?
Jangan tanyakan itu di tempat kami.
Yang memilikinya hanya sekelompok kecil dari sebuah komunitas besar.
Jumlah kami besar, dan berbeda dari komunitas lainnya.
Tidak percaya?
Ya, jangan terlalu percaya pada setiap omongan saya karna rukun iman bisa bertambah jadi tujuh nantinya.
Yang jelas kami banyak. Dan saya hanya menginformasikannya.
Tuntutan kami bukan hanya dari mereka. Orang-orang tua yang berseragam itu.
Tuntutan kami juga diberikan oleh sosok laki-laki dan perempuan paruh baya yang tinggal setap dengan kami.
Ayah, ibu.
Dan tuntutan terbesar adalah masa depan.
Rutinitas ini, entah akan mencerahkan atau justru meredupkannya.
Terlalu sibuk mungkin.
Aku hanya punya sekian jam untuk beristirahat.
Tidur hampir tedengar seperti maya dalam dunia ini.
Tak pernah terasa nyaman.
Kalau tidak ingat suatu hari nanti aku juga akan tidur selamanya, mungkin aku tidak akan bisa menerima waktu tidurku yang sangat singkat sekarang ini.
Kalau tidak ingat akan ada hari dimana matahari hanya berada sejengkal diatas kepala, mungkin aku sudah malas melakukan segala aktivitas di siang hari yang menyengat.
Kalau tidak ingat masa mudaku akan habis beberapa tahun kedepan, mungkin aku sudah menikmatinya seperti pemuda kebanyakan. Belajar, les, nonton film baru, hang out, nongkrong di kafe, atau sekedar warung biasa, dan menikmati musik di setiap kesempatan.
Aku tidak mau itu terjadi. Sia-sia.
Biar saja badanku sakit, otakku penat, dan semuanya terasa parah. Yang penting aku akan tunjukkan pada orang-orang itu kalau aku bisa. Kami bisa berorganisasi. Tanpa mengurangi nilai pelajaran kami!
readmore »»  

Senin, 13 Februari 2012

Menangis Itu Perlu

Tak selamanya orang tegar itu pantang bersedih.
Tak selamanya orang galak itu jarang bersedih.
Tak selamanya yang judes dan terkesan tak peduli itu terbebas dari bersedih.
Tak selamanya yang tampak ceria itu selalu bahagia.
Dan tak selamanya yang sibuk dengan agenda ini itu terbebas dari rasa sedih dan kesendirian.
Terkadang, yang tegar itu cuma pura-pura.
Yang galak itu hanya menutupi rasa sedih dengan emosinya.
Yang judes itu hanya berusaha membuat orang takut padanya sehingga tak melihat kesedihannya.
Yang tak peduli itu hanya berusaha sekuat tenaga agar juga tak ada yang peduli pada dirinya. Sehingga sekali lagi, tak ada yang bisa melihat kesedihannya.
Terkadang, yang tampak ceria itu hanya berusaha untuk tak memperburuk suasana.
Berusaha menciptakan suasana tawa di tengah kesedihannya.
Agar tak ada yang susah.
Tak ada yang direpotkan.
Yang pura-pura ceria itu, hanya ingin saudaranya tahu kalau semua masalah pasti kan ada jalan keluarnya.
Sedangkan yang terlihat sibuk itu,
Dia sudah tak mampu lagi untuk berpura-pura tegar.
Tak mampu lagi berpura-pura galak.
Tak sanggup lagi menjadi judes dan tak peduli.
Dan tak bisa lagi menunjukkan cerianya.
Habis sudah pertahanannya.
Dan ketika tidak ada lagi yang menyibukkannya, langkahnya terhenti.
Diam adalah senjata.
Dan akhirnya, lelehan air hangat itu deras menuruni pipinya.
Sudah tidak kuatkah?
Tidak. Hanya saja terlalu lelah.
Saatnya isi bahan bakar.
Menangis adalah caranya. Berdo'a sepenuh hati pada Ilahi Robbi.
Allahu Rahman. Allahu Rahim.
Dan ketika tangisan itu tumpah, bukan salah si manusia.
Karena itu semua adalah kuasa Sang Robbi.
Yang berkuasa membolak-balikkan hati.
Agar menjadi tegar, pasti dibutuhkan proses menangis
Untuk menjadi matang, pasti dibutuhkan proses menangis.
Untuk mengerti apa itu ceria, pasti kita perlu merasakan bagaimana menangis.
Dan akhirnya... Menangis itu memang perlu ukhti...
Menangis itu perlu...
Ia tak kan membuatmu tampak lemah ketika kau lakukan hanya di hadapan Rabb-Mu
Ia tak akan membuatmu terlihat cengeng
Yah, percayalah...
Menagis itu perlu.
readmore »»  

