Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu menjaga engkau dan engkau menjaga harta. Ilmu itu penghukum (hakim) dan harta terhukum. Harta itu kurang apabila dibelanjakan tapi ilmu bertambah bila dibelanjakan. -Khalifah Ali bin Abi Talib-

Popular Posts

Tampilkan postingan dengan label tsaqofah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tsaqofah. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Juli 2012

Rahasia Wajah Bercahaya




dakwatuna.com – Tak biasanya sepulang menunaikan shalat Maghrib di masjid bersama ayah dan kakaknya, putri kecilku menguak pintu tanpa mengucap salam. Tangisnya terdengar sejak masih di halaman. Ia langsung menghambur dan memeluk saya sambil mengadukan sesuatu. Sayangnya, apa yang ia sampaikan di sela tangisnya itu tak dapat saya dengar dengan jelas.
Air matanya menetes menembus kain mukena yang masih membalut tubuh saya yang baru saja usai mengajari putri bungsu menghafalkan sebuah doa. Bahunya naik turun seirama tangisnya. Saya elus-elus ia, berharap dapat menenangkan hatinya agar tangis itu segera reda.
Tak lama kemudian pangeran kecilku masuk sambil mengucap salam. Raut mukanya terlihat ikut prihatin dengan kesedihan yang dialami adiknya. Tanpa diminta ia langsung menjelaskan apa yang menyebabkan adiknya bersedih.
Ternyata usai shalat Maghrib tadi, mereka mampir ke sebuah mini market. Ayahnya hendak membeli suatu keperluan. Saat itulah si putri kecil merengek meminta ayahnya membelikan suatu produk kecantikan yang disinyalir dapat membuat wajah seorang wanita bercahaya dan tampak lebih muda. Ia ingin menghadiahkannya pada saya. Namun, sang ayah tak mengabulkan keinginannya itu.
Geli bercampur haru mendengar tuturan pangeran kecil tentang penyebab tangis si putri nan penuh perhatian ini. Rupanya, ia terjerat iklan yang sering tayang saat kami menyimak berita televisi. Tetapi terlepas dari bicara tentang perangkap iklan, saya merasakan niat mulia si putri yang baru berusia 4,5 tahun itu, betapa besar perhatiannya hingga mencari-cari produk kecantikan tersebut. Padahal anak seusia ia biasanya sibuk memilih mainan, makanan atau minuman kesukaan saat menyertai orangtua berbelanja, iya kan?
Tangisnya mulai mereda, sepertinya ia merasa lega ada yang membantu menyampaikan kesedihan hatinya. Sejenak saya lepaskan pelukannya, sekadar ingin menatap bola matanya. Sebuah senyuman saya sunggingkan disertai ucapan terima kasih atas perhatiannya itu lalu kembali saya dekap ia dengan sepenuh rasa sayang di hati.
Sesaat kemudian saya lirik suami, memberi tanda padanya agar menjelaskan mengapa keinginan gadis kecil itu tak dipenuhinya. Spontanitas ingin membela anak terasa lebih merajai hati saat itu, padahal belum mengetahui jawaban sang ayah yang menyebabkan perasaan si putri terluka (mungkinkah ini yang dinamakan bagian dari naluri seorang ibu?).
Setelah berdehem beberapa kali, suamiku menceritakan alasannya bahwa ia tak membawa dompet, hanya berbekal uang yang ada di saku baju kokonya saat mendadak mampir ke toko tersebut. Belum usai ia bertutur, si putri kecil kembali meradang, “tapi aku kan ingin beli barang itu,… biar wajah bunda bercahaya kalau pakai itu, huhuhhu…” tangisnya pecah kembali.
Sama halnya dengan saya, suamiku tersenyum menanggapi protes si putri kecil, beberapa detik kemudian sambil menatap saya, ia berkata, “Bunda itu akan terlihat bercahaya cukup dengan air wudhu’.”
Sejenak saya tertegun, tak menyangka suamiku akan berkata demikian, meskipun dalam hati saya setuju dengan apa yang ia ucapkan, namun naluri ingin membela anak muncul kembali. Tanpa berpikir panjang, segera saya katakan, “ya itu memang benar, tapi…merawat wajah dengan produk-produk itu pun tak ada salahnya bukan?” Ia tak menjawab pertanyaan saya, hanya ada seulas senyum yang terkembang lalu pamit dan bergegas mengajak anak-anak keluar karena adzan Isya telah berkumandang. Saya pun bersiap-siap mengajak putri bungsu untuk shalat berjamaah di rumah.
