Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu menjaga engkau dan engkau menjaga harta. Ilmu itu penghukum (hakim) dan harta terhukum. Harta itu kurang apabila dibelanjakan tapi ilmu bertambah bila dibelanjakan. -Khalifah Ali bin Abi Talib-

Popular Posts

Senin, 02 Juli 2012

“Bagaimana engkau mengenali umatmu setelah sepeninggalmu, wahai Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam Seraya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Tahukah kalian bila seseorang memiliki kuda yang berwarna putih pada dahi dan kakinya di antara kuda-kuda yang berwarna hitam yang tidak ada warna selainnya, bukankah dia akan mengenali kudanya? Para sahabat menjawab: “Tentu wahai Rasulullah.” Rasulullah berkata: “Mereka (umatku) nanti akan datang dalam keadaan bercahaya pada dahi dan kedua tangan dan kaki, karena bekas wudhu’ mereka.” (HR. Muslim no. 249)
readmore »»  

Yang Biasa Beralasan "Jilbabin dulu hatinya, baru kepalanya,". Baca Ini!

Kisah ini kubaca sekitar satu tahun lalu di salah satu fanpage di facebook. Dan setelah membacanya, hatiku semakin kuat meyakini akan kebenaran perintah Allah untuk berjilbab. Mari kita simak ^^
***
Sebut saja Rana. Ia adalah wanita yang baik budinya. Senantiasa tersenyum dan ramah kepada siapa saja. Rana, wanita berusia 23 tahun. Sudah bisa dibilang sukses di umurnya yang sangat muda itu. Rana juga seorang penganut agama Islam yang taat. Tidak pernah meninggalkan sholat 5 waktu. Puasa sunnah nya juga rajin. Ia juga tidak pernah lupa menyisihkan penghasilannya untuk bersedekah. Baru-baru ini, Rana telah sanggup memberangkatkan kedua orangtuanya untuk pergi haji setelah setahun sebelumnya ia membelikan sebuah hunian baru bagi kedua orang yang sangat dicintainya itu.
Rana belum menikah.
Ia adalah sosok wanita yang sangat mengejar karir. Tujuannya hanyalah untuk membahagiakan kedua orangtuanya.
Tetapi, Rana tidak berjilbab. Berkali-kali teman sekantornya menanyakan alasan mengapa dia belum berjilbab. Dan jawabannya tidak pernah berubah. "Aku mau menjilbabi hatiku dulu, baru kepalanya,"ujarnya.
Menurutnya, percuma orang memakai kerudung kalau hatinya masih busuk. Masih suka menggunjing. Dan tidak patuh pada seluruh kewajiban lainnya seperti sholat, puasa, dll.
Rana adalah orang yang kritis terhadap hal-hal seperti itu.
Pada suatu malam,ketika ia pulang kerja, badannya terasa lelah sekali. Seharian duduk di depan komputer membuat matanya sedikit sakit.
Ingin sekali rasanya ia langsung berbaring diatas kasur yang empuk. Tetapi ia teringat bahwa ia belum sholat isya'. Maka ia pun segera bangkit dan mengambil air wudhu lalu sholat.
Seusai sholat, ia pun tertidur.
Dalam tidurnya, Rana bermimpi berada di suatu tempat yang sangat indah. Sebuah taman yang ada banyak bunga berwarna-warni dan harum wanginya. Harum yang tak pernah ia temukan selama ini.
Matanya berkeliling. Melihat ke segala arah. Ada banyak wanita sepertinya yang juga duduk di sekitar taman. Mereka terlihat begitu bahagia. Sama seperti dirinya.
Rana berjalan dan bertanya pada seorang wanita yang sedang melihat-lihat bunga tak jauh dari tempat duduknya.
   "Permisi mbak, aku Rana. Kalau boleh tahu, kita ini ada di Surga ya?"tanya Rana sangking bagusnya tempat itu.
   "Oh tentu saja bukan,"jawabnya sambil tersenyum. "Tempat yang indah ini hanya tempat tunggunya. Surganya ada disebelah sana, kau lihat?"lanjutnya sambil menunjukkan sebuah pintu yang sangat besar dan sangat indah di ujung jalan sana.
Rana terperangah. Ada rasa bahagia yang terbuncah dalam dada nya. Ia merasa seluruh usahanya selama ini di dunia tidaklah sia-sia. Bahagia yang tiada tara.
Rana tersenyum.
Tiba-tiba, pintu itu terbuka. Para wanita yang tadi asyik bermain-main di taman segera berjalan mendekatinya. Dan satu persatu dari mereka pun masuk ke dalamnya dengan senyum tersungging.
Rana berdiri menatap terpaku ke depan pintu.
   "Ukhti, Ayo kita kesana. Pintu surga telah terbuka,"seru wanita tadi kepada Rana. Ia segera mengerjap-ngerjap dan berlari menyusul. 
Rana berlari semakin kencang. Namun pintu itu tak kunjung bisa dicapainya.
Sedangkan wanita tadi, ia sudah bisa memegang pintu itu. Rana panik. Semakin ia percepat larinya. Tetapi tetap saja, pintu itu terasa semakin menjauh.
   "Hei! Tunggu aku. Bagaimana kau bisa sampai kesana dengan berjalan santai sedangkan aku yang berlari tidak juga sampai?"tanya Rana dari jauh. Wanita itu hanya tersenyum dan  mulai melangkah masuk.
Rana semakin kepayahan. Tersengal-sengal napasnya. Ia pun memutuskan untuk berhenti. Hampir menyerah.
   "Ukhti!"panggil wanita itu. Kaki kanan dan sebelah badannya telah masuk ke balik pintu.
   "Kau tahu apa yang membedakanmu denganku?"tanyanya.
Rana menoleh, "Apa? Apakah amalanmu lebih banyak dariku? Apakah amalanku selama ini yang membedakanmu denganku?"Rana balik bertanya.
Wanita itu menggeleng pelan sambil tetap menyungging senyum.
   "Bukan itu. Amalan yang kulakukan sama seperti yang kau lakukan. Sholat, puasa, membaca Al-Qur'an, sedekah dan sebagainya,"ujarnya.
   "Lalu karena apa?"tanya Rana.
   "Lihatlah ukhti, apa yang membedakanmu denganku,"ujarnya tegas.
Rana melihat wanita itu dengan seksama. Lalu melihat ke arah dirinya sendiri. Tahulah dia terletak dimana perbedaan diantara mereka itu.
   "Ukhti, bukankah kau hanya ingin menjilbabi hatimu? Maka, kini biarlah surga ini hanya sampai di hatimu. Dan selalu menjadi angan-anganmu,"ujar wanita itu. Lalu ia pun masuk ke balik pintu sebagai yang terakhir. Pintu yang sangat indah itu pun tertutup.
Rasa sedih tiba-tiba merasuk di hati Rana. Ia menangis sejadi-jadinya. Ia inginmasuk kedalam sana bersama seluruh wanita tadi. Bukan hanya sampai di tempat tunggu ini.
Rana terbangun.
Matanya basah oleh air mata. Rasa sedih yang teramat sangat itu masih ada di dalam dadanya. Sangat sedih. Segera ia beristighfar dan menangis lagi mengingat tinggal sedikit lagi ia bisa mendapatkan surga tetapi terhalang oleh rambutnya yang tidak tertutup jilbab.
Rana segera bangkit dan mengambil air wudhu. Jarum jam menunjukkan pukul 3 pagi. Ia pun langsung melaksanakan sholat tahajud dan sholat taubat. Ia akui semua kesalahannya kepada Allah SWT. Dan saat itu juga ia niatkan pada dirinya untuk segera menutup kepalanya dengan jilbab.
Paginya, Rana pun bekerja dengan penampilan baru. Dengan jilbab di kepalanya.
readmore »»  

Jumat, 29 Juni 2012

Sepenggal Kisah di Sore Hari



Bel berbunyi tepat pukul 14.45.
It's time to go home, ujar banyak anak di kelas. Mereka sudah siap dengan tentengan dan tas nya masing-masing. Ada yang langsung pulang, ada juga yang langsung menuju tempat perkumpulan ekskul masing-masing.
   "Tumben lu langsung balik? Bukannya hari ini basket latihan ya?"tanya seorang temanku pada seorang yang lainnya. "Besok ulangan mas bro. Biologi. Lupa lu?"jawaban yang mengingatkan. Bagus. Aku jadi getir rasanya sekarang.
   "Ayo Far,"ajak temanku yang sudah siap dengan bawaannya. Aku menoleh sebentar. Rasa ragu itu tiba-tiba muncul.
Sore ini aku ada agenda untuk rapat bersama sebuah organisasi yang aku ikuti. Agenda mendadak. Kami akan membicarakan seputar dakwah yang kami lakukan di kota kami. Ada acara baru. Program baru. Dan sistem baru. Sepulang sekolah. Di tempat yang yah... lumayan jauh untuk anak sekolah.
Biologi. Bagaimana bentuk soalnya besok? Essay? Atau isian singkat? Atau justru Pilihan Ganda? Yang terakhir itu memiliki sangat sedikit kemungkinan tentunya.
Kami memutuskan untuk langsung berangkat dan sholat ashar di masjid A saja. Disini, ashar tiba pada jam 15.15 atau lebih. Dan kami masih punya waktu hampir setengah jam untuk mencicil lamanya waktu dalam perjalanan yang bisa mencapai 1 jam bahkan lebih.
Kami pun berangkat. Berdua.
Kucoba hilangkan sejenak pikiranku tentang biologi. Everythings gonna be ok, Girl, hiburku pada diri sendiri.
Kami menaiki sebuah angkutan warna biru yang lengang. Kopami. Dan kami dapat tempat duduk untungnya.
Aku mencoba membuka buku paket biologi dan membacanya sepanjang jalan. Walaupun tidak ada yang menyangkut di otakku, tetap kupaksakan untuk membacanya.
Sebuah kutipan ayat Al-Qur'an berdenging di telingaku. 'Jika kamu menolong agama Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu' ayat itu menenangkanku.
Tak disangka, macet melanda. Padahal ini bukan seharusnya jam macet di arah jalan yang kesini. Oh my God. Lama sekali. Hampir satu jam. Seharusnya sekarang kami sudah sampai. Pukul 16.05 di jam tanganku.
Dan bagusnya, rapat dimulai jam 16.00 berdasarkan jam normal. Bukan jam karet. Entah akan berubag menjadi angka berapa jika kita gunakan jam elastis itu.
Good. 17.05 kami tiba. Mungkin saat kami bilang "Assalamu'alaikum", seseorang dibalik hijab sana sudah mengatakan "Wassalamu'alaikum". Entahlah.
Kami tiba dan ternyata rapat belum dimulai. Wow. Ternyata mereka benar-benar menggunakan jam karet. Hahaha..
18.00. Adzan maghrib terdengar. Kami melaksanakan sholat maghrib disana. Dengan seragam lengkap. Bagus. Lima menit yang lalu sang pemimpin rapat baru datang. Mau pulang jam berapa? pikirku kesal.
Setelah usai sholat, kami melaksanankan rapat. Pukul18.45 rapat singkat itu usai dan kami pulang ke rumah masing-masing.
Aku dan temanku mengantre trans jakarta di halte Senen yang subhanallah, padat sekali. Bus yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang. Sekalinya ada, pasti penuh. Dan dari puluhan orang yang mengantre disini hanya ada dua tiga orang yang bisa masuk. Masya Allah.
Benar saja. Jarum jem menunjukkan pukul 8 lewat. Para penumpang yang mengantre sudah ada yang keluar halte sangking lamanya. Dan yang tersisa tinggal beberapa. Kabar baik. Sebuah bus yang agak kosong datang. Kami bisa masuk sekarang. Kabar buruk. Handphone ku lowbet. Mati. Begitupun dengan temanku. Itu artinya kami tidak bisa menghubungi orangtua kami dirumah. Perutku tiba-tiba sakit.
***
Aku turun di halte taman kota pukul 9 malam. Tiba-tiba terbayang olehku wajah bapak dan ibu yang sedang marah-marah. Dan wajah pak Mar, guru biologiku. Aha! Biologi! Aku belum belajar. Tetapi badan ini pegal sekali rasanya. Capek.
Aku melewati jalanan yang sudah sangat sepi. Orang-orang sudah bersarang dirumahnya masing-masing. Anak sekolah yang masih berkeliaran di malam hari, mungkin itu pikiran beberapa bapak-bapak yang melihatku berjalan sendirian dengan seragam putih abu-abu lengkap. Huft!
Aku membuka pintu rumah. Dan tepat seperti dugaanku, bapak sudah menelepon teman-teman sekolahku yang lain untuk menanyakan keberadaanku. Aku dimarahi habis-habisan. Tapi bukan itu yang aku permasalahkan. Melainkan ulangan biologi esok hari.
Mataku berat. Setelah sholat isya, aku tertidur dengan masih mengenakan mukenah. 
***
   "Soal nya kayak wahyu Tuhan!"seru seorang temanku seusai ulangan, "soal apaan tuh? gue udah belajar abis-abisan kemaren, tetep aja nge blang!"lanjutnya. Aku nyengir. "Apalagi gue yang mati sebelum belajar?"pikirku.
***
Nilai ulangan dibagikan. Aku tak berano melihatnya. Segera saja kumasukkan kertas hasil ulangan yang sudah diwarnai tinta merah itu ke dalam tas. Sangat tidak memuaskan. Yah. Akhirnya aku beranikan diri membuka nilai itu. Merah. Merah hati. Atau mungkin bahkan merah marun. Merah tua. Sangat jeblok, anjlok, tak tersisa. -_-
Aku menyabarkan diri. Lalu mulai menghibur diri sendiri. Hiburan palsu. Belum pernah aku mendapat angka ini selama sejarah kehidupan sekolahku. Sungguh terlalu.
Sejenak aku berpikir, dan ayat Al-Qur'an itu terngiang lagi. Salah satu hati kecilku berteriak memaki
"Ah boong! Ayat itu bohong! Gue udah bela-belain capek buat ngurusin dakwah, tapi kenapa Allah nggak bantu gue? Mana janji-Mu?"
Tapi hati ku yang lebih kecil lagi juga berkata
"Emang salah gue. Gue yang nggak maksimal belajar. Harusnya gue bisa lebih prioritasin mana yang perlu dilakuin dan mana yang enggak. Ini bukan salah Allah. Karena Allah nggak pernah salah. Pasti ada hikmahnya. Ya kan paling nggak lo bisa introspeksi diri lagi buat kedepannya. Ini pengalaman. INGET, PENGALAMAN ITU GURU TERBAIK!"
Tiba-tiba sakit perutku muncul lagi
***
Hari itu aku sedang duduk diam di kelas. Merenung. Pelajaran agama kali ini sepertinya akan ngaret karena gurunya tak kunjung datang. 
   "Far, dicari anak kelas sepuluh tuh,"ujar salah seorang temanku.
Itu Ummah. Adik kelasku.
   "Kenapa Mah?"tanyaku.
   "Kakak, ka Syafwa, sama ka Iffah dipanggil Bu Dwi,"ujarnya. Kami bertiga segera turun dan menemui ibu guru yang sudah beberapa bulan ini membimbing kami untuk olimpiade kebumian.
   "Fara, Syafwa, Iffah, dan Ummah,"ujarnya dengan sedikit bumbu dramatis yang menggelikan, "Selamat, kalian lolos ke tingkat provinsi,"lanjutnya. Hah?
Hey, aku tidak serius mengikuti ajang lomba ini. Aku hanya main-main. Mengerjakan soalnya saja aku tidak sepenuh hati. Bagaimana bisa?
   "Nanti habis dari Jogja,kalian pembinaan selama delapan hari di SMA 1 ya, berjuang ya nak. pokoknya minimal kalian harus lolos ke provinsi tahap 2 dulu, ok?"
Pagi itu, aku tidak begitu suprise dengan berita kelolosan kami. Biasa saja. Tetapi, Allah Maha Mengetahui.
Kini, aku Syafwa, dan Iffah sedang menunggu kelolosan kami ke tahap Nasional. Semua yang telah ku lakukan, ternyata dibalas setimpal oleh-Nya.
Aku yang dulu tak bergairah dengan kebmian, kini justru sangat mendamba-dambakan menjadi ahli geologi Indonesia.
Dan soal nilai biologi itu, aku teringat ucapan seorang kakak kelas
"Allah Maha Mendengar. Maka, berdoalah pada-Nya. Allah pasti akan mengabulkan do'a kita. Tetapi, ada tiga kemungkinan yang Dia bisa lakukan. Pertama, do'a mu akan langsung terkabul saat itu juga dan sesuai dengan yang kau minta. Kedua, Allah akan mengabulkan sesuai dengan keinginanmu tetapi tidak saat itu juga. Dan ketiga, Allah akan mengabulkan do'a mu tetapi tidak sesuai dengan yang kau inginkan, melainkan akan diganti dengan yang lebih baik. Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk kita. Jadi, jangan malas berdo'a ya,"
***
Ya. Aku telah berusaha menolong agama Allah bahkan sampai rela pulang sedemikian larut dan terkena amarah dari orangtua. Nilaiku juga jeblok karena itu. Tetapi Allah juga menolongku. Dengan pertolongan lain yang jauh lebih indah ^_^
Walau begitu, aku belajar dua hal dari kejadian waktu itu. Prioritas dan Bersungguh-sungguh. Aku harus melakukan keduanya jika memang ingin cita-citaku tercapai. Disamping selalu berdo'a kepada Allah tentunya ^_^.
readmore »»  

Kamis, 28 Juni 2012

FATIMAH AZ-ZAHRA AS, PENGHULU WANITA SEMESTA


Mukadimah

Dahulu kala, masyarakat memandang perempuan bagaikan hewan atau bagian dari kekayaan yang dimiliki oleh seorang laki-laki. Demikian pula masyarakat Arab pada masa Jahiliyah. Mereka senantiasa memandang wanita sebagai makhluk yang hina. Bahkan, sebagian di antara mereka ada yang menguburkan anak perempuan mereka hidup-hidup.
Ketika fajar mentari Islam terbit, Islam memberikan hak kepada kaum hawa dan telah menentukan pula batas-batasnya, seperti hak sebagai ibu, hak sebagai istri, dan hak sebagai pemudi.
Tentu kita semua sering mendengar hadis Nabi saw yang menyatakan, “Surga itu terletak di bawah kaki ibu.”
Di lain kesempatan, beliau bersabda, "Kerelaan Allah terletak pada kerelaan orang tua." (Dan perempuan termasuk salah satu dari orang tua).
Islam telah memberikan batasan kemanusiaan kepada wanita dan memberikan aturan, undang-undang yang menjamin perlindungan, penjagaan terhadap kemuliaan wanita dan kehormatannya.
Sebagai contoh yang jelas ialah hijab atau jilbab. Jilbab bukanlah penjara bagi wanita, tapi ia merupakan kebanggaan baginya, sebagaimana kita selalu melihat permata yang tersimpan rapi di dalam kotaknya, atau buah-buahan yang tersembunyi di balik kulitnya.
Sedangkan bagi wanita muslimah, Allah SWT telah memberikan aturan yang dapat melindunginya dan menjaga diriya, yaitu jilbab. Bahkan tidak hanya sekedar pelindung, jilbab dapat menambah ketenangan dan keindahan pada diri wanita tersebut.
Wanita dalam pandangan Islam berbeda secara mencolok dari apa yang terjadi di Barat. Dunia Barat memandang wanita laksana benda atau materi yang layak untuk diiklankan, diperdagangkan, dan bisa diambil keuntungan materinya, dengan dalih memelihara etika dan kemuliaan wanita sebagai manusia.
Pandangan ini benar-benar telah membuat nilai wanita terpuruk dan terpisah dari naluri serta nilai-nilai kemanusiaan. Kita juga menyaksikan keretakan keluarga, perceraian yang terjadi di dalam masyarakat Barat telah sedemikian mengkuatirkan.
Dalam pandangan dunia Barat, wanita telah berubah menjadi seonggok barang yang tidak berharga lagi, baik dalam dunia perfilman, iklan, promosi, ataupun dalam dunia kontes kecantikan.
Teman-teman, marilah kita sejenak menengok sosok teladan kaum wanita dalam Islam yang terwujud dalam kehidupan putri Rasulullah tercinta.
Dialah Siti Fatimah Az-Zahra as.
Putri tersayang Nabi Muhammad saw.
Istri tercinta Imam Ali as.
Bunda termulia Hasan, Husain, dan Zainab as.

Hari Lahir

Fatimah as dilahirkan pada tahun ke-5 setelah Muhammad saw diutus menjadi Nabi, bertepatan dengan tiga tahun setelah peristiwa Isra' dan Mikraj beliau.
Sebelumnya, Jibril as telah memberi kabar gembira kepada Rasulullah akan kelahiran Fatimah. Ia lahir pada hari Jumat, 20 Jumadil Akhir, di kota suci Makkah.

Fatimah di Rumah Wahyu

Fatimah as hidup dan tumbuh besar di haribaan wahyu Allah dan kenabian Muhammad saw. Beliau dibesarkan di dalam rumah yang penuh dengan kalimat-kalimat kudus Allah SWT dan ayat-ayat suci Al-Qur'an.
Acapkali Rasulullah saw melihat Fatimah masuk ke dalam rumahnya, beliau langsung menyambut dan berdiri, kemudian mencium kepala dan tangannya.
Pada suatu hari, ‘Aisyah bertanya kepada Rasulullah saw tentang sebab kecintaan beliau yang sedemikian besar kepada Fatimah as.
Beliau menegaskan, “Wahai ‘Aisyah, jika engkau tahu apa yang aku ketahui tentang Fatimah, niscaya engkau akan mencintainya sebagaimana aku mencintainya. Fatimah adalah darah dagingku. Ia tumpah darahku. Barang siapa yang membencinya, maka ia telah membenciku, dan barang siapa membahagiakannya, maka ia telah membahagiakanku.”
Kaum muslimin telah mendengar sabda Rasulullah yang menyatakan, bahwa sesungguhnya Fatimah diberi nama Fatimah karena dengan nama itu Allah SWT telah melindungi setiap pecintanya dari azab neraka.
Fatimah Az-Zahra’ as menyerupai ayahnya Muhammad saw dari sisi rupa dan akhlaknya.
Ummu Salamah ra, istri Rasulullah, menyatakan bahwa Fatimah adalah orang yang paling mirip dengan Rasulullah. Demikian juga ‘Aisyah. Ia pernah menyatakan bahwa Fatimah adalah orang yang paling mirip dengan Rasulullah dalam ucapan dan pikirannya.
Fatimah as mencintai ayahandanya melebihi cintanya kepada siapa pun.
Setelah ibunda kinasihnya, Khadijah as wafat, beliaulah yang merawat ayahnya ketika masih berusia enam tahun. Beliau senantiasa berusaha untuk menggantikan peranan ibundanya bagi ayahnya itu.
Pada usianya yang masih belia itu, Fatimah menyertai ayahnya dalam berbagai cobaan dan ujian yang dilancarkan oleh orang-orang musyrikin Makkah terhadapnya. Dialah yang membalut luka-luka sang ayah, dan yang membersihkan kotoran-kotoran yang dilemparkan oleh orang-orang Quraisy ke arah ayahanda tercinta.
Fatimah senantiasa mengajak bicara sang ayah dengan kata-kata dan obrolan yang dapat menggembirakan dan menyenangkan hatinya. Untuk itu, Rasulullah saw memanggilnya dengan julukan Ummu Abiha, yaitu ibu bagi ayahnya, karena kasih sayangnya yang sedemikian tercurah kepada ayahandanya.

Pernikahan Fatimah as

Setelah Fatimah as mencapai usia dewasa dan tiba pula saatnya untuk beranjak pindah ke rumah suaminya (menikah), banyak dari sahabat-sahabat yang berupaya meminangnya. Di antara mereka adalah Abu Bakar dan Umar. Rasulullah saw menolak semua pinangan mereka. Kepada mereka beliau mengatakan, “Saya menunggu keputusan wahyu dalam urusannya (Fatimah as).”
Kemudian, Jibril as datang untuk mengkabarkan kepada Rasulullah saw, bahwa Allah telah menikahkan Fatimah dengan Ali bin Ali Thalib as. Tak lama setelah itu, Ali as datang menghadap Rasulullah dengan perasaan malu menyelimuti wajahnya untuk meminang Fatimah as. Sang ayah pun menghampiri putri tercintanya untuk meminta pendapatnya seraya menyatakan, “Wahai Fatimah, Ali bin Abi Thalib adalah orang yang telah kau kenali kekerabatan, keutamaan, dan keimanannya. Sesungguhnya aku telah memohonkan pada Tuhanku agar menjodohkan engkau dengan sebaik-baik mahkluk-Nya dan seorang pecinta sejati-Nya. Ia telah datang menyampaikan pinangannya atasmu, bagaimana pendapatmu atas pinangan ini?"
Fatimah as diam, lalu Rasulullah pun mengangkat suaranya seraya bertakbir, “Allahu Akbar! Diamnya adalah tanda kerelaannya.”

Acara Pernikahan

Rasulullah saw kembali menemui Ali as sambil mengangkat tangan sang menantu seraya berkata, “Bangunlah! 'Bismillah, bi barakatillah, masya’ Allah la quwwata illa billah, tawakkaltu 'alallah.”
Kemudian, Nabi saw menuntun Ali dan mendudukkannya di samping Fatimah. Beliau berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya keduanya adalah makhluk-Mu yang paling aku cintai, maka cintailah keduanya, berkahilah keturunannya, dan peliharalah keduanya. Sesungguhnya aku menjaga mereka berdua dan keturunannya dari setan yang terkutuk.”
Rasulullah mencium keduanya sebagai tanda ungkapan selamat berbahagia. Kepada Ali, beliau berkata, “Wahai Ali, sebaik-baik istri adalah istrimu.”
Dan kepada Fatimah, beliau menyatakan, “Wahai Fatimah, sebaik-baik suami adalah suamimu”.
Di tengah-tengah keramaian dan kerumunan wanita yang berasal dari kaum Anshar, Muhajirin, dan Bani Hasyim, telah lahir sesuci-suci dan seutama-utamanya keluarga dalam sejarah Islam yang kelak menjadi benih bagi Ahlulbait Nabi yang telah Allah bersihkan kotoran jiwa dari mereka dan telah sucikan mereka dengan sesuci-sucinya.
Acara pernikahan kudus itu berlangsung dengan kesederhanaan. Saat itu, Ali tidak memiliki sesuatu yang bisa diberikan sebagai mahar kepada sang istri selain pedang dan perisainya. Untuk menutupi keperluan mahar itu, ia bermaksud menjual pedangnya. Tetapi Rasulullah saw mencegahnya, karena Islam memerlukan pedang itu, dan setuju apabila Ali menjual perisainya.
Setelah menjual perisai, Ali menyerahkan uangnya kepada Rasulullah saw. Dengan uang tersebut beliau menyuruh Ali untuk membeli minyak wangi dan perabot rumah tangga yang sederhana guna memenuhi kebutuhan keluarga yang baru ini.
Kehidupan mereka sangat bersahaja. Rumah mereka hanya memiliki satu kamar, letaknya di samping masjid Nabi saw.
Hanya Allah SWT saja yang mengetahui kecintaan yang terjalin di antara dua hati, Ali dan Fatimah. Kecintaan mereka hanya tertumpahkan demi Allah dan di atas jalan-Nya.
Fatimah as senantiasa mendukung perjuangan Ali as dan pembelaannya terhadap Islam sebagai risalah ayahnya yang agung nan mulia. Dan suaminya senantiasa berada di barisan utama dan terdepan dalam setiap peperangan. Dialah yang membawa panji Islam dalam setiap peperangan kaum muslimin. Ali pula yang senantiasa berada di samping mertuanya, Rasulullah saw.
Fatimah as senantiasa berusaha untuk berkhidmat dan membantu suami, juga berupaya untuk meringankan kepedihan dan kesedihannya. Beliau adalah sebaik-baik istri yang taat. Beliau bangkit untuk memikul tugas-tugas layaknya seorang ibu rumah tangga. Setiap kali Ali pulang ke rumah, ia mendapatkan ketenangan, ketentraman, dan kebahagiaan di sisi sang istri tercinta.
Fatimah as merupakan pokok yang baik, yang akarnya menghujam kokoh ke bumi, dan cabangnya menjulang tinggi ke langit. Fatimah dibesarkan dengan cahaya wahyu dan beranjak dewasa dengan didikan Al-Qur'an.

Keluarga Teladan

Kehidupan suami istri adalah ikatan yang sempurna bagi dua kehidupan manusia untuk menjalin kehidupan bersama.
Kehidupan keluarga dibangun atas dasar kerjasama, tolong menolong, cinta, dan saling menghormati.
Kehidupan Ali dan Fatimah merupakan contoh dan teladan bagi kehidupan suami istri yang bahagia. Ali senantiasa membantu Fatimah dalam pekerjaan-pekerjaan rumah tangganya. Begitu pula sebaliknya, Fatimah selalu berupaya untuk mencari keridhaan dan kerelaan Ali, serta senantiasa memberikan rasa gembira kepada suaminya.
Pembicaraan mereka penuh dengan adab dan sopan santun. "Ya binta Rasulillah"; wahai putri Rasul, adalah panggilan yang biasa digunakan Imam Ali setiap kali ia menyapa Fatimah. Sementara Sayidah Fatimah sendiri menyapanya dengan panggilan “Ya Amirul Mukminin”; wahai pemimpin kaum mukmin.
Demikianlah kehidupan Imam Ali as dan Sayidah Fatimah as.
Keduanya adalah teladan bagi kedua pasangan suami-istri, atau pun bagi orang tua terhadap anak-anaknya.

Buah Hati

Pada tahun ke-2 Hijriah, Fatimah as melahirkan putra pertamanya yang oleh Rasulullah saw diberi nama “Hasan”. Rasul saw sangat gembira sekali atas kelahiran cucunda ini. Beliau pun menyuarakan azan pada telinga kanan Hasan dan iqamah pada telinga kirinya, kemudian dihiburnya dengan ayat-ayat Al-Qur'an.
Setahun kemudian lahirlah Husain. Demikianlah Allah SWT berkehendak menjadikan keturunan Rasulullah saw dari Fatimah Az-Zahra as. Rasul mengasuh kedua cucunya dengan penuh kasih dan perhatian. Tentang keduanya beliau senantiasa mengenalkan mereka sebagai buah hatinya di dunia.
Bila Rasulullah saw keluar rumah, beliau selalu membawa mereka bersamanya. Beliau pun selalu mendudukkan mereka berdua di haribaannya dengan penuh kehangatan.
Suatu hari Rasul saw lewat di depan rumah Fatimah as. Tiba-tiba beliau mendengar tangisan Husain. Kemudian Nabi dengan hati yang pilu dan sedih mengatakan, “Tidakkah kalian tahu bahwa tangisnya menyedihkanku dan menyakiti hatiku.”
Satu tahun berselang, Fatimah as melahirkan Zainab. Setelah itu, Ummu Kultsum pun lahir. Sepertinya Rasul saw teringat akan kedua putrinya Zainab dan Ummu Kultsum ketika menamai kedua putri Fatimah as itu dengan nama-nama tersebut.
Dan begitulah Allah SWT menghendaki keturunan Rasul saw berasal dari putrinya Fatimah Zahra as.

Kedudukan Fatimah Az-Zahra’ as

Meskipun kehidupan beliau sangat singkat, tetapi beliau telah membawa kebaikan dan berkah bagi alam semesta. Beliau adalah panutan dan cermin bagi segenap kaum wanita. Beliau adalah pemudi teladan, istri tauladan dan figur yang paripurna bagi seorang wanita. Dengan keutamaan dan kesempurnaan yang dimiliki ini, beliau dikenal sebagai “Sayyidatu Nisa’il Alamin”; yakni Penghulu Wanita Alam Semesta.
Bila Maryam binti ‘Imran, Asiyah istri Firaun, dan Khadijah binti Khuwalid, mereka semua adalah penghulu kaum wanita pada zamannya, tetapi Sayidah Fatimah as adalah penghulu kaum wanita di sepanjang zaman, mulai dari wanita pertama hingga wanita akhir zaman.
Beliau adalah panutan dan suri teladan dalam segala hal. Di kala masih gadis, ia senantiasa menyertai sang ayah dan ikut serta merasakan kepedihannya. Pada saat menjadi istri Ali as, beliau selalu merawat dan melayani suaminya, serta menyelesaikan segala urusan rumah tangganya, hingga suaminya merasa tentram bahagia di dalamnya.
Demikian pula ketika beliau menjadi seorang ibu. Beliau mendidik anak-anaknya sedemikian rupa atas dasar cinta, kebaikan, keutamaan, dan akhlak yang luhur dan mulia. Hasan, Husain, dan Zainab as adalah anak-anak teladan yang tinggi akhlak dan kemanusiaan mereka.

Kepergian Sang Ayah

Sekembalinya dari Haji Wada‘, Rasulullah saw jatuh sakit, bahkan beliau sempat pingsan akibat panas dan demam keras yang menimpanya. Fatimah as bergegas menghampiri beliau dan berusaha untuk memulihkan kondisinya. Dengan air mata yang luruh berderai, Fatimah berharap agar sang maut memilih dirinya dan merenggut nyawanya sebagai tebusan jiwa ayahandanya.
Tidak lama kemudian Rasul saw membuka kedua matanya dan mulai memandang putri semata wayang itu dengan penuh perhatian. Lantas beliau meminta kepadanya untuk membacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Fatimah pun segera membacakan Al-Qur'an dengan suara yang khusyuk.
Sementara sang ayah hayut dalam kekhusukan mendengarkan kalimat-kalimat suci Al-Qur'an, Fatimah pun memenuhi suasana rumah Nabi. Beliau ingin menghabiskan detik-detik akhir hayatnya dalam keadaan mendengarkan suara putrinya yang telah menjaganya dari usia yang masih kecil dan berada di samping ayahnya di saat dewasa.
Rasul saw meninggalkan dunia dan ruhnya yang suci mi’raj ke langit.
Kepergian Rasul saw merupakan musibah yang sangat besar bagi putrinya, sampai hatinya tidak kuasa memikul besarnya beban musibah tersebut. Siang dan malam, beliau selalu menangis.
Belum lagi usai musibah itu, Fatimah as mendapat pukulan yang lebih berat lagi dari para sahabat yang berebut kekuasaan dan kedudukan.
Setelah mereka merampas tanah Fadak dan berpura-pura bodoh terhadap hak suaminya dalam perkara khilafah (kepemimpinan), Fatimah Az-Zahra’ as berupaya untuk mempertahankan haknya dan merebutnya dengan keberanian yang luar biasa.
Imam Ali as melihat bahwa perlawanan terhadap khalifah yang dilakukan Sayidah Fatimah as secara terus menerus bisa menyebabkan negara terancam bahaya besar, hingga dengan begitu seluruh perjuangan Rasul saw akan sirna, dan manusia akan kembali ke dalam masa Jahiliyah.
Atas dasar itu, Ali as meminta istrinya yang mulia untuk menahan diri dan bersabar demi menjaga risalah Islam yang suci.
Akhirnya, Sayidah Fatimah as pun berdiam diri dengan menyimpan kemarahan dan mengingatkan kaum muslimin akan sabda Nabi, “Kemarahannya adalah kemarahan Rasulullah, dan kemarahan Rasulullah adalah kemarahan Allah SWT.”
Sayidah Fatimah as diam dan bersabar diri hingga beliau wafat. Bahkan beliau berwasiat agar dikuburkan di tengah malam secara rahasia.

Kepergian Putri Tercinta Rasul

Bagaikan cahaya lilin yang menyala kemudian perlahan-lahan meredup. Demikianlah ihwal Fatimah Az-Zahra’ as sepeninggal Rasul saw. Ia tidak kuasa lagi hidup lama setelah ditinggal wafat oleh sang ayah tercinta. Kesedihan senantiasa muncul setiap kali azan dikumandangkan, terlebih ketika sampai pada kalimat Asyhadu anna Muhammadan(r) Rasulullah.
Kerinduan Sayidah Fatimah untuk segera bertemu dengan sang ayah semakin menyesakkan dadanya. Bahkan kian lama, kesedihannya pun makin bertambah. Badannya terasa lemah, tidak lagi sanggup menahan renjana jiwanya kepada ayah tercinta.
Demikianlah keadaan Sayidah Fatimah as saat meninggalkan dunia. Beliau tinggalkan Hasan yang masih 7 tahun, Husain yang masih 6 tahun, Zainab yang masih 5 tahun, dan Ummi Kultsum yang baru saja memasuki usia 3 tahun.
Yang paling berat dalam perpisahan ini, ia harus meninggalkan suami termulia, Ali as, pelindung ayahnya dalam jihad dan teman hidupnya di segala medan.
Sayidah Fatimah as memejamkan mata untuk selamanya setelah berwasiatkan kepada suaminya akan anak-anaknya yang masih kecil. Beliau pun mewasiatkan kepada sang suami agar menguburkannya secara rahasia. Hingga sekarang pun makam suci beliau masih misterius. Dengan demikian terukirlah tanda tanya besar dalam sejarah tentang dirinya.
Fatimah Az-Zahra’ as senantiasa memberikan catatan kepada sejarah akan penuntutan beliau atas hak-haknya yang telah dirampas. Sehingga umat Islam pun kian bertanya-tanya terhadap rahasia dan kemisterian kuburan beliau.
Dengan penuh kesedihan, Imam Ali as duduk di samping kuburannya, diiringi kegelapan yang menyelimuti angkasa. Kemudian Imam as mengucapkan salam, “Salam sejahtera bagimu duhai Rasulullah ... dariku dan dari putrimu yang kini berada di sampingmu dan yang paling cepat datang menjumpaimu.
"Duhai Rasulullah! Telah berkurang kesabaranku atas kepergian putrimu, dan telah berkurang pula kekuatanku ... Putrimu akan mengabarkan kepadamu akan umatmu yang telah menghancurkan hidupnya. Pertanyaan yang meliputinya dan keadaan yang akan menjawab. Salam sejahtera untuk kalian berdua!”[]

Riwayat Singkat Sayidah Fatimah as

Nama        : Fatimah.
Julukan    : Az-Zahra’, Al-Batul, At-Thahirah.
Ayah         : Mahammad.
Ibu            : Khadijah binti Khuwailid.
Kelahiran : Jumat 20 Jummadil Akhir.
Tempat     : Makkah Al-Mukarramah.
Wafat       : MadinahAl-Munawarah, Tahun 11 H.
Makam    : Tidak diketahui.
readmore »»  

Selasa, 01 Mei 2012

Share.

Bismillahirrahmanirrahim
Besok aku dan 124 teman se DKI Jakarta yang lain akan berperang merebutkan 70 kursi terbaik untuk ke jenjang berikutnya.
SEMANGAT!!! :)
readmore »»  

Sabtu, 28 April 2012

Pengorbanan Dan Kemenangan




Bismillahirrahmanirrahim
Waktu menunjukkan pukul 13.00 ketika aku sampai di Masjid Ar-Royan, Jakarta Barat. Niat awal, aku datang untuk memenuhi panggilan syuro dari sang mas'ul salah satu organisasi yang aku ikuti. Tetapi aneh, tak seperti biasa, keadaan masjid lumayan ramai dan semua pintunya terbuka lebar. Ada acara kah?
Aku berjalan mencari para anggota. Namun sejauh mata memandang, hanya segerombol akhwat paruh baya dan beberapa bapak-bapak yang kulihat disana. Mas'ul nya nya pun tak ada. Aku duduk menikmati sepoian angin di teras masjid masih dengan rasa kesal dalam dada. Sambil membaca sebuah novel, kucoba menunggu kedatangan para anggota.
Satu jam hampir aku disana. Rupanya sedang ada pengajian di masjid itu. Kalau begitu, mungkinkah kami mengadakan syuro disini? Sepertinya tidak.
Para akhwat di dalam sana msedang membaca al-matsurat saat aku memutuskan untuk berdiri menuju pintu masjid. Setelah bertanya-tanya pada salah seorang panitia (sepertinya) taulah aku bahwa di dalam adalah pengajian khusus akhwat. Akupun memutuskan untuk bergabung. Tanpa teman, aku duduk sebagai yang termuda (sepertinya) di barisan belakang.
"Dari mana mbak?"tanya seorang ibu yang duduk di sampingku. Aku menyebutkan alamat rumah dan alasan aku datang kesini sebenarnya. Ibu itu tersenyum dan mengangguk. Beliau menjelaskan tentang acara ini dan taulah aku bahwa ini adalah Jalasan Ruhiyah (JR) yang diadakan oleh PKS sebulan sekali. Semua yang disini adalah akhwat simpatisan PKS. Dan bapak-bapak yang diluar adalah ikhwan (suami/kerabat) mereka yang juga simpatisan PKS. Aku sedikit kaget dibuatnya.
Selama pengajian, aku mencoba untuk tenang dan memperbaharui niat. Kalau tak dapat syuronya, lihat saja apa gantinya. Ilmu yang insya Allah sangat bermanfaat. Disini, aku mencoba untuk meringkas dan berbagi apa yang kudapatkan pada Jalasah Ruhiyah kali ini. Silahkan disimak ^^

Pengorbanan dan Kemenangan. Disampaikan oleh Ustadzah Ma'wah.

Orang-orang yang ada di jalan dakwah hidupnya lebih terarah. Karena memiliki murabbi yang menuntun mereka dan insya Allah setiap perbuatannya sesuai Al-Qur'an dan Sunnah. Karena itu berbahagialah bagi antum yang sudah berada di jalan dakwah.

Keberadaan kita di jalan ini bukanlah karena kebetulan. Karena tak ada yang kebetulan di dunia ini. Keberadaan kita disini adalah karena Allah telah memilih kita untuk berada disini. Maka itu bersyukurlah karena insya Allah kitalah yang disebut sebagai Al-Mustafa (Orang-orang terpilih). Orientasi hidup kita di dunia ini bukan untuk lulus sekolah, mendapat kerjaan, menikah, atau mempunyai harta yang melimpah. Orientasi kita semata-mata adalah untuk Mardhotillah (mencari ridho Allah SWT).

Jalan dakwah tidak pernah mulus dan bertabur bunga. Jalannya selalu terjal, penuh onak dan duri, menurun dan curam. Maka itu, hanya orang konyol yang memutuskan untuk melewatinya tanpa membawa perbekalan yang banyak. 
"Perjuangan tidak akan pernah ada tanpa pengorbanan dan Pengorbanan tidak akan pernah ada tanpa pemahaman"
 Keutamaan-keutamaan berada di jalan dakwah membuat kita paham atas perjuangan dakwah dan senantiasa siap diatas kaki yang siaga untuk berkontribusi lebih, berkorban. Bi amwalikum wa anfusikum. Dengan harta dan jiwa.
Al-Qur'an surah As-Saff ayat 10-14

10. Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih?

11. (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.

12. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah 'Adn. Itulah keberuntungan yang besar.

13. Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.

14. Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong (agama) Allah sebagaimana 'Isa ibnu Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?" Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: "Kamilah penolong-penolong agama Allah", lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan lain kafir; maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang.

Poin dari Jual Beli kita dengan Allah adalah
1. Selamat dari azab yang pedih
2.Diampuni dosa dan kesalahan kita
3. Allah akan masukkan kita kedalam Syurga (Allah tidak akan mengingkari janji-Nya)
4. Allah akan berikan kita rumah yang megah di Syurga
5. Ada sebuah pertolongan yang Allah berikan
6. Allah akan memberikan kemenangan yang dekat
 Tiga Indikasi Jual Beli yang Allah tawarkan dengan 6 Keuntungan diatas adalah
1. Iman kepada Allah SWT
2. Iman kepada Rasulullah SAW
3. Jihad fii sabilillah b amwalikum wa anfusikum
  Amanah Rasulullah "Dakwah harus selalu ditinggikan!"
Ketika kita sudah berada di jalan dakwah, berikanlah kontribusi sebanyak-banyaknya. Jangan tanya "Apa yang sudah dakwah berikan kepada kita?" tapi tanyalah "Apa yang sudah kita berikan di jalan dakwah?"

Cita-cita Universal Islam tercantum dalam Al-Qur'an surah Al-Baqarah ayat 201 : 201. Dan di antara mereka ada orang yang bendo'a: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka" [127].

[127] Inilah do'a yang sebaik-baiknya bagi seorang muslim.

Dan di surah An-Nahl ayat 97:  97. Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik [839] dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.

[839] Ditekankan dalam ayat ini bahwa laki-laki dan perempuan dalam Islam mendapat pahala yang sama dan bahwa amal saleh harus disertai iman.
Orientasi amal seorang mukmin adalah Khoir. 
Pada salah satu hadits nya Rasulullah bersabda "Amal itu tergantung niatnya" tetapi disisi lain, "Amal itu tergantung akhirnya"
"Ya Allah, jadikan umur terbaik hamba di penghujungnya, jadikan amal terbaik hamba di penutupnya, jadikan hari-hari terbaik hamba saat bertemu dengan-Mu" Do'a khatmil Qur'an.
Wallahu a'lamu bisshawab.
 

readmore »»  

Jumat, 20 April 2012

Anak ROHIS juga bisa EKSIS!

Bismillahirrahmanirahim

Sebuah kabar bahagia datang ketika kami sedang duduk di ruang lima untuk mengikuti pelajaran agama. Tiba-tiba, tiga orang siswi kelas 11 IPA dipanggil menghadap dua ibu guru yang familiar namanya. Ya. Uluran tangan dan ucapan selamat tiba-tiba meluncur dari salah seorang diantara mereka kepada ketiga siswi yang tidak mengerti apa-apa.
"Ini dia jagoan-jagoan kita,"ujar beliau.
Bingung kepalang bingung. Ketiga siswi itu memiliki 1001 terkaan dalam pikiran.
"Selamat ya nak, kalian lolos OSP,"
---

Tahun ini, saya melihat sebagian besar bidang Olimpiade Sains tingkat Propinsi diwakili oleh anak-anak ROHIS. Sebuah anugerah yang luar biasa karena anak ROHIS telah berhasil menunjukkan eksistensinya di luar dunia ROHIS. Fisika, Kimia, Biologi, Ekonomi, dan Kebumian. Sekitar 12 orang atau lebih dari 19 perwakilan OSP sekolah kami adalah anak ROHIS.
Dengan ini, kami berharap bisa membuktikan pada semua orang bahwa tak selamanya anak ROHIS menjadi cicak mushola. Kami tidak hanya mahir dalam berorganisasi, tapi juga dalam akademik.
Sebuah SMS yang dikirimkan oleh salah satu anak ROHIS yang kini juga lolos dalam bidang Biologi di malam tanggal 3 April 2012. Malam sebelum kami berperang keesokan paginya.
"Semangat Kawan! Foto-foto kita sudah menanti untuk dipajang! Sudah saatnya sekolah tahu bahwa kita bukan pecundang! Kita harus LOLOS sama-sama Kawan! ROHIS akan semakin berjaya jika kita menang. Kalahkan orang-orang yang telah mengambil hak cipta ilmuwan Islam sebelum kita! Tetap Semangat dan Selamat Berjuang!!! Ganbatte-ne! ^^"

Untuk kawan-kawanku yang pada tanggal 4 April gugur sebelum berjuang karena banjir yang menghadang, ini untuk kalian. Jangan pernah menyesal karena Allah pasti punya rencana lebih baik dari Olimpiade ini. Meski tanpa kalian, yakinlah kami yang akan mewakilimu dalam pertarungan.
SMS salah seorang teman kepada teman kami yang gugur
"Titipkanlah semangatmu pada kami, Insya Allah akan kami kobarkan hingga menang! Trust me!"

Untuk seluruh anggota Kelompok Studi Islam SMAN 33 Jakarta, terimakasih atas do'a dan dukungan morilnya. We Love You All!!! ^-^
readmore »»  

Kamis, 19 April 2012

AKHWAT IKUT MABIT? Bolehkah?




 Alhamdulillah, saya menemukan catatan ini di salah satu website. Semoga bermanfaat buat antunna para wanita (khususnya)

Ustadz kita mau mengadakan dauroh bersama (ikhwan-ahwat), rencananya menginap selama dua hari di mesjid. Bagaimana hukumnya akhwat mabit, boleh gak, ya ? kalau boleh, apa syarat-syaratnya ?

 Pada dasarnya, wanita itu tidak diharamkan bepergian keluar rumah dengan syarat-syarat utama antara lain, ila ala hajat atau keperluan yang syar’i. Misalnya untuk menuntut ilmu, mengajar dan aktifitas lainnya yang memang secara manusiawi diperlukan untuk dikerjakan manusia normal pada umumnya.

 Termasuk didalamnya adakah bahwa seorang wanita tidak dilarang berziarah untuk mengunjungi saudara atau temannya,asal tujuannya memang untuk hal-hal yang positif dan baik.

Kondisinya haruslah aman. Sebagian ulama ada yang mengambil pemikiran bahwa esensi diharamkannya para wanita bepergian keluar rumah tanpa mahram adalah karena di masa lalu kondisiya tidak memungkinkan. Selain banyak perampok di jalan, juga tidak lazim di masa itu ada wanita menempuh perjalanan di gurun pasir atau hutan sendirian. Sebab di masa itu belum ada alat transportasi umum yang aman, nyaman, terjamin dan sebagainya.

 Mereka membedakannya dengan kondisi hari ini secara umum sudah jauh lebih aman dan kondusif bagi wanita untuk bepergian keluar kota sendirian. Sehigga sebagian mereka membolehkan bagi para wanita untuk melakukan perjalanan dengan menggunakan fasilitas kendaraan umum yang tinggi tingkat keamanannya, nyaman dan lagipula tidak membutuhkan waktu perjalanan yang lama.

 Sebab cukup dalam hitungan jam, hari ini para wanita bisa menempuh jarak ribuan mil dengan pesawat terbang yang nyaman, aman dan bahkan semua itu bisa dilakukannya sambil tiduran di balik selimut hangat. Tidak menimbulkan fitnah dan dampak negatif berikutnya

 Selain itu, penting juga diperhatikan kesan dan etika yang sudah tertanam di tengah masyarakat atas keluarnya wanita dan bercampur dengan laki-laki. Misalnya menginapnya para wanita dan pria di dalam satu gedung atau sebuah acara semacam daurah. Hal ini tentu harus dikembalikan kepada urf’ atau kebiasaan yang berlaku di masyarakat umum juga.


Seacara umum, terjadinya percampuran antara laki-laki dan wanita didalam sebuah gedung atau sebuah acara memang dimungkinkan dalam islam. Misalnya kebolehan wanita hadir dalam shalat Jum’at, shalat Idul Fitri atau khutbah-khutbah lainnya. Namun kita juga tahu bahwa tetap dilakukan pemisahan antara keduanya.

 Satu hal lagi, semua itu bisa terjadi namun tanpa ada aktifitas menginap bersama. Sebab bila sudah pada batas menginap, maka contoh yang jelas di masa Rasulullah adalah masalah I’tikafnya para wanita yang dianjurkan lebih utama untuk dilakukan didalam rumah sendiri. Meski pun kita juga mendapatkan riwayat yang menyebutkan bahwa ummahatul mukminin pernah melakukan I’tikaf di mesjid.

 Namun, alangkah baiknya bila wanita memang terpaksa harus dan mesti ada mabit (menginap) bagi para wanita tempatnya dipisahkan secara fisik dari laki-laki. Bukan sekedar dengan menggunakan pembatas ruangan, membedakan kamar atau memasang penyekat saja. Sebaiknya emreka ditempatkan di gedung ata lokasi yang berbeda. Dan yang lebih leluasa tentu saja bila mereka dipisahkan dalam paket acaranya. Artinya, ada mabit wanita sendiri pada waktu dan tempat yang berbeda dengan mabitnya laki-laki. Tentu kondisi seperti ini jauh lebih aman dari fitnah.

 Namun kami tetap menganjurkan bagi pihak penyelenggara untuk kalau tidak terpaksa sama sekali, tidak perlu membuat acara yang menuntut para wanita harus menginap. Sebab mereka itu wajib mendapatkan izin yang benar-benar sepenuhnya izin atas kerdihoan orang tua mereka maing-masing. Terus terang sajalah bahwa masalah izin menginap bagi apara aktivis wanita ini bukanlah masalah yang bisa disepelekan begitu saja. Orang tua manapun pasti ingin tidur nyenyak dengan kepastian bahwa putri mereka benar-benar safe, aman, nyaman, dan semua itu hanya ada bila puterinya ada di rumah.

Kami tidak menafikan bahwa mabit itu penting, urgent, punya nilai tersendiri dan seterusnya. Namun memperkecil resiko fitnah tentu lebih utama.



Wallahu alam bi shawab

sumber: http://muslimahui.my-php.net/?cat=3
readmore »»  

Sabtu, 14 April 2012

Filosofi Perjalanan Ke Situ Gunung Gede Pangrango



Bismillahirrahmanirrahim

Tanggal 07 April 2012 lalu, saya dan rombongan peserta Dauroh Rohis Jilid 2 tiba di Daerah Cisaat Sukabumi pada pukul 5 pagi. Setelah beristirahat sejenak di Villa Tanpa Nama dan melakukan olahraga, kami beranjak menuju Curug. Situ Gunung Gede Pangrango.
Awalnya saya tidak tahu Curug apa yang akan kami datangi. Maklum saat itu saya juga adalah peserta.
Setelah berjalan lumayan jauh dengan medan menanjak, dan setelah melihat pemandangan pohon pinus di sisi kiri jalan dan sawah-sawah yang luas di sekitarnya, kami sampai pada sebuah gapura kuno berwarna cokelat.
Seorang kakak pemandu kami membelikan kami tiket masuk dan pada saat itulah saya melihat papan bertuliskan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.
Tak percaya, saya mengucek mata berulang-ulang. Tetapi ternyata tulisan itu tidak berubah walau satu huruf pun. Sebelumnya, saya hanya tahu tentang gunung ini dari buku paket bahasa Indonesia saya yang kelas sepuluh. Disana diceritakan betapa angkuh nya gunung ini. Cantik dan bersahaja.
Tanpa membuang waktu, kami langsung berjalan memasuki gunung. Jalanannya biasa. Belum terlihat "sesuatu"nya.
Kami terus berjalan sambil mendendangkan lagu-lagu nasyid harokah sebagai penyemangat kami. Semakin lama, jalan yang kami tempuh semakin mengkerut. Semakin sempit. Menanjak dan juga licin.
Kami para wanita yang notabene menggunakan rok agak kesulitan untuk melompati genangan-genangan air yang menghadang di tiap sisi jalan. Tanahnya berwarna kuning. Entah mineral apa yang terkandung di dalamnya.
Lelah bernyanyi, kami semua diam dan terfokus pada jalanan yang semakin curam. Saat itu aku memakai sandal jepit plastik yang rentan terpeleset. sebisa mungkin kujaga keseimbanganku dan berjalan sesuai barisan.
Di sebelah kiri kami ada tebing yang penuh dengan pepohonan. Melihat tebing itu, aku jadi merasa ciut dan kerdil. Betapa tidak ada apa-apanya aku dibandingkan ciptaan Allah ini. Sedangkan di sebelah kanan ku ada jurang yang dalam. Berhektar-hektar sawah dengan motif terasering yang indah terhampar di seberang sana. Suara manusia seolah lenyap. Yang terdengar hanya suara hewan-hewan penghuni hutan yang menenangkan. Suasana alami yang mustahil kutemukan di Jakarta.
Kakiku terus melaju. Meladeni tiap kejutan yang diberikan oleh Pangrango. Jalanan licin telah lewat. Kini kami berjalan diatas bongkahan batu-batu besar yang tertanam dalam tanah. Medannya bukan lagi menanjak, melainkan menurun.
Filosofi: Jalan dakwah tak pernah mulus. Tak pernah indah bertabur bunga. Melainkan selalu berelief seperti gunung ini. Jalan disini memang berat, tapi ingat tujuan kita yang pasti kan kita temui. Air terjun yang menenangkan. Itulah dakwah. Jalannya memang berat, tapi ingat tujuan kita. Ingat sesuatu yang telah menanti kita diujung sana. Surganya Allah SWT.

Kami saling bergandengan tangan untuk mampu menuruni tiap batuan. Takut kalau saudara kami terjatuh ke jurang. Sebisa mungkin tak ada yang ditinggalkan.
Filosofi: Dalam perjuangan dakwah, bergerak secara bersamaan itu penting dilakukan. Saling menolong dan menguatkan. Karena kita harus sampai di tujuan secara bersamaan.

Tak berapa lama dari itu, kami mendengar gemuruh air yang membelalakkan mata.
"Itu air terjun nya ya?"harap-harap kami bahwa sebentar lagi jalan ini selesai ternyata hanya harapan. Itu bukan air terjun melainkan sebuah sungai kecil yang sangat jernih airnya.
berada di rerimbunan pohon yang menenangkan. Siapa sangkan didalam hutan belantara seperti ini ada aliran air yang begitu jernih dan cantik nya? Sungai itu pun kami namai sungai aurat
Filosofi: Sungai aurat. Karena aurat kita bagaikan sungai ini. Jika ditutupi dengan baik, maka yang terjadi adalah kita dalam keadaan baik. Jernih layaknya sungai di pedalaman gunung ini. Tetapi lihat sungai-sungai di jakarta yang dengan mudahnya tersentuh tangan-tangan jahil dan polusi yang merajalela, akhirnya sungai itupun keruh dan mengeluarkan bau yang busuk. Itulah yang akan terjadi jika aurat kita dibiarkan terbuka layaknya sungai-sungai di ibukota.

Kemudian kami melanjutkan perjalanan yang sangat menanjak. Walaupun masih bermedan batuan, jalanan yang menanjak jadi agak menyulitkan. Kakiku sempat kram dibuatnya. Tapi untunglah hanya sebentar.
Di puncak, kami beristirahat sejenak di sebuah tempat duduk yang panjang. Melepas penat, kami meminum air mineral yang tlah dipersiapkan oleh panitia.
Perjalanan kami masih panjang. Itu kata mereka. Ini baru setengah perjalanan. Aku mendongak ke bawah. Ke arah medan yang akan kita tempuh selanjutnya. Turunan yang sangat curam. Aku sempat sangsi untuk melewatinya. Tapi karena diyakinkan oleh semua teman, aku pun ikut memberanikan diri menerima kejuta-kejutan berikutnya.

Puluhan meter telah berlalu namun kami tak juga sampai. Ada yang bilang sebentar lagi. Namun sebagian yang lain mengatakan masih lama karena belum juga terdengar suara gemuruh air terjun. Beberapa dari kami mulai merasa kelelahan.
Filosofi: Kita tidak akan pernah tahu seberapa panjang jalan yang akan kita lalui dalam hidup ini. Dalam konteks ini saya artikan sebagai umur. Kita tidak pernah tahu kapan kita mati. Atau seberapa lama lagi kita hidup. Tetapi yang pasti, dan yang harus kita tahu adalah lakukan apapun sebaik yang kita bisa di dalam hidup ini.

Tiba-tiba suara yang kami tunggu-tunggu mulai terdengar. Gemuruh air. Beberapa ada yang sangsi dengan hal itu.
"Ah, paling sungai kayak tadi lagi"ujarnya
Tetapi dia salah. Kami memang benar-benar telah sampai. Di atas sana, kami bisa melihat alam memuntahkan airnya dengan luar biasa hebat. Tak lama lagi kita akan sampai.
Kami segera berlari menuruni turunan terakhir. Disana kami bisa melihat aliran sungai yang begitu derasnya berjalan di hadapan kami. Dan di ujung sana, di hulu sungai ini, air terjun raksasa yang kami cari telah terlihat.
Subhanallah Walhamdulillah Wa Laa ilaa ha Illallah. Allahu Akbar!
Ya. Kami sampai. Penat, lelah, sakit, dan kesusahan yang kami rasa dalam perjalanan sirna sudah. Digantikan oleh pemandangan alami yang menenangkan jiwa.
Filosofinya: Yakinlah karena keyakinanmu adalah janji-Nya. Akan ada hal indah yang menantimu diujung jalan yang sulit ini. Dan itu pasti.

Thaks to: Kak Nurcholipah ^^ KAPMI @11
readmore »»  

Selasa, 20 Maret 2012

Aku Rindu Masa-Masa Itu

Aku rindu masa-masa itu. Masa saat aku masih baru di tempat ini dan kalian dengan ramah mengulurkan tangan kalian agar aku nyaman disini.
Aku rindu masa-masa itu. Masa ketika kalian tak bosan-bosannya mengirimiku sejuta pesan kehidupan yang aku sendiri tak pernah peduli bahkan tak jarang aku tidak membacanya.
Aku rindu masa-masa itu. Masa ketika kalian masih punya waktu untuk mendatangiku walau sekedar bertukar salam, menanyakan kabar, dan menyampaikan satu dua kalimat yang mengisi kekosongan jiwa ini. Membangkitkan semangat muda ini lagi.
Aku rindu masa-masa itu. Masa ketika kalian memarahiku dan menunjukkan kesalahanku. Kurasa itu lebih baik daripada kini. Ketika kalian tak pernah lagi muncul di hadapanku. Marahi saja aku, karena itu menunjukkan bahwa kalian masih peduli kepadaku.
Aku sangat rindu masa-masa itu. Masa ketika kalian berbagi cerita tentang ukhuwah, tentang amanah, tentang lelah, tentang semua yang kalian rasa disini, dan yang akan ku rasakan pula di tempat ini, nanti.
Aku rindu masa-masa itu. Masa ketika kalian bercanda ria di jejaring sosial, dan aku hanya tersenyum-senyum membacanya. Walau aku tak ada di tengah tawa kalian, percayalah... ukhuwah kalian sangat kurasakan disini.
Aku sangat merindukan masa-masa itu. Ketika aku mencari tahu tentang kalian, karena aku ingin tahu lebih banyak tentang pribadi kalian. Ketika aku tahu betapa hebatnya kalian, dari foto-foto itu, dari tulisan-tulisan itu. Aku merasakan sebuah transfer energi yang sangat besar sedang terjadi dari dirimu kepadaku.
Aku rindu masa-masa itu. Ketika kalian datang dengan senyuman. Bukan dengan setumpuk kertas dan segudang kesibukan.
Aku masih rindu masa-masa itu. Ketika kalian mengirimiku pesan tausyiah, bukan pesan perintah!
Aku disini bukan untuk menjadi penyebar berita. Bukan!
Aku disini juga bukan hanya untuk membuat acara. Bukan itu!
Aku disini ingin belajar sebelum mengajar. Aku ingin menjadi objek dakwah sebelum berdakwah. Aku ingin mendengarkan kalimat semangat dari kalian sebelum aku menyemangati yang lain.
Tolong jangan biarkan kami kering.
Jangan biarkan saudaraku jatuh satu persatu.
Aku sadar kami harus sendiri. Kami harus mandiri.
Tapi apa itu berarti tak ada lagi perhatian dari kalian? Pikirkan!
Tak banyak yang kuat hatinya. Tak banyak yang sanggup diperlakukan seperti ini berlama-lama. Jati pun ketika dibiarkan ratusan tahun lamanya akan keropos juga.
Ku harap kalian tidak terlambat. Bantu aku untuk mengembalikan saudaraku. Saudara kita. Bantu aku kak.
Siapapun kalian yang merasa, ini bukan sekedar tulisan. Tapi ini adalah pengaduan dari kami. Anak-anak yang telah kalian culik, lalu kalian tinggalkan!
readmore »»  

Minggu, 11 Maret 2012

Jangan jadi Orang Cengeng

Banyak orang selalu bertanya begini
gimana sih caranya bisa tahan nangis?
Ribet ye tu orang. Mau nangis aja pake ditahan-tahan.
Nangis itu bukan aib lagi. Bukan kejahatan yang bikin sekeluarga malu juga. Bukan juga dosa besar yang bikin kamu masuk neraka.
Nangis itu fitrah.
Setiap orang pasti punya kelenjar air mata, kan? Ya, kecuali yang kurang sempurna.
Sekarang saya nggak membicarakan orang yang memang dari lahir nggak punya kelenjar air mata ya, soalnya saya bukan pakar biologi. hehe
Ya, sekali lagi. menangis itu fitrah. Dan itu boleh-boleh saja.
Jangan pernah mendambakan untuk tidak bisa menangis. Pasti akan sangat menyusahkan.
Sekarang gini deh, saya mau jawab pertanyaan temen saya itu dulu ya. Gimana caranya biar bisa tahan nangis?
Menurut saya pribadi, menangis itu nggak perlu ditahan. Tapi bukan berarti dibiarin gitu aja. Dikit-dikit nangis. Diomelin nangis. Dikatain nangis. Disorakin nangis. Dipanggil tiba-tiba nangis. Dikagetin nangis. Yaelah, nggak selebay itu juga kali.
Nih ya, menurut saya menangis itu menandakan kita sudah tidak kuat. Menangis itu puncak segala kesusahan, kesedihan, kesulitan, dan ke ke yang lainnya yang serba susah.
Untuk itu, yang harus dilatih bukan gimana caranya nahan nangis. Tapi, gimana caranya tahan banting. Tahan mental. Tahan malu. Biar nggak  gampang nangis.
Nah, gimana caranya biar nggak gampang nangis?
1. tahan mental. Seperti yang udah saya bilang, tahan mental itu berperan besar dalam proses produksi air mata. Kalau mental kita kecil, setempe, dan nggak pernah menemui kesusahan seumur-umur, bisa jadi kita akan mudah menangis. Kenapa? Ya karena kita nggak biasa menghadapi sesuatu yang WAW! Maksudnya yang WAW! itu yang amazing dan beda dengan kehidupan kita yang biasannya. Sesuatu yang lebih menantang. Tapi kalau mental kita kuat, sering dilatih, dan sering ketemu sama yang namanya "masalah" dalam hidup, saya yakin kita bukan termasuk orang yang cengeng alias gampang mewek!

2. Jangan lebay dan menDRAMAtisir keadaan. Orang cuma dipanggil sama guru keturunan batak aja langsung nangis. Dikiranya lagi dibentak. Padahal kan orang batak emang suaranya tinggi. Lebe!
Disuruh fotokopi beberapa proposal, ternyata tempat fotokopinya tutup dan harus nyari muter-muter komplek sampai kaki pegel, langsung nulis status "kaki pegel. kapan putusnya nih?!" Lebe!
 Disuruh lembur sampai jam lima sore aja besoknya langsung nggak masuk. Bilangnya langsung sakit dan dengan bangganya bilang ke temen-temen kalo kemaren abis ribet ngurus ini, itu, ono, ntu, apaan sih? Lebe banget!

3. Kalau masih bisa ditahan, TAHAN! Jangan pernah ngerasa ingin dikasihani. Minta dapet simpati. Dan bikin orang-orang tahu semua keluh kesah kamu. Nggak penting tahu! Kalau masih bisa ditahan tu air mata, tahan! Simpan buat nanti. Curhatnya sama yang bisa jaga rahasia. Nangisnya juga di depan yang bisa jaga rahasia aja. Siapa? Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

4. Hadapi dengan kepala dingin. Kalau ada masalah, apapun itu yang kira-kira emang nyusahin, jangan gegabah ya. Jangan langsung bilang yes or no. Pikirkan pakai kepala dingin. Atur napas biar teratur. Napas yang teratur itu bikin koordinasi di otak berjalan baik. Dengan begitu, kamu akan fokus untuk MENYELESAIKAN masalahmu, bukannya MENANGISI masalahmua.

Menurut saya sih itu aja yang bisa bikin kita nggak gampang nangis. Ini opini ya. Jadi tiap orang pasti beda-beda caranya. Nah, jangan terlalu diikutin ya. Jangan terlalu percaya sama kata-kata saya diatas. Nanti jadi thagut. Apaan tuh? Apa kek lah. Hehe.. cari aja di google.
Kalo ada opini yang bilang "sering nangis itu baik dan unyu" juga nggak apa-apa kok ^^ sekali lagi, ini berdasarkan perspektif pribadi aja. Okeh!
Jangan jadi orang cengeng yaaa ! ^^
readmore »»  

Kamis, 08 Maret 2012

Papa, Mama, Rio Tunggu Di Pintu Surga

“Mau Tuhan apa sih?!” protesnya setengah berteriak, sembari menangis tersungkur ke lantai. Dinginnya lantai membuat hatinya berangsur tenang, dan spontan berucap “Astaghfirullah.”

***

Agnes adalah sosok wanita Katolik taat. Setiap malam, ia beserta keluarganya rutin berdoa bersama. Bahkan, saking taatnya, saat Agnes dilamar Martono, kekasihnya yang beragama Islam, dengan tegas ia mengatakan, “Saya lebih mencintai Yesus Kristus dari pada manusia!”

Ketegasan prinsip Katolik yang dipegang wanita itu menggoyahkan Iman Martono yang muslim, namun jarang melakukan ibadah sebagaimana layaknya orang beragama Islam. Martono pun masuk Katolik, sekedar untuk bisa menikahi Agnes. Tepat tanggal 17 Oktober 1982, mereka melaksanakan pernikahan di Gereja Ignatius, Magelang, Jawa Tengah.

Usai menikah, lalu menyelesaikan kuliahnya di Jogjakarta, Agnes beserta sang suami berangkat ke Bandung, kemudian menetap di salah satu kompleks perumahan di wilayah Timur kota kembang. Kebahagiaan terasa lengkap menghiasi kehidupan keluarga ini dengan kehadiran tiga makhluk kecil buah hati mereka, yakni: Adi, Icha dan Rio.

Di lingkungan barunya, Agnes terlibat aktif sebagai jemaat Gereja Suryalaya, Buah Batu, Bandung. Demikan pula Martono, sang suami. Selain juga aktif di Gereja, Martono saat itu menduduki jabatan penting, sebagai kepala Divisi Properti PT Telkom Cisanggarung, Bandung.

Karena Ketaatan mereka memegang iman Katolik, pasangan ini bersama beberapa sahabat se-iman, sengaja mengumpulkan dana dari tetangga sekitar yang beragama Katolik. Mereka pun berhasil membeli sebuah rumah yang ‘disulap’ menjadi tempat ibadah (Gereja,red).

Uniknya, meski sudah menjadi pemeluk ajaran Katolik, Martono tak melupakan kedua orangtuanya yang beragama Islam. Sebagai manifestasi bakti dan cinta pasangan ini, mereka memberangkatkan ayahanda dan ibundanya Martono ke Mekkah, untuk menunaikan rukun Islam yang kelima.

Hidup harmonis dan berkecukupan mewarnai sekian waktu hari-hari keluarga ini. Sampai satu ketika, kegelisahan menggoncang keduanya. Syahdan, saat itu, Rio, si bungsu yang sangat mereka sayangi jatuh sakit. Panas suhu badan yang tak kunjung reda, membuat mereka segera melarikan Rio ke salah satu rumah sakit Kristen terkenal di wilayah utara Bandung.

Di rumah sakit, usai dilakukan diagnosa, dokter yang menangani saat itu mengatakan bahwa Rio mengalami kelelahan. Akan tetapi Agnes masih saja gelisah dan takut dengan kondisi anak kesayangannya yang tak kunjung membaik.

Saat dipindahkan ke ruangan ICU, Rio, yang masih terkulai lemah, meminta Martono, sang ayah, untuk memanggil ibundanya yang tengah berada di luar ruangan. Martono pun keluar ruangan untuk memberitahu Agnes ihwal permintaan putra bungsunya itu.

Namun, Agnes tak mau masuk ke dalam. Ia hanya mengatakan pada Martono, ”Saya sudah tahu.” Itu saja.

Martono heran. Ia pun kembali masuk ke ruangan dengan rasa penasaran yang masih menggelayut dalam benak.

Di dalam, Rio berucap, “Tapi udahlah, Papah aja, tidak apa-apa.”

“Papah, hidup ini hanya 1 centi. Di sana nggak ada batasnya,” lanjutnya.

Sontak, rasa takjub menyergap Martono. Ucapan bocah mungil buah hatinya yang tengah terbaring lemah itu sungguh mengejutkan. Nasehat kebaikan keluar dari mulutnya seperti orang dewasa yang mengerti agama.
Hingga sore menjelang, Rio kembali berujar, “Pah, Rio mau pulang!”

“Ya, kalau sudah sembuh nanti, kamu boleh pulang sama Papa dan Mama,” jawab Martono.

“Ngga, saya mau pulang sekarang. Papah, Mamah, Rio tunggu di pintu surga!” begitu, ucap Rio, setengah memaksa.

Belum hilang keterkejutan Martono, tiba-tiba ia mendengar ‘bisikan’ yang meminta dia untuk membimbing membacakan syahadat kepada anaknya. Ia kaget dan bingung. Tapi perlahan Rio dituntun sang ayah, Martono, membaca syahadat, hingga kedua mata anak bungsunya itu berlinang. Martono hafal syahadat, karena sebelumnya adalah seorang Muslim.

Tak lama setelah itu ‘bisikan’ kedua terdengar, bahwa setelah adzan Maghrib Rio akan dipanggil sang Pencipta. Meski tambah terkejut, mendengar bisikan itu, Martono pasrah. Benar saja, 27 Juli 1999, persis saat sayup-sayup adzan Maghrib, berkumandang Rio menghembuskan nafas terakhirnya.

Tiba jenazah Rio di rumah duka, peristiwa aneh lagi-lagi terjadi. Agnes yang masih sedih waktu itu seakan melihat Rio menghampirinya dan berkata, “Mah saya tidak mau pakai baju jas mau minta dibalut kain putih aja.”

Saran dari seorang pelayat Muslim, bahwa itu adalah pertanda Rio ingin dishalatkan sebagaimana seorang Muslim yang baru meninggal.

Setelah melalui diskusi dan perdebatan diantara keluarga, jenazah Rio kemudian dibalut pakaian, celana dan sepatu yang serba putih kemudian dishalatkan. Namun, karena banyak pendapat dari keluarga yang tetap harus dimakamkan secara Katolik, jenazah Rio pun akhirnya dimakamkan di Kerkov. Sebuah tempat pemakaman khusus Katolik, di Cimahi, Bandung.

Sepeninggal Rio

Sepeninggal anaknya, Agnes sering berdiam diri. Satu hari, ia mendengar bisikan ghaib tentang rumah dan mobil. Bisikan itu berucap, “Rumah adalah rumah Tuhan dan mobil adalah kendaraan menuju Tuhan.”

Pada saat itu juga Agnes langsung teringat ucapan mendiang Rio semasa TK dulu, ”Mah, Mbok Atik nanti mau saya belikan rumah dan mobil!” Mbok Atik adalah seorang muslimah yang bertugas merawat Rio di rumah.

Saat itu Agnes menimpali celoteh si bungsu sambil tersenyum, “Kok Mamah ga dikasih?”

“Mamah kan nanti punya sendiri” jawab Rio, singkat.

Entah mengapa, setelah mendengar bisikan itu, Agnes meminta suaminya untuk mengecek ongkos haji waktu itu. Setelah dicek, dana yang dibutuhkan Rp. 17.850.000. Dan yang lebih mengherankan, ketika uang duka dibuka, ternyata jumlah totalnya persis senilai Rp 17.850.000, tidak lebih atau kurang sesenpun. Hal ini diartikan Agnes sebagai amanat dari Rio untuk menghajikan Mbok Atik, wanita yang sehari-hari merawat Rio di rumah.

Singkat cerita, di tanah suci, Mekkah, Mbok Atik menghubungi Agnes via telepon. Sambil menangis ia menceritakan bahwa di Mekkah ia bertemu Rio. Si bungsu yang baru saja meninggalkan alam dunia itu berpesan, “Kepergian Rio tak usah terlalu dipikirkan. Rio sangat bahagia disini. Kalo Mama kangen, berdoa saja.”

Namun, pesan itu tak lantas membuat Agnes tenang. Bahkan Agnes mengalami depresi cukup berat, hingga harus mendapatkan bimbingan dari seorang Psikolog selama 6 bulan.

Satu malam saat tertidur, Agnes dibangunkan oleh suara pria yang berkata, “Buka Alquran surat Yunus!”. Namun, setelah mencari tahu tentang surat Yunus, tak ada seorang pun temannya yang beragama Islam mengerti kandungan makna di dalamnya. Bahkan setelah mendapatkan Al Quran dari sepupunya, dan membacanya berulang-ulang pun, Agnes tetap tak mendapat jawaban.

“Mau Tuhan apa sih?!” protesnya setengah berteriak, sembari menangis tersungkur ke lantai. Dinginnya lantai membuat hatinya berangsur tenang, dan spontan berucap, “Astaghfirullah…”

Tak lama kemudian, akhirnya Agnes menemukan jawabannya sendiri di surat Yunus ayat 49: “Katakan tiap-tiap umat mempunyai ajal. Jika datang ajal, maka mereka tidak dapat mengundurkannya dan tidak (pula) mendahulukannya”.

Beberapa kejadian aneh yang dialami sepeninggal Rio, membuat Agnes berusaha mempelajari Islam lewat beberapa buku. Hingga akhirnya wanita penganut Katolik taat ini berkata, “Ya Allah, terimalah saya sebagai orang Islam, saya tidak mau di-Islamkan oleh orang lain!”.

Setelah memeluk Islam, Agnes secara sembunyi-sembunyi melakukan shalat. Sementara itu, Martono, suaminya, masih rajin pergi ke gereja. Setiap kali diajak ke gereja Agnes selalu menolak dengan berbagai alasan.

Sampai suatu malam, Martono terbangun karena mendengar isak tangis seorang perempuan. Ketika berusaha mencari sumber suara, betapa kagetnya Martono saat melihat istri tercintanya, Agnes, tengah bersujud dengan menggunakan jaket, celana panjang dan syal yang menutupi aurat tubuhnya.

“Lho kok Mamah shalat,” tanya Martono.

“Maafkan saya, Pah. Saya duluan, Papah saya tinggalkan,” jawab Agnes lirih.

Ia pasrah akan segala resiko yang harus ditanggung, bahkan perceraian sekalipun.

Martono pun Akhirnya Kembali ke Islam

Sejak keputusan sang istri memeluk Islam, Martono seperti berada di persimpangan. Satu hari, 17 Agustus 2000, Agnes mengantar Adi, putra pertamanya untuk mengikuti lomba adzan yang diadakan panitia Agustus-an di lingkungan tempat mereka tinggal. Adi sendiri tiba-tiba tertarik untuk mengikuti lomba adzan beberapa hari sebelumnya, meski ia masih Katolik dan berstatus sebagai pelajar di SMA Santa Maria, Bandung. Martono sebetulnya juga diajak ke arena perlombaan, namun menolak dengan alasan harus mengikuti upacara di kantor.

Di tempat lomba yang diikuti 33 peserta itu, Gangsa Raharjo, Psikolog Agnes, berpesan kepada Adi, “Niatkan suara adzan bukan hanya untuk orang yang ada di sekitarmu, tetapi niatkan untuk semesta alam!” ujarnya.

Hasilnya, suara Adzan Adi yang lepas nan merdu, mengalun syahdu, mengundang keheningan dan kekhusyukan siapapun yang mendengar. Hingga bulir-bulir air mata pun mengalir tak terbendung, basahi pipi sang Ibunda tercinta yang larut dalam haru dan bahagia. Tak pelak, panitia pun menobatkan Adi sebagai juara pertama, menyisihkan 33 peserta lainnya.

Usai lomba Agnes dan Adi bersegera pulang. Tiba di rumah, kejutan lain tengah menanti mereka. Saat baru saja membuka pintu kamar, Agnes terkejut melihat Martono, sang suami, tengah melaksanakan shalat. Ia pun spontan terkulai lemah di hadapan suaminya itu. Selesai shalat, Martono langsung meraih sang istri dan mendekapnya erat.

Sambil berderai air mata, ia berucap lirih, “Mah, sekarang Papah sudah masuk Islam.”

Mengetahui hal itu, Adi dan Icha, putra-putri mereka pun mengikuti jejak ayah dan ibunya, memeluk Islam.

Perjalanan panjang yang sungguh mengharu biru. Keluarga ini pun akhirnya memulai babak baru sebagai penganut Muslim yang taat. Hingga kini, esok, dan sampai akhir zaman. Insya Allah.

Muhammad Yasin
source: fimadani
readmore »»  

Rabu, 07 Maret 2012

Kalau tidak Ingat...

Semuanya serba terbatas.
Badan ini semakin sakit dibuatnya.
Mereka menuntut kesempurnaan.
Tapi mereka sama sekali tak pernah mengarahkan.
Yang ada hanya cacian.
Yang selalu kami tanggapi dengan baik sangkaan.
Bahwa itu adalah masukan. Dan bukan cacian.
Semakin lama semakin banyak tuntutan.
Aku tahu ini bukan dibebankan pada satu orang, tapi aku juga tahu hanya ada sedikit orang yang merasa terbebankan.
Yang lain hanya akan berjalan sesuai permintaan atau perintah atasan.
Inisiatif?
Jangan tanyakan itu di tempat kami.
Yang memilikinya hanya sekelompok kecil dari sebuah komunitas besar.
Jumlah kami besar, dan berbeda dari komunitas lainnya.
Tidak percaya?
Ya, jangan terlalu percaya pada setiap omongan saya karna rukun iman bisa bertambah jadi tujuh nantinya.
Yang jelas kami banyak. Dan saya hanya menginformasikannya.
Tuntutan kami bukan hanya dari mereka. Orang-orang tua yang berseragam itu.
Tuntutan kami juga diberikan oleh sosok laki-laki dan perempuan paruh baya yang tinggal setap dengan kami.
Ayah, ibu.
Dan tuntutan terbesar adalah masa depan.
Rutinitas ini, entah akan mencerahkan atau justru meredupkannya.
Terlalu sibuk mungkin.
Aku hanya punya sekian jam untuk beristirahat.
Tidur hampir tedengar seperti maya dalam dunia ini.
Tak pernah terasa nyaman.
Kalau tidak ingat suatu hari nanti aku juga akan tidur selamanya, mungkin aku tidak akan bisa menerima waktu tidurku yang sangat singkat sekarang ini.
Kalau tidak ingat akan ada hari dimana matahari hanya berada sejengkal diatas kepala, mungkin aku sudah malas melakukan segala aktivitas di siang hari yang menyengat.
Kalau tidak ingat masa mudaku akan habis beberapa tahun kedepan, mungkin aku sudah menikmatinya seperti pemuda kebanyakan. Belajar, les, nonton film baru, hang out, nongkrong di kafe, atau sekedar warung biasa, dan menikmati musik di setiap kesempatan.
Aku tidak mau itu terjadi. Sia-sia.
Biar saja badanku sakit, otakku penat, dan semuanya terasa parah. Yang penting aku akan tunjukkan pada orang-orang itu kalau aku bisa. Kami bisa berorganisasi. Tanpa mengurangi nilai pelajaran kami!
readmore »»  

Kesempatan itu... Semoga Alah memberikan II

Malam itu begitu dingin.
Padahal jendela sudah kututup rapat. Kipas angin juga sudah dalam keadaan "tak bernyawa".
Tapi tetap saja semuanya terasa begitu dingin.
Mungkin diluar sedang hujan?
Tidak tidak.. Diluar sangat cerah. Bahkan aku bisa mendengar suara tawa anak-anak kecil yang bermain diluar rumahku.
Atau mungkin sedang ada angin? Suhu sedang turun? Dan udara dingin itu menembus tebalnya tembok kamar ini?
Entahlah..
Tapi yang jelas semuanya begitu dingin.
Aku menerawang ke langit-langit. Putih kosong. Hanya seekor cicak yang ada disana.
Aku kembaliberpikir tentang keputusanku.
Aku baru akan benar-benar lulus satu tahun lagi. Tapi mengapa semua terasa akan terjadi sebentar lagi?
Aku terlalu rapi merancang semuanya. UI, UNDIP, dan UNSOED.
Tidak tidak.. Ibu tidak pernah menyetujuinya. Tidak pernah sejalan dengan pikiranku.
Ibu ingin aku jadi bidan dan bekerja di rumah sakit milik pak de Yunan.
Pak de ingin semua pekerja di rumah sakit miliknya adalah saudara. Dan namaku masuk dalam daftar calon pegawainya.
Tidak tidak.. aku tidak mau jadi pegawai sesungguhnya. Aku ingin membuka jalanku sendiri. Aku ingin melukis karirku di kertas pertama. Yang belum pernah ada orang lain sebelum aku.
Maka itu aku bersikeras bersekolah bukan pada bidang yang akan mempersiapkan ku untuk menjadi pegawai. Tidak lagi setelah kedua orangtuaku menjalaninya.
Mungkin nyaman, tapi bagiku tidak.
Aku suka ketika orangtuaku gajian. Aku suka gajian. Tapi aku lebih suka menggaji orang. Dan aku ingin melakukan itu suatu hari nanti.
Tetapi aku kembali berubah pikiran. Dasar plin plan.
Aku tidak mau mengecewakan ibu. Tidak juga dengan bapak.
Bapak tidak pernah berkata tidak pada setiap keputusanku termasuk ketika aku mengutarakan niat ingin bersekolah di UI. Tapi bapak juga tidak pernah meng-iya kan. Bahkan bisa dianggap tak merespon.
Aku positif thinking saat itu. Kuanggap bapak setuju.
Tapi kini aku tahu mereka tidak setuju.
Rumit ya? Maklum anak muda.
Aku terkejut mendapat respon yang luar biasa dari ibuku saat aku memutuskan untuk mondok di pesantren milik sahabat bapak. Beliau berkata,"Alhamdulillah tri, akhirnya kamu mau juga mondok,"
Nadanya... terdengar seperti sudah ingin mengatakan itu sejak lama. Itu adalah keinginan terpendam ibu selama aku bermimpi sekolah di UI.
Maafkan aku ibu..
Maafkan aku Ya Allah..
Begitupun bapak.
Beliau memang tak pernah berlebihan seperti ibu.
Tidak juga saat beliau merasa senang akan keputusanku.
Walau saat itu beliau hanya mengangkat alis dan seolah tak percaya beliau berkata,"beneran?". Aku tahu sebenarnya inilah yang diinginkan mereka.
Apa aku siap mondok?
Walau hanya satu tahun.
Tetapi kebiasaan aktif pergi sana - sini membuatku merasa sedikit berat dengan keputusan ini.
Aku takut pondok pesantren itu terbuat dari tembok-tembok tinggi yang menghalangi penglihatanku pada dunia luar.
Aku takut tempat itu memiliki satu kewajiban yang membuatku jadi penakut. Itu tentu sangat bertolak belakang dengan sifatku selama ini.
Jika itu terjadi, mungkin aku akan berontak. Menjadi kartini modern dalam pesantren.
Ah, ngelantur kan tuh.
Sampai aku mengetik ini, aku masih di kamar, dan cicak itu masih di atasku. Di atap kamarku tepatnya.
Dan aku masih bingung.
Mungkin PR matematika bisa meregangkan otakku dari kebingungan.
Mari belajar !
readmore »»  

Selasa, 06 Maret 2012

Kesempatan itu... Semoga Alah memberikan.

Terkadang saat kita berpikir untuk menggapai sesuatu, itu bukan apa yang sesungguhnya kita inginkan.
Setelah mengevaluasi diri, melihat ke belakang sejenak. dan mengurutkan kejadian yang terjadi beberapa bulan ke belakang, aku menyadari bahwa ambisiku menjadi pelajar di Universitas Indonesia bukanlah keinginanku.
Bahwa selama ini aku membohongi diri sendiri. Dengan kedok cita-cita, aku tahu apa sebenarnya yang membuatku ingin sekali bersekolah disana.
Aku memutuskan untuk tidak kesana.
Ibuku mendukung. Ternyata selama ini beliau pun membohongiku dengan berpura-pura mendukungku memasang target bersekolah di universitas indonesia.
Beliau keberatan.
Maafkan aku ibu.. karena tidak peka terhadapmu..
Maafkan aku Ya Allah..
Aku memutuskan untuk menghadapi apa yang ada di hadapanku saja
Tidak memasang target kemanapun setelah lulus nanti
Tidak ke universitas manapun yang selama ini memenuhi otakku
Aku akan fokus pada sekolah. SMA.
Tiba-tiba, Tawaran itu, yang dua tahun lalu datang padaku kembali hadir dalam ingatan.
Bahwa ada seorang kyai-beliau sahabat bapak- yang datang ke rumah untuk silaturrahim dan menawariku mondok di pesantrennya
Jauh di utara pulau jawa. Pati.
Aku menolak. Idealisme ku terlalu tinggi saat itu. Aku tak ingin dikekang dengan peraturan pesantren yang (biasanya) ketat.
Aku tidak suka diatur.
Tapi kini aku ingin pergi kesana. Aku ingin mondok.
Ibuku mendukung sekali. Bapak apalagi.
Mungkin setelah aku lulus nanti.
Aku akan mondok disana.
Tapi aku tahu kyai itu bukan lagi sahabat bapak sesama anak pribumi yang mencari ilmu di Indonesia saja.
Aku tahu beliau lebih dari itu semua.
Satu yang kuharapkan dengan mondok disana nantinya. Aku ingin fasih membaca Al-Qur'an dan mendalaminya. Mentadaburinya. Belajar tentang islam. Mencari pondasi yan kokoh untuk berdakwah. Dan aku ingin fasih bahasa arab. Tentu orangtuaku tau apa yang ada dalam pikiranku. Sutu hal yang sedari dulu memang sangat aku inginkan.
Aku ingin pergi kesana. Dan kurasa, pondok pesantern itu adalah gerbang untuk menuju ke sana.
Bapakku yang akan mengurusnya.
Berbicara pada sahabatnya. Semoga Allah memudahkan.
readmore »»