Sabtu, 28 Januari 2012

ANTARA DAKWAH DAN MASA LALU

 
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Segala puji bagi Allah Subhanahu Wa Ta'ala, Tuhan semesta alam yang tiada satupun kekuatan yang mampu menandingi-Nya. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Sallallahu 'Alaihi Wasallam, keluarga, sahabat, dan para tabi’in.

Untukmu ukhtiku… yang insya Allah selalu berada dalam lindungan Allah Subhanahu Wa Ta’ala…
Dakwah adalah hal yang harus dipenuhi setiap muslim setelah iman dan amal. Hal itu merupakan kewajiban bagi setiap kita yang mengaku sebagai umat Rasulullah SAW. Maka tidak ada lagi alasan bagi kita  untuk sangsi, enggan, bahkan menolak untuk melakukannya. Karena sejatinya, dakwah akan senantiasa menemani setiap helaan nafasmu, seumur hidupmu.

Dakwah tidak selamanya harus dilakukan oleh manusia yang “lurus dan baik” (dalam artian ini adalah manusia yang dianggap tidak memiliki cacat sedikitpun). Bila hal itu adalah syarat untuk berdakwah, amalan ini tidak akan mungkin pernah tertunaikan karena manusia yang tanpa cacat di muka bumi ini hanyalah Nabi Muhammad SAW. Juga jika memang itu syaratnya, pastinya tak akan ada lagi penerus amanah dakwah selepas Rasulullah SAW pergi. Iya bukan? 
Mengapa?  
Tadi, karena kita tidak masuk kriteria sebagai pendakwah tadi. Kita hanya manusia biasa. Manusia biasa yang dosanya tiada terkira sejak mata dibuka hingga mata ditutup lalu dibuka lagi dan ditutup lagi. Iya kan?
Ya ukhti... dakwah harus tetap ada. Dan bisa dilakukan oleh siapa saja. Asalkan dia Mukmin, berilmu, dan senantiasa berusaha memperbaiki diri dari setiap kesalahan yang dilakukannya.

Sebagai seorang aktivis dakwah, sudah sunnatullah jika ditemukan begitu banyak tantangan dan godaan di setiap liku perjalanannya. Pun tidak jarang kita merasa bingung dan kalut dalam menyikapi setiap ujian itu. Terlebih, ketika bayangan masa lalu yang kurang menyenangkan kembali hadir dalam bahtera dakwah ini.

Ketika hal itu benar-benar terjadi, hadapilah dengan keanggunanmu. Tetap jaga senyummu dan perbanyaklah mengingat Allah. Sesungguhnya setiap manusia memiliki cacat, tetapi hal itu harusnya tidak lantas membuat semangat dakwah kita luntur.

Terlebih lagi ketika cacat mu itu diketahui banyak orang yang menjadi objek dakwah mu. Tetaplah tenang. Yang harus kau lakukan hanyalah pembuktian. Katakan bahwa setiap manusia pasti pernah punya salah, dan sebaik-baiknya manusia bukanlah orang yang selalu benar, melainkan dia yang pernah berbuat salah dan berusaha memperbaikinya.

Jangan takut dibilang munafik. Tetaplah buktikan kepada semua orang bahwa dirimu bisa berubah. Dirimu telah hijrah, ya ukhti…
Dan itu yang harus kau azzamkan dalam hatimu, tancapkan hingga dasar jiwamu..
“Bahwa aku mengakui seluruh kesalahan yang pernah ku lakukan karena ketidak tahuan ku. Dan kini Allah telah memberikan pemahaman pada diriku, dan aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahan itu. Sami’na wa atho’na. Kami dengar, dan kami taat”

Komitmen adalah harga yang harus kau bayar di jalan ini. Tidak mudah memang. Tetapi itulah yang membuat jalan ini begitu istimewa. Karena pemain di jalan ini hanyalah orang-orang hebat yang sanggup berkomitmen kepada dirinya sendiri dan orang lain untuk senantiasa memperbaiki diri setiap waktu.

Tunjukkan ya ukhti, bahwa dirimu bisa lebih baik. Lalu tantang mereka, ”Aku bisa! Bagaimana dengan kalian?”

Jangan biarkan kritik yang menyakitkan tentang mu dan tentang masa lalumu menyurutkan semangat dakwahmu, ukhti fillah!
Wallahu a’lamu bisshowab...
Wassalamu’alaiku waahmatullah wabarakatuh.
readmore »»  

Minggu, 25 September 2011

Seulas Amunisi

Da'wah menyukai kader tangguh, yang ikhlas berjuang tanpa paksaan.
Yang dengan inisiatif dan kesadarannya sebagai aktivis da'wah ia berkorban demi menjadi rahmatan lil 'alamin.
Seleksi dalam da'wah adalah komitmen, bukan kompetensi.
Tak harus jadi orang hebat untuk berda'wah.
Cukup komitmen yang menjadi awalan, agar kebaikan yang lain muncul dengan sendirinya.
Kumpulkanlah semua kerelaan hati pada Allah.

(KAPMI Jakarta Barat)
readmore »»  

Senin, 19 September 2011

Semangat itu masih ada!




Jika mereka bertanya kepadamu tentang semangat,
Jawablah bahwa bara itu masih tersemat di dadamu!
Bahwa api itu masih bersemayam dalam dirimu!
Bahwa matahari itu masih terbit dalam hatimu!
Katakan itu pada mereka, orang-orang yang ragu akan kemampuan dirimu.
Karena mimpimu saat ini adalah kenyataan untuk esok.

(Hasan Al Bana)
readmore »»  

Jumat, 16 September 2011

PEMUDA




"Sesungguhnya sebuah pemikiran itu akan berhasil diwujudkan manakala kuat rasa keyakinan kepadanya,
ikhlas dalam berjuang di jalannya,
semangat dalam merealisasikannya
dan kesiapan untuk beramal serta berkorban dalam mewujudkannya.

Keempat rukun ini, Iman, Ikhlas, Semangat, dan Amal merupakan karakter yang melekat pada PEMUDA. Karena Sesungguhnya dasar keimanan itu adalah nurani yang menyala,
dasar keikhlasan adalah hati yang bertakwa,
dasar semangat adalah perasaan yang menggelora,
dan dasar amal adalah kemauan yang kuat.

Hal itu semua tidak terdapat kecuali pada diri PEMUDA."
(Hasan Al Bana)
readmore »»  

Kamis, 15 September 2011

Kami Anak ROHIS



Assalamu'alaikum,
Ada satu note menarik yang dibuat oleh kakak kelas saya yang jamilah, Kak Wardatul Ashfia :)
Jazakillahi Khoir kak udah nge tag ke fb ane. Insya Allah teman-teman  yang membaca tulisan ini mampu memahami urgensi anak Rohis itu sendiri dan semakin giat dalam berdakwah dan menjadi seorang ADS (Aktivis Dakwah Sekolah)

Kami anak ROHIS. Akidah kami bersih terhadap hal-hal yang bersifat magis. Baik itu jimat, wapak, jirim, ataupun keris apalagi penggaris. Pedoman hidup kami adalah Al Quran dan Al Hadits. Kami bukan kalangan alkoholis. Boro-boro untuk berakohol ria, untuk uang jajan pun kami masih mengemis.

Kami anak ROHIS. Ada seorang nenek bernama Sydney Jones yang menuduh kami radikalis. Padahal kami hanyalah sekumpulan aktivis. Tentunya aktivis Islam bukannya aktivis secularis, pluralis, liberalis, apalagi satanis. Kami hanya dapat berharap mudah-mudahan masyarakat tidak termakan isu tersebut yang buat kami menjadi miris.

Kami anak ROHIS. Dandanan kalangan pria kami atau biasa disebut ikhwan umumnya khas dengan jenggot klimis nan tipis. Sedangkan kaum hawa atau akhwatnya biasanya terlihat dengan jilbabnya yang terlihat maksimalis. Tapi hal itu tidaklah mutlak, so santai saja buat para bro n sis.

Kami anak ROHIS. Murobbi kami selalu bercerita bahwa kami adalah pewaris. Pewaris risalah para nabi dan Rasul dari zaman nabi Adam sampai sayyiduna Muhammad SAW Al-Quraisy. Untuk itulah kami dididik menjadi pemuda yang loyalis. Loyalis kepada Allah dan RasulNya serta berlepas dari paham-paham yang tidak Islamis.

Kami anak ROHIS. Bukanlah segerombolan selebritis. Yang kerjaannya update status di jagad virtual agar dibilang eksis. Yang cuman bisa basa-basi kebaikan share pilu, nestapa, atau apa saja hal-hal yang berbau melankolis. Buat kami yang terpenting adalah aksi nyata bukan bualan besar yang manis serta bombastis.

Kami anak ROHIS. Tongkrongan kami jauh dari kafe, mall, bar, diskotik ataupun di halte bis. Biasanya kami paling suka duduk di masjid atau juga di majelis-majelis. Kami selalu menjaga diri kami dari hal-hal yang bersifat najis. Baik najis jasmani ataupun psikis.

Kami anak ROHIS. Kami diajarkan untuk dapat bersifat altruis. Dan membuang jauh-jauh sifat egois. Kami juga diajarkan untuk menjadi golongan yang mukhlis.Tidak mengharapkan imbalan dari manusia yang sifatnya matrialis. Walaupun kadang kali uang jajan kami menjadi habis. Tapi, tak apalah yang penting balasan dari Allah berupa surga lengkap dengan para bidadari’s.

Kami anak ROHIS. Karakter masing-masing kami tidaklah sama seperti halnya kue lapis. Ada yang bawaannya serius, rajin, rapat tidur mulu juga ada, ataupun yang humoris. Akan tetapi kami juga dibekali ilmu untuk selalu bersikap idealis. Jangan jadi orang yang pragmatis plus oportunistis. Takutnya malah jadi orang-orang yang ikut ketularan virus liberalis. Yang kadang kalo ngomong suka bikin mengekerut alis.

Kami anak ROHIS. Pada kesempatan kali ini kami ingin mengatakan bahwa kami bukan teroris. Jangan juga mencap kami sebagai ekstrimis. Hanya di karenakan perubahan tingkah laku kami yang mungkin terlihat agak lebih agamis. Padahal teroris tulen bin sejati adalah para kaum zionis bengis rasis dan kolonialis.

Kami anak ROHIS. Kami juga ditanamkan nilai-nilai zuhud atau bahasa kerennya adalah askestis. Kami juga menjauhi hal-hal yang sifatnya glamoris. Kami berusaha untuk sejauh mungkin tidak menjadi kaum borjuis. Karna khawatir terkena penyakit wahn atau istilah lainnya hedonis.

Kami anak ROHIS. Kami juga manusia bukannya malaikat yang selalu tampil perfeksionis. Tak sedikit pula diantara kami yang takluk terhadap godaan sang iblis. Dan mereka-mereka itu pun episode dakwahnya berakhir dengan sangat tragis. Yang kalau dituliskan di sini dapat membuat mata menangis.

Kami anak ROHIS. Beberapa kami juga diberikan bakat berbisnis Selain bisnis ada juga yang bakat menulis. Dan tulisan ini dibuat bukan untuk sekedar narsis-narsis. Ya, ini hanya dibuat sekedar berbagi tentang profil ROHIS
readmore »»  

Rabu, 14 September 2011

LAPANGKANLAH DADA KITA DALAM MENERIMA UJIAN INI

Assalamu'alaikum
ada sebuah pengalaman yang insya Allah menarik untuk di share ke teman-teman semua :)

Selamat membaca :)

Ini adalah kisah seorang laki-laki (yang menurut saya) berjiwa besar dan insya Allah sholeh juga baik budinya.
Sebut saja namanya Aray. Dia adalah seorang anak orang tak mampu di desanya. Karena keterbatasan financial, ia hanya menyelesaikan pendidikannya sampai di tingkat SMP. Aray memiliki otak yang cerdas, namun apa boleh buat, ia terpaksa berhenti sekolah dan membantu orangtuanya di rumah. Aray adalah orang yang patuh pada orangtua dan rajin beribadah. Apalagi lingkungan rumahnya di desa yang begitu mirip dengan suasana pesantren membuat spiritual Aray semakin mantap.

Karena pengaruh usia yang semakin bertambah (sebenarnya berkurang sih) dan tingkat kematangan emosional yang dimilikinya, juga keinginannya merubah nasib, Aray merasa harus mencari pekerjaan sendiri dan mulai mandiri untuk menjalani hidupnya. Aray pun memutuskan untuk merantau ke Jakarta bersama temannya. Sebelum berangkat ibunya berpesan untuk selalu berlaku jujur dan yang terpenting, "JANGAN LUPA PADA ALLAH".

Beruntung, sebuah perusahaan ternama yang bergerak di bidang makanan hewan di Jakarta menerimanya menjadi Office Boy. Bayangkan, ijazah yang dimilikinya hanya sebuah ijazah SMP. Menurut saya itu adalah keberuntungan besar mengingat sulitnya mendapat lowongan kerja di lautan pengangguran ini.

Walau hanya seorang office boy, ia tidak malu. Ia tetap bekerja dengan tekun. Aray adalah orang yang supel, jujur dan cekatan sehingga seorang sekretaris Pemilik perusahaan itu tertarik dan bersimpati padanya.

Aray pun diikutsertakan pendidikan paket C untuk mendapat ijazah yang setara dengan SMA. Ternyata, Sekretaris ini berniat untuk menyekolahkan Aray sampai ke bangku kuliah.
 Aray tak berhenti-hentinya bersyukur pada Allah SWT yang telah memberinya kemudahan begitu banyak.

Aray kuliah di sebuah akademik ternama di Jakarta sembari bekerja sebagai asisten si sekretaris pemilik perusahaan itu (naik pangkat). Dia mengambil jam kuliah malam karena pada pagi harinya ia juga masih harus bekerja. Untuk urusan tidur, Aray bisa dibilang tidak memiliki cukup waktu untuk itu. Banyaknya tugas kuliah dan pekerjaan membuat ia harus sering begadang. Dan yang mengagumkan, ia tetap rajin sholat tahajud. Subhanallah..

Aray kini menjadi "Anak Emas" si sekretaris pemilik perusahaan itu. Tak bisa dihitung lagi berapa penghasilannya kini. Tiap hari ia mendapat uang saku baik dari si sekretaris maupun pemilik perusahaan itu sendiri karena ketekunannya.
 Tapi hal itu tidak membuat Aray lantas sombong pada teman-teman mantan OB nya. Ia justru menjadi semakin Loyal dan tak segan-segan membagi apa yang dimilikinya pada teman-temannya.

Aray memiliki seorang kekasih di Semarang. Kekasihnya itu baru di wisuda dari sebuah universitas terkenal disana. Rencananya, seminggu lagi mereka akan bertunangan. Undangan telah disebar. Seluruh teman kuliah dan kantornya thu akan hal itu. Mereka turut mendukung rencana Aray.
Dimana Aray mengenal kekasihnya?
Entahlah. Si narasumber nggak mau berbagi tentang itu.. sedih bila di ingat-ingat kembali. Yang jelas, kekasihnya itu adalah seorang wanita sholehah. Berkerudung besar dan cantiknya Subhanallah.. (ada fotonya lho)

H-6 sebelum tunangan, Aray mendapat berita duka yag mendalam karena mengetahui bahwa calon tunangannya itu telah meninggal karena kasus tabrak lari ketika ia hendak menuju ke kampusnya di pagi hari.

Bayangkan betapa sedihnya Aray saat itu. Ia mengaku sempat sedikit frustasi tetapi tidak sampai berlarut-larut. Kepada saya ia mengatakan "Kalau bukan karena Allah sebagai sandaran saya, mungkin saya sudah bunuh diri," begitu katanya

Masya Allah... sungguh. Kini Aray telah kembali menjadi pemuda yang optimis dalam menjalani hidup. Dia berpendapat, mungkin Allah belum memperkenankan calon tunangannya itu untuk menjadi pendampingnya. Aray telah sukses. Jabatannya di perusahaan itu tidak diragukan lagi. Karena kebaikan hatinya, ia sangat disenangi dan disegani oleh seluruh teman-temannya.

Aray yang dulunya hanya anak seorang miskin di desa, kini telah menjadi pemuda sukses yang insya Allah tetap istiqomah di jalan Allah.

Sahabatku, Janganlah kau mudah berputus asa pada suatu ujian. Teruslah berusaha dan tetaplah memegang teguh ajaran Allah dan Rasul-Nya. Apapun yang kau lakukan, jika niatnya hanya karena mencari ridho Allah semata, insya Allah semua yang kau inginkan akan terwujud. :)

Semoga bermanfaat :)
readmore »»  

Senin, 12 September 2011

Istiqomahlah.

Ketika dakwah berjalan dan akademik dipertaruhkan, akankah dakwahmu kau lanjutkan?
Ketika saudaramu jatuh berguguran, mampukah kau berdakwah sendirian dg setumpuk amanah dan segudang kekurangan?
Ketika jiwamu lelah dalam dakwah dan sadar tak ada lagi teman-teman yg kan memberimu keyakinan, maukah kau duduk bersimpuh di hadapan-Nya dg segenap keikhlasan?

Dakwah ini memang berat dan sungguh mahal.
Tp ingat!
Allah tlah menawarkan jalan ini padamu. Sungguh, menolaknya adlh satu kerugian bsar.
Istiqomahlah :)
readmore »»  

Minggu, 11 September 2011

MENYERULAH HAI PEMUDA

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh
Bismillahirrahmanirrahim
“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru pada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran : 104)
Subhanallah walhamdulillah wa laa ilaa ha illallahu Allahu Akbar!
Segala puji saya limpahkan ke hadirat Allah SWT, Robb semesta alam, tiada yang patut disembah selain Dia. Semoga sholawat dan salam senantiasa tercurah kepada Baginda kita, Nabi Muhammad SAW, pemimpin para pembaru dan penghulu para mujahid, keluarga, sahabat dan tabi’in.
Wahai Pemuda!
Dalam sebuah perjalanan, pasti dibutuhkan penunjuk jalan, sumber informasi agar kita tidak tesesat dan mampu mencapai tujuan.
Dalam kehidupan pun sama, kita memerlukan tuntunan hidup, pedoman mutlak yang tidak boleh ada pedoman lain selain hal tersebut. Sumber terbaik dalam menyelesaikan segala persoalan hidup. Apa pedoman itu?
Sebelum wafat, Rasulullah telah mewariskan kepada kita umat muslim dua buah hal yang apabila kita berpegang teguh pada keduanya, insya Allah hidup kita selamat dunia akhirat. Adalah Al-Qur’an dan Al-Hadits yang merupakan pedoman kita dalam hidup di dunia.
Namun kenyataannya, begitu banyak umat muslim yang telah kehilangan pegangan. Pedomannya bukan lagi dua warisan Rasulullah tadi. Entah karena manisnya dunia yang mereka rasakan sehingga mereka terlena dan lupa akan hukum-hukum Allah.
Wahai Pemuda!
Tidakkah kau miris melihat umat islam pada masa kini? Tidakkah kau bersedih melihat kaum terbaik yang diciptakan Allah telah menjadi seperti sekarang ini? Tidak pernahkah kau menangis meratapi betapa merugi nya saudara-saudara mu sesama muslim yang perlahan telah melepas pedoman hidup mereka?
                “Sungguh manusia berada dalam kerugian” (QS. Al ‘Asr : 2)
Saudaraku
                “Kuntum khairu ummatin ukhrijat linnas”. Kamu (umat islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia,
“Khairunnasi anfauhum linnas”. Sebaik-baiknya manusia adalah yang memberikan manfaat bagi manusia lainnya.
Wahai Pemuda!
Mari kita sama-sama bermunajat, betapa Allah sangat menyayangi kita sehingga memilih kita untuk berada pada golongan orang-orang yang menyeru pada kebaikan agama Allah. Golongan amar ma’ruf nahi mungkar.
Betapa Allah sangat mencintai kita karena Dia pulalah yang menetapkan hati kita pada Islam. Sesungguhnya sangat mudah bagi Allah untuk membolak-balikkan hati manusia. Karena itu bersyukurlah kau wahai saudaraku yang telah Allah tetapkan hatinya pada keimanan ini, pada jalan ini, jalan yang insya Allah akan bermuara di surga-Nya.
Wahai Pemuda!
Mari pererat pegangan. Luruskan shaf. Rapatkan barisan. Sesungguhnya ikatan persaudaraan tidak akan timbul tanpa adanya keimanan. Hindari perselisihan, karena berselisih sama saja merenggangkan ikatan, dan akan mudah bagi syaitan untuk masuk ke dalam barisan, kemudian menyesatkan.
“Dan janganlah kamu menjadi seperti orang –orang yang bercerai dan berselisih setelah sampai kepada mereka keterangan yang jelas. Dan mereka itulah orang-orang yang mendapat azab yang berat,” (QS. Ali Imran : 105)
Wahai Pemuda!
Sungguh kita bukanlah siapa-siapa dibanding para pendahulu kita. Orang-orang sholeh yang tak gentar menyerukan asma Allah walau nyawa menjadi taruhannya.
Sungguh kita bukanlah apa-apa dibanding para mujahid dan mujahidah diluar sana, yang mati-matian mempertahankan agamanya, agama Allah, yaitu Islam.
Sungguh keringat kita belum seberapa dibanding tetes darah pengorbanan para syuhada yang tanpa ragu bahkan bersedia berperang di jalan Allah. Karena kematian justru menjadi sebuah dambaan, karena akan mempercepat mereka untuk menemui Sang Khaliq, Kekasih Sejati, Allahu Robbi.
Saya tahu bahwa saya, bahkan kita semua belum memiliki apa-apa untuk diperjuangkan di jalan Allah. Yang kita miliki hanya seonggok tubuh bernyawa dan berakal, yang saya yakin belum ada pada hati kita keberanian untuk mengorbankan tubuh ini di jalan-Nya.
Yang kita punya hanyalah badan. Maka selama nyawa masih bersemayam dalam badan, gunakan sebaik kau mampu gunakan pada kebaikan.
Yang kita punya hanya lisan, gunakan untuk menyebut asma-Nya dimanapun kita berada.
Yang kita miliki hanya tangan, maka genggam dan rangkul sebanyak mungkin saudara kita agar kembali ke jalan Allah.
Allah menyukai orang-orang yang bertemu dan berpisah karena-Nya.
Bertemu dalam rangka membangun kekuatan dan menambah bekal pengetahuan, dan berpisah untuk berbaur, mengamalkan dan menyerukan apa yang telah didapatkan.
Hendaklah kita menjadi segolongan orang yang mau dan mampu menyeru pada kebajikan, menyuruh pada perbuatan yang mendekati Allah dan  mencegah pada perbuatan yang menjauhkan diri ini dari Allah.
Tidak peduli adanya penghalang di tengah jalan, lewatilah meski harus bergulatan. Tidak peduli curamnya medan, lewatilah dengan penuh ketakwaan. Yakinlah setiap butir peluh yang menetes di jalan-Nya pasti kan dibalas sesuai amalan. Sunnatullah memang, satu persatu dari kita akan berguguran. Memutuskan memilih jalan lain yang lebih menjanjikan kebahagiaan, walau tanpa arah dan tujuan.    Wahai Saudaraku!
Hanya orang-orang tangguh yang mampu bertahan di perjalanan yang menguji iman.
“Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan sebesar biji zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya,” (QS.Az-Zalzalah: 7)
Semoga Allah membalas setiap kata yang keluar dari lisan kita yang diucapkan karena Allah dengan pahala yang setimpal.
Wallahua’lam bisshowab.
Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh
#             #             #
Do’a Rabithah
Ya Allah, sesungguhnya Engkau Mengetahui hati-hati ini berhimpun dalam cinta pada-Mu
Telah berjumpa dalam taat pada-Mu
Telah bersatu dalam dakwah pada-Mu
Telah berpadu dalam membela syariat-Mu
Teguhkanlah Ya Allah ikatannya
Kekalkanlah cinta kasihnya
Tunjukilah jalan-jalannya
Penuhilah hati-hati tersebut dengan cahaya-Mu yang tidak pernah hilang
Lapangkanlah dada-dada kami dengan kelimpahan iman kepada-Mu dan indahnya tawakkal kepada-Mu
Hidupkanlah hati ini dengan ma’rifat kepada-Mu
Matikan ia dalam syahid di jalan-Mu
Engkaulah sebaik-baiknya Pelindung dan sebaik-baiknya Penolong
                “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami pada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi” (QS. Ali-Imran:8)
readmore »»