Usai shalat Isya, pembicaraan mengenai wajah bercahaya tadi kembali melintas. Wudhu’… wudhu’…wudhu’… kata itu serasa menggema di hati dan memenuhi kepala. Saya rasa sewaktu belajar tata cara berwudhu’ saat masa kecil, guru agama pernah mengajarkan keutamaan wudhu’ ini, akan tetapi saya tak ingat persisnya. Segera saya beranjak untuk mencari tahu lagi tentang hal ini, perlahan saya baca beberapa sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam…
“Sesungguhnya umatku akan dipanggil pada hari kiamat nanti dalam keadaan dahi, kedua tangan dan kaki mereka bercahaya, karena bekas wudhu’.” (HR. Al Bukhari no. 136 dan Muslim no. 246)
Dapat dipastikan tak ada satu produk kecantikan pun yang mampu menandingi cahaya yang terpancar dari wajah orang-orang yang terjaga wudhu’nya. Karena cahaya dari air wudhu tak hanya dirasakan di dunia tapi di hari kiamat pun mereka akan mudah dikenali Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadits, “Bagaimana engkau mengenali umatmu setelah sepeninggalmu, wahai Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam Seraya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Tahukah kalian bila seseorang memiliki kuda yang berwarna putih pada dahi dan kakinya di antara kuda-kuda yang berwarna hitam yang tidak ada warna selainnya, bukankah dia akan mengenali kudanya? Para sahabat menjawab: “Tentu wahai Rasulullah.” Rasulullah berkata: “Mereka (umatku) nanti akan datang dalam keadaan bercahaya pada dahi dan kedua tangan dan kaki, karena bekas wudhu’ mereka.” (HR. Muslim no. 249)
Tak hanya partikel-partikel debu maupun noda polusi yang dapat dikikis dari wajah, wudhu’ pun dapat melakukan sesuatu yang tak dapat dilakukan oleh produk kecantikan manapun untuk dapat membasuh hal yang tak pernah luput dari manusia seperti ditegaskan dalam hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, dari sahabat Anas bin Malik: “Setiap anak cucu Adam pasti selalu melakukan kesalahan. Dan sebaik-baik mereka yang melakukan kesalahan adalah yang selalu bertaubat kepada-Nya.” (HR Ahmad, Ibnu Majah, dan Ad Darimi)
Allah subhanahu wata’ala dengan rahmat-Nya yang amat luas, memberikan solusi yang mudah bagi kita untuk membersihkan diri dari noda-noda dosa, di antaranya dengan wudhu’. Hingga ketika seseorang selesai dari wudhu’ maka ia akan bersih dari noda-noda dosa tersebut. Dari sahabat Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila seorang muslim atau mukmin berwudhu’ kemudian mencuci wajahnya, maka akan keluar dari wajahnya tersebut setiap dosa pandangan yang dilakukan kedua matanya bersama air wudhu’ atau bersama akhir tetesan air wudhu’. Apabila ia mencuci kedua tangannya, maka akan keluar setiap dosa yang dilakukan kedua tangannya tersebut bersama air wudhu’ atau bersama akhir tetesan air wudhu’. Apabila ia mencuci kedua kaki, maka akan keluar setiap dosa yang disebabkan langkah kedua kakinya bersama air wudhu’ atau bersama tetesan akhir air wudhu’, hingga ia selesai dari wudhu’nya dalam keadaan suci dan bersih dari dosa -dosa.” (HR Muslim no. 244).
Selain itu, dengan selalu menjaga wudhu’ seseorang akan memperoleh kebahagiaan yang tak bisa diberikan produk kecantikan manapun, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Maukah kalian aku tunjukkan suatu amalan yang dengannya Allah akan menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajatnya? Para sahabat berkata: “Tentu, wahai Rasulullah. Kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Menyempurnakan wudhu’ walaupun dalam kondisi sulit, memperbanyak jalan ke masjid, dan menunggu shalat setelah shalat, maka itulah yang disebut dengan ar ribath.” (HR. Muslim no. 251)
Siapa yang tak menginginkan wajah bercahaya yang mudah dikenali Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam? Siapa yang tak ingin dosa-dosanya dihapus dan derajatnya dinaikkan Allah? Saya yakin, semua umat Islam pasti menginginkannya.
Subhanallah! Kilauan mutiara hikmah dari kejadian usai shalat Maghrib itu kini ada di hadapan mata…

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/06/21229/rahasia-wajah-bercahaya/#ixzz1zWFWIaXv
readmore »»  

Kamis, 19 April 2012

AKHWAT IKUT MABIT? Bolehkah?




 Alhamdulillah, saya menemukan catatan ini di salah satu website. Semoga bermanfaat buat antunna para wanita (khususnya)

Ustadz kita mau mengadakan dauroh bersama (ikhwan-ahwat), rencananya menginap selama dua hari di mesjid. Bagaimana hukumnya akhwat mabit, boleh gak, ya ? kalau boleh, apa syarat-syaratnya ?

 Pada dasarnya, wanita itu tidak diharamkan bepergian keluar rumah dengan syarat-syarat utama antara lain, ila ala hajat atau keperluan yang syar’i. Misalnya untuk menuntut ilmu, mengajar dan aktifitas lainnya yang memang secara manusiawi diperlukan untuk dikerjakan manusia normal pada umumnya.

 Termasuk didalamnya adakah bahwa seorang wanita tidak dilarang berziarah untuk mengunjungi saudara atau temannya,asal tujuannya memang untuk hal-hal yang positif dan baik.

Kondisinya haruslah aman. Sebagian ulama ada yang mengambil pemikiran bahwa esensi diharamkannya para wanita bepergian keluar rumah tanpa mahram adalah karena di masa lalu kondisiya tidak memungkinkan. Selain banyak perampok di jalan, juga tidak lazim di masa itu ada wanita menempuh perjalanan di gurun pasir atau hutan sendirian. Sebab di masa itu belum ada alat transportasi umum yang aman, nyaman, terjamin dan sebagainya.

 Mereka membedakannya dengan kondisi hari ini secara umum sudah jauh lebih aman dan kondusif bagi wanita untuk bepergian keluar kota sendirian. Sehigga sebagian mereka membolehkan bagi para wanita untuk melakukan perjalanan dengan menggunakan fasilitas kendaraan umum yang tinggi tingkat keamanannya, nyaman dan lagipula tidak membutuhkan waktu perjalanan yang lama.

 Sebab cukup dalam hitungan jam, hari ini para wanita bisa menempuh jarak ribuan mil dengan pesawat terbang yang nyaman, aman dan bahkan semua itu bisa dilakukannya sambil tiduran di balik selimut hangat. Tidak menimbulkan fitnah dan dampak negatif berikutnya

 Selain itu, penting juga diperhatikan kesan dan etika yang sudah tertanam di tengah masyarakat atas keluarnya wanita dan bercampur dengan laki-laki. Misalnya menginapnya para wanita dan pria di dalam satu gedung atau sebuah acara semacam daurah. Hal ini tentu harus dikembalikan kepada urf’ atau kebiasaan yang berlaku di masyarakat umum juga.


Seacara umum, terjadinya percampuran antara laki-laki dan wanita didalam sebuah gedung atau sebuah acara memang dimungkinkan dalam islam. Misalnya kebolehan wanita hadir dalam shalat Jum’at, shalat Idul Fitri atau khutbah-khutbah lainnya. Namun kita juga tahu bahwa tetap dilakukan pemisahan antara keduanya.

 Satu hal lagi, semua itu bisa terjadi namun tanpa ada aktifitas menginap bersama. Sebab bila sudah pada batas menginap, maka contoh yang jelas di masa Rasulullah adalah masalah I’tikafnya para wanita yang dianjurkan lebih utama untuk dilakukan didalam rumah sendiri. Meski pun kita juga mendapatkan riwayat yang menyebutkan bahwa ummahatul mukminin pernah melakukan I’tikaf di mesjid.

 Namun, alangkah baiknya bila wanita memang terpaksa harus dan mesti ada mabit (menginap) bagi para wanita tempatnya dipisahkan secara fisik dari laki-laki. Bukan sekedar dengan menggunakan pembatas ruangan, membedakan kamar atau memasang penyekat saja. Sebaiknya emreka ditempatkan di gedung ata lokasi yang berbeda. Dan yang lebih leluasa tentu saja bila mereka dipisahkan dalam paket acaranya. Artinya, ada mabit wanita sendiri pada waktu dan tempat yang berbeda dengan mabitnya laki-laki. Tentu kondisi seperti ini jauh lebih aman dari fitnah.

 Namun kami tetap menganjurkan bagi pihak penyelenggara untuk kalau tidak terpaksa sama sekali, tidak perlu membuat acara yang menuntut para wanita harus menginap. Sebab mereka itu wajib mendapatkan izin yang benar-benar sepenuhnya izin atas kerdihoan orang tua mereka maing-masing. Terus terang sajalah bahwa masalah izin menginap bagi apara aktivis wanita ini bukanlah masalah yang bisa disepelekan begitu saja. Orang tua manapun pasti ingin tidur nyenyak dengan kepastian bahwa putri mereka benar-benar safe, aman, nyaman, dan semua itu hanya ada bila puterinya ada di rumah.

Kami tidak menafikan bahwa mabit itu penting, urgent, punya nilai tersendiri dan seterusnya. Namun memperkecil resiko fitnah tentu lebih utama.



Wallahu alam bi shawab

sumber: http://muslimahui.my-php.net/?cat=3
readmore »»  

Sabtu, 14 April 2012

Filosofi Perjalanan Ke Situ Gunung Gede Pangrango



Bismillahirrahmanirrahim

Tanggal 07 April 2012 lalu, saya dan rombongan peserta Dauroh Rohis Jilid 2 tiba di Daerah Cisaat Sukabumi pada pukul 5 pagi. Setelah beristirahat sejenak di Villa Tanpa Nama dan melakukan olahraga, kami beranjak menuju Curug. Situ Gunung Gede Pangrango.
Awalnya saya tidak tahu Curug apa yang akan kami datangi. Maklum saat itu saya juga adalah peserta.
Setelah berjalan lumayan jauh dengan medan menanjak, dan setelah melihat pemandangan pohon pinus di sisi kiri jalan dan sawah-sawah yang luas di sekitarnya, kami sampai pada sebuah gapura kuno berwarna cokelat.
Seorang kakak pemandu kami membelikan kami tiket masuk dan pada saat itulah saya melihat papan bertuliskan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.
Tak percaya, saya mengucek mata berulang-ulang. Tetapi ternyata tulisan itu tidak berubah walau satu huruf pun. Sebelumnya, saya hanya tahu tentang gunung ini dari buku paket bahasa Indonesia saya yang kelas sepuluh. Disana diceritakan betapa angkuh nya gunung ini. Cantik dan bersahaja.
Tanpa membuang waktu, kami langsung berjalan memasuki gunung. Jalanannya biasa. Belum terlihat "sesuatu"nya.
Kami terus berjalan sambil mendendangkan lagu-lagu nasyid harokah sebagai penyemangat kami. Semakin lama, jalan yang kami tempuh semakin mengkerut. Semakin sempit. Menanjak dan juga licin.
Kami para wanita yang notabene menggunakan rok agak kesulitan untuk melompati genangan-genangan air yang menghadang di tiap sisi jalan. Tanahnya berwarna kuning. Entah mineral apa yang terkandung di dalamnya.
Lelah bernyanyi, kami semua diam dan terfokus pada jalanan yang semakin curam. Saat itu aku memakai sandal jepit plastik yang rentan terpeleset. sebisa mungkin kujaga keseimbanganku dan berjalan sesuai barisan.
Di sebelah kiri kami ada tebing yang penuh dengan pepohonan. Melihat tebing itu, aku jadi merasa ciut dan kerdil. Betapa tidak ada apa-apanya aku dibandingkan ciptaan Allah ini. Sedangkan di sebelah kanan ku ada jurang yang dalam. Berhektar-hektar sawah dengan motif terasering yang indah terhampar di seberang sana. Suara manusia seolah lenyap. Yang terdengar hanya suara hewan-hewan penghuni hutan yang menenangkan. Suasana alami yang mustahil kutemukan di Jakarta.
Kakiku terus melaju. Meladeni tiap kejutan yang diberikan oleh Pangrango. Jalanan licin telah lewat. Kini kami berjalan diatas bongkahan batu-batu besar yang tertanam dalam tanah. Medannya bukan lagi menanjak, melainkan menurun.
Filosofi: Jalan dakwah tak pernah mulus. Tak pernah indah bertabur bunga. Melainkan selalu berelief seperti gunung ini. Jalan disini memang berat, tapi ingat tujuan kita yang pasti kan kita temui. Air terjun yang menenangkan. Itulah dakwah. Jalannya memang berat, tapi ingat tujuan kita. Ingat sesuatu yang telah menanti kita diujung sana. Surganya Allah SWT.

Kami saling bergandengan tangan untuk mampu menuruni tiap batuan. Takut kalau saudara kami terjatuh ke jurang. Sebisa mungkin tak ada yang ditinggalkan.
Filosofi: Dalam perjuangan dakwah, bergerak secara bersamaan itu penting dilakukan. Saling menolong dan menguatkan. Karena kita harus sampai di tujuan secara bersamaan.

Tak berapa lama dari itu, kami mendengar gemuruh air yang membelalakkan mata.
"Itu air terjun nya ya?"harap-harap kami bahwa sebentar lagi jalan ini selesai ternyata hanya harapan. Itu bukan air terjun melainkan sebuah sungai kecil yang sangat jernih airnya.
berada di rerimbunan pohon yang menenangkan. Siapa sangkan didalam hutan belantara seperti ini ada aliran air yang begitu jernih dan cantik nya? Sungai itu pun kami namai sungai aurat
Filosofi: Sungai aurat. Karena aurat kita bagaikan sungai ini. Jika ditutupi dengan baik, maka yang terjadi adalah kita dalam keadaan baik. Jernih layaknya sungai di pedalaman gunung ini. Tetapi lihat sungai-sungai di jakarta yang dengan mudahnya tersentuh tangan-tangan jahil dan polusi yang merajalela, akhirnya sungai itupun keruh dan mengeluarkan bau yang busuk. Itulah yang akan terjadi jika aurat kita dibiarkan terbuka layaknya sungai-sungai di ibukota.

Kemudian kami melanjutkan perjalanan yang sangat menanjak. Walaupun masih bermedan batuan, jalanan yang menanjak jadi agak menyulitkan. Kakiku sempat kram dibuatnya. Tapi untunglah hanya sebentar.
Di puncak, kami beristirahat sejenak di sebuah tempat duduk yang panjang. Melepas penat, kami meminum air mineral yang tlah dipersiapkan oleh panitia.
Perjalanan kami masih panjang. Itu kata mereka. Ini baru setengah perjalanan. Aku mendongak ke bawah. Ke arah medan yang akan kita tempuh selanjutnya. Turunan yang sangat curam. Aku sempat sangsi untuk melewatinya. Tapi karena diyakinkan oleh semua teman, aku pun ikut memberanikan diri menerima kejuta-kejutan berikutnya.

Puluhan meter telah berlalu namun kami tak juga sampai. Ada yang bilang sebentar lagi. Namun sebagian yang lain mengatakan masih lama karena belum juga terdengar suara gemuruh air terjun. Beberapa dari kami mulai merasa kelelahan.
Filosofi: Kita tidak akan pernah tahu seberapa panjang jalan yang akan kita lalui dalam hidup ini. Dalam konteks ini saya artikan sebagai umur. Kita tidak pernah tahu kapan kita mati. Atau seberapa lama lagi kita hidup. Tetapi yang pasti, dan yang harus kita tahu adalah lakukan apapun sebaik yang kita bisa di dalam hidup ini.

Tiba-tiba suara yang kami tunggu-tunggu mulai terdengar. Gemuruh air. Beberapa ada yang sangsi dengan hal itu.
"Ah, paling sungai kayak tadi lagi"ujarnya
Tetapi dia salah. Kami memang benar-benar telah sampai. Di atas sana, kami bisa melihat alam memuntahkan airnya dengan luar biasa hebat. Tak lama lagi kita akan sampai.
Kami segera berlari menuruni turunan terakhir. Disana kami bisa melihat aliran sungai yang begitu derasnya berjalan di hadapan kami. Dan di ujung sana, di hulu sungai ini, air terjun raksasa yang kami cari telah terlihat.
Subhanallah Walhamdulillah Wa Laa ilaa ha Illallah. Allahu Akbar!
Ya. Kami sampai. Penat, lelah, sakit, dan kesusahan yang kami rasa dalam perjalanan sirna sudah. Digantikan oleh pemandangan alami yang menenangkan jiwa.
Filosofinya: Yakinlah karena keyakinanmu adalah janji-Nya. Akan ada hal indah yang menantimu diujung jalan yang sulit ini. Dan itu pasti.

Thaks to: Kak Nurcholipah ^^ KAPMI @11
readmore »»  

Selasa, 24 Januari 2012

Usia Alam Semesta Menurut Al-Quran

Usia Alam Semesta Menurut Al-Quran - Menguak ketidaktahuan manusia mengenai usia alam semesta. Seandainya anda di tanya, berapa umur semesta? Niscaya banyak yang tidak tahu atau juga karena keterbatasan ilmu, tidak akan sanggup menghitungnya. Dan berikut ini ada cara mudah yang tidak perlu teori dan praktek yang rumit atau alat canggih untuk menghitung usia semesta.



Dengan media ayat - ayat dalam Al-Quran kitab sucinya Muslim Sedunia dan Semesta alam, maka didapat bahwa umur alam semesta itu 18,26 Milyar Tahun. Mengapa mudah? Bagaimana angka 18,26 milyar, bisa diperoleh ?

Mari kita telaah dari sini:
1. Berdasarkan informasi Al Qur’an, keberadaan alam dunia tidak lebih dari 1 hari. Ini termuat dalam QS. Thaha ayat 104:
Kami lebih mengetahui apa yang akan mereka katakan, ketika orang yang paling lurus jalannya mengatakan, ‘Kami tinggal ( di dunia ) tidak lebih dari sehari saja”.

2. Sehari langit sama artinya dengan 1.000 tahun perhitungan manusia. Dijelaskan dalam QS. Al Hajj ayat 47:
Dan mereka meminta kepadamu ( Muhammad ) agar adzab itu disegerakan, padahal Allah tidak akan menyalahi janji-Nya. dan sesungguhnya di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.”

3. Sehari kadarnya 50.000 tahun yang termuat dalam QS.Ma’arij ayat 4:
Para malaikat dan Jibril naik, ( menghadap ) kepada Tuhan, dalam sehari setara dengan lima puluh ribu tahun.”

Bila 1 tahun hitungan manusia adalah : 365,2422 hari
Maka sehari langit diperoleh : 365,2422 x 50.000 x 1.000 x1
Diperoleh : 18,26 milyar tahun!

Ini juga pernah dipaparkan dan dibuktikan oleh pendapat Moh. Asadi dalam bukunya The Grand Unifying Theory of Everything. Dia menyatakan kalau umur alam semesta itu 17 — 20 milyar tahun. Sementara, Profesor Jean Claude Batelere bilang kalau umur semesta itu kisarannya ada di 18 milyar tahun. Terus ditambah dengan teori NASA yang mengeluarkan data umur semesta itu ada di kisaran 12 — 18 milyar tahun.

Kita tahu selama ini Para ilmuwan dengan segala peralatan canggihnya dan ilmu ’tingginya’ berusaha menguak berapa umur semesta, ternyata sebenarnya di dalam Al Qur’an sudah tertera dengan begitu jelasnya tentang misteri itu.

Artinya tidak ada yang sulit dimata Allah SWT selagi manusia mau berpikir, sains iptek semua bisa digali dan dijawab al-Quran dengan mudah.

Itulah mengapa disebut petunjuk bagi manusia dan penerang atas kegelepan, pemberi obat bagi yang sakit, pemberi ketentraman jiwa yang tidak pernah damai.

Kitab suci yang tidak pernah ada kadaluwarsa dalam judul, bahasan, selalu elastis tiap sendi kehidupan manusia, bisa diterima dalam tiap kondisi bangsa yang berbeda tingkat umur yang berbeda, suku yang berbeda, negara yang berbeda, pas dalam kondisi apapun alias UNIVERSAL.
readmore »»  

Jumat, 20 Januari 2012

Alpujarras: Benteng Terakhir Muslim Spanyol

Alpujarras: Benteng Terakhir Muslim Spanyol
Di antara banyaknya kafe-kafe di sisi bukit serta plaza-plaza di kota sibuk Granada, pegunungan yang berselimut salju dapat dilihat hanya dengan sedikit perjalanan pendek.
Di lereng pegunungan ini, terdapat serangkaian pedesaan kecil yang menampung sisa-sisa komunitas Muslim Spanyol terakhir; mereka memiliki sedikit, tapi nyata, peran sendiri dalam sejarah Andalusia serta menawarkan tujuan wisata yang tenang dan amat cantik untuk sebuah perjalanan atau sekedar melepaskan diri dari kehidupan kota.
Saat Emir terakhir, Pangeran Nasrid Granada, Boabdil, menyerah kepada monarki Katolik pada tahun 1492, beliau menetap di pegunungan terdekat di kawasan Alpujarras. Pada abad ke-15, Alpujarras adalah kawasan peternakan ulat sutra yang berkembang pesat, dengan populasi sekitar 150.000 orang dalam 400 desa yang bergantung terutama pada produksi sutra mentah sebagai pasokan bagi pengrajin di Granada dan Almeria serta memiliki sistem irigasi yang menakjubkan guna menunjang aktifitas pertanian di lereng-lereng yang curam.
Namun, saat meninggalkan Granada, Boabdil juga melindungi masyarakat Muslim di Alpujarras dari tekanan dan penganiayaan monarki Katolik yang baru. Mereka melakukan perlawanan pada tahun 1500 dan berlanjut sampai beberapa dekade berikutnya.
Pada tahun 1567, sebuah dekrit zholim dari Philip II yang melarang nama, pakaian dan bahasa Arab menimbulkan perang gerilya selama dua tahun. Perlawanan berakhir hanya ketika pemimpinnya dibunuh oleh sepupunya sendiri dan seorang komandan militer yang ditunjuk Spanyol memberlakukan sanksi yang brutal termasuk mengusir hampir semua populasi kawasan tersebut dan memindahkannya ke bagian lain dari Spanyol.
Dari sekitar 400 desa yang telah makmur di masa keemasan Alpujarra, 270 di antaranya digunakan sebagai pemukiman bagi penduduk dari Spanyol Utara; sisanya dibiarkan begitu saja. Industri sutra pun jatuh bangkrut dan hutan-hutan kayu yang menjadi suplai mulberry bagi ulat sutra pun ditebang habis diganti menjadi ladang dan tambang.
Merujuk pada beberapa ahli sejarah, memelihara babi dan rutin mengonsumsi dagingnya pada akhir tahun (natal?-red.) adalah salah satu dari banyak cara di mana populasi Muslim dan Yahudi dipaksa untuk membuktikan kepada Inkuisisi Katolik bahwa mereka telah benar-benar memeluk agama Kristen.
Alpujarra hari ini adalah tetap Alpujarra dengan pesona keindahan alamnya, hanya saja kini para pelancong Muslim harus hati-hati dengan kuliner yang ada yang tidak halal serta langkanya tempat ibadah bagi Muslim.
readmore »»