Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu menjaga engkau dan engkau menjaga harta. Ilmu itu penghukum (hakim) dan harta terhukum. Harta itu kurang apabila dibelanjakan tapi ilmu bertambah bila dibelanjakan. -Khalifah Ali bin Abi Talib-

Popular Posts

Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 Januari 2013

WAKTU YANG MUSTAJAB BERDOA



From fanpage Apple

Bismillahirrahmanirrahiim..

Doa merupakan tali penyambung yang kokoh antara hamba dengan Rabb_Nya, berdoa kapan saja bisa tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala menyediakan waktu dan saat2 yang tepat dan cepat (mustajab) dikabulkan doa, di antaranya yaitu :

A. SEPERTIGA MALAM TERAKHIR

“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu,Bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Ber...sabda :”ALLAH turun kelangit bumi setiap malam saat tersisa sepertiga malam akhir,”
Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala Berfirman :
”Adakah yang sedang Berdoa Pada-KU,maka AKU Kabulkan,Adakah yang Meminta Pada-KU,maka AKU Berikan,Adakah yang Bertaubat Pada-KU,maka AKU Ampunkan.”(HR.Bukhari dan Muslim).

“Dari Jabir Radhiyallahu Anhuma,Bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Bersabda :”Sesungguhnya pada waktu malam terdapat satu waktu,bila pada saat itu seorang Muslim memohon kepada ALLAH sesuatu Kebaikan yang berkaitan dunia maupun akhirat,Maka ALLAH akan menganugerahkan kebaikan tersebut,dan itu ada pada setiap malam”.(HR.Muslim)

B. PADA WAKTU SUJUD

“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu,Bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Bersabda :”Jarak yang paling dekat antara seorang hamba dengan Rabb_Nya adalah pada waktu sujud,maka perbanyaklah Berdoa pada saat sujud.”(HR.Muslim).

C. SAAT ANTARA ADZAN DAN IQAMAH

“Dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu,Bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Bersabda :”Doa itu tidak ditolak antara Adzan dan Iqamah,maka Berdoalah.”( HR. Ahmad dan Ibnu Hibban).

“Dari Abdullah bin Amr Ibnu Ash,Bahwa ada seorang laki-laki berkata “Wahai Rasulullah, Sesungguhnya para Muadzin itu telah mengungguli kita”.

maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Bersabda :” Ucapkanlah seperti apa yang diucapkan oleh para Muadzin itu, dan jika kalian selesai (menjawab), maka memohonlah (berdoalah) kalian pasti diperkenankan.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Hibban).

D. PADA SAAT DIAKHIR SHALAT FARDHU

“Dari Abu Umamah Al Bahili Radhiyallahu Anhu berkata,”Pernah ada yang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,”Wahai Rasulullah’Doa apakah yang dikabulkan (dijabah)??
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Bersabda :”Doa yang dipanjatkan di tengah malam akhir dan di akhir Shalat Fardhu (Wajib).”(HR. At Tirmidzi dan An Nasa’i).

E. PADA HARI JUMAAT

“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu,Bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menyebut Hari Jumat kemudian Bersabda :”Di dalamnya ada satu saat (yang mustajab) tidaklah seorang Muslim yang kebetulan waktu itu sedang mendirikan shalat (atau menunggu shalat), dan memohon kepada ALLAH sesuatu (hajat) melainkan ALLAH pasti Mengabulkan permohonannya.” dan Rasulullah mengisyaratkan dengan tangannya akan sedikitnya saat Mustajab itu. (HR.Bukhari).

F.SAAT MELAKUKAN PERJALANAN (musafir)

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Bersabda :“Tiga permohonan (Doa) yang pasti diperkenankan ALLAH tanpa ditunda “Doa orang yang di Didzalimi (Teraniya),Doa Seseorang dalam Perjalanan (Musafir),dan Doa Orang Tua kepada Anaknya.” (H.R. Abu Dawud).

G.SAAT MENDENGAR AYAM BERKOKOK

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Bersabda :
“Apabila kalian mendengar Ayam Berkokok, Maka mohonlah Anugerah_Nya karena Ayam itu melihat Malaikat .”
(HR.Bukhari dan Muslim).
readmore »»  

Selasa, 20 November 2012

VMJ (Sehat dan Memotivasi?)


Bismillahirrahmanirrahim..
Assalamu'alaikum saudaraku
Udah lama banget rasanya nggak posting disini. Maklum, sibuk dengan kurikuler :) Doakan ya, supaya tahun ini aku lulus dan bisa diterima di universitas yang diinginkan, -aamiin- :)
Nah, kali ini mungkin aku akan nyinggung sedikit tentang VMJ.
Ya. Lagi-lagi VMJ alias (Virus Merah Jambu) atau yang awam disebut dengan falling in love.
Biasanya, dari keputrian, atau pas ngobrol-ngobrol sama temen, atau bahkan pas lagi diskusi agama, aku mendengar banyak pertanyaan tentang ini. Tapi yang jadi most popular question cuma satu, yaitu
"emang pacaran nggak boleh ya?"
dan jawaban yang biasa kudengar adalah
"tergantung, kalau pacarannya sehat ya nggak apa-apa,".
Mungkin beberapa dari sobat bakal ngiyain dan setuju sama jawaban itu. Aku juga setuju kok. Tapi coba kita liat, pacaran sehat itu kayak gimana sih?
Ini nih kriteria nya :
1. Nggak peluk-pelukan
2. Nggak (maaf) kissing
3. Nggak berduaan
4. Nggak boncengan
5. Nggak kedip-kedipan
6. Nggak surat-suratan
7. Nggak telponan
8. Nggak SMS-an
Wehehehe... gimana? Sanggup nggak pacaran sehat? Nggak kan? Nggak aja deh. Soalnya, pacaran kayak gitu tuh cuma nyiksa diri dan nggak berkah.
"tapi kalau pacarannya memotivasi, gimana?"
Hmm.. kebanyakan remaja yang berasal dari kalangan akademisi pasti akan ngajuin pertanyaan itu kalau udah ngomongin soal ini. Tapi perlu dicatat : terkadang, kalimat pertanyaan itu bisa berarti pemaksaan. pembenaran atas keinginan pribadi yang memang ingin dibenarkan walau kenyataannya salah.
Motivasi itu kan banyak sumbernya. Emang harus dari pacar? Emang pacar kita Mario Teguh sang motivator golden ways itu? Emang bisa jamin kalau suatu saat ketika kamu dan doi juga lagi sama-sama lemes dia tetep bisa motivasiin kita?
Alasan memotivasi itu aku bilang BULLSHIT.
Karena nggak ada hubungannya sama sekali.
Motivasi itu bisa dilihat dari orang-orang sukses di sekeliling kita. Para alumni, teman, atau dari video-video orang-orang berkebatasan yang berprestasi. Itu baru motivasi. Kalau dari pacar mah, bukan motivasi, tapi gombalisasi.
Dalam Islam sendiri, nggak pernah tuh ada kata pacaran. Islam tidak pernah menganjurkan hal itu.
Kenapa?
Percaya ini dulu deh, Allah nggak akan melarang kita melakukan sesuatu kalau sesuatu itu ada manfaatnya buat kita. Dan Allah melarang kita berbuat sesuatu karena sesuatu itu nggak ada manfaatnya bahkan banyak mudharat nya buat kita.
Contoh : Allah mengharamkan babi, karena di dalam perut babi itu ada cacing pita nya. Dan itu bisa bikin penyakit buat manusia.
Allah melarang kita buat minum minuman keras, karena itu bisa merusak jaringan otak kita.
Nah, Allah juga nggak nganjurin kita pacaran itu karena pacaran = ladang syaitan.
Syaitan-syaitan ini nih yang bakal ngipas-ngipas syahwat (nafsu) kita kalau kita lagi pacaran. Bawaannya kangeeenn mulu sama doi. Pengen ketemuuu mulu. Nggak liat sehari aja makan langsung nggak enak, tidur nggak nyenyak, mandi nggak basah (?). Pokoknya dimana-mana inget doi mulu deh.
Walhasil apa?
Lupa PR, lupa ulangan, lupa kuis, lupa bikin PPT, bahkan lupa sholat! -astaghfirullah-
Berapa banyak coba anak muda yang pacaran lalu kebablasan?
Berapa banyak siswa-siswi yang hamil saat masih sekolah?
Berapa banyak remaja yang melakukan aborsi? Atau bunuh diri?
Wah, berarti Islam kolot dong?
Eits, siapa bilang di Islam nggak ada istilah pacaran?
Ada kok!
Tapi nggak pacaran doang, melainkan PACARAN SETELAH MENIKAH.
Enakan mana sobat?
Kalau belum nikah, pegangan tangan takut diliat orang. Mau ciuman takut digrebek satpam. Mau boncengan bawaannya was-was. Belum lagi keingetan sama bonusnya -murka Allah- (na'udzubillah)
Tapi kalau udah nikah nih, pegangan tangan sama suami/istri aja udah ngerontokin dosa. Udah kita seneng, dapet pahala lagi. Subhanallah.
Nah sobat, perlu diingat nih, agama kita itu rahmatan lil 'alamin yang artinya rahmat bagi seluruh alam.
Apa yang diajarkan, dianjurkan, dan dilarang dalam agama ini pastinya ada manfaatnya buat kita.
Sebagai generasi muda islam, ayo deh kita lakuin perintah-perintah agama ini dengan baik dan benar. Insya Allah kedepannya, kalau anak mudanya aja udah religius, seluruh aspek kehidupan ini bakalan baik dah -aamiin-
Udah dulu ya sobat bagi-bagi ilmunya, kapan-kapan kita sambung lagi,
Wassalamu'alaikum warahmatullah :)
readmore »»  

Senin, 02 Juli 2012

Yang Biasa Beralasan "Jilbabin dulu hatinya, baru kepalanya,". Baca Ini!

Kisah ini kubaca sekitar satu tahun lalu di salah satu fanpage di facebook. Dan setelah membacanya, hatiku semakin kuat meyakini akan kebenaran perintah Allah untuk berjilbab. Mari kita simak ^^
***
Sebut saja Rana. Ia adalah wanita yang baik budinya. Senantiasa tersenyum dan ramah kepada siapa saja. Rana, wanita berusia 23 tahun. Sudah bisa dibilang sukses di umurnya yang sangat muda itu. Rana juga seorang penganut agama Islam yang taat. Tidak pernah meninggalkan sholat 5 waktu. Puasa sunnah nya juga rajin. Ia juga tidak pernah lupa menyisihkan penghasilannya untuk bersedekah. Baru-baru ini, Rana telah sanggup memberangkatkan kedua orangtuanya untuk pergi haji setelah setahun sebelumnya ia membelikan sebuah hunian baru bagi kedua orang yang sangat dicintainya itu.
Rana belum menikah.
Ia adalah sosok wanita yang sangat mengejar karir. Tujuannya hanyalah untuk membahagiakan kedua orangtuanya.
Tetapi, Rana tidak berjilbab. Berkali-kali teman sekantornya menanyakan alasan mengapa dia belum berjilbab. Dan jawabannya tidak pernah berubah. "Aku mau menjilbabi hatiku dulu, baru kepalanya,"ujarnya.
Menurutnya, percuma orang memakai kerudung kalau hatinya masih busuk. Masih suka menggunjing. Dan tidak patuh pada seluruh kewajiban lainnya seperti sholat, puasa, dll.
Rana adalah orang yang kritis terhadap hal-hal seperti itu.
Pada suatu malam,ketika ia pulang kerja, badannya terasa lelah sekali. Seharian duduk di depan komputer membuat matanya sedikit sakit.
Ingin sekali rasanya ia langsung berbaring diatas kasur yang empuk. Tetapi ia teringat bahwa ia belum sholat isya'. Maka ia pun segera bangkit dan mengambil air wudhu lalu sholat.
Seusai sholat, ia pun tertidur.
Dalam tidurnya, Rana bermimpi berada di suatu tempat yang sangat indah. Sebuah taman yang ada banyak bunga berwarna-warni dan harum wanginya. Harum yang tak pernah ia temukan selama ini.
Matanya berkeliling. Melihat ke segala arah. Ada banyak wanita sepertinya yang juga duduk di sekitar taman. Mereka terlihat begitu bahagia. Sama seperti dirinya.
Rana berjalan dan bertanya pada seorang wanita yang sedang melihat-lihat bunga tak jauh dari tempat duduknya.
   "Permisi mbak, aku Rana. Kalau boleh tahu, kita ini ada di Surga ya?"tanya Rana sangking bagusnya tempat itu.
   "Oh tentu saja bukan,"jawabnya sambil tersenyum. "Tempat yang indah ini hanya tempat tunggunya. Surganya ada disebelah sana, kau lihat?"lanjutnya sambil menunjukkan sebuah pintu yang sangat besar dan sangat indah di ujung jalan sana.
Rana terperangah. Ada rasa bahagia yang terbuncah dalam dada nya. Ia merasa seluruh usahanya selama ini di dunia tidaklah sia-sia. Bahagia yang tiada tara.
Rana tersenyum.
Tiba-tiba, pintu itu terbuka. Para wanita yang tadi asyik bermain-main di taman segera berjalan mendekatinya. Dan satu persatu dari mereka pun masuk ke dalamnya dengan senyum tersungging.
Rana berdiri menatap terpaku ke depan pintu.
   "Ukhti, Ayo kita kesana. Pintu surga telah terbuka,"seru wanita tadi kepada Rana. Ia segera mengerjap-ngerjap dan berlari menyusul. 
Rana berlari semakin kencang. Namun pintu itu tak kunjung bisa dicapainya.
Sedangkan wanita tadi, ia sudah bisa memegang pintu itu. Rana panik. Semakin ia percepat larinya. Tetapi tetap saja, pintu itu terasa semakin menjauh.
   "Hei! Tunggu aku. Bagaimana kau bisa sampai kesana dengan berjalan santai sedangkan aku yang berlari tidak juga sampai?"tanya Rana dari jauh. Wanita itu hanya tersenyum dan  mulai melangkah masuk.
Rana semakin kepayahan. Tersengal-sengal napasnya. Ia pun memutuskan untuk berhenti. Hampir menyerah.
   "Ukhti!"panggil wanita itu. Kaki kanan dan sebelah badannya telah masuk ke balik pintu.
   "Kau tahu apa yang membedakanmu denganku?"tanyanya.
Rana menoleh, "Apa? Apakah amalanmu lebih banyak dariku? Apakah amalanku selama ini yang membedakanmu denganku?"Rana balik bertanya.
Wanita itu menggeleng pelan sambil tetap menyungging senyum.
   "Bukan itu. Amalan yang kulakukan sama seperti yang kau lakukan. Sholat, puasa, membaca Al-Qur'an, sedekah dan sebagainya,"ujarnya.
   "Lalu karena apa?"tanya Rana.
   "Lihatlah ukhti, apa yang membedakanmu denganku,"ujarnya tegas.
Rana melihat wanita itu dengan seksama. Lalu melihat ke arah dirinya sendiri. Tahulah dia terletak dimana perbedaan diantara mereka itu.
   "Ukhti, bukankah kau hanya ingin menjilbabi hatimu? Maka, kini biarlah surga ini hanya sampai di hatimu. Dan selalu menjadi angan-anganmu,"ujar wanita itu. Lalu ia pun masuk ke balik pintu sebagai yang terakhir. Pintu yang sangat indah itu pun tertutup.
Rasa sedih tiba-tiba merasuk di hati Rana. Ia menangis sejadi-jadinya. Ia inginmasuk kedalam sana bersama seluruh wanita tadi. Bukan hanya sampai di tempat tunggu ini.
Rana terbangun.
Matanya basah oleh air mata. Rasa sedih yang teramat sangat itu masih ada di dalam dadanya. Sangat sedih. Segera ia beristighfar dan menangis lagi mengingat tinggal sedikit lagi ia bisa mendapatkan surga tetapi terhalang oleh rambutnya yang tidak tertutup jilbab.
Rana segera bangkit dan mengambil air wudhu. Jarum jam menunjukkan pukul 3 pagi. Ia pun langsung melaksanakan sholat tahajud dan sholat taubat. Ia akui semua kesalahannya kepada Allah SWT. Dan saat itu juga ia niatkan pada dirinya untuk segera menutup kepalanya dengan jilbab.
Paginya, Rana pun bekerja dengan penampilan baru. Dengan jilbab di kepalanya.
readmore »»  

Selasa, 20 Maret 2012

Aku Rindu Masa-Masa Itu

Aku rindu masa-masa itu. Masa saat aku masih baru di tempat ini dan kalian dengan ramah mengulurkan tangan kalian agar aku nyaman disini.
Aku rindu masa-masa itu. Masa ketika kalian tak bosan-bosannya mengirimiku sejuta pesan kehidupan yang aku sendiri tak pernah peduli bahkan tak jarang aku tidak membacanya.
Aku rindu masa-masa itu. Masa ketika kalian masih punya waktu untuk mendatangiku walau sekedar bertukar salam, menanyakan kabar, dan menyampaikan satu dua kalimat yang mengisi kekosongan jiwa ini. Membangkitkan semangat muda ini lagi.
Aku rindu masa-masa itu. Masa ketika kalian memarahiku dan menunjukkan kesalahanku. Kurasa itu lebih baik daripada kini. Ketika kalian tak pernah lagi muncul di hadapanku. Marahi saja aku, karena itu menunjukkan bahwa kalian masih peduli kepadaku.
Aku sangat rindu masa-masa itu. Masa ketika kalian berbagi cerita tentang ukhuwah, tentang amanah, tentang lelah, tentang semua yang kalian rasa disini, dan yang akan ku rasakan pula di tempat ini, nanti.
Aku rindu masa-masa itu. Masa ketika kalian bercanda ria di jejaring sosial, dan aku hanya tersenyum-senyum membacanya. Walau aku tak ada di tengah tawa kalian, percayalah... ukhuwah kalian sangat kurasakan disini.
Aku sangat merindukan masa-masa itu. Ketika aku mencari tahu tentang kalian, karena aku ingin tahu lebih banyak tentang pribadi kalian. Ketika aku tahu betapa hebatnya kalian, dari foto-foto itu, dari tulisan-tulisan itu. Aku merasakan sebuah transfer energi yang sangat besar sedang terjadi dari dirimu kepadaku.
Aku rindu masa-masa itu. Ketika kalian datang dengan senyuman. Bukan dengan setumpuk kertas dan segudang kesibukan.
Aku masih rindu masa-masa itu. Ketika kalian mengirimiku pesan tausyiah, bukan pesan perintah!
Aku disini bukan untuk menjadi penyebar berita. Bukan!
Aku disini juga bukan hanya untuk membuat acara. Bukan itu!
Aku disini ingin belajar sebelum mengajar. Aku ingin menjadi objek dakwah sebelum berdakwah. Aku ingin mendengarkan kalimat semangat dari kalian sebelum aku menyemangati yang lain.
Tolong jangan biarkan kami kering.
Jangan biarkan saudaraku jatuh satu persatu.
Aku sadar kami harus sendiri. Kami harus mandiri.
Tapi apa itu berarti tak ada lagi perhatian dari kalian? Pikirkan!
Tak banyak yang kuat hatinya. Tak banyak yang sanggup diperlakukan seperti ini berlama-lama. Jati pun ketika dibiarkan ratusan tahun lamanya akan keropos juga.
Ku harap kalian tidak terlambat. Bantu aku untuk mengembalikan saudaraku. Saudara kita. Bantu aku kak.
Siapapun kalian yang merasa, ini bukan sekedar tulisan. Tapi ini adalah pengaduan dari kami. Anak-anak yang telah kalian culik, lalu kalian tinggalkan!
readmore »»  

Kamis, 08 Maret 2012

Papa, Mama, Rio Tunggu Di Pintu Surga

“Mau Tuhan apa sih?!” protesnya setengah berteriak, sembari menangis tersungkur ke lantai. Dinginnya lantai membuat hatinya berangsur tenang, dan spontan berucap “Astaghfirullah.”

***

Agnes adalah sosok wanita Katolik taat. Setiap malam, ia beserta keluarganya rutin berdoa bersama. Bahkan, saking taatnya, saat Agnes dilamar Martono, kekasihnya yang beragama Islam, dengan tegas ia mengatakan, “Saya lebih mencintai Yesus Kristus dari pada manusia!”

Ketegasan prinsip Katolik yang dipegang wanita itu menggoyahkan Iman Martono yang muslim, namun jarang melakukan ibadah sebagaimana layaknya orang beragama Islam. Martono pun masuk Katolik, sekedar untuk bisa menikahi Agnes. Tepat tanggal 17 Oktober 1982, mereka melaksanakan pernikahan di Gereja Ignatius, Magelang, Jawa Tengah.

Usai menikah, lalu menyelesaikan kuliahnya di Jogjakarta, Agnes beserta sang suami berangkat ke Bandung, kemudian menetap di salah satu kompleks perumahan di wilayah Timur kota kembang. Kebahagiaan terasa lengkap menghiasi kehidupan keluarga ini dengan kehadiran tiga makhluk kecil buah hati mereka, yakni: Adi, Icha dan Rio.

Di lingkungan barunya, Agnes terlibat aktif sebagai jemaat Gereja Suryalaya, Buah Batu, Bandung. Demikan pula Martono, sang suami. Selain juga aktif di Gereja, Martono saat itu menduduki jabatan penting, sebagai kepala Divisi Properti PT Telkom Cisanggarung, Bandung.

Karena Ketaatan mereka memegang iman Katolik, pasangan ini bersama beberapa sahabat se-iman, sengaja mengumpulkan dana dari tetangga sekitar yang beragama Katolik. Mereka pun berhasil membeli sebuah rumah yang ‘disulap’ menjadi tempat ibadah (Gereja,red).

Uniknya, meski sudah menjadi pemeluk ajaran Katolik, Martono tak melupakan kedua orangtuanya yang beragama Islam. Sebagai manifestasi bakti dan cinta pasangan ini, mereka memberangkatkan ayahanda dan ibundanya Martono ke Mekkah, untuk menunaikan rukun Islam yang kelima.

Hidup harmonis dan berkecukupan mewarnai sekian waktu hari-hari keluarga ini. Sampai satu ketika, kegelisahan menggoncang keduanya. Syahdan, saat itu, Rio, si bungsu yang sangat mereka sayangi jatuh sakit. Panas suhu badan yang tak kunjung reda, membuat mereka segera melarikan Rio ke salah satu rumah sakit Kristen terkenal di wilayah utara Bandung.

Di rumah sakit, usai dilakukan diagnosa, dokter yang menangani saat itu mengatakan bahwa Rio mengalami kelelahan. Akan tetapi Agnes masih saja gelisah dan takut dengan kondisi anak kesayangannya yang tak kunjung membaik.

Saat dipindahkan ke ruangan ICU, Rio, yang masih terkulai lemah, meminta Martono, sang ayah, untuk memanggil ibundanya yang tengah berada di luar ruangan. Martono pun keluar ruangan untuk memberitahu Agnes ihwal permintaan putra bungsunya itu.

Namun, Agnes tak mau masuk ke dalam. Ia hanya mengatakan pada Martono, ”Saya sudah tahu.” Itu saja.

Martono heran. Ia pun kembali masuk ke ruangan dengan rasa penasaran yang masih menggelayut dalam benak.

Di dalam, Rio berucap, “Tapi udahlah, Papah aja, tidak apa-apa.”

“Papah, hidup ini hanya 1 centi. Di sana nggak ada batasnya,” lanjutnya.

Sontak, rasa takjub menyergap Martono. Ucapan bocah mungil buah hatinya yang tengah terbaring lemah itu sungguh mengejutkan. Nasehat kebaikan keluar dari mulutnya seperti orang dewasa yang mengerti agama.
Hingga sore menjelang, Rio kembali berujar, “Pah, Rio mau pulang!”

“Ya, kalau sudah sembuh nanti, kamu boleh pulang sama Papa dan Mama,” jawab Martono.

“Ngga, saya mau pulang sekarang. Papah, Mamah, Rio tunggu di pintu surga!” begitu, ucap Rio, setengah memaksa.

Belum hilang keterkejutan Martono, tiba-tiba ia mendengar ‘bisikan’ yang meminta dia untuk membimbing membacakan syahadat kepada anaknya. Ia kaget dan bingung. Tapi perlahan Rio dituntun sang ayah, Martono, membaca syahadat, hingga kedua mata anak bungsunya itu berlinang. Martono hafal syahadat, karena sebelumnya adalah seorang Muslim.

Tak lama setelah itu ‘bisikan’ kedua terdengar, bahwa setelah adzan Maghrib Rio akan dipanggil sang Pencipta. Meski tambah terkejut, mendengar bisikan itu, Martono pasrah. Benar saja, 27 Juli 1999, persis saat sayup-sayup adzan Maghrib, berkumandang Rio menghembuskan nafas terakhirnya.

Tiba jenazah Rio di rumah duka, peristiwa aneh lagi-lagi terjadi. Agnes yang masih sedih waktu itu seakan melihat Rio menghampirinya dan berkata, “Mah saya tidak mau pakai baju jas mau minta dibalut kain putih aja.”

Saran dari seorang pelayat Muslim, bahwa itu adalah pertanda Rio ingin dishalatkan sebagaimana seorang Muslim yang baru meninggal.

Setelah melalui diskusi dan perdebatan diantara keluarga, jenazah Rio kemudian dibalut pakaian, celana dan sepatu yang serba putih kemudian dishalatkan. Namun, karena banyak pendapat dari keluarga yang tetap harus dimakamkan secara Katolik, jenazah Rio pun akhirnya dimakamkan di Kerkov. Sebuah tempat pemakaman khusus Katolik, di Cimahi, Bandung.

Sepeninggal Rio

Sepeninggal anaknya, Agnes sering berdiam diri. Satu hari, ia mendengar bisikan ghaib tentang rumah dan mobil. Bisikan itu berucap, “Rumah adalah rumah Tuhan dan mobil adalah kendaraan menuju Tuhan.”

Pada saat itu juga Agnes langsung teringat ucapan mendiang Rio semasa TK dulu, ”Mah, Mbok Atik nanti mau saya belikan rumah dan mobil!” Mbok Atik adalah seorang muslimah yang bertugas merawat Rio di rumah.

Saat itu Agnes menimpali celoteh si bungsu sambil tersenyum, “Kok Mamah ga dikasih?”

“Mamah kan nanti punya sendiri” jawab Rio, singkat.

Entah mengapa, setelah mendengar bisikan itu, Agnes meminta suaminya untuk mengecek ongkos haji waktu itu. Setelah dicek, dana yang dibutuhkan Rp. 17.850.000. Dan yang lebih mengherankan, ketika uang duka dibuka, ternyata jumlah totalnya persis senilai Rp 17.850.000, tidak lebih atau kurang sesenpun. Hal ini diartikan Agnes sebagai amanat dari Rio untuk menghajikan Mbok Atik, wanita yang sehari-hari merawat Rio di rumah.

Singkat cerita, di tanah suci, Mekkah, Mbok Atik menghubungi Agnes via telepon. Sambil menangis ia menceritakan bahwa di Mekkah ia bertemu Rio. Si bungsu yang baru saja meninggalkan alam dunia itu berpesan, “Kepergian Rio tak usah terlalu dipikirkan. Rio sangat bahagia disini. Kalo Mama kangen, berdoa saja.”

Namun, pesan itu tak lantas membuat Agnes tenang. Bahkan Agnes mengalami depresi cukup berat, hingga harus mendapatkan bimbingan dari seorang Psikolog selama 6 bulan.

Satu malam saat tertidur, Agnes dibangunkan oleh suara pria yang berkata, “Buka Alquran surat Yunus!”. Namun, setelah mencari tahu tentang surat Yunus, tak ada seorang pun temannya yang beragama Islam mengerti kandungan makna di dalamnya. Bahkan setelah mendapatkan Al Quran dari sepupunya, dan membacanya berulang-ulang pun, Agnes tetap tak mendapat jawaban.

“Mau Tuhan apa sih?!” protesnya setengah berteriak, sembari menangis tersungkur ke lantai. Dinginnya lantai membuat hatinya berangsur tenang, dan spontan berucap, “Astaghfirullah…”

Tak lama kemudian, akhirnya Agnes menemukan jawabannya sendiri di surat Yunus ayat 49: “Katakan tiap-tiap umat mempunyai ajal. Jika datang ajal, maka mereka tidak dapat mengundurkannya dan tidak (pula) mendahulukannya”.

Beberapa kejadian aneh yang dialami sepeninggal Rio, membuat Agnes berusaha mempelajari Islam lewat beberapa buku. Hingga akhirnya wanita penganut Katolik taat ini berkata, “Ya Allah, terimalah saya sebagai orang Islam, saya tidak mau di-Islamkan oleh orang lain!”.

Setelah memeluk Islam, Agnes secara sembunyi-sembunyi melakukan shalat. Sementara itu, Martono, suaminya, masih rajin pergi ke gereja. Setiap kali diajak ke gereja Agnes selalu menolak dengan berbagai alasan.

Sampai suatu malam, Martono terbangun karena mendengar isak tangis seorang perempuan. Ketika berusaha mencari sumber suara, betapa kagetnya Martono saat melihat istri tercintanya, Agnes, tengah bersujud dengan menggunakan jaket, celana panjang dan syal yang menutupi aurat tubuhnya.

“Lho kok Mamah shalat,” tanya Martono.

“Maafkan saya, Pah. Saya duluan, Papah saya tinggalkan,” jawab Agnes lirih.

Ia pasrah akan segala resiko yang harus ditanggung, bahkan perceraian sekalipun.

Martono pun Akhirnya Kembali ke Islam

Sejak keputusan sang istri memeluk Islam, Martono seperti berada di persimpangan. Satu hari, 17 Agustus 2000, Agnes mengantar Adi, putra pertamanya untuk mengikuti lomba adzan yang diadakan panitia Agustus-an di lingkungan tempat mereka tinggal. Adi sendiri tiba-tiba tertarik untuk mengikuti lomba adzan beberapa hari sebelumnya, meski ia masih Katolik dan berstatus sebagai pelajar di SMA Santa Maria, Bandung. Martono sebetulnya juga diajak ke arena perlombaan, namun menolak dengan alasan harus mengikuti upacara di kantor.

Di tempat lomba yang diikuti 33 peserta itu, Gangsa Raharjo, Psikolog Agnes, berpesan kepada Adi, “Niatkan suara adzan bukan hanya untuk orang yang ada di sekitarmu, tetapi niatkan untuk semesta alam!” ujarnya.

Hasilnya, suara Adzan Adi yang lepas nan merdu, mengalun syahdu, mengundang keheningan dan kekhusyukan siapapun yang mendengar. Hingga bulir-bulir air mata pun mengalir tak terbendung, basahi pipi sang Ibunda tercinta yang larut dalam haru dan bahagia. Tak pelak, panitia pun menobatkan Adi sebagai juara pertama, menyisihkan 33 peserta lainnya.

Usai lomba Agnes dan Adi bersegera pulang. Tiba di rumah, kejutan lain tengah menanti mereka. Saat baru saja membuka pintu kamar, Agnes terkejut melihat Martono, sang suami, tengah melaksanakan shalat. Ia pun spontan terkulai lemah di hadapan suaminya itu. Selesai shalat, Martono langsung meraih sang istri dan mendekapnya erat.

Sambil berderai air mata, ia berucap lirih, “Mah, sekarang Papah sudah masuk Islam.”

Mengetahui hal itu, Adi dan Icha, putra-putri mereka pun mengikuti jejak ayah dan ibunya, memeluk Islam.

Perjalanan panjang yang sungguh mengharu biru. Keluarga ini pun akhirnya memulai babak baru sebagai penganut Muslim yang taat. Hingga kini, esok, dan sampai akhir zaman. Insya Allah.

Muhammad Yasin
source: fimadani
readmore »»  

Rabu, 01 Februari 2012

 
Wahai Ukhti, Auratmu Di Facebook (Apa yang akan terjadi pada akun facebook kita selepas kita mati?)

by Delitha Octaviany on Sunday, January 29, 2012 at 9:28pm

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..
...
Satu peringatan sebenarnya untuk muslimah semua

Mari kita renungkan bersama

Pikirkan bersama

Jika satu hari nanti kita mati,

Akun facebook kita hanya kita yang tahu password-nya

hanya kita yang bisa access..

Dan

Selepas kita mati..

Apa yang terjadi pada akun FB kita?

Mungkin ada yang akan ucapkan takziah

Mungkin ada yang selalu menjenguk bagi obat rindu

Tetapi..

Sadarkah kita

Gambar-gambar kita..

Akan terus membuatkan kita tersiksa di alam kubur?

Gambar-gambar yang tidak menutupi aurat

dengan sempurna

Bagaimana nanti?

Para lelaki terus-terusan melihat

Dalam masa yang sama, siapapun mungkin masih bisa ditagkan gambar kita..

Walau sudah bertahun-tahun kita mati, gambar itu terus ada..

Saham dosa terus meningkat..

Bagaimana?

Pernah terpikir tidak?

TUDUNG SINGKAT

yang dipakai itu, akan selamatkan kita dalam kubur nanti?

LEGGING dan JEANS KETAT

, bisakah menyelamatkan kita?

BAJU YANG TAK MEMBALUT AURAT itu, bagaimana?

Mungkin kini

Kita masih merasa tak sabar ingin berbagi cerita dengan gambar-gambar yang cantik

Tempat-tempat yang kita sudah lewati di muka bumi-Nya

Tapi di akhirnya nanti..

Semua itu tidak akan membawa arti

Semua hanya tinggal kenangan bagi yang masih hidup

Di alam kubur, semua itu tidak sedikitpun bisa menyelamatkan kita

Mari kita renungkan,

Saham dosa yang terus meningkat walau setelah ketiadaan kita di muka bumi sampai hari akhirat

TUTUPILAH AURATMU SEBELUM AURATMU DITUTUPI KAIN KAFAN

Peliharalah dirimu sebelum dirimu dikafani

Jagalah muru’ah diri sebagai seorang muslimah

Mati itu pasti

Persiapkan diri untuk mati itu perlu

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala ridha dengan renungan ini

aamiin
readmore »»  

Sabtu, 28 Januari 2012

Maaf, Tidak Terima Pujian




Siapa yang tidak kenal kalimat "alhamdulillah"?
Siapa juga yang tidak tahu artinya?
Tapi siapa yang tahu maknanya?


Segala puji bagi Allah, untuk Allah.
Apa arti segala? Semua bukan?
Kalo semua, apakah masih ada sisa?
Tentu tidak, bukan?


Hakikatnya semua yang kita lakukan,
yang kita fikirkan,
yang kita rencanakan,
adalah atas izin Allah.

Ketika setiap rencana kita berhasil,
setiap cita tercapai,
setiap mimpi terwujud,
maka ada peran besar Allah di balik itu semua.

Tidak hanya di tiap gerak yang kita lakukan,
di tiap ide yang kita fikirkan,
tapi juga di tiap detak jantung,
di tiap udara yang kita hirup,
di tiap alir darah di dalam tubuh.
Bahkan tubuh ini beserta isinya adalah titipan dariNya.
Kita hanya menumpang nama dari apa yang telah Ia lakukan.

Atas pujian yang diberikan pada kita,
atas sanjungan dari yang kita perbuat,
sebenarnya milik siapa?

Jika segala puji untuk Allah,
maka seharusnya tidak ada sisa puji buat kita..

Jadi untuk apa sombong?
Untuk apa angkuh?
Apa maksudnya tinggi hati?
Kenapa harus bangga?

Rasulullah bersabda: “Jangan memujiku secara berlebihan seperti kaum Nasrani yang memuji Isa putera Maryam. Sesungguhnya aku adalah hamba-Nya, maka ucapkanlah, “Hamba Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Bukhari dan Ahmad).

Wallahu 'alam


source: dtjakarta.or.id

readmore »»  

Jumat, 27 Januari 2012

Dialog Guru dan Murid


Suatu hari seorang Guru berkumpul dengan murid-muridnya...
Lalu dia mengajukan Enam pertanyaan...
Pertama...
"Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini..???"
Murid-muridnya ada yang menjawab...
"orang tua", "guru", "teman", dan "kerabatnya"...

Sang Guru menjelaskan semua jawaban itu benar...
Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah "kematian"...
Sebab kematian itu PASTI adanya...

Lalu sang guru meneruskan pertanyaan kedua...
"Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini...???"
Murid-muridnya ada yang menjawab...
"negara Cina", "matahari", "bintang", dan "bulan"...

Sang guru menjelaskan semua jawaban itu benar...
Tetapi  yang paling benar adalah "masa lalu"...
Siapapun kita... bagaimanapun kita... dan betapa kayanya kita... tetap kita TIDAK bisa kembali ke masa lalu...
Sebab itu kita harus menjaga hari ini... dan hari-hari yang akan datang...

Sang Guru meneruskan dengan pertanyaan yang ketiga...
"Apa yang paling besar di dunia ini..???"
Murid-muridnya ada yang menjawab...
"gunung", "bumi", dan "matahari"...

Semua jawaban itu benar kata sang guru...

Tapi yang paling besar adalah "nafsu"...
Banyak manusia menjadi celaka karena memperturutkan hawa nafsunya...
Segala cara dihalalkan demi mewujudkan impian nafsu...

Karena itu, kita harus hati-hati dengan hawa nafsu ini... jangan sampai nafsu membawa kita ke neraka (atau kesengsaraan dunia akhirat)...

Pertanyaan keempat adalah...
"Apa yang paling berat di dunia ini...???"
Murid-muridnya ada yang menjawab...
"baja", "besi", dan "gajah"...
"Semua jawaban itu hampir benar... tapi yang paling berat di dunia ini adalah "memegang amanah"...

Pertanyaan kelima adalah...
"Apa yang paling ringan di dunia ini...???"
Murid-muridnya ada yang menjawab...
"kapas", "debu", "angin", dan "daun-daunan"...
"Semua itu benar...,"kata Sang Guru

tapi yang paling ringan di dunia ini adalah "meninggalkan ibadah"...

Lalu pertanyaan keenam adalah...
"Apakah yang paling tajam di dunia ini...???"
Murid-muridnya menjawab dengan serentak...
"PEDANG...!!!"
"(hampir) benar..."kata sang guru
tetapi yang paling tajam di dunia ini adalah "lidah manusia"...
Karena melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati... dan melukai perasaan saudaranya sendiri...

Sudahkah kita menjadi insan yang senantiasa ingat pada "KEMATIAN"???

Senantiasa belajar dari "MASA LALU"...

dan tidak memperturutkan "NAFSU"...???

Sudahkah kita mampu "MEMEGANG AMANAH" sekecil apapun...???

dengan tidak "MENINGGALKAN IBADAH"...

serta senantiasa MENJAGA LIDAH kita...???

OQ (Dikutip dari berbagai sumber)
readmore »»  

Selasa, 24 Januari 2012

Usia Alam Semesta Menurut Al-Quran

Usia Alam Semesta Menurut Al-Quran - Menguak ketidaktahuan manusia mengenai usia alam semesta. Seandainya anda di tanya, berapa umur semesta? Niscaya banyak yang tidak tahu atau juga karena keterbatasan ilmu, tidak akan sanggup menghitungnya. Dan berikut ini ada cara mudah yang tidak perlu teori dan praktek yang rumit atau alat canggih untuk menghitung usia semesta.



Dengan media ayat - ayat dalam Al-Quran kitab sucinya Muslim Sedunia dan Semesta alam, maka didapat bahwa umur alam semesta itu 18,26 Milyar Tahun. Mengapa mudah? Bagaimana angka 18,26 milyar, bisa diperoleh ?

Mari kita telaah dari sini:
1. Berdasarkan informasi Al Qur’an, keberadaan alam dunia tidak lebih dari 1 hari. Ini termuat dalam QS. Thaha ayat 104:
Kami lebih mengetahui apa yang akan mereka katakan, ketika orang yang paling lurus jalannya mengatakan, ‘Kami tinggal ( di dunia ) tidak lebih dari sehari saja”.

2. Sehari langit sama artinya dengan 1.000 tahun perhitungan manusia. Dijelaskan dalam QS. Al Hajj ayat 47:
Dan mereka meminta kepadamu ( Muhammad ) agar adzab itu disegerakan, padahal Allah tidak akan menyalahi janji-Nya. dan sesungguhnya di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.”

3. Sehari kadarnya 50.000 tahun yang termuat dalam QS.Ma’arij ayat 4:
Para malaikat dan Jibril naik, ( menghadap ) kepada Tuhan, dalam sehari setara dengan lima puluh ribu tahun.”

Bila 1 tahun hitungan manusia adalah : 365,2422 hari
Maka sehari langit diperoleh : 365,2422 x 50.000 x 1.000 x1
Diperoleh : 18,26 milyar tahun!

Ini juga pernah dipaparkan dan dibuktikan oleh pendapat Moh. Asadi dalam bukunya The Grand Unifying Theory of Everything. Dia menyatakan kalau umur alam semesta itu 17 — 20 milyar tahun. Sementara, Profesor Jean Claude Batelere bilang kalau umur semesta itu kisarannya ada di 18 milyar tahun. Terus ditambah dengan teori NASA yang mengeluarkan data umur semesta itu ada di kisaran 12 — 18 milyar tahun.

Kita tahu selama ini Para ilmuwan dengan segala peralatan canggihnya dan ilmu ’tingginya’ berusaha menguak berapa umur semesta, ternyata sebenarnya di dalam Al Qur’an sudah tertera dengan begitu jelasnya tentang misteri itu.

Artinya tidak ada yang sulit dimata Allah SWT selagi manusia mau berpikir, sains iptek semua bisa digali dan dijawab al-Quran dengan mudah.

Itulah mengapa disebut petunjuk bagi manusia dan penerang atas kegelepan, pemberi obat bagi yang sakit, pemberi ketentraman jiwa yang tidak pernah damai.

Kitab suci yang tidak pernah ada kadaluwarsa dalam judul, bahasan, selalu elastis tiap sendi kehidupan manusia, bisa diterima dalam tiap kondisi bangsa yang berbeda tingkat umur yang berbeda, suku yang berbeda, negara yang berbeda, pas dalam kondisi apapun alias UNIVERSAL.
readmore »»  

Senin, 23 Januari 2012

Proses Kematian Dan Hancurnya Tubuh Manusia


Assalamu'alaikum
Dapet kiriman note di facebook dari salah satu anggota Serangga yaitu mbak Sarah ^_^
Baca dengan hidmat ya, bagus lho ini buat dongeng sebelum tidur..
Selamat mimpi indah ^_^

Proses Kematian Dan Hancurnya Tubuh Manusia
Persiapan untuk hari AKHIR kita nantinya. Perlu di Renungkan, Inilah Proses Kematian & Hancurnya Tubuh Kita!
Berikut merupakan langkah - langkah dalam hitungan menit dan jam...

* Sesaat sebelum mati, Anda akan merasakan JANTUNG berhenti /detak,nafas tertahan & badan bergetar. Anda merasa dingin ditelinga. Darah berubah menjadi asam & tenggorokan berkontraksi.

* 0 menit: kematian secara medis terjadi ketika Otak kehabisan supply Oxigent.

* 1 menit: Darah berubah warna & Otot kehilangan kontraksi ,isi kantung kemih keluar tanpa izin.


* 3 menit: sel sel otak tewas.
Secara masal..saat ini otak benar2 berhenti berpikir.

* 4- 5 menit: Pupil Mata mebesar & berselaput. Bola mata mengkerut karena ke hilangan tekanan darah.

* 7-9 menit: Penghubung ke otak mulai mati.

Selanjutnya...

* 1-4 jam : Rigor Mortis (fase di mana keseluruhan otot di tubuh jadi kaku).membuat otot kaku & Rambut berdiri. kesannya rambut tetap tumbuh setelah mati.

* 4-6 jam : Rigor Mortis terus beraksi. Darah yg berkumpul lalu mati & warna kulit menghitam.

* 6 jam : Otot msh berkontraksi. Proses penghancuran efek alkohol msh berjalan.

* 8 jam : Suhu tubuh langsung menurun drastis.

* 24-72 jam :Isi perut membusuk oleh Mikroba dan pankreas mulai mencerna dirinya sendiri.

* 36-48 jam : Rigor mortis berhenti, tubuh anda selentur penari balerina.

* 3-5 hari : Pembusukan mengakibatkan luka skala besar, darah menetes keluar dari mulut dan hidung.

* 8-10 hari : warna tubuh berubah dari hijau ke merah se jalan degan membusuknya darah.

* Beberapa Minggu : Rambut kuku & gigi dengan mudahnya terlepas.

* 1 bln : Kulit mulai mencair.

* 1 tahun : Tidak ada lagi yg tersisa dari tubuh Anda.

Anda yang sewaktu hidupnya Cantik, Gagah, Ganteng, kaya & berkuasa. Sekarang hanyalah tumpukan Tulang - Belulang yg menyedihkan. Jadi apa lagi yg mau disombongkan orang sebenarnya??

Sumber:
http://kekeyvanadium.blogspot.com/2011/12/hancurnya-tubuh-manusia.html
readmore »»  

Jumat, 20 Januari 2012

Jangan Menunda, Bersegeralah!


 Catatan Oase ini ini mungkin tak pernah ada kalau saja pada tanggal 7 Mei 2006, saat subuh, saya tidak berangkat ke masjid. Sebab, saya mungkin sudah mendapati takdir ajal, atau cacat permanen. Tidak ada firasat apapun waktu menjelang ke masjid.
readmore »»  

Jilbab, Darah Pertama Saya

Jilbab, Darah Pertama Saya
“Kalau kamu masih pakai jilbab, Mamah akan bunuh diri saja!” ancam Mamah disertai isak tangis yang mulai membuncah.
Mendengar Mamah berkata begitu saya hanya mampu tertegun. Tak menyangka bahwa kata-kata penuh amarah tersebut akan dengan mudah terlontar begitu saja dari bibir hangat Mamah. Kali ini Mamah tidak main-main. Saya yakin itu! Terlihat dari nadanya yang geram.
Seketika, seolah tersihir keadaan Mamah yang mulai membuat saya khawatir, lekuk-lekuk hati saya ikut-ikutan banjir. Lelehan demi lelehan bola salju mulai jatuh dari kedua mata sipit saya. Seraya bersimpuh meminta maaf, saya mencoba menenangkan Mamah.
“Iya Mah, Nana tak akan pakai jilbab.”
Setelahnya, kami berdua saling menderaikan air mata.
“Kamu belum bisa mandiri Na, jadi mesti menurut sama orang tua,” ucap mentor di SMA ketika saya berkeluh kesah tentang peristiwa tersebut, beberapa hari kemudian. Peristiwa penuh isak tangis antara saya dan Mamah yang disebabkan oleh alasan yang sama, jilbab!
Ya, hanya karna jilbab..
***
Dua puluh tahun silam, Allah mengirimkan saya kepada keluarga yang begitu perhatian kepada saya. Mungkin karena saya adalah anak pertama, dan berstatus ‘perempuan’ maka mereka cenderung protektif terhadap saya, terutama Mamah. Sifat protektif ini pun didukung oleh keluarga dari garis Mamah yang sebagian besar memeluk Kristen-Katholik, akibat perkawinan beda agama. Beruntungnya, Mamah adalah seorang muslim, begitu pula Ayah.
Sewaktu kecil saya terbilang aktif. Tidak pelak, ketika SD saya sempat menjadi penyiar radio cilik di Kebumen, di samping aktivitas saya sebagai model cilik yang sering ikut lomba fashion show di mana-mana. Menginjak SMP, Mamah mulai cemas dengan cara berpakaian saya ketika ber-fashion show akan menjadi sebuah kebiasaan yang nantinya tak bisa dihentikan. Untuk itu saya pensiun dari ranah “pertunjukkan gaya” dan mulai melirik dunia science yang tampaknya penuh dengan kejutan ilmu pengetahuan.
Semenjak saat itu, saya lebih sering ikut perlombaan yang menyangkut keilmuan, bahkan ketika saya mulai memasuki dunia baru yang penuh warna bernama SMA. Hanya satu yang tidak bisa saya tinggalkan dari kecil, yakni kesenangan saya dalam hal menyanyi. Rasanya, itulah dunia saya! Dunia bernada yang membuat saya berjalan di atas partitur berirama dengan ketukan yang terkadang membuat saya terbang hingga ke dunia nirwana. Indah!
Namun perkataan Mamah saya sekali waktu membuat nada-nada fals kian menari-nari di atas not-not indah milik saya.
“Mamah tidak setuju kalau Nana pakai jilbab.”
“Tapi Mah?” bantah saya yang dengan cepat Mamah mentahkan.
“Mamah hanya khawatir kalau kamu ikutan aliran sesat, jadi Mamah tidak setuju kamu pakai jilbab!”
Padahal ketika itu saya masih gadis SMA kelas satu yang hanya mencoba share tentang apa yang disampaikan mentor saya beberapa waktu sebelumnya,
“Perempuan yang berpakaian tapi ‘telanjang’ tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium wanginya surga…”
Ya, karena itu sungguh besar keinginan saya mengenakan jubah kemuliaan perempuan tersebut. Tetapi sekali lagi, dengan alasan kecemasan bahwa jilbab memiliki hubungan erat dengan aliran-aliran islam nyeleneh yang sedang marak-maraknya kala itu, Mamah pun tidak merestui. Lalu ayah? Beliau hanya terdiam dengan raut wajah khasnya yang menandakan ketidaksetujuan saya mengenakan jilbab.
Saya bersikeras. Iseng-iseng suatu hari, ketika hendak pergi ke sekolah untuk mengikuti kegiatan organisasi, saya mengenakan jilbab. Alhasil, genderang perang pun mulai didengungkan. Seketika itu, Mamah mulai mengeluarkan senjata pembunuh yang membuat saya diam seribu bahasa. Perkataan yang menghujam hingga ke dasar hati yang paling dalam,
“Kalau kamu masih pakai jilbab, Mamah akan bunuh diri saja!”
Bunuh diri? Hanya karna jilbab?
Ya Rabb… Terkadang terlintas di benak saya betapa beruntungnya mereka yang dengan mudahnya mampu melingkupi bagian tubuh yang semestinya tidak boleh terlihat dengan balutan kain panjang bernama jilbab.
Sedangkan saya?
Rasanya butuh kesungguhan yang nyata untuk meyakinkan seluruh keluarga bahwa saya pantas berjilbab. Keluarga yang berpikiran moderat, yang beralasan,”nanti saja kalau udah kerja baru pake jilbab”, bahkan tante saya pun yang mulanya berjilbab, kini telah menanggalkan jubah kehormatan tersebut, hanya karna desakan keluarga.
Di sisi lain, saya melihat betapa banyak perempuan muslim yang mesti berpikir berkali-kali untuk mengenakan jilbab. Alasannya pun bermacam-macam; Jilbabin hati dululah, jilbab tak pentinglah, yang penting akhlaqnya benarlah, jilbab hanya akan membuat penampilan menjadi kunolah, berjilbab nanti saja kalau udah menikahlah, panaslah, nanti saja jilbabannya kalau udah sesuai targetlah, belum siaplah, mengganggu aktivitaslah, serta berbagai alasan lain yang rasanya tidak asing lagi.
Jilbab tak penting yang penting akhlaqnya benar, begitukah?
Ah, masuk akalkah jika seorang perempuan dengan akhlaqnya yang baik serta memiliki rasa malu yang sangat luar biasa, tetapi dalam waktu yang bersamaan ia berjalan ‘telanjang’ di tengah keramaian, membuat auratnya dicumbu pandangan-pandangan lelaki nakal? Bukankah seharusnya akhlaq baik dan rasa malu itu mendorong perempuan untuk melingkupi auratnya di hadapan para lelaki?
Seorang perempuan yang menjaga kehormatan serta rasa malunya adalah perempuan yang tidak membiarkan pandangan lelaki manapun menjamahi lekuk tubuhnya demi menjaga ketaatan kepada Sang Pencipta. Lalu, buat apa busana diciptakan kalau perempuan hanya menyukai secuilnya saja? Bukankah busana tercipta untuk menutupi bukan membukai?
Waktu pun bergulir.
Saya pun akhirnya lulus SMA dan melanjutkan ke perguruan tinggi. Awal tingkat satu merupakan hal terberat buat saya. Selain saya mesti berusaha untuk meyakinkan keluarga terutama Mamah saya agar saya boleh mengenakan jilbab, saya pun akhirnya mengalami sebuah titik keputusasaan bahwa saya memang ‘tidak ditakdirkan’ untuk berjilbab. Hingga secara tidak sadar, saya terperosok ke dalam kerlap-kerlip dunia yang membuat saya lupa akan jilbab.
Sampai suatu ketika, di saat saya menginjak tingkat tiga Allah mengingatkan saya dengan cara-Nya. Kala itu, penyakit thipus menggerogoti kesehatan saya. Layaknya sudah jatuh tertimpa tangga, lever saya pun ikut kena akibat gula darah saya yang rendah.
Mendengar kabar tersebut, Mamah langsung terbang dari Kebumen ke Bintaro untuk merawat saya. Satu bulan saya mesti menginap di ruang UGD. Lalu mirisnya, dokter memvonis bahwa saya tidak akan sembuh seratus persen dari sakit lever tersebut selama hidup saya.
Ya Rabb..
Di saat itulah cahaya hidayah menyapa..
Di ranjang reyot rumah sakit, saya memulai pembicaraan dengan Mamah.
“Mah, kalau Nana nanti meninggal bagaimana? Nana kan belum pakai jilbab Mah.. Nana khawatir Nana tidak akan masuk surga.”
“Kamu jangan bicara begitu donk Na”, lirih Mamah saya yang matanya mulai basah.
“Jadi boleh kan Mah Nana pakai jilbab?”
Mungkin karena melihat saya, anak gadisnya begitu ngotot ingin mengenakan jilbab, ditambah kondisi kesehatan saya yang membuat semuanya tampak mendramatisasi, akhirnya sebuah anggukan Mamah waktu itu mampu mengobati segala sakit yang terasa. Papah serta sebagian keluarga besar Mamah pun yang awalnya menolak, akhirnya menyetujui.
Alhamdulillah.
Kala itu, tak terasa tetesan syukur mengalir perlahan dari mata saya. Betapa bahagianya saya yang akhirnya mampu menanggalkan pakaian terbuka saya dan mengantinya dengan pakaian yang menutupi. Betapa gembiranya saya mengenakan jilbab pertama dengan semburat darah yang hampir menghiasi seluruh lipatannya. Semburat warna merah-darah, yang membuat saya menjadi perempuan cantik dengan sebuah azzam di dalam jiwa,
“Kan saya genggam hidayah ini erat-erat selamanya.”
Oleh: Mas Mochammad Ramdhani, Bandung
readmore